Indonesia
NovelToon NovelToon
Mertua Durjana

Mertua Durjana

Status: tamat
Genre:Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:164.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Aisy Arbia

Hanum Hanjani sebagai menantu, semula dipuji dan diunggulkan saat masih menjadi staf perusahaan besar. Namun, saat dirinya di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja telah bangkrut membuat sikap ibu mertuanya berubah.

Hari-hari Hanum seperti berada di neraka. Ditambah lagi masa lalu Hanum dan sikap suaminya mulai bertolak belakang mengikuti permintaan ibunya.

Sanggupkah Hanum menjalani kehidupan pernikahan keduanya itu? Akankah dia mampu bertahan hingga akhir dan meluluhkan kezaliman ibu mertuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisy Arbia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Rencana Mengontrak

Syarat itu lumayan rumit, tetapi Ismawan pada akhirnya mau pergi ke rumah sakit untuk menjalankan tes kesehatan lebih dulu. Ini prosedur yang digunakan untuk mengetahui seberapa sehat suami dan istri.

Bila tes kesehatan itu sudah keluar, maka dokter akan menyarankan beberapa program kehamilan yang kemungkinan cocok. Bisa juga melalui pembuahan secara langsung atau malah cara lain. Itu bergantung pada kondisi pasangan suami istri itu.

"Aku deg-degan banget, Num. Aku berharap hasil tesnya baik-baik saja," kata Ismawan setelah keluar dari ruang praktik dokter kandungan.

"Aku juga, Mas. Cuma kita harus yakin kalau semuanya sehat. Setidaknya kita masih memiliki kesempatan untuk bisa memiliki anak."

Sebenarnya masih ada ganjalan di benak Hanum. Walaupun dia sehat, tetapi tekanan pikiran dan setres berkepanjangan pasti akan berpengaruh pada program kehamilan ini. Walaupun kembali lagi itu juga bergantung pada rezeki pemberian Allah SWT.

"Mas, kondisi Ibu kan sudah membaik. Bagaimana kalau kita ngekost atau minimal kontrak rumah," ujar Hanum sehingga membuat Ismawan menghentikan langkahnya.

"Apa maksudmu, Num? Ibu di rumah sendirian loh. Kamu tega meninggalkan Ibuku?" Ismawan merasa kalau Hanum sudah tidak peduli lagi pada ibunya.

"Bukan begitu, Mas. Kita hanya pisah rumah saja sampai aku hamil, Mas. Kalau Mas mau aku perhatian sama Ibu, Mas jangan khawatir. Aku akan menyiapkan makanan lalu mengantarnya ke sana. Setidaknya sampai kita berhasil melewati syarat yang diberikan Ibu, Mas. Aku nggak mau kalau kamu sampai menikah sama Ayu. Lebih baik aku yang mengalah."

Ada rasa sedih sekaligus terluka mendengar penuturan Hanum. Mungkinkah Ismawan kali ini akan menyetujui permintaannya?

"Akan aku pikirkan itu, Num."

"Mas, jangan bilang Ibu, ya? Aku jadi nggak enak hati. Ini hanya sampai kita berhasil melewati ujian saja."

"Kalau kita gagal, bagaimana? Apa aku juga harus menikah dengan Ayu?"

Kini giliran Hanum yang terdiam. Memang sebagai manusia harus berusaha lebih dulu, baru memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

"Mas, positif thinking, yuk. Gak ada yang sia-sia dengan kita yakin kalau semuanya akan berjalan lancar. Cuma masalahnya aku berharap kamu setuju dengan saranku ini, Mas. Coba kamu bilang sama Ibu dengan pelan, ya?"

Berada di tengah-tengah orang yang sama-sama keras kepala, Hanum harus berusaha sebaik mungkin mengambil sisi tengahnya. Dia juga tidak boleh salah bicara.

"Bu, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Ismawan yang baru saja sampai di rumah. "Num, pergilah ke dapur. Buatkan aku kopi dan teh untuk Ibu."

Ismawan sengaja meminta istrinya untuk menjauh supaya tidak terjadi pertengkaran. Terlebih hal yang akan dibicarakan ini mengandung keributan.

"Ada apa? Apa hasilnya sudah keluar? Apa Hanum benar-benar mandul?" Kasmirah sangat antusias bila Hanum mengalami hal-hal buruk itu.

"Bukan soal itu, Bu. Hanya saja ada hal lain dan aku harap Ibu bisa mendengar alasannya."

Kasmirah sedang mencoba menerka-nerka. Bila rencana pernikahan Ismawan dan Ayu masih dalam masa penangguhan, lalu apa yang akan disampaikan Ismawan sebentar lagi? Tiba-tiba perasaan Kasmirah menjadi tidak nyaman.

"Ada apa? Apa kamu sudah menyerah pada Hanum?"

Ismawan menggeleng. "Ini mengenai aku, Hanum, dan Ibu. Selama ini aku memang tidak tahu apa saja yang terjadi pada Hanum karena–"

"Wah, bagus sekali! Istrimu sudah mengadu yang macam-macam soal ibu, ya? Dia sudah memfitnah ibu apa saja? Ayo, katakan, Is! Biar ibu tahu seberapa liciknya Hanum."

Ismawan menarik napas panjang. Dia harus mencari kata-kata yang tepat supaya tidak menyakiti hati ibunya.

"Bukan, Bu. Hanum tidak mengadukan apa pun pada Is. Ini hanya masalah ketenangan saja. Aku harap Ibu juga paham. Jadi, tolong dengarkan Is dengan baik, Bu."

Kasmirah hampir saja berteriak. Beruntung Ismawan segera menguasai keadaan. Jika tidak, maka keributan antara menantu dan mertua pasti tidak dapat terelakkan.

