Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Pelukan yang Tidak Meminta Izin
“Ada pelukan yang tak pernah kita minta, tetapi berhasil mengisi ruang kosong yang telah bertahun-tahun kita tinggalkan.”
--
Pagi itu Alina terbangun dengan leher yang terasa pegal. Ia tidak ingat kapan tepatnya tertidur. Yang ia ingat hanya langit malam di balkon rumah sakit, pelukan Birendra sebelum pulang mengambil pakaian ganti, lalu suara hujan yang perlahan mereda. Setelah itu semuanya menjadi gelap.
Ketika membuka mata, cahaya matahari sudah memenuhi lorong rumah sakit. Di bahunya masih tersampir sebuah jaket hitam—jaket Birendra. Alina mengusap kain itu perlahan sebelum tersenyum tipis. Aroma parfum pria itu masih tertinggal samar di sana, cukup untuk membuat dadanya sedikit lebih hangat di tengah pagi yang melelahkan. Ponselnya pun bergetar.
“Alin, aku ke kantor dua jam buat rapat sama investor Aurora. Setelah selesai aku langsung balik. Jangan lupa sarapan. — B.” Tanpa sadar sudut bibir Alina terangkat.
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan juga.” Balasnya singkat. Kali ini, tidak ada lagi balasan yang terasa formal. Hanya dua orang yang masih saling mengingatkan hal-hal kecil, seperti sebelum dunia mereka berubah.
Ketika Alina masuk ke kamar rawat, Keira masih tertidur. Hendra sedang membaca Al-Qur'an pelan di dekat jendela, suaranya lirih namun mampu membuat ruangan terasa lebih tenang.
“Ayah.” Hendra mengangkat wajahnya.
“Sudah bangun?” Alina mengangguk pelan. “Keira baru tidur lagi habis minum obat.” Lagi, Alina kembali mengangguk.
Alina berjalan mendekati kakaknya, membenarkan selimut yang sedikit bergeser dari bahunya. Luka di pelipis Keira mulai mengering, warnanya tidak lagi semerah beberapa hari lalu. Perkembangan kecil itu menjadi pengingat bahwa tubuh manusia memang luar biasa, namun sayangnya hati tidak selalu sembuh secepat luka.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Dian muncul sambil membawa dua tas kain besar, satu berisi makanan rumahan, satu lagi berisi pakaian bersih yang sudah disetrika rapi.
“Aduh, Tante.” Alina segera bangkit membantu membawakan tas itu. "Kebanyakan bawa barang." Dian tertawa kecil menanggapi hal itu.
"Namanya juga ibu-ibu." Ia menoleh ke arah Hendra. "Pak Hendra belum sarapan?" Tanya Dian lagi.
“Baru minum teh,”
"Nah, saya udah duga."
Tanpa menunggu jawaban, Dian mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam tas. Aroma semur ayam memenuhi ruangan, di susul tumis buncis, lalu sup bening yang masih mengepul hangat. Ruangan rumah sakit yang sejak tadi hanya dipenuhi aroma obat mendadak terasa seperti ruang makan rumah.
"Ini buat Keira nanti, lalu ini buat Pak Hendra, ini buat Alina, dan ini juga buat Birendra kalau nanti sudah balik.” Semua sudah dipisahkan oleh Dian. Alina memperhatikan wanita setengah baya itu dalam diam, entah sejak kapan, setiap Dian datang, suasana selalu berubah menjadi lebih hangat.
Usai menata makanan yang dibawa olehnya, Dian baru mulai benar-benar memperhatikan wajah Alina. Perlahan langkahnya mendekat ke arah wanita itu, ia juga tersenyum tipis.
“Alin.”
“Iya, Tan?”
“Panggil Mama. Kamu bercermin nggak tadi pagi?" Pertanyaan itu membuat Alina terkekeh pelan dan menggeleng cepat. “Pantas.” Dian membuka tas kecil yang dibawanya. Dari dalamnya keluar sebuah sisir kayu bergagang cokelat yang sudah tampak mengilap karena sering dipakai.
Alina sempat bingung melihat Dian mengeluarkan sebuah sisir. Dian juga semakin memperdekat jaraknya dan mencoba untuk menyisir rambut Alina. Alina merasa tidak enak, namun Dian memaksa, paksaan itu bukan paksaan yang ditekan, tetapi mengandung sebuah ketegasan khas seorang ibu.
Alina akhirnya menurut, ia duduk di bangku dekat jendela, dan Dian berdiri di belakangnya. Lalu jemarinya mulai menyisir rambut Alina perlahan. Gerakan itu terasa begitu akrab, dan nyaman. Mata Alina perlahan mulai panas, karena terakhir kali ada seseorang yang menyisir rambutnya seperti itu adalah ibunya.
"Masih sakit kalau disisir terlalu keras?" Suara Dian terdengar lembut dari belakang.
“Masih.”
“Tuh kan.” Alina tersenyum kecil. "Ternyata Biren nggak bohong." Ucapan itu membuat Alina menoleh sedikit.
