Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Sang Pemimpin

Layar proyektor digital di ruang rapat lantai lima puluh gedung Thorne Enterprises baru saja meredup, menyisakan keheningan yang kaku namun penuh rasa hormat dari para direktur divisi yang duduk berjejer rapi. Victor Thorne berdiri di ujung meja panjang dari kayu eboni, merapikan manset jasnya dengan gerakan lambat yang penuh wibawa. Rapat evaluasi ekspansi kuartal ini berjalan sukses besar tanpa cela, persis seperti standar tinggi yang selalu ia tetapkan untuk dirinya sendiri dan perusahaannya.

Namun, di balik topeng profesionalismenya yang dingin, pikiran Victor sejak pagi tadi melayang jauh meninggalkan angka-angka profit dan kurva grafik bisnis. Pikirannya tertinggal di penthouse pinggiran kota, terbayang sosok Freya dengan segala pesona dan bekas kepemilikan yang ia tinggalkan di sekujur tubuh gadis itu semalam. Senyuman tipis tanpa sadar sempat terukir di sudut bibirnya—sebuah ekspresi langka yang membuat Markuz, asisten setianya yang berdiri di sudut ruangan, mengerjap heran melihat perubahan drastis bosnya belakangan ini.

Sebelum Victor sempat membubarkan rapat, getaran halus dari ponsel pintar berlogo khusus di saku dalamnya memecah keheningan. Victor melirik sekilas layar hitam berbingkai titanium tersebut. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor rahasia yang sudah bertahun-tahun tidak aktif di dalam negeri.

Jari kokoh Victor menggeser layar. Alisnya langsung bertaut tajam begitu membaca deretan kalimat singkat di sana:

“Pesawatku mendarat di landasan pribadi Amsterdam pukul lima sore ini. Siapkan dirimu, Victor. Malam ini kita adakan makan malam keluarga besar di mansion utama. Aku ingin melihat putraku dalam keadaan utuh.” — Vendrick Thorne.

Pesan itu datang dari sang pemimpin mutlak imperium keluarga Thorne. Vendrick Thorne. Papi kandung Victor sekaligus legenda hidup dunia bisnis Eropa yang selama dua tahun terakhir memilih berkeliling dunia menikmati masa semi-pensiunnya di pesisir Mediterania bersama sang istri tercinta, Valen.

Victor menarik napas dalam-dalam. Rahangnya sedikit mengeras. Hubungannya dengan sang ayah tidak pernah buruk, namun tidak juga bisa disebut hangat. Vendrick adalah sosok pria tua yang keras, perfeksionis, dan mendidik Victor dengan disiplin besi sejak kecil. Kepulangan sang patriark secara mendadak ini tentu bukan sekadar liburan biasa. Pasti ada badai besar atau agenda bisnis raksasa yang sedang disiapkan orang nomor satu Thorne Enterprises itu.

"Markuz," panggil Victor dengan suara rendah begitu para direktur meninggalkan ruangan rapat satu persatu.

Markuz melangkah mendekat dengan sigap. "Ya, Tuan?"

"Batalkan seluruh sisa agenda kerjaku sore ini. Papi... Vendrick Thorne, kembali ke Amsterdam malam ini," ujar Victor dingin sambil memasukkan ponselnya ke saku jas. "Siapkan mobil. Kita langsung pulang ke mansion utama."

Mansion utama keluarga Thorne di kawasan perumahan elit Amsterdam tampak bermandikan cahaya lampu kristal kuning keemasan tatkala jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Barisan mobil pengawal berjas hitam berderet rapi di pelataran halaman marmer putih yang luas, menyambut kedatangan sang kepala keluarga yang baru saja mendarat dari penerbangan jet pribadi interkontinental.

Di teras utama, Nyonya Valen Thorne berdiri dengan senyum sumringah yang tidak bisa disembunyikan dari wajah anggunnya. Di sampingnya, beberapa kepala pelayan berbaris membungkuk hormat. Suara deru mesin mobil mewah berplat khusus memasuki gerbang utama, membuat detak jantung di mansion itu berdegup lebih cepat dari biasanya.

Pintu mobil terbuka. Sosok pria paruh baya berpostur tinggi tegap dengan rambut perak di pelipis dan sorot mata elang yang tajam melangkah keluar. Vendrick Thorne. Usianya sudah menginjak kepala enam, namun auranya sebagai penguasa mutlak bisnis Eropa tidak sedikit pun luntur dimakan usia. Di belakangnya, Valen langsung menyambut dengan pelukan hangat yang disambut tawa kecil dari sang suami.

Victor melangkah turun dari mobil kedua yang datang tepat di belakang mereka. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu berjalan mendekati kedua orang tuanya yang berdiri di tengah teras utama mansion.

