Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Tuan Alaric, Xavier, dan Evren tiba di tenda Kaelen hampir bersamaan. Setelah semua orang berkumpul, Kaelen mulai menjelaskan situasi yang mungkin akan dihadapi Draven dalam beberapa bulan ke depan.
“Apa kalian memiliki solusi?” tanya Kaelen setelah selesai menjelaskan.
Ruangan seketika menjadi hening. Bahkan hembusan angin di luar tenda pun terdengar dengan lebih jelas.
Di tengah keheningan itu, Xavier mengangkat tangannya. Kemudian ia maju selangkah membuat semua orang di dalam ruangan itu langsung menatapnya penuh tanda tanya sekaligus penuh harap. Pengetahuan pemuda itu sangatlah luas melebihi orang biasa. Ditambah dengan kemampuan pemahamannya yang luar biasa, membuat Kaelen diam-diam menaruh harapan besar kepada solusi yang akan diberikan olehnya.
“Sebelumnya aku sudah pernah menyampaikan ini ke Tuan Lysander, persediaan kita cukup untuk bertahan sampai dua bulan ke depan tanpa bantuan logistik dari istana,” ucap Xavier yang dibalas anggukan oleh Lysander.
Semua orang menoleh ke arah Lysander lalu kembali fokus ke Xavier. Mereka menyimak dengan sangat serius setiap kata yang diucapkan olehnya.
“Kalau istana tetap mengirimkan logistik, meskipun dipangkas hingga setengahnya kita masih bisa bertahan selama musim dingin tanpa khawatir akan kelaparan.”
Saat mengurus logistik sebelumnya, Xavier sudah memperhitungkan semua stok yang tersimpan di gudang dan masa simpannya. Ia juga menghitung dengan jumlah yang dikonsumsi setiap harinya ditambah dengan warga di belakang barak. Berkat cara simpan yang lebih baik, sekarang mereka tidak perlu boros di awal untuk menghindari kerusakan bahan. Namun, kalau istana berhenti mengirim pasokan, itu tetap akan menjadi sebuah masalah baru yang harus dipikirkan solusinya sejak awal.
Kemudian Xavier berjalan ke arah meja Kaelen dan bertanya, “Tuan Kaelen boleh keluarkan peta wilayah Draven dan sekitarnya?”
Kaelen mengangguk dan mengeluarkan sebuah gulungan besar. Membuka gulungan tersebut dan membentangkannya di atas meja.
“Di belakang desa, ada tiga bukit,” ucap Xavier sambil menunjuk ketiga bukit tersebut di peta.
“Bukit yang kita datangi waktu itu saja ada begitu banyak bahan makanan. Kita bisa mengambil bahan-bahan dari ketiga bukit ini untuk menambah konsumsi sekaligus untuk menambah bibit tanaman yang akan kita budidayakan,” Ucapnya dengan menjadikan bukit yang pernah mereka ambil hasil buminya sebagai contoh.
Xavier melihat semua orang satu persatu kemudian melanjutkan ucapannya, “Untuk ternak, kita bisa menambah jumlahnya perlahan-lahan. Dengan cara ini, setidaknya dalam waktu satu tahun kita bisa mandiri tanpa bantuan dari istana.”
Kaelen melihat peta di depannya dan melihat dua desa di belakang barak. Desa paling dekat dengan barak sudah dibangun ulang dan tersisa satu desa kosong.
Dahinya mengernyit.
Wajahnya pun terlihat begitu serius.
“Bagaimana dengan lahannya? meskipun bekas desa ini kita jadikan lahan, hasilnya tidak akan bisa mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh pasukan,” Tanya Kaelen sambil menunjuk ke desa di sebelah Desa Alden. Desa yang sudah luluh lantak akibat perang.
Kemudian Xavier terdiam sesaat sambil memperhatikan setiap lokasi di dalam peta. Jarinya menunjuk ke area di dekat pegunungan Draven.
“Di sini ada padang rumput yang sangat luas. Aku pernah melewati tempat ini saat datang ke Draven. Lokasinya sangat bagus dan tanahnya juga subur, kita bisa menjadikannya sebagai lahan pertanian.”
“Lalu untuk tenaga, kita bisa menambahkan para prajurit yang tidak bertugas untuk ikut bertani bersama warga.”
Dalam waktu sesingkat ini, Xavier sudah berhasil memikirkan langkah sejauh itu.
