Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: KAMAR TIDUR PUNCAK CROWN TOWER
Suhu di dalam kamar tidur pribadi Shen Mo di lantai paling atas Crown Tower dijaga stabil pada angka dua puluh delapan derajat Celsius.
Ruangan luas berdominasi warna abu-abu gelap dan arang itu biasanya sunyi senyap, tempat di mana sang penguasa mafia merumuskan strategi bisnis gelap dan eksekusi sindikat. Namun malam ini, suasana di dalam kamar tersebut terasa tegang dan mencekam.
Dua mesin pelembap udara berdengung lembut di sudut ruangan, menyebarkan uap hangat untuk meringankan saluran pernapasan Luo Chen.
Di atas tempat tidur king-size berseprai beludru hitam, Chen berbaring terbungkus tiga lapis selimut kasmir tebal. Wajahnya masih terlihat sangat pucat, kontras dengan helai rambut hitamnya yang basah menempel di dahi. Di punggung tangan kanannya yang kecil, sebuah jarum infus terpasang rapi, mengalirkan cairan elektrolit dan vitamin penenang secara perlahan ke dalam pembuluh darahnya.
Dokter Lin, pria paruh baya berkacamata tebal yang merupakan kepala tim medis pribadi Crown Tower, menarik stetoskop dari telinganya dengan raihan napas berat. Ia merapikan alat-alat medisnya di dalam koper hitam.
"Bagaimana?" Suara Shen Mo memecah keheningan sudut ruangan.
Pria itu berdiri tegak di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Yucheng. Mantel panjangnya sudah dilepas, memperlihatkan kemeja hitam berkerah terbuka dengan lengan yang digulung sampai siku. Sisa-sisa amarah dan garis ketegangan di wajahnya belum sepenuhnya hilang.
Dokter Lin menunduk hormat sebelum menjawab, "Suhu tubuhnya sudah mulai naik secara bertahap, Tuan Shen. Hipotermia stadium duanya tertangani tepat waktu. Paru-parunya mengalami iritasi ringan akibat udara dingin di gudang pelabuhan, tapi tidak ada infeksi serius. Hanya saja..." Dokter Lin ragu-ragu sejenak.
"Katakan," desis Shen Mo dingin, matanya menyipit tajam.
"Kondisi fisiknya terlalu kurus untuk anak seusianya. Malnutrisi ringan, ditambah kelelahan ekstrem dan luka lecet akibat gesekan tali tambang. Ia butuh istirahat total setidaknya selama empat puluh delapan jam ke depan tanpa gangguan apa pun. Jangan biarkan ia berpikir atau memaksakan otak jeniusnya dulu, atau demamnya bisa naik lagi."
Shen Mo mengangguk kaku. "Bawa obatnya ke ruang tengah. Pastikan perawat berjaga di depan pintu."
"Baik, Tuan." Dokter Lin membungkuk hormat lalu meninggalkan kamar, menutup pintu geser otomatis itu rapat-rapat.
Kini, hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar yang luas itu.
Shen Mo melangkah pelan mendekati tempat tidur. Ia menarik sebuah kursi kulit berlengan tunggal, lalu duduk tepat di sisi ranjang. Matanya menatap lekat-lekat wajah Chen yang tertidur lelap. Napas bocah itu terdengar sedikit berat namun teratur.
Tangan Shen Mo terulur, menyentuh pergelangan tangan Chen yang dibalut perban tipis antiseptik untuk menutup luka goresan tambang kasar. Bayangan saat ia menemukan Chen di gudang tadi kembali berkelebat di kepalanya—bagaimana anak itu menatapnya dengan mata sayu namun penuh kalkulasi, bahkan di ambang kesadaran.
“Kamu telat dua belas menit dari kalkulasiku...”
Kalimat itu terngiang lagi. Shen Mo mendengus pelan, setengah kagum, setengah kesal. Tidak ada anak berusia tujuh tahun di dunia ini yang setelah disekap di gudang dingin dan hampir mati hipotermia, masih sempat-sempatnya mengoreksi ketepatan waktu kedatangan penyelamatnya.
Di atas meja samping tempat tidur, tas punggung kecil milik Chen tergeletak terbuka. Tas yang sama yang dibawa bocah itu saat pertama kali melangkah masuk ke gerbang Crown Tower membawa bukti transfer lima puluh juta dan foto tua ayahnya.
Shen Mo meraih tas tersebut. Ia hanya ingin merapikannya, namun jemarinya tak sengaja meraba sebuah map plastik tipis berukuran A5 di bagian dasarnya. Map yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan gerakan lambat agar tidak menimbulkan suara, Shen Mo menarik map itu keluar.
Di sampul depannya, tertera cap resmi yayasan amal eksternal yang dikelola secara anonim: Yayasan Kasih Mandiri Yucheng.
Alis Shen Mo langsung bertaut. Ia membuka map tersebut. Lembaran demi lembaran kertas di dalamnya membuat napas pria itu mendadak berhenti sepersekian detik.
Itu adalah rekapitulasi pembayaran biaya sekolah dasar elit dan tagihan bulanan rumah sakit ibu Chen selama tujuh tahun terakhir. Seluruhnya tercatat lunas. Dan di setiap slip transfer bank yang terlampir, tertera nomor rekening korporat terenkripsi milik Crown Tower—rekening pribadi yang hanya dipegang dan dikendalikan oleh Shen Mo seorang, melalui yayasan bayangan yang ia dirikan untuk menyalurkan dana amal rahasia di distrik utara.
Shen Mo terpaku.
Selama tujuh tahun ini, sejak kematian Li Wei (saudara angkatnya yang dikira tewas), ia memang memerintahkan sistem keuangannya untuk secara otomatis menyokong kehidupan ibu dan anak di panti pinggiran kota tanpa pernah turun tangan langsung, demi melindungi mereka dari intrik musuh-musuh sindikat.
Ia mengira rahasia itu tersimpan rapat di server terdalam Crown Tower yang dilindungi enkripsi militer tingkat tinggi.
Tapi sekarang, dokumen rekapitulasi itu ada di tangan bocah tujuh tahun.
Shen Mo mendongak, menatap wajah Chen yang masih terpejam damai di atas bantal. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena takut rahasianya terbongkar, melainkan karena sebuah kesadaran pahit yang menghantam ulu hatinya.
Jika Chen sudah tahu bahwa dialah penyokong dana di balik layar...
Kenapa ibu anak itu tetap mati?
Pertanyaan itu menggantung kejam di udara dingin kamar lantai puncak. Shen Mo mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan beban tak kasat mata kembali menghimpit dadanya.