Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 - Karena Kecoak

Usai membersihkan pecahan mangkok kaca di dapur, Sam bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan setelah seharian berurusan dengan sikat dan air kolam keruh di kebun binatang. Hatinya sudah lumayan tenang, trauma insiden "ular piton" pagi tadi perlahan tertutup oleh rasa khawatirnya pada raut lesu Tia.

Sam menyalakan pancuran air, membiarkan aliran dingin membasahi bahu dan dadanya yang tegap. Namun, baru saja ia hendak meraih botol sabun di atas rak sudut, mata tajam sang pawang buaya mendadak menangkap pergerakan mencurigakan di atas ventilasi udara.

Seekor kecoak hitam berukuran raksasa, dengan sungut panjang yang mengayun-ayun mengancam, sedang merayap perlahan turun menuju dinding keramik.

Samsudin membeku. Otot-otot dada binaragawannya yang tegap seketika menegang bukan karena wibawa, melainkan karena horor tingkat dewa. Sang penakluk buaya muara empat ratus kilogram yang biasa memasukkan lengan ke mulut predator purba itu mendadak kehilangan seluruh keberaniannya.

Kecoak itu mengepakkan sayapnya. Bzzzt!

"ASU... MAAF! HUAAAGHH!" jerit Sam melengking tinggi, suaranya menembus atap seng kontrakan.

Tanpa mematikan pancuran dan hanya sempat melilitkan handuk seadanya di pinggang, Sam mendobrak pintu kamar mandi dari dalam, berlari mengangkang secepat kilat menuju ruang tamu.

"Mbak Tia! Mbak Tia! Bencana nasional, Mbak!" teriak Sam dengan napas terengah-engah, wajah tampannya pucat pasi bagaikan mayat hidup.

Tia yang sedang terduduk lesu di sofa meratapi nasib PHK-nya terlonjak kaget sampai ponselnya hampir meluncur ke bawah meja. "Astaga, Samsudin! Ada apa lagi?! Rumah kebakaran?!"

"A-ada... ada monster di dalam kamar mandi, Mbak!" adu Sam histeris, menunjuk pintu kamar mandi dengan jari gemetaran. "Kecoak terbang! Sungutnya panjang banget kayak antena pemancar televisi!"

Tia melotot, matanya berkedip dua kali secara lambat sebelum helaan napas emosi meluncur dari bibirnya. "Hah?! Kecoak?! Mas Sam, kamu ini pawang buaya muara raksasa! Ototmu sebesar paha sapi! Masa cuma gara-gara kecoak sampai menjerit bagaikan emak-emak kehilangan dompet?!"

"Beda spesies, Mbak Tia!" potong Sam membela diri dengan suara meninggi, memegangi ikatan handuknya kuat-kuat. "Buaya itu reptil berdarah dingin, pergerakannya terukur! Kalau kecoak terbang itu radikal! Arah terbangnya tidak beretika, tidak punya masa depan, dan suka mendadak hinggap di muka!"

"Tapi buaya itu bisa menggigit tanganmu sampai putus, Samsudin!" semprot Tia tak mau kalah, memegang kepalanya yang makin pening. "Kecoak cuma serangga kecil! Bahayanya di mana?!"

"Bahaya di trauma psikologis, Mbak!" jawab Sam jujur tanpa gengsi. "Waktu umur lima tahun di kampung, aku pernah kemasukan kecoak terbang ke dalam baju pas tidur! Sejak saat itu, aku lebih sudi dipeluk lima ekor buaya muara daripada harus satu ruangan sama kecoak terbang!"

Tia menepuk jidatnya keras-keras. Pusing di kepalanya akibat beban utang dan PHK makin lengkap dengan tingkah suami kreditnya yang ajaib ini. "Ya terus gimana?! Aku juga takut sama kecoak terbang, Mas Sam! Aku tidak bisa mandi atau buang air kalau monster itu masih nongkrong di dalam!"

"Kalau begitu..." Sam menelan saliva, menatap Tia dengan raut wajah sangat serius bagaikan jenderal perang yang menyusun taktik pertempuran. "Kita harus berkolaborasi, Mbak. Ini pertarungan hidup dan mati demi kedamaian kontrakan."

"Kolaborasi bagaimana maksudmu?!"