"Hemm, katakan!"

"Aku dan Hanum berencana mengontrak rumah, Bu."

"Apa? Kamu mau ninggalin ibu sendirian di rumah? Hanum benar-benar mantu yang tidak tahu diri! Ibu mertuanya sedang sakit bukannya dirawat, tetapi malah mau ditinggalkan begitu saja. Ibu kan sudah bilang kalau tidak setuju kamu menikah dengan Hanum. Ngeyel, sih!" murka Kasmirah.

Belum usai sampai di situ saja, Hanum yang masih menyiapkan air panas untuk kopi dan teh harus meninggalkan dapur karena lengkingan suara ibu mertuanya.

"Hanum! Ke sini kamu!"

"Ada apa, Bu?"

Tatapan Hanum tidak lepas dari suaminya. Sementara Kasmirah menatap Hanum dengan tatapan nyalang dan sangat mengintimidasi.

"Kamu sudah mencuci otak anakku, ya? Apa maksudmu meminta anakku untuk mengontrak rumah? Duitmu banyak? Oh, atau kamu sengaja tidak mau merawat aku? Mantu durhaka kamu!"

"Bu, tenang dulu. Num, lebih baik kamu kembali ke dapur. Pasti kompor belum kamu matikan, kan? Kembali saja ke dapur dan selesaikan kopi yang kuminta," perintah Ismawan.

"Tunggu, Num! Jangan kabur!" teriak Kasmirah.

"Bu, tolong jangan berteriak. Biarkan Hanum menyelesaikan urusannya di dapur. Setelah itu, kita bicara lagi," ujar Ismawan merayu ibunya.

Hanum kembali ke dapur setelah diyakinkan oleh suaminya. Air di dalam panci memang sudah mendidih sehingga dia segera menyeduh teh dan kopi. Setelah itu dia mengambil nampan dan membawanya ke depan.

Hanum meletakkan di meja sesuai dengan posisi masing-masing. Kasmirah masih diam karena menunggu Hanum kembali.

"Duduk!" perintah Kasmirah.

Hanum duduk tepat di samping suaminya. Ismawan masih diam dengan pikirannya. Ternyata begitu sulit meyakinkan ibunya dan menuruti keinginan Hanum.

"Apa maksudmu meminta Ismawan untuk mengontrak rumah? Apa rumah ini sudah sempit sehingga kamu mau mengajak anakku keluar dari rumahnya sendiri. Katakan!"

"Bu, sebelumnya Hanum minta maaf. Tidak ada niatan seperti itu, tetapi Hanum juga ingin hamil. Kalau berada di rumah ini dan masih banyak pekerjaan yang harus Hanum selesaikan, waktu istirahat Hanum semakin berkurang. Apalagi beberapa waktu lalu baru keluar dari rumah sakit. Jadi, Hanum harus benar-benar melewati masa penyembuhan dengan tenang."

Kasmirah tidak boleh kalah. Ismawan adalah satu-satunya anak yang dia miliki. Kalau sampai keluar dari rumahnya sendiri, bagaimana dengan kata orang?

"Ibu tidak setuju. Ingat ya, Num. Ini rumah Ismawan. Kalau dia keluar dari rumah ini, apa kata tetangga? Ibunya mengusir anaknya sendiri. Kamu suka kalau ibu digunjingkan oleh orang banyak. Kamu puas, iya?"

"Bu, bukan begitu. Beri kami waktu satu bulan untuk membuktikan bahwa Hanum bisa hamil." Ismawan buka suara setelah melihat istrinya tersudut.

"Kalian ini lucu, ya. Kalau mau hamil, ya hamil saja. Nggak ada urusannya dengan kontrak rumah atau apa pun itu. Kalau memang subur dan ditakdirkan punya anak, di mana pun tempatnya masih bisa kok. Jangan alasan saja kamu!" Kasmirah memaki Hanum.

Padahal Hanum hanya ingin ketenangan. Dia butuh waktu untuk menghalau setres selama bersama ibu mertuanya yang sangat toxic itu.

1
Kapten Rajo Devi
yah .. novel istri goblok bin tolol lagi, kirain mau pinter
Sri Puryani
good job hanum
Sri Puryani
emangnya apaan sebln hamil?
Sri Puryani
Lumayan
Sri Puryani
pgn nampol is
Sri Puryani
cerai sj hanum ....cari kerja ke kota , rawat dirimu
Sri Puryani
cr kerja lg aja num
Sri Puryani
num jgn oon jd mantu, klo gk ada uang ya gak usah masak
Sri Puryani
lho hanum kamu gk minta uang gajimu? minta dong sama suami jgn mau pake uang sdr
Sri Puryani
rekam kelakuan mertuamu hanum
Sri Puryani
dl msh kerja, hrsnya uang ditabung num jgn dikshkan mertua byk" ...skrg repot sdr
djohano chen
salah satu penyebab cekcok rumah tangga adalah mertua perempuan
atin p
hanum..jd wanita koq ngoyo...g dihargai ttp bertahan....
atin p
tiwas loro ati...num
atin p
kalo sdh dihina pergi aja yg jauh..laki² bukan hnya ismawan...hadehhh....
atin p
hanum kow goblok y.....
atin p
minggat ae num....
Yora Fitriani86
sad
Anonim
Ternyata ada lagi mantu bodoh
𝕾𝖊𝖗𝖊𝖓𝖆𝖉𝖊 𝕰𝖚𝖓𝖔𝖎𝖆: nanti juga cerdas.🥰
total 1 replies
Iyee Kah
sedih bnget aku😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!