Semua orang di dalam ruangan itu mengangguk setelah mendengar penjelasan panjang dari Xavier.
Namun tidak dengan Evren, ia berjalan menatap Xavier kemudian bertanya, “Tapi pasukan tidak bisa menunggu satu tahun lagi, kalau sampai jatah makan mereka berkurang atau kabar tentang krisis logistik ini tersebar, mental pasukan akan jatuh. Kita bisa kalah bahkan sebelum perang dimulai.”
“Benar, apalagi kita berada di wilayah perbatasan dengan tingkat peperangan paling tinggi di Alterus,” Ucap Lysander menambahi ucapan Evren.
“Dalam kondisi terdesak, pasukan memang bisa saja makan seadanya dan mungkin tidak makan sama sekali. Tapi kalau sampai berbulan-bulan makan seadanya terus, mental pasukan bisa benar-benar runtuh dan itu sangat berbahaya kalau musuh tiba-tiba mengepung dan menyerang,” Ucap Evren menjelaskan kondisi pasukan dengan lebih detail.
Xavier menatap Evren dengan tatapan serius. Jarinya masih diam menunjuk pegunungan Draven namun otaknya sudah bekerja keras untuk mencari solusi dari masalah yang disebutkan oleh teman satu tendanya itu. Sebelumnya ia hanya melihat dari sudut pandang logistik, tidak terpikirkan tentang mental prajurit yang akan menjadi taruhannya.
“Bagaimana kalau para petinggi berhemat, selama ini, orang dengan jabatan tinggi biasa menikmati makanan yang lebih beragam dan enak. Mulai sekarang, kita makan makanan yang sama dengan prajurit biasa,” ucap Kaelen.
“Itu bisa dijadikan langkah pertama, tapi tidak bisa menutupi seluruh kekurangan,” Xavier menjawabnya dengan cepat.
Ruangan kembali hening.
Semua orang berpikir keras bagaimana caranya agar bisa bertahan sampai waktu mereka bisa mandiri tiba. Selama belum bisa mendapatkan pasokan logistik dari tempat lain, istana bisa bebas menekan mereka.
“Untuk sementara kita bisa membentuk kelompok berburu dan juga menjual harta berharga lalu uangnya digunakan untuk membeli logistik dari kota sekitar Draven,” ucap Tuan Alaric yang akhirnya membuka suaranya setelah mengamati diskusi hingga sejauh ini.
Xavier kembali melihat peta di depannya. Matanya menelusuri setiap wilayah yang berada di sekitar Draven.
“Jalur termudah dan terdekat hanya ke kota kecil ini,” Ucap Xavier sambil menunjuk sebuah kota kecil.
“Benar, hanya kota kecil di depan benteng yang bisa kita tuju untuk saat ini. Di belakang pegunungan Draven memang ada satu kota besar, tapi sudah penuh wabah dan juga medan yang dilewati tidak memungkinkan kita untuk membawa banyak barang ke sana,” Evren membantu menjelaskan sambil menunjuk area belakang pegunungan Draven.
Ia dan Xavier sudah melewati tempat itu saat datang ke Draven. Lembah, sungai, hutan lebat, kemudian kota penuh wabah. Jalur itu terlalu beresiko untuk dilewati.
Sedangkan jalur di depan benteng, terdekat hanya ke kota kecil yang ditunjuk oleh Xavier. Namun, kota sekecil itu pasti logistik yang dijual pun terbatas. Tidak akan bisa menutup sebagian dari kebutuhan seluruh barak.
“Kalau bisa menjalin kerjasama perdagangan dengan negara tetangga, kita tidak perlu sepusing ini,” Gumam Xavier asal membuat semua orang kompak menoleh ke arahnya.
Menurut jalur yang tergambar di peta, menuju ke negara tetangga hanya perlu melewati sungai kecil dan padang rumput luas. Tidak ada gunung maupun lembah, secara jalur itu yang paling aman untuk dilewati kereta barang.
“Perdagangan dengan negara tetangga bisa saja dilakukan, tapi harus melalui diplomasi dua negara. Artinya harus melalui utusan istana. Apa istana akan membiarkannya?” tanya Lysander yang langsung diangguki oleh Kaelen.
Kondisi antara Draven dan Istana, hanya mereka berdua yang mengetahuinya. Karena itu, kemungkinan itu juga hanya mereka berdua yang tahu kalau cara itu pasti gagal.