"Mbak Tia bertugas sebagai tim pengintai dan pengalih perhatian pakai semprotan obat nyamuk, aku bertugas sebagai algojo pengeksekusi pakai sapu ijuk!" tegas Sam tegap.

Tak punya pilihan lain, lima menit kemudian babak pertempuran dimulai. Sam yang sudah memakai celana pendek dan kaus oblong menggenggam gagang sapu ijuk bagaikan tombak kerajaan, sementara Tia berdiri dua langkah di belakangnya memegang kaleng obat semprot dengan kedua tangan gemetaran.

Mereka merayap pelan mendekati kamar mandi yang pintunya menganga sedikit.

"Mana dia, Mas Sam?" bisik Tia tegang dari balik punggung lebar Sam.

"Itu... di atas gantungan handuk..." bisik Sam pelan, matanya menyipit tajam. "Siap-siap, Mbak... Begitu dia bergerak, langsung semprot!"

Kecoak itu tiba-tiba mengepakkan sayapnya lagi. Bzzzt! Serangga itu terbang melayang lurus ke arah kepala Sam!

"SEMPOOOT, MBAK TIA! SEMPOOOT!" jerit Sam histeris, menyabetkan sapu ijuknya secara brutal ke udara bagaikan pemain bulu tangkis kesurupan.

Czzzzt! Czzzzt!

"AKU TIDAK BISA LIHAT! MATAKU KENA SEMPROTAN SENDIRI!" jerit Tia melompat-lompat panik sambil memencet tombol kaleng semprotan secara membabi buta ke segala arah.

Suasana dapur dan koridor kamar mandi mendadak riuh luar biasa. Sam mengibaskan sapu ijuknya berputar-putar, Tia menjerit-jerit sambil menyemprotkan cairan pembunuh serangga hingga kabut wangi jeruk memenuhi udara. Kecoak itu terbang berputar-putar liar di atas kepala mereka, membuat sang calon miliarder tunggal dan wanita staf admin yang baru di-PHK itu berguling-guling di atas karpet demi menghindari serangga tersebut.

"Sabet bawah, Mas Sam! Dia mendarat di dekat jendela!" teriak Tia menunjuk ke arah ambang jendela dapur yang terbuka sedikit.

"Mati kau, monster!" seru Sam dengan sisa keberanian terakhirnya.

Dengan gerakan refleks presisi tingkat tinggi ala penakluk reptil profesional, Sam melompat, memutar gagang sapu ijuk di udara, lalu menyapu kecoak tersebut dengan sekali sabetan mantap.

PLAK!

Serangga radikal itu terpental ke luar melewati celah jendela dapur dan jatuh lenyap ke dalam kegelapan gang belakang.

Hening seketika. Kabut semprotan obat nyamuk perlahan menipis di udara.

Sam dan Tia berdiri mematung selama lima detik, memastikan musuh bersama mereka tidak kembali. Begitu menyadari pertempuran telah usai dan kemenangan berada di tangan mereka, tubuh keduanya mendadak lemas tak bertenaga.

"L-lepas... sudah keluar..." gumam Sam dengan napas terengah-engah, melepaskan sapu ijuk dari genggamannya hingga terjatuh ke ubin.

"Alhamdulillah..." desah Tia pasrah.

Karena kelelahan fisik yang amat sangat bercampur luapan emosi seharian penuh, lutut Tia terasa gemetaran. Wanita itu melangkah lunglai menuju sofa ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Sam yang sudah lebih dulu terduduk lemas di atas karpet bawah.

Tia menyandarkan punggungnya di sofa, meluruskan kakinya. Karena kepalanya terasa begitu berat dan pusing oleh gabungan bau semprotan nyamuk serta beban hidup, tanpa sadar Tia memiringkan kepalanya perlahan, melabuhkan pelipisnya di atas bahu tegap Samsudin yang berada di sampingnya.

Sam tersentak kecil. Tubuh tegapnya sempat kaku seketika saat merasakan kehangatan rambut dan kepala Tia yang bersandar pasrah di bahunya. Bau harum sampo melati dari rambut Tia menyusup lembut di antara aroma semprotan jeruk.

Tia memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang begitu dalam dan lelah.

"Mas Sam..." bisik Tia pelan, suaranya terdengar begitu lirih dan rapuh di keheningan malam.

"I-iya, Mbak Tia?" sahut Sam pelan, tidak berani menggerakkan bahunya sedikit pun karena takut merusak momen itu.

