Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah di Pinggiran Kota
Besok malam adalah hari pertunjukan teater. Seluruh gedung teater disibukkan dengan persiapan akhir—lampu-lampu diatur ulang, properti panggung diperiksa, dan kostum-kostum dirapikan. Grey memimpin semua persiapan dengan teliti, matanya tajam mengawasi setiap detail.
"Sebarkan undangan ke seluruh bangsawan Ragonves," perintahnya pada bawahannya. "Pastikan semua orang tahu tentang pertunjukan ini."
Bawahannya mengangguk dan segera bergegas menyebarkan undangan. Dalam hitungan jam, kabar tentang teater megah yang akan dipentaskan besok malam menyebar cepat. Para bangsawan penasaran—pertunjukan apa yang akan disuguhkan oleh keluarga Vincentes? Banyak dari mereka mulai mempersiapkan diri, memilih pakaian terbaik mereka untuk acara besar itu.
---
Di Rumah Vega - Pinggiran Kota Ragonves
Di sebuah rumah yang cukup besar namun terletak jauh dari kediaman keluarga Vincentes, Vega Arcsein sedang menuntun Belinda Helrena memasuki pintu depannya. Rumah itu sederhana namun terawat, dikelilingi oleh pepohonan rindang yang membuatnya terasa tersembunyi dari hiruk-pikuk kota.
"Ini rumah saya, Nyonya," ucap Vega, membuka pintu dengan anggun. "Tak mewah, tapi damai karena jauh dari keributan area luar."
Belinda melangkah masuk, matanya menyapu ruangan yang bersih dan rapi. Suasana di dalam rumah terasa tenang—hanya suara angin yang berhembus di antara dedaunan di luar yang terdengar.
"Di sini terasa tenang," ucap Belinda pelan, matanya masih mengamati sekeliling.
Vega merasa sedikit gugup.
"Jangan bilang wanita ini mencari tahu kenapa aku sengaja tinggal di sini," pikirnya. "Aku harus mengalihkan perhatiannya."
Ia segera menarik tangan halus Belinda dan membawanya masuk lebih dalam ke ruang tamu.
"Perabotannya cuma seadanya, tapi kesannya tetap mewah," ucapnya sambil memperlihatkan perabotan rumahnya—kursi kayu jati, meja kecil dengan vas bunga, dan perapian yang menyala hangat. "Nyonya bisa tinggal di sini semau Nyonya. Saya jarang berada di rumah ini—saya lebih sering tidur di kediaman keluarga Vincentes karena di sana banyak makanan mewah."
Belinda mengangguk pelan. "Terima kasih, Vega."
Meskipun rumah ini tampak sepi, setidaknya ia tidak tidur di jalan kota Ragonves. Itu sudah cukup.
Vega mengajak Belinda duduk di kursi ruang tamu, lalu dengan gerakan lembut, ia menyandarkan kepalanya ke dada Belinda.
"Nyonya," ucapnya, suaranya lembut, "saya merasa senang melihat Nyonya tidak sedih lagi."
Belinda tersenyum tipis, tangannya tanpa sadar mengusap rambut Vega. "Kamu memang pandai membuatku malu, Vega."
"Bagus," pikir Vega dalam hati, tersenyum puas. "Dia dengan mudah mempercayaiku."
Jika Belinda sudah menjadi miliknya, maka ia hanya perlu mencari cara lain menghadapi Alarga—yang kini membela keluarga Sienta dengan gigih.
"Vega."
Vega bangun dari tempatnya bersandar, menatap Belinda dengan tatapan penuh perhatian. "Iya, Nyonya. Saya di sini."
Ia menggenggam tangan Belinda, menenangkannya yang tampak ragu.
Belinda menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara bergetar, "Aku ingin kamu menikahiku. Dan kita tetap bersama hingga kita punya anak nantinya."
Vega terkejut. Tubuhnya menegang.
"Apa? Me... menikah?"
Belinda memeluknya erat, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak ingin terbayang oleh keluarga Sienta yang mengusirku. Aku ingin memulai hidup baru bersamamu, Vega."
Vega terdiam. Tangannya tetap membelai rambut Belinda dengan lembut, tetapi di dalam hatinya, ia panik.
"Aku bahkan belum mempersiapkan rencana kabur," pikirnya, jantungnya berdebar kencang. "Tapi dia ingin aku menikahinya. Bagaimana ini? Apa rencanaku selanjutnya?"
Ia menunduk dalam diam di pelukan Belinda.
"Aku sebenarnya ingin menolak," lanjutnya, "tetapi jika aku menolak, Belinda akan kecewa—bahkan marah. Aku masih membutuhkannya untuk mendapatkan informasi dari dalam keluarga Sienta."
Ia menghela napas panjang, tersenyum pahit.
"Sepertinya aku terjebak."
---
Tanpa disadari oleh Vega dan Belinda, dari balik jendela yang terbuka sedikit, sepasang mata mengamati mereka dengan saksama.
Garius Vincentes berdiri diam di balik semak-semak, tangannya dengan cekatan mengeluarkan selembar kertas dan pensil. Ia mulai melukis dengan cepat—menggambarkan Vega dan Belinda yang sedang berpelukan hangat di ruang tamu.
"Selesai," pikirnya, tersenyum puas saat lukisan itu selesai. "Aku tinggal memberikan hasil ini kepada Ratu Elerana, dan semua tugasku akan selesai."
Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, menyimpannya di saku jubahnya.
"Vega," pikirnya, "tak peduli apa yang kau lakukan. Tapi sekarang, aku ingin pekerjaanku selesai."
Dengan gerakan tak terdengar, Garius perlahan menghilang ke dalam bayangan, mulai bergerak menuju Kerajaan Larantes.
"Semoga saja setelah ini, Tuan Muda Grey tidak memberiku misi lagi," keluhnya dalam hati. "Aku ingin seperti keluarga Vincentes lain—duduk santai di kursi tanpa adanya misi."
Ia menggelengkan kepalanya, tetapi langkahnya tetap cepat dan pasti.
"Tapi untuk saat ini, aku harus menyelesaikan tugasku."
Di kejauhan, di bawah cahaya bulan, Garius melesat seperti bayangan menuju kerajaan timur, membawa lukisan yang akan mengubah segalanya.
---
Kembali ke Rumah Vega
Vega masih terdiam dalam pelukan Belinda. Pikirannya kacau, tetapi ia mencoba tersenyum.
"Nyonya," ucapnya akhirnya, suaranya lembut, "ini adalah kehormatan besar bagi saya. Tapi... bisakah kita membicarakannya nanti? Saya ingin memastikan semuanya sempurna untuk Nyonya."
Belinda mengangguk, tersenyum bahagia. "Tentu, Vega. Aku percaya padamu."
Vega menghela napas lega, tetapi di dalam hatinya, ia mulai menyusun rencana baru.
"Aku harus segera melarikan diri dari sini," pikirnya. "Sebelum segalanya semakin rumit."