Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Perjanjian Dua Darah

Wilayah Ragonves terbentang luas di barat laut Kerajaan Divente, dikelilingi pegunungan yang diselimuti kabut dan hutan lebat yang menyimpan bisu. Negeri ini subur, makmur, dan selama berabad-abad menjadi poros perdagangan yang penting. Namun, di balik ketenteramannya, Ragonves menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh—pertikaian dua keluarga besar yang membagi kekuasaan dengan cara bertolak belakang.

Di satu sisi, Keluarga Vincentes memimpin dengan tangan besi yang tetap berujung beludru. Mereka menegakkan hukum tanpa pandang bulu, tetapi juga mendengar keluh kesah rakyatnya. Di sisi lain, Keluarga Sienta menguasai dengan bayang-bayang ketakutan. Siapa pun yang berani menyuarakan perlawanan akan lenyap dalam malam, dan mayatnya tak pernah ditemukan—hanya bisik-bisik ketakutan yang tersisa.

Rakyat Ragonves belajar untuk memilih. Mereka menghormati Vincentes, tetapi mereka takut pada Sienta.

Selama ratusan tahun, dua keluarga itu saling menebas dalam diam. Intrik, racun, tikaman dari bayangan—semuanya telah terjadi. Namun, takdir berkata lain. Perang tak berujung hanya melemahkan keduanya, dan ancaman dari luar mulai mengintai. Maka, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah perjanjian damai ditegakkan.

Di Aula Agung Kristal, di bawah cahaya lilin yang berkelap-kelip dan langit-langit berukir naga purba, Gran Vincentes dan Kenta Sienta membubuhkan tanda tangan mereka di atas perkamen emas. Isi perjanjian itu sederhana: perdamaian melalui pernikahan. Penerus kedua keluarga akan dipersatukan, darah lama bercampur, dan permusuhan pun sirna.

Grey Vincentes berdiri di depan altar, dadanya membuncah dengan rasa syukur yang hampir meluap. Rambut putihnya tersisir rapi, pakaian kebesarannya berkilauan di bawah sorot lampu kristal. Senyumnya cerah—terlalu cerah, bagi sebagian orang yang tahu.

Ia menatap gadis di hadapannya.

Keilla Sienta.

Gadis itu berdiri seperti patung marmer yang diukir dewi. Wajahnya putih bersih, rambut hitam pekatnya tergerai jatuh menutupi bahu mungilnya, dan matanya—dua lautan biru tua yang dingin nan memikat. Ia tidak tersenyum. Tetapi bagi Grey, itu justru membuatnya semakin cantik.

"Apa aku bermimpi?"

Grey menggenggam tangan Keilla dengan lembut. Hangat kulitnya terasa nyata, namun Keilla seperti tidak merasakannya sama sekali.

"Setelah sekian lama... akhirnya kita bisa bersama, Keilla," bisik Grey, suaranya bergetar oleh bahagia.

Sorak-sorai memenuhi aula. Keluarga Vincentes bersorak penuh kelegaan—perang saudara yang telah merenggut banyak nyawa akhirnya berakhir. Kerabat jauh saling berpelukan, anggur bersoda memenuhi gelas, dan orkestra memainkan melodi kegembiraan.

Namun, di sisi lain aula, sorak-sorai dari Keluarga Sienta terdengar hampa. Tepuk tangan mereka seragam, datar, seperti ritual yang dipaksakan. Wajah-wajah mereka tidak merekah, hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi batu. Beberapa di antaranya bahkan menatap Keilla dengan sorot yang sulit diartikan—ibarat belas kasih yang bercampur pengkhianatan.

Keilla merasakan genggaman Grey di tangannya. Hangat. Tulus. Menyiksa.

Ia ingin melepaskannya. Ia ingin berlari meninggalkan aula ini, meninggalkan senyum bodoh pemuda itu, dan terbang sejauh mungkin dari takdir yang ia benci. Tapi ia tidak bisa. Kakinya terpaku, bukan karena cinta, tetapi karena beban yang ia pikul.

"Jika aku pergi, ayah dan ibu akan binasa. Keluarga Sienta akan terkoyak. Dan Ragonves... akan kembali berlumuran darah."

Keilla menarik napas dalam-dalam. Lalu, ia menguatkan senyumnya.

"Iya, Grey. Aku juga senang," ucapnya, suara lembutnya bagai lonceng perak. "Kedua keluarga kini berdamai. Tidak ada lagi permusuhan. Itulah yang terpenting."

Grey menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, Keilla adalah anugerah—seorang gadis sempurna yang tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas, berbakat, dan kini menjadi miliknya.

"Kau tahu, Keilla?" Grey menatap tajam ke matanya. "Kita akan mengubah takdir ini. Aku berjanji. Keluarga Vincentes dan Sienta tidak akan pernah saling bermusuhan lagi. Aku akan membuatnya nyata."

Keilla hanya mengangguk pelan. Tapi di dalam hatinya, ia mendecih.