"Kita ini... kok konyol banget ya?" gumam Tia, bibirnya perlahan mengukir senyum tipis. "Dua orang dewasa, yang satu pawang buaya berotot binaragawan, yang satu staf admin senior... malah guling-gulingan di atas karpet cuma gara-gara seekor kecoak terbang."

Sam tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa pelannya pecah secara halus. "Iya ya, Mbak... Kalau Si Bejo melihat atraksiku tadi, bisa-bisa dia kehilangan rasa hormat sama pawangnya."

Tia ikut terkekeh pelan. Tawa kecil di antara mereka perlahan mencairkan seluruh sisa canggung dan ketegangan yang menumpuk sejak insiden malam pertama di hotel. Di atas karpet kontrakan sempit itu, berdua setelah memenangkan pertempuran konyol melawan serangga, mereka menemukan kedamaian yang sederhana namun begitu menenangkan.

Perlahan, Tia mengangkat kepalanya dari bahu Sam, menoleh untuk menatap wajah sang 'suami kredit'.

Jarak di antara wajah mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter.

Lampu ruang tamu yang temaram memantulkan binar lembut di mata Tia yang sedikit sayu menahan lelah. Di bawah sorot lampu itu, Sam bisa melihat dengan sangat jelas betapa cantiknya wanita di hadapannya, garis rahangnya yang anggun, bibirnya yang tersenyum tipis, serta kepolosan dan keteguhan jiwanya yang selama ini tersembunyi di balik jubah gengsi seorang wanita karier.

Samsudin terpaku. Jantung sang calon miliarder tunggal yang biasanya tenang di hadapan bahaya mendadak berdegup kencang luar biasa, jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar kecoak terbang tadi. Ada desir hangat yang membakar dadanya, sebuah perasaan asing namun begitu kuat yang membuatnya tak sanggup mengalihkan pandangan dari mata Tia.

1
Rommy Wasini Khumaidi
wah...sultan pulang kampung
Faidah Ida
jujur tentang Tia jg Sam sama ibumu....
Ardan
tunjukan pesona mu bang 😄👍
Rommy Wasini Khumaidi
pamer dong sama Nia,buruan tlp Nia,bilang suaminya CEO,trs habis dibeliin tas,sepatu sama gaun seharga setengah milyar
Ardan
beuuhhh duhai senang hati mbak tia,
adiknya memuji suami,
penasaran ntar as acara perkenalan sang CEO, hebohnya gimana tuh 😄
Ardan
duh mustinya bilang ikut untuk mendampingi dong, greget juga nih udah jadi menantu yg diangkat derajatnya oleh harta mertua, kok ga ada empati sih mbak 😌
Arin
Biar tuh pada bengong Tia dan calonnya melihat siapa pemilik perusahaan dia bekerja
Arin
Mas Sam adalah real pewaris yang menyamar🤣🤣🤣🤣😁😁😁😁
Ass Yfa
masih mikirin pinjol...mb Tia pinjolmu udah lunas dari awal
Ass Yfa
kok bentar lagi tamat....yg manis2 aja belum🤭🤭...masih mngglnya mbk lagi😄😄
Arin
Sudah saatnya Tia bahagia. Biarpun dari awal cuman niat nikah kontrak dengan sistem kredit🤭🤭🤭. Demi bungkam mulut saudara-saudaranya. Malah dapat pewaris kaya raya...
Ardan
sedih sih novel bagus kalo udahan, padahal bab nya baru dikit.
Faidah Ida
jgan mengada2 ya thor, no tamat yah, masih mau liat bucin akutnya Sam ke Tia
Dewi kunti
yaaaaahhh mosok Ndak tamat thor
Maya
melongo melongo dah tuh si Tia. jadi org kaya kamu Tia.😄
Anonim
ibunya Tia sama tantenya apa nanti gak pingsan tau menantunya triyulner
Arin
Bagaikan dapat durian runtuh Mba Tia nikah dengan Mas Sam😁. Nikah yang awalnya hanya tuntutan karena sudah berumur. Malah ternyata dapat sang pewaris perusahaan besar
Faidah Ida
atw bucin akut....
Ass Yfa
mau bukti apalagi Tia...sok..mas Sam tunjukkan
Ardan
tenang sam, akan tiba saatnya pada waktu yang tepat untuk sosok sang milyuner muncul dihadapan mba tia👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!