~ Satu-Satu
Tumbuh sebagai saudari kembar yang identik membuat Devina dan Divana tidak mempunyai kepribadian yang sama pula. Devi terkesan lebih feminim sementara diva terkesan lebih tomboy.
Devi dan Diva menjalani kehidupan sederhana bersama ibunya, hal tersebut. membuat keduanya kerap mendapat perlakuan tak mengenakan dari guru maupun teman temannya sendiri. Jika devi terkesan lemah dan mudah ditindas, tetapi itu tidak berlaku bagi diva yang akan selalu melawan sampai lawannya menyerah sendiri. Namun siapa sangka, penindasan itu malah membawa mereka ke suatu fakta yang tersembunyi dan membuat mereka harus memecahkan Satu per Satu fakta tersembunyi yang semakin lama semakin terbuka.
Fakta apakah itu?,Bagaimana cara mereka memechakan fakta fakta tersembunyi itu?,Lalu bagaimanakah kehidupan devi dan diva selanjutnya?,
Keep stay~📍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hy_rayaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
pagi hari yang cerah, seperti biasanya, devi dan diva sudah siap dengan seragam sekolahnya. devi terlihat disibuk menata makanan di meja dan diva baru saja keluar dari kamarnya.
"ibu mana dev?" tanya diva sembari berjalan kerah meja makan sambil mengikat rambut panjangnya
"Dikebun" jawab devi sambil mendudukan dirinya setelah menata menu sarapan pagi ini di atas meja
diva melirik ke arah pintu belakang yang menuju pada kebun kecil di belakang rumahnya,terlihat nindi sedang sibuk memindahkan bibit tanamannya yang sudah mulai tumbuh di media tanah yang sudah ia sediakan. diva mendudukan dirinya dan segera mengambil satu sendok nasi goreng di piringnya dengan tambahan kerupuk.
"hari ini bareng yah, ban sepeda aku kempes soalnya" ucap devi di sela sela kunyahannya
diva mengunyah makanannya santai dan mengangkat kepalanya menatap kearah devi yang juga menatapnya
"kenapa gak bilang dari kemarin sih, tau gitu kan gue bisa benerin" ucap diva ketus sambil mengerutkan keningnya
"justru itu, lo kemarin balik jam berapa emang?, mana sempet gue ngasih tau lo!" ucap devi jengkel sambil mengunyah keras kerupuk di mulutnya
diva terdiam sesaat dan mengingat jikalau kemarin dia pulangnya memang agak malam, bahkan ia sempat kena omel dari ibunya yang menyambutnya
"hem iya iya!,eh trus ibu gimana?" tanya diva sesaat baru ingat jikalau devi selalu bersama ibunya
"ibu katanya gak kepasar dulu hari ini, soalnya mau ngurus taneman dulu" jawab devi sambil mengangkat gelas berisi secangkir teh hangat dan meneguknya
diva menganguk pelan dan segera menyelesaikan makannya.
Setelah sarapan, diva segera memberesi meja makan lalu beralih mencuci piring yang tadi ia gunakan. setelah itu, itu pun berjalan ke arah kebun belakang.
Nindi terlihat fokus menaburkan pupuk ke arah bibit tanaman yang baru saja ia tanam. diva berdiri di ambang pintu disusul dengan devi yang sudah memakai ranselnya juga ikut berdiri di samping diva dan menatap ke arah ibunya yang langsung berbalik dan tersenyum kearah dua putrinya itu.
"maa, devi sama diva berangkat dulu yah!" ucap devi sambil memperbaiki tali ranselnya
nindi tersenyum dan mengangguk pelan
"hati hati yah kalian berdua!, jangan pulang kemaleman lagi yah!" ucap nindi sembari melambaikan tangannya
devi dan diva mengangguk dan membalas lambaian tangan ibunya.
"ibu hati hati yah!, kunci pintu!" ingat diva sambil berbalik dan bergegas untuk segera ke sekolah.
Diva menuntup pintu rumahnya dan berbalik menatap ke arah sepeda devi yang terparkir di samping teras rumah. benar saja ban nya kempes. diva lalu berjalan kearah motornya yang dimana devi sudah menunggunya sambil bercermin memperbaiki poninya.
"minggir deh lu, udah jam berapa ini!" ucap diva sembari memasukan kunci motornya dan melirik kerah devi yang langsung menjauh
devi melirik kearah jam tangan yang melingkar di tangannya, dan memperhatikan jarum jam yang terus bergerak menunjukan angka angka yang tersusun di sana
"baru juga jam 06.30" jawab devi dengan polosnya.
diva berdecak dan segera menaiki motornya.
bruummmm
diva membalikan motornya dan memperbaiki lengan jaketnya sambil menunggu devi naik ke jok belakang.
"tukaran yok div, biar gue yang ngebocengin lo!" ucap devi sambil menyengir menepuk bahu diva yang langsung memutar bola matanya malas.