"Selamat datang kembali di rumah, Papi," sapa Victor dengan suara baritonnya yang tenang, membentangkan tangan untuk memberikan pelukan singkat yang langsung dibalas erat oleh Vendrick.

"Senang melihatmu masih hidup dan memegang kendali dengan baik, Victor," tukas Vendrick dengan suara berat berwibawa, menepuk-nepuk punggung putranya dengan tegas. "Kau terlihat lebih bugar... atau mungkin ada hal lain yang membuat hidupmu lebih berwarna akhir-akhir ini?"

Victor hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi sindiran terselubung sang ayah. Ia beralih memeluk ibunya, Nyonya Valen, yang langsung mencium kedua pipinya dengan penuh kasih sayang seorang ibu, meski sorot mata Valen sempat menyipit penuh selidik mengingat ketegangan makan malam keluarga beberapa hari lalu terkait Annelise.

Suasana di ruang makan utama mansion Thorne malam itu terasa megah sekaligus sarat akan tekanan psikologis. Meja makan panjang bermotif marmer tua dipenuhi dengan hidangan daging panggang khas Perancis, kaviar segar, dan botol-botol anggur merah tua berharga fantastis.

Nyonya Valen duduk di sisi kanan Vendrick, sementara Victor duduk di kursi kehormatan di seberang mereka. Para pelayan bergerak tanpa suara, menuangkan wine ke dalam gelas kristal bening dengan sangat hati-hati.

"Perjalanan udara dari Nice cukup melelahkan," ucap Vendrick membuka percakapan sambil memotong sepotong daging di piringnya. "Tapi begitu aku mendengar laporan dari dewan direksi mengenai pertumbuhan aset logistik kita di Jerman, kelelahan itu langsung hilang seketika. Kerja bagus, Victor. Kau mewarisi insting bisnis keluarga dengan sempurna."

"Terima kasih, Papi. Itu sudah menjadi kewajibanku," jawab Victor datar namun sopan.

Valen mengangkat gelas wine-nya, menatap putranya dari seberang meja dengan tatapan yang menyiratkan keheranan luar biasa. Sejak awal mereka duduk di meja makan ini, Valen memperhatikan setiap gerak-gerik Victor. Ada sesuatu yang sangat berbeda dari diri putra tunggalnya itu. Biasanya, Victor akan duduk dengan wajah kaku setenang es batu, menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat seperlunya, dan memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun segan mendekat.

Namun malam ini... Victor tampak jauh lebih tenang. Sesekali, saat pelayan menyajikan hidangan pembuka, sudut bibir Victor terangkat membentuk senyuman tipis yang begitu natural. Bahkan ketika Vendrick menceritakan sebuah lelucon bisnis masa lalu, Victor meresponsnya dengan tawa kecil yang hangat.

Valen menyenggol lengan suaminya pelan, lalu berbisik dengan nada tertahan yang cukup didengar oleh Victor, "Vendrick... coba perhatikan anakmu itu."

Vendrick menghentikan gerakannya, meletakkan pisau perak di atas piring, lalu menoleh menatap putranya dengan dahi berkerut tajam. "Ada apa dengan Victor?"

"Dia tersenyum..." bisik Valen keheranan, matanya membelalak kecil. "Selama puluhan tahun ia hidup bersama kita di rumah ini, bahkan saat merayakan kenaikan jabatan pertamanya sebagai CEO, aku tidak pernah melihat senyuman setulus itu terukir di wajahnya. Ada apa denganmu, Victor? Apakah kau memenangkan tender senilai miliaran euro hari ini, atau ada hal lain yang sedang kau sembunyikan dari kami?"

Victor yang sedang menyesap anggur merahnya hampir saja tersedak. Ia meletakkan gelas kristalnya pelan-pelan ke atas meja, lalu menatap kedua orang tuanya dengan ekspresi kembali datar, berusaha menyembunyikan debaran aneh di dadanya.

"Tidak ada apa-apa, Mami," jawab Victor tenang. "Aku hanya merasa... hidup tidak harus selalu dijalani dengan ketegangan."

Vendrick mendengus pelan, sebuah senyuman misterius tersungging di bibir tipis sang patriark. "Hmm... perubahan yang menarik. Biasanya, pria yang mulai banyak tersenyum tanpa alasan yang jelas di rumah ini sedang menyembunyikan seorang wanita di balik tirai kamarnya. Tapi sudahlah, aku tidak akan mencampuri urusan pribadi masa mudamu selama pekerjaan di perusahaan berjalan di jalur yang benar."

