Hening di Balik Tirai

Kediaman Keluarga Vincentes tenggelam dalam sunyi.

Setelah gemuruh sorak dan alunan musik di Aula Agung Kristal meredup, rumah besar itu kembali keheningannya yang khas—hening yang telah menjadi teman setia Grey selama bertahun-tahun. Lampu-lampu kristal di lorong utama menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding marmer yang dingin. Tak ada tawa, tak ada canda. Hanya detak jam tua dari ruang tengah yang bergema seperti jantung rumah yang berdetak lambat.

Gran Vincentes duduk di kursi ruang keluarga, punggungnya tegak meski usianya telah melewati setengah abad. Jari-jarinya yang keriput menggenggam erat tongkat ukiran elang, matanya yang tajam mengikuti sosok putranya yang melangkah perlahan menuju tangga. Rambut abu-abu Gran disisir rapi, dan rahangnya mengeras seperti batu—kebiasaan lamanya saat sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Grey."

Suara Gran berat, bergema di ruang kosong. Langkah Grey terhenti di anak tangga pertama.

"Kau lagi-lagi ingin mengurung diri di dalam kamar?" nada Gran terdengar seperti teguran, namun ada keletihan di baliknya.

Grey menoleh, senyum cerahnya merekah—terlalu cerah untuk suasana yang sunyi. "Ayolah, Ayah. Aku tidak punya semangat lagi setelah tidak bisa tinggal satu atap bersama Keilla."

Ia membayangkan gadis itu berada di sini, di rumah ini, berjalan di lorong yang sama, duduk di kursi yang sama. Bayangan itu saja sudah cukup membuat dadanya berdebar.

Gran menghela napas panjang, dahinya berkerut. "Dasar anak aneh. Ini baru sebatas kesepakatan. Kau pikir ini semua sudah selesai?" Ia menatap putranya dengan sorot tajam. "Jika hubungan kalian retak, maka kedua keluarga akan kembali bermusuhan. Perjanjian ini adalah pisau bermata dua, Grey. Jangan kau lupakan itu."

Grey menahan diri untuk tidak mendengus. Ia sudah terlalu sering mendengar peringatan yang sama.

"Terserah apa yang Ayah katakan. Aku ingin beristirahat." Ucapnya singkat, lalu melanjutkan langkah menaiki anak tangga.

Di balik punggungnya, Gran menggenggam tongkatnya lebih erat. Matanya menyipit, menatap punggung putranya yang semakin menjauh.

"Anak bodoh," gumamnya dalam hati. "Kau tidak tahu apa yang kau hadapi."

---

Kamar Grey terletak di ujung lorong lantai dua, menghadap taman belakang yang kini gelap diterpa malam. Ia mendorong pintu kayu jati berukir naga dan masuk, membiarkan pintu tertutup perlahan di belakangnya.

Ruangan itu luas, tetapi terasa hampa.

Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan usang, sebagian besar adalah potret ibunya—seorang wanita dengan rambut pirang keemasan dan senyum yang pernah menerangi setiap sudut rumah ini. Grey menatap salah satu lukisan itu, dan untuk sesaat, hatinya terasa sesak.

"Ibu..."

Beberapa tahun telah berlalu sejak ibunya pergi. Dan sejak saat itu, rumah keluarga Vincentes kehilangan warnanya. Tak ada lagi aroma masakan ibu di dapur, tak ada lagi tawa yang menggema di ruang keluarga. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan dinding-dinding dingin yang bisu.

Grey duduk di tepi ranjangnya, tubuhnya terasa berat. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dan membiarkan pikirannya melayang.

"Hidupku benar-benar hampa," bisiknya lirih. "Andai saja Keilla berada di sini... mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini."

Ia tersenyum sendiri membayangkan gadis dingin itu berjalan di kamarnya, menyentuh buku-buku di rak, atau duduk di kursi dekat jendela sambil membaca. Grey tahu Keilla masih bersikap dingin padanya—tapi ia percaya, seiring waktu, gadis itu akan luluh.

"Dulu, aku bahkan tidak boleh mendekatinya," kenangnya.

Ia masih ingat saat pertama kali ia memutuskan untuk mengejar Keilla, bertahun-tahun lalu. Saat itu, kedua keluarga masih dalam puncak permusuhan. Para pengawal Vincentes dan Sienta hampir saja terlibat perang saudara hanya karena Grey nekat mengirimkan surat cinta kepada putri musuh bebuyutan mereka. Gran hampir mencabut hak warisnya. Tapi Grey tetap bertahan.

Dan kini, semua usahanya berbuah manis. Keilla menjadi tunangannya. Kedua keluarga berdamai.

"Tapi..."

Grey mengerutkan kening. Bayangan keluarga Sienta muncul di benaknya. Kenta Sienta yang kaku, Belinda yang dingin, dan para kerabat Sienta yang tepuk tangannya hampa. Ada sesuatu di mata mereka—sesuatu yang tidak bisa ia uraikan.

"Apa mereka benar-benar menyetujui perjanjian damai ini?"

Grey menggigit bibir bawahnya. Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran itu.

"Keilla masih bersikap acuh padaku," akunya dalam hati. "Tapi itu wajar. Aku tahu gadis itu tidak mudah terbuka. Namun... lambat laun, ia akan menyukai diriku. Aku yakin."

Namun, pikirannya kembali pada Kenta dan Belinda. Sekilas, saat acara pertunangan, ia melihat sesuatu di wajah mereka. Bukan kebahagiaan. Bukan kelegaan.

