Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Saat petugas berkeliling dan menyerukan waktu sudah tengah malam, Gavin masuk ke dalam ruang baca dan sedikit menggelengkan kepala melihat kondisi Xavier. Rambutnya berantakan, kantung matanya mulai terlihat dan matanya juga memerah. Tubuhnya terbungkus mantel tebal terlihat seperti kepompong di pohon.
Gavin menghadap ke Lysander dan menundukkan kepalanya dengan hormat.
“Tuan Muda, anda harus kembali untuk beristirahat.”
Lysander diam tidak menyahut sedikitpun. Ia tetap fokus ke buku di tangannya.
Gavin kemudian melirik ke arah Xavier dan sebuah ide pun muncul.
“Tuan Muda, besok Tuan Xavier ada latih tanding. Kalau terus seperti ini tubuhnya tidak akan kuat.”
Lysander tetap diam, namun kali ini ia menutup bukunya dan berdiri.
“Ayo.”
Gavin tersenyum tipis saat akhirnya Tuan Mudanya bereaksi. Belasan tahun bersama, tentu saja ia sangat memahami sifatnya itu.
Lysander keluar dari ruang baca terlebih dahulu. Sedangkan Gavin, ia langsung menutup buku di depan Xavier dan menarik tangannya.
“Ayo cepat keluar jangan lelet, tuan muda sudah keluar duluan.”
“Eh tapi aku sedang membaca aaAAAAAAAAAA.”
BRUK!
Gavin mendorongnya ke arah seorang penjaga dan memintanya untuk menjaga agar ia tidak masuk ke dalam. Lalu ia berlari mengejar Lysander yang sudah berjalan duluan. Kedua penjaga itu hanya saling pandang dengan kebingungan. Kemudian mereka menyuruh Xavier untuk kembali ke tendanya sendiri dan berisitirahat.
Di malam berikutnya, Xavier datang setelah makan malam. Ia berjongkok di samping penjaga menunggu Lysander datang. Saat mendengar suara langkah kaki, ia sangat bersemangat dan langsung berdiri. Namun semangatnya berubah menjadi rasa heran saat melihat komandan yang datang.
“Komandan, kenapa anda ke sini?”
“Aku rasa pertanyaan itu seharusnya aku yang menanyakannya.”
Xavier menggaruk kepalanya lalu tersenyum. Kemudian ia menyingkir dari depan pintu dan mempersilahkan Kaelen masuk.
“Silahkan Komandan.”
Xavier mengikutinya masuk ke ruang baca dan langsung duduk di kursi utama. Sementara Kaelen masih berdiri di depan sebuah lemari. Ia melihat ke arah Xavier dan menggelengkan kepalanya. Setelah mendapatkan apa yang ingin diambilnya, Kaelen tidak langsung pergi dan duduk di kursi di depan Xavier.
“Apa yang sedang kamu cari tahu sampai segitunya? Beberapa hari ini terus mengeksploitasi ruanganku.”
“Kalau tidak ada urusan apa-apa anda bisa keluar komandan.”
Kaelen tergelak saat mendengar ucapan Xavier. Pemuda di depannya benar-benar unik dan tidak sadar diri. Tapi justru menjadi orang yang sangat membantu di kondisi kritis seperti waktu itu.
“Seharusnya kamu yang keluar dari sini.”
Mendengar ucapan Sang Komandan, Xavier mengangkat kepalanya dan menatap Kaelen. Ia baru sadar kalau sedang berbicara dengan pemilik asli ruang baca yang sedang ditempatinya sekarang.
“Kalau begitu anda jangan pergi dan temani saya di sini.”
Tidak lama kemudian, tirai tenda terbuka dan dua orang melangkah masuk.
“Anda bisa pergi sekarang, saya yang akan mengawasinya,” ucap Lysander yang langsung diangguki oleh Kaelen.
Kaelen berdiri dan keluar, sementara Lysander duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Kaelen.
Malam semakin larut dan keduanya tenggelam dalam barisan kalimat di buku yang mereka pegang. Tidak ada percakapan sama sekali. Hanya ada suara lembaran yang dibuka ke lembaran selanjutnya.
Hingga akhirnya Xavier mengangkat kepalanya dan menatap kosong ke depan.
“Apa yang akan kamu rasakan kalau melihat matahari terlalu lama?” tanya Xavier tiba-tiba kepada Lysander.
Lysander menutup buku di tangannya kemudian menoleh ke Xavier. Ia tersenyum tipis karena akhirnya Xavier akan menemukan jawaban dari pertanyaannya beberapa hari ini.
“Coba saja sendiri, coba melihat matahari di siang hari. Lalu langsung masuