Pelayan Baru

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai beludru merah, jatuh tepat mengenai kelopak mata Grey. Ia mengerutkan kening, lalu perlahan membuka matanya—silau sesaat membuatnya mengucek mata dengan gerakan malas.

"Hari sudah pagi?"

Grey duduk tegak di ranjangnya, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Ia menguap lebar, meregangkan tubuh, lalu tiba-tiba matanya membulat.

"Astaga! Hari ini aku harus mengunjungi mansion keluarga Sienta!"

Ia melompat dari ranjang dengan gerakan tergesa, hampir tersandung selimut yang melilit di kakinya. Dengan panik, ia meraih seragam kebesarannya—jas biru tua dengan bordir emas lambang keluarga Vincentes—dan mengenakannya dengan kancing yang hampir salah.

"Sial, aku terlambat!" gumamnya sambil mengancingkan kemejanya dengan terburu-buru. "Aku harus menemui Keilla dan... dan menjilat keluarganya agar mendapatkan informasi yang mereka sembunyikan."

Ia berlari keluar kamar, melompati tiga anak tangga sekaligus di lorong yang sunyi. Hening pagi masih menyelimuti kediaman Vincentes, hanya suara langkah kakinya yang bergema di dinding marmer.

Namun, di ujung lorong dekat pintu masuk utama—

Bruk!

Grey menabrak sesuatu—atau seseorang—dengan keras. Tubuhnya terpental mundur, dan ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Buku-buku dan peralatan kebersihan berserakan di sekelilingnya.

"Aduh! Sialan, jalan itu pakai mata—bukan mata kaki! Eh—"

Grey berdiri dengan cepat, hendak memarahi orang yang menabraknya. Tapi kata-katanya menggantung di udara saat ia melihat sosok di hadapannya.

Seorang gadis muda berdiri di depannya, tubuhnya sedikit gemetar. Rambut hitamnya terikat rapi, namun beberapa helai lepas dan menutupi pipinya yang kemerahan karena malu. Matanya—cokelat keemasan—menunduk takut, dan tangannya menggenggam erat sapu yang hampir jatuh.

Grey terdiam. Ia belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.

"Maafkan saya, Tuan Muda!" suara gadis itu bergetar. "Saya tidak sengaja. Tolong maafkan saya—saya benar-benar tidak bermaksud—"

Gadis itu membungkuk dalam-dalam, hampir menyentuh lantai dengan keningnya. Ketakutannya begitu nyata, seolah ia mengharapkan hukuman berat.

Grey menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Ah, tidak apa-apa. Lagipula ini salahku karena aku terlalu tergesa-gesa." Ia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. "Maafkan aku juga."

Gadis itu menatap tangan Grey dengan ragu, lalu perlahan menerimanya.

"T-tidak, Tuan Muda. Saya yang seharusnya minta maaf."

Grey mengamatinya dengan seksama. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Tunggu dulu," katanya, alisnya berkerut. "Siapa namamu? Aku baru pertama kali melihat ada gadis pelayan di rumah ini."

Ia benar-benar yakin. Selama bertahun-tahun, semua pelayan di kediaman Vincentes adalah orang-orang dewasa berpengalaman—kebanyakan berusia di atas empat puluh tahun, dengan wajah-wajah yang sudah ia kenal sejak kecil. Tidak pernah ada gadis semuda ini.

"Nama saya Ressa Narvieta, Tuan Muda," gadis itu menjawab dengan suara pelan, masih tidak berani menatap langsung ke arahnya. "Saya baru hari ini bekerja di sini. Paman Sebastian yang memanggil saya."

Grey mengangguk perlahan. Sebastian Holward. Kepala pelayan tua yang selalu mengatur semuanya dengan teliti. Jika Sebastian yang memanggil Ressa, maka pasti ada alasan.

"Jadi kau pelayan baru ya?" Grey menyunggingkan senyum cerahnya. "Ini bagus. Kamu masih muda... akhirnya ada wajah segar di rumah ini."

Ressa mengangkat kepalanya sedikit, matanya berbinar bingung.

Grey berpikir sejenak, lalu senyumnya melebar.

"Bagaimana kalau kau menjadi pelayan pribadiku?"

Ressa terkesiap. "P-pelayan pribadi?"

"Benar," Grey mengangguk antusias. "Di rumah ini semua pelayan banyak yang tua—mereka sudah bekerja sejak aku kecil. Aku tidak punya pelayan pribadi yang bisa menemani keseharianku. Dan sekarang..." ia menunjuk Ressa dengan jarinya, "...sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku."

Ressa menunduk, jari-jarinya menggenggam sapu lebih erat. "Tapi... Paman Sebastian tidak memberitahu saya jika saya akan menjadi pelayan pribadi Anda, Tuan Muda. Beliau hanya menyuruh saya membersihkan area lorong ini dan ruang tamu."

Grey mendengus kesal. "Si tua bangka itu ternyata menyuruhmu menjadi pelayan biasa? Tanpa memberitahuku kalau ada pelayan baru?"

Ia menggumamkan kata-kata sumpah pelan di dalam hati. "Sebastian... kau selalu melakukan semuanya tanpa sepengetahuanku. Apa kau sengaja menyembunyikan Ressa dariku?"

Grey menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran curiga itu. Untuk saat ini, ia punya keputusan.