"Mereka seperti menyembunyikan sesuatu."

Grey tahu Kenta Sienta adalah pria yang tegas dan licik—seorang pemimpin yang tidak pernah menunjukkan kelemahan. Dan Belinda... wanita itu adalah misteri tersendiri. Anggun, dingin, dan matanya selalu seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.

"Lupakan saja," gumam Grey, berbaring di ranjang empuknya. "Mungkin mereka belum terbiasa. Mungkin aku terlalu banyak berpikir."

Ia menutup matanya, mencoba menenangkan debaran di dadanya.

"Lebih baik aku tidur. Kuharap besok bisa memulai hari dengan damai."

Udara malam menusuk dari balik jendela yang sedikit terbuka, membawa bau tanah basah dan dedaunan. Grey menarik selimutnya, memejamkan mata.

Tapi tidur tidak datang dengan mudah.

Di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan Keilla—wajahnya yang dingin, tatapannya yang kosong, dan senyum yang dipaksakan.

Ia sadar, ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang apa yang terjadi di balik layar. Tentang masa lalu kedua keluarga. Tentang alasan sesungguhnya Kenta Sienta menyetujui perjanjian damai. Tentang mengapa keluarganya sendiri terasa asing baginya.

"Besok," bisiknya dalam hati. "Besok aku akan mulai mencari tahu."

Namun untuk malam ini, ia memilih untuk beristirahat—mengumpulkan energi, menenangkan pikirannya, dan bersiap menghadapi apa pun yang disembunyikan dari dirinya.

Di luar, angin malam berdesir pelan, membawa bisik-bisik yang tak terdengar.

Episodes
1 Perjanjian Dua Darah
2 Hening di Balik Tirai
3 Pelayan Baru
4 Teman di Balik Tipu Daya
5 Topeng di Balik Senyuman
6 Panggung Kepalsuan
7 Bisik di Malam Hari
8 Teater di Atas Panggung
9 Panggung Takdir
10 Bayang-Bayang di Balik Tirai
11 Sentuhan di Bawah Pohon
12 Intrik di Balik Kemegahan
13 Surat di Balik Keheningan
14 Nama yang Terkubur
15 Cincin di Tengah Malam
16 Jebakan di Taman Malam
17 Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18 Kembali ke Panggung
19 Ratu yang Gelisah
20 Senyum di Balik Topeng
21 Senyum yang Menghancurkan
22 Di Balik Ketenangan
23 Kabar dari Wilayah Luar
24 Pengkhianatan di Dalam Istana
25 Cincin dan Pertengkaran
26 Anggur di Balik Semak
27 Rahasia di Balik Panggung
28 Retaknya Keluarga Sienta
29 Hilangnya Ressa
30 Serigala dan Cahaya Misterius
31 Tatapan dan Kalung Misterius
32 Pelukan di Balik Layar
33 Bayang-Bayang di Kejauhan
34 Rumah di Pinggiran Kota
35 Mahkota dan Bayangan Malam
36 Ketenangan di Tengah Kehangatan
37 Rencana di Balik Rumah
38 Pengakuan di Bawah Bintang
39 Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40 Rencana yang Terlupakan
41 Kerajaan yang Sunyi
42 Lukisan dan Keheningan
43 Sayembara Hati
44 Topeng di Tengah Kerumunan
45 Keputusan di Tengah Kehancuran
46 Di Balik Tirai Panggung
47 Biola di Tengah Hutan
48 Penyamar di Malam Hari
49 Drama di Atas Panggung
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Perjanjian Dua Darah
2
Hening di Balik Tirai
3
Pelayan Baru
4
Teman di Balik Tipu Daya
5
Topeng di Balik Senyuman
6
Panggung Kepalsuan
7
Bisik di Malam Hari
8
Teater di Atas Panggung
9
Panggung Takdir
10
Bayang-Bayang di Balik Tirai
11
Sentuhan di Bawah Pohon
12
Intrik di Balik Kemegahan
13
Surat di Balik Keheningan
14
Nama yang Terkubur
15
Cincin di Tengah Malam
16
Jebakan di Taman Malam
17
Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18
Kembali ke Panggung
19
Ratu yang Gelisah
20
Senyum di Balik Topeng
21
Senyum yang Menghancurkan
22
Di Balik Ketenangan
23
Kabar dari Wilayah Luar
24
Pengkhianatan di Dalam Istana
25
Cincin dan Pertengkaran
26
Anggur di Balik Semak
27
Rahasia di Balik Panggung
28
Retaknya Keluarga Sienta
29
Hilangnya Ressa
30
Serigala dan Cahaya Misterius
31
Tatapan dan Kalung Misterius
32
Pelukan di Balik Layar
33
Bayang-Bayang di Kejauhan
34
Rumah di Pinggiran Kota
35
Mahkota dan Bayangan Malam
36
Ketenangan di Tengah Kehangatan
37
Rencana di Balik Rumah
38
Pengakuan di Bawah Bintang
39
Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40
Rencana yang Terlupakan
41
Kerajaan yang Sunyi
42
Lukisan dan Keheningan
43
Sayembara Hati
44
Topeng di Tengah Kerumunan
45
Keputusan di Tengah Kehancuran
46
Di Balik Tirai Panggung
47
Biola di Tengah Hutan
48
Penyamar di Malam Hari
49
Drama di Atas Panggung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!