"Memang dia cerita apa?"
"Katanya kamu paling cerewet kalau rambut ketarik." Alina langsung tertawa pelan.
“Dia masih ingat?”
"Dia ingat semuanya." Dian ikut tersenyum. "Dia itu hafal kamu lebih dari kamu hafal diri sendiri." Kalimat itu membuat Alina menunduk malu. Namun rasa hangat di dadanya perlahan mengusir lelah yang sejak beberapa hari lalu menumpuk tanpa sempat ia sadari.
Dian kembali menyisir beberapa helai rambut yang tersisa dengan begitu lembut agar tidak membuat wanita dihadapannya sakit. “Alin, capek ya?” Pertanyaan itu sederhana. Tetapi entah mengapa, pertahanan Alina langsung runtuh.
“Capek." Suara itu nyaris pecah. “Aku takut.” Dian meletakkan sisir di pangkuannya. Lalu berjalan memutar hingga berdiri di depan Alina.
“Tahu nggak?” Dian mengusap pipi Alina perlahan. "Dulu waktu pertama kali Biren bawa kamu ke rumah, Mama langsung masuk ke kamar.” Pungkas Dian.
“Kenapa?”
“Karena Mama nangis.” Alina membeku.
“Nangis?” Dian terkekeh kecil. “Tapi kenapa?” Tanya Alina tidak mengerti.
“Karena Mama pikir...” Dian menarik napasnya perlahan. “... akhirnya ada wanita yang bisa bikin anakku pulang lebih cepat ke rumah.” Air mata Alina jatuh begitu saja.
“Maa...” Dian langsung menariknya ke dalam pelukan. Pelukan itu terasa hangat, dan pelukan yang tidak meminta izin sedikit pun. Pelukan itu terasa seperti seseorang sedang merapikan bagian-bagian dirinya yang sejak lama retak.
Tak jauh dari sana, Hendra menyaksikan semuanya dalam diam. Kedua matanya ikut memerah, ia teringat istrinya. Jika wanita itu masih hidup, mungkin begitulah caranya memeluk Alina. Kemudian, ia mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum kembali membuka mushaf di pangkuannya.
Menjelang siang, Birendra akhirnya kembali dari kantor. Begitu membuka pintu kamar, pandangannya langsung berhenti pada Alina. Rambut perempuan itu kini tergerai rapi dengan sebuah jepit kecil berbentuk bunga melati di sisi kirinya.
“Cantik.” Birendra tersenyum, dan Alina refleks menyentuh jepit rambut itu.
“Mama yang masang.” Birendra menoleh ke ibunya, dan Dian mengangkat dagu bangga.
“Bagus kan?”
“Bagus.” Birendra mendekat. Tanpa sadar ia merapikan satu helai rambut Alina yang kembali jatuh ke pipinya. Gerakan kecil itu berlangsung begitu alami, seolah dunia belum berubah.
Siang itu Keira sedang dalam suasana hati yang cukup baik, ia bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat Hendra salah memakai kacamata baca. Suasana menjadi jauh lebih ringan sampai Birendra mendapat telepon.
"Aku turun bentar."
“Kemana?” Keira spontan mengajukan pertanyaan.
“Bawah, sebentar saja.” Birendra keluar, dan pintu mulai tertutup. Lima menit pertama semua baik-baik saja, dan setelah sepuluh menit, Keira mulai melihat ke arah pintu.
“Mas belum balik?” Alina tersenyum mendengar pertanyaan sang kakak.
“Sebentar lagi.” Lima menit berlalu lagi dan Keira mulai menggenggam ujung selimut.
“Mas kemana?” Nada suaranya berubah. Perawat yang sedang memeriksa infus ikut menoleh.
"Bu Keira, tenang ya." Namun Keira mulai menggeleng. Tangannya mulai gemetar, dadanya naik turun lebih cepat. Monitor detak jantung di samping ranjang ikut menunjukkan perubahan ritme, Alina segera menggenggam tangan kakaknya.
"Kak, aku di sini." Namun Keira justru menangis.
"Mas jangan tinggalin aku lagi..." Air mata mengalir begitu deras. Hendra langsung berdiri, perawat memanggil dokter, dan ruangan yang tadi dipenuhi tawa mendadak berubah tegang.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Birendra masuk dengan napas sedikit memburu, begitu melihatnya, Keira langsung mengulurkan tangannya. Tangisnya perlahan mereda dan detak jantung di monitor mulai turun kembali.
Ruangan kembali tenang, Dokter Arman yang baru saja datang memperhatikan semuanya tanpa berkedip. Tatapannya berpindah dari Keira, monitor, lalu pada Birendra. Ia tidak mengatakan apa pun saat itu, hanya menutup map di tangannya perlahan.
Namun sorot matanya cukup untuk membuat dada semua orang kembali dipenuhi firasat yang sama. Mungkin, waktu mereka untuk mempertahankan batas itu tidak akan lama lagi