"Baiklah, mulai sekarang kau adalah pelayan pribadiku. Dan itu bukan permintaan—itu perintah. Tak ada jawaban untuk menolak."

Ressa menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. "Jika itu adalah keinginan Tuan Muda... maka saya menurut saja."

"Bagus!" Grey tersenyum puas. "Satu lagi—panggil aku dengan sebutan 'Tuan' saja. Aku tidak suka terlalu formal. Dan jangan membungkuk berlebihan seperti tadi. Itu membuatku tidak nyaman."

Ressa mengangguk pelan, matanya masih menatap lantai.

"Sekarang rapikan kamarku, aku terlambat sekarang." Grey berbalik, melangkah menuju pintu utama, lalu berhenti sejenak. "Oh, satu hal lagi—jika kau tidak tahu di mana letak kamarku, tanyakan saja pada pelayan lainnya. Mereka akan menunjukkannya."

Tanpa menunggu jawaban, Grey berlari keluar kediaman, melewati gerbang utama yang terbuka, dan melesat menuju kereta kuda yang sudah menunggu di depan halaman.

Di dalam kediaman, Ressa berdiri sendirian di lorong yang sunyi. Sapu di tangannya masih tergenggam erat. Matanya yang cokelat keemasan menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Grey.

Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik.

"Tuan muda Grey Vincentes..." gumamnya pelan, suaranya berubah menjadi lebih dalam, lebih halus dari sebelumnya. "Dia ternyata adalah orang yang baik."

Ressa mengangkat sapunya dan mulai menyapu lantai dengan gerakan biasa—kembali menjadi gadis pelayan pemalu yang tertabrak oleh tuannya.

Episodes
1 Perjanjian Dua Darah
2 Hening di Balik Tirai
3 Pelayan Baru
4 Teman di Balik Tipu Daya
5 Topeng di Balik Senyuman
6 Panggung Kepalsuan
7 Bisik di Malam Hari
8 Teater di Atas Panggung
9 Panggung Takdir
10 Bayang-Bayang di Balik Tirai
11 Sentuhan di Bawah Pohon
12 Intrik di Balik Kemegahan
13 Surat di Balik Keheningan
14 Nama yang Terkubur
15 Cincin di Tengah Malam
16 Jebakan di Taman Malam
17 Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18 Kembali ke Panggung
19 Ratu yang Gelisah
20 Senyum di Balik Topeng
21 Senyum yang Menghancurkan
22 Di Balik Ketenangan
23 Kabar dari Wilayah Luar
24 Pengkhianatan di Dalam Istana
25 Cincin dan Pertengkaran
26 Anggur di Balik Semak
27 Rahasia di Balik Panggung
28 Retaknya Keluarga Sienta
29 Hilangnya Ressa
30 Serigala dan Cahaya Misterius
31 Tatapan dan Kalung Misterius
32 Pelukan di Balik Layar
33 Bayang-Bayang di Kejauhan
34 Rumah di Pinggiran Kota
35 Mahkota dan Bayangan Malam
36 Ketenangan di Tengah Kehangatan
37 Rencana di Balik Rumah
38 Pengakuan di Bawah Bintang
39 Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40 Rencana yang Terlupakan
41 Kerajaan yang Sunyi
42 Lukisan dan Keheningan
43 Sayembara Hati
44 Topeng di Tengah Kerumunan
45 Keputusan di Tengah Kehancuran
46 Di Balik Tirai Panggung
47 Biola di Tengah Hutan
48 Penyamar di Malam Hari
49 Drama di Atas Panggung
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Perjanjian Dua Darah
2
Hening di Balik Tirai
3
Pelayan Baru
4
Teman di Balik Tipu Daya
5
Topeng di Balik Senyuman
6
Panggung Kepalsuan
7
Bisik di Malam Hari
8
Teater di Atas Panggung
9
Panggung Takdir
10
Bayang-Bayang di Balik Tirai
11
Sentuhan di Bawah Pohon
12
Intrik di Balik Kemegahan
13
Surat di Balik Keheningan
14
Nama yang Terkubur
15
Cincin di Tengah Malam
16
Jebakan di Taman Malam
17
Manipulasi di Bawah Cahaya Bulan
18
Kembali ke Panggung
19
Ratu yang Gelisah
20
Senyum di Balik Topeng
21
Senyum yang Menghancurkan
22
Di Balik Ketenangan
23
Kabar dari Wilayah Luar
24
Pengkhianatan di Dalam Istana
25
Cincin dan Pertengkaran
26
Anggur di Balik Semak
27
Rahasia di Balik Panggung
28
Retaknya Keluarga Sienta
29
Hilangnya Ressa
30
Serigala dan Cahaya Misterius
31
Tatapan dan Kalung Misterius
32
Pelukan di Balik Layar
33
Bayang-Bayang di Kejauhan
34
Rumah di Pinggiran Kota
35
Mahkota dan Bayangan Malam
36
Ketenangan di Tengah Kehangatan
37
Rencana di Balik Rumah
38
Pengakuan di Bawah Bintang
39
Penerimaan di Bawah Sinar Matahari
40
Rencana yang Terlupakan
41
Kerajaan yang Sunyi
42
Lukisan dan Keheningan
43
Sayembara Hati
44
Topeng di Tengah Kerumunan
45
Keputusan di Tengah Kehancuran
46
Di Balik Tirai Panggung
47
Biola di Tengah Hutan
48
Penyamar di Malam Hari
49
Drama di Atas Panggung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!