"gak!" tolak diva sambil menyingkirkan tangan devi di bahunya
"ck, pelit amat, kan gue juga bisa bawa motor" elak devi berusaha menyakinkan diva
"gak div, yang ada nanti ni motor masuk bengkel lagi, lo gak inget terakhir kali lo diajari papa_"
diva menghentikan ucapannya saat menyebutkan sosok yang pernah hadir di kehidupan mereka,
devi ikut terdiam mendengar diva menyebut papa, rasanya ada sesuatu yang langsung menyita pikiran keduanya, ada perasaan sedih sekaligus rindu pada sosok papa yang sudah lama pergi dari hidupnya.
"udah lah dev yu brangkat!" ucap diva mengakhiri pembicaraan mereka berdua agar suasana pagi mereka tidak diliputi dengan perasaan sedih.
devi lalu segera mendudukan dirinya di jok belakang motor dan mereka berdua pun segera bergegas kesekolah.
...----------------...
"mau kemana kamu?" ucap seorang pria paruh baya yang nampak sedang duduk di ruang keluarga sambil menghembuskan asap rokok yang tadi ia hisap.
seorang gadis berseragam sekolah khas SMA BAKTI RAHENDRA itu nampak menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. gadis berambut hitam gelombang dengan ponny yang di kesampingkan nampak memegangi tali ranselnya sambil berbalik menatap kearah pria yang tadi menghentikannya.
"sekolah yah" jawab gadis itu singkat dengan nada selembut mungkin.
"kamu yakin kesekolah?" ucap pria tadi yang nampak mematikan puntung rokoknya dan beranjak dari duduknya.
"trus kiara mau kemana lagi yah? jawab kayla jengkel menghadapi ayahnya yang nampak dibawah pengaruh alkohol.
Pria paruh baya dengan penampilan kacau itu nampak berjalan mendekat kearah kayla yang berdiri mematung di depan pintu.
"kamu gak pernah ke sekolah kan?, kemana aja kamu? ha!" gertak pria itu sambil mengelilingi kayla
"paan sih yah! , ayah kan liat sendiri kiara setiap pagi sore berangkat dan pulang kerumah!" bantah kayla mulai terpancing emosi
"bohong kamu!" murka pria itu sambil mendorong tubuh kayla ke lantai dengan keras sehingga membuat kayla terjatuh dan meringis kesakitan saat lututnya menghantam lantai
"aakhhh" ringis kayla sambil memegangi kututnya yang terasa perih dan mencoba menahan air matanya yang mulai berlinang di pelupuk matanya
"kamu pikir bisa bohongin saya iya?! cepat jawab kemana aja kamu!" gertak pria itu sambil membuka ikat pinggang yang melingkar di perutnya
"kayla gak kemana mana yah, kayla cuman kesekolah!" ucap kayla sambil mendongak menatap kearah ayahnya yang nampak emosi
"bohong!" murka pria itu sambil menganyunkan ikat pinggangnya ke arah tangan kayla.
"aaakhh!, hikss hikss" tangis kayla saat ikat pinggang milik ayahnya mendarat dan mengenai lengannya
"kamu pasti nyariin bunda kamu kan?, atau kamu udah ketemu sama bunda kamu?, iya!" tebak pria itu dengan nada yang semakin meninggi sambil mendekat kearah kayla
"gak yah!, gak!" elak kayla sambil menunduk memeluk kedua lututnya
para pelayan dan pekerja dirumah itu hanya diam dan menyaksikan adegan penyiksaan yang sudah menjadi tontonan rutin mereka selama bekerja disana. tak ada yang berani mengelak atau pun membantu nona tunggal mereka, sebab mereka juga diancam akan mendapat hukuman berat.
trashshk...,, trasshkk..,
suara ayunan ikat pinggang terdengar nyaring saat bertemu dengan tubuh seorang gadis yang meringkuk memeluk lututnya berusaha menahan sakit.
"dimana bunda kamu?!!,dimana?!,dimana kalian bersembunyi, dimana!!" teriak pria itu penuh amarah sambil terus mengayunkan ikat pingganya dan berakhir mendendang tubuh kayla yang terus terisak.
"kiara gak tau yah!, kiara gak tau!, harus nya kiara yang nuntut ayah! karena ulah ayah semuanya hancur!,hancur yah!" balas kayla dengan nada parau sambil berusaha bangkit dan berdiri di hadapan ayahnnya yang menatapnya penuh amarah
"apa kamu bilang?,ha!? beraninya kamu!" murka pria itu dengan nada meninggi sambil melayangkan tangannya ke arah wajah gadis di depannya
plakkk
suara tamparan terdengar menggema membuat siapa pun yang mendengarnya ikut meringis sakit
kayla meneteskan air matanya dan berusaha menyeka air matanya
"kayla benci ayah!, kayla benci!!!" teriak kayla kemudian melangkah keluar dari rumah dan segera memasuki mobilnya sambil terus terisak.