“Kalau begitu, langkah pertama sesuai yang dikatakan Tuan Alaric, membeli logistik dari kota terdekat dan juga membentuk kelompok berburu. Kita tunggu tanggal delapan bulan depan, apakah istana masih mengirimkan logistik atau tidak.”
Semua orang mengangguk secara bersamaan. Karena memang belum ada cara yang lebih baik selain menunggu dan sedikit berhemat.
Meskipun sudah menemukan solusi sementara, wajah semua orang tetap tegang. Solusi sementara hanyalah sementara, jika ada keadaan darurat, keadaan di Draven bisa menjadi sangat kacau. Keadaan ini mempertaruhkan nasib semua orang, tidak hanya para prajurit saja.
Setelah sepakat dengan keputusan Kaelen, semua orang pergi dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Kaelen memerintahkan prajuritnya untuk memisahkan benda berharga yang sudah tidak terpakai ke dalam sebuah peti besar. Ia harus mulai menyiapkan barang yang akan dijual jika memang mereka nantinya akan membutuhkan dana darurat.
Uang kas dari istana setiap tahunnya hanya cukup untuk membayar gaji prajurit dan para pekerja yang ada. Sisanya untuk perawatan peralatan senjata dan juga menutup kebutuhan sehari-hari.
Setelah pertemuan menegangkan tadi, Evren tidak langsung kembali ke pos jaganya. Ia naik ke atas benteng dan melihat seluruh barak dari atas. Ada perasaan bersalah merayap di hatinya.
“Kalau aku tidak di sini, apa keadaan akan lebih baik?” gumamnya.
“Jenderal muda Evren ternyata bisa memikirkan hal bodoh seperti itu ya,” ucap Lysander dari belakangnya. Entah sejak kapan pemuda itu berdiri di sana bersama dengan Gavin.
Evren langsung menoleh dengan sedikit terkejut ke belakang. Wajah Lysander tidak pernah berubah apapun kondisinya. Selalu datar dan tenang, seperti tidak memiliki emosi sama sekali.
“Sejak awal Kaisar sudah mengincarku dan keluargaku, bahkan mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhku.”
Lysander ikut berdiri di sampingnya dan melihat apa yang sedang dilihat oleh Evren.
“Jadi kamu merasa kalau kejadian di Draven sekarang karena Kaisar menargetkan mu seorang?”
Evren terdiam sambil terus menatap tenda yang berdiri berjejer di belakang tembok pertahanan Draven. Di antara tenda itu, ada prajurit yang sedang berjalan melakukan patroli. Ada yang sedang berkumpul dan bercanda. Ada juga para pekerja yang sedang melakukan pekerjaan mereka mengurus berbagai hal.
“Kamu bukan siapa-siapa sekarang, Sang Kaisar tidak mungkin mengeluarkan tenaga dan waktu sebesar itu hanya karenamu seorang.”
Seketika Evren menoleh dan menatap Lysander. Jika dipikirkan lagi, ucapannya memang benar. Saat ini dirinya hanyalah prajurit biasa tanpa jabatan, tanpa kekuasaan, tanpa harta kekayaan. Bahkan Kaisar menahan seluruh keluarganya di ibukota.
“Apa Kaisar sedang mengincar sesuatu yang lebih besar di sini?” tanya Evren kepada Lysander.
Tanpa dia sadari, pertanyaannya tepat mengenai hati Lysander. Mereka berdua bertatapan beberapa saat sebelum Lysander memutus kontak mata itu terlebih dahulu.
“Lanjutkan saja tugasmu dengan baik,” ucapnya lalu berbalik.
“ayo pergi!”
“baik Tuan Muda.”
Saat berjalan kembali menuju ke tenda, Lysander memikirkan lagi pertanyaan Evren barusan.
“Gavin.”
“Ya, Tuan Muda?” Sahutnya.
“Apa aku benar-benar batu sandungan terbesar dalam hidup paman Kaisar?”
Gavin terdiam dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Secara status, Lysander memang menjadi duri dalam daging bagi pamannya. Namun itu semua adalah hak mutlaknya, tidak seharusnya ada yang menghalanginya hingga seperti ini.
“Sudahlah, kamu tidak perlu menjawabnya,” Ucap Lysander setelah merasakan keheningan beberapa saat.
“Baik, Tuan Muda.”