"Kau pikir aku mau? Tentu tidak. Aku sangat terpaksa menerima semua ini."

Di belakang panggung, Kenta Sienta dan istrinya, Belinda Helrena, menyaksikan putri mereka. Sang Patriark berdiri kaku, tangannya menggenggam erat pegangan kursi, sementara Belinda menahan napas. Mereka berdua memasang wajah datar, seperti topeng yang tak pernah retak.

Namun, jika seseorang menatap cukup dekat, mereka akan melihat urat di tangan Kenta menegang, dan sudut mata Belinda berkaca—sedikit, sekilas, sebelum ia mengedipkannya.

Di tengah keramaian dan sorak sorai, Grey menatap langit-langit aula dan berbisik penuh harap.

"Aku harap tidak ada masalah bagi kedamaian yang tenang ini."

Di kejauhan, di bawah cahaya lilin yang memudar, Keilla menunduk. Tangan kirinya diam-diam menggenggam erat ujung gaunnya, hingga buku-buku jarinya memutih.

Masalah?

Masalah akan selalu muncul, pikirnya.

Terutama ketika damai itu dibangun di atas kebohongan.

Episodes
1 Perjanjian Dua Darah
2 Hening di Balik Tirai
3 Pelayan Baru
4 Teman di Balik Tipu Daya
5 Topeng di Balik Senyuman
6 Panggung Kepalsuan
7 Bisik di Malam Hari
8 Teater di Atas Panggung
9 Panggung Takdir
10 Bayang-Bayang di Balik Tirai
11 Sentuhan di Bawah Pohon
12 Intrik di Balik Kemegahan
13 Surat di Balik Keheningan
14 Nama yang Terkubur
15 Cincin di Tengah Malam
16 Jebakan di Taman Malam
17 Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18 Kembali ke Panggung
19 Ratu yang Gelisah
20 Senyum di Balik Topeng
21 Senyum yang Menghancurkan
22 Di Balik Ketenangan
23 Kabar dari Wilayah Luar
24 Pengkhianatan di Dalam Istana
25 Cincin dan Pertengkaran
26 Anggur di Balik Semak
27 Rahasia di Balik Panggung
28 Retaknya Keluarga Sienta
29 Hilangnya Ressa
30 Serigala dan Cahaya Misterius
31 Tatapan dan Kalung Misterius
32 Pelukan di Balik Layar
33 Bayang-Bayang di Kejauhan
34 Rumah di Pinggiran Kota
35 Mahkota dan Bayangan Malam
36 Ketenangan di Tengah Kehangatan
37 Rencana di Balik Rumah
38 Pengakuan di Bawah Bintang
39 Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40 Rencana yang Terlupakan
41 Kerajaan yang Sunyi
42 Lukisan dan Keheningan
43 Sayembara Hati
44 Topeng di Tengah Kerumunan
45 Keputusan di Tengah Kehancuran
46 Di Balik Tirai Panggung
47 Biola di Tengah Hutan
48 Penyamar di Malam Hari
49 Drama di Atas Panggung
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Perjanjian Dua Darah
2
Hening di Balik Tirai
3
Pelayan Baru
4
Teman di Balik Tipu Daya
5
Topeng di Balik Senyuman
6
Panggung Kepalsuan
7
Bisik di Malam Hari
8
Teater di Atas Panggung
9
Panggung Takdir
10
Bayang-Bayang di Balik Tirai
11
Sentuhan di Bawah Pohon
12
Intrik di Balik Kemegahan
13
Surat di Balik Keheningan
14
Nama yang Terkubur
15
Cincin di Tengah Malam
16
Jebakan di Taman Malam
17
Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18
Kembali ke Panggung
19
Ratu yang Gelisah
20
Senyum di Balik Topeng
21
Senyum yang Menghancurkan
22
Di Balik Ketenangan
23
Kabar dari Wilayah Luar
24
Pengkhianatan di Dalam Istana
25
Cincin dan Pertengkaran
26
Anggur di Balik Semak
27
Rahasia di Balik Panggung
28
Retaknya Keluarga Sienta
29
Hilangnya Ressa
30
Serigala dan Cahaya Misterius
31
Tatapan dan Kalung Misterius
32
Pelukan di Balik Layar
33
Bayang-Bayang di Kejauhan
34
Rumah di Pinggiran Kota
35
Mahkota dan Bayangan Malam
36
Ketenangan di Tengah Kehangatan
37
Rencana di Balik Rumah
38
Pengakuan di Bawah Bintang
39
Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40
Rencana yang Terlupakan
41
Kerajaan yang Sunyi
42
Lukisan dan Keheningan
43
Sayembara Hati
44
Topeng di Tengah Kerumunan
45
Keputusan di Tengah Kehancuran
46
Di Balik Tirai Panggung
47
Biola di Tengah Hutan
48
Penyamar di Malam Hari
49
Drama di Atas Panggung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!