Vendrick meneguk sisa anggurnya, lalu menyeka bibirnya dengan serbet kain putih bersih. Ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi jauh lebih serius, menandakan bahwa pembicaraan santai makan malam ini akan segera bergeser ke ranah bisnis tingkat tinggi.

"Victor, alasan utamaku dan ibumu mempercepat kepulauan ini bukan hanya untuk bernostalgia," ucap Vendrick memulai inti pertemuannya malam itu. "Aku ingin mulai melepaskan diri sepenuhnya dari urusan operasional harian Thorne Enterprises. Aku ingin pensiun tenang, menikmati masa tua bersama Valen, dan menyerahkan sisa kendali penuh kekaisaran ini kepadamu."

Valen tersenyum bangga mendengar ucapan suaminya, menatap Victor dengan binar penuh pengharapan.

"Namun, sebelum aku benar-benar menyerahkan kunci kekaisaran itu secara resmi minggu depan, ada satu urusan besar yang harus kau selesaikan atas namaku," lanjut Vendrick sambil menatap tajam mata biru putranya.

Victor menegakkan posisinya, menatap sang ayah dengan penuh perhatian. "Urusan apa, Papi?"

"Klien lama kita di bagian barat Belanda, Netherland," jelas Vendrick dengan nada penuh penekanan. "Sammuel. Kau ingat nama itu, bukan?"

Mendengar nama tersebut, dahi Victor sedikit berkerut. Nama Sammuel bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah salah satu orang terkaya, paling berpengaruh, dan paling tertutup di wilayah pesisir barat Belanda—seorang taipan industri pelayaran internasional yang memegang kendali atas seluruh jalur logistik laut utama Eropa barat. Hubungan bisnis antara keluarga Thorne dan Sammuel telah terjalin selama puluhan tahun, namun dalam dua tahun terakhir, negosiasi perluasan kerja sama strategis sempat mandek akibat sikap eksklusif sang taipan tua yang sulit didekati.

"Aku ingat," jawab Victor tegas. "Sammuel Van Houten. Konglomerat pelayaran pesisir barat. Kudengar dia sangat sulit diajak berunding semenjak insiden restrukturisasi perusahaannya tahun lalu."

"Benar," angguk Vendrick. "Dia orang yang kolot, keras kepala, tapi sangat menghormati kesetiaan dan kredibilitas. Aku ingin kau pergi menemuinya secara langsung minggu ini di kediaman pribadinya di wilayah barat Belanda."

Victor terdiam sejenak, menimbang jadwal padat yang ia miliki di kantor pusat serta pikirannya yang tentu saja tidak ingin meninggalkan Freya terlalu lama di penthouse pinggiran kota. Namun menolak perintah langsung dari Vendrick Thorne di hari pertama kepulangan sang ayah bukanlah pilihan yang bijak.

"Aku akan mengatur jadwalku," kata Victor akhirnya dengan nada profesional. "Aku akan terbang ke sana secepatnya untuk membicarakan klausul kerja sama bisnis yang Papi inginkan."

"Bagus," ucap Vendrick dengan nada puas. "Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku, Victor. Selesaikan urusan dengan Sammuel dengan bersih, bawa pulang kontrak kerja sama itu, dan setelah itu... kau berhak melakukan apapun yang kau inginkan dengan sisa waktumu, termasuk tersenyum sesukamu."

Jam makan malam keluarga besar Thorne akhirnya usai menjelang pukul sepuluh malam. Setelah berbasa-basi sejenak dengan sang ibu di ruang keluarga, Victor memutuskan untuk pamit kembali ke mobil pribadinya. Ia menolak tawaran Vendrick untuk menginap di mansion utama malam itu, beralasan bahwa masih ada dokumen penting yang harus ia selesaikan sebelum keberangkatannya menemui Sammuel di wilayah barat Belanda.

Di dalam mobil sedan hitam yang melaju membelah keheningan malam kota Amsterdam menuju penthouse tersembunyinya, Victor menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang empuk. Ia memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Perjalanan bisnis ke barat Belanda berarti ia harus meninggalkan Freya selama beberapa hari—sebuah hal yang mendadak membuat dadanya terasa tidak tenang. Di tengah ancaman tersembunyi dari Annelise dan pengawasan ketat sang ibu, meninggalkan Freya sendirian di hutan pinggiran kota adalah keputusan yang sangat berisiko.

Namun, Victor bertekad dalam hatinya. Sekembali ia dari urusan bisnis dengan Sammuel, ia akan menyusun rencana besar untuk membebaskan Freya dari kontrak terlarang itu, membawanya keluar dari sangkar emas, dan memperkenalkannya pada dunia luar sebagai satu-satunya wanita yang bertahta di dalam hati sang pewaris imperium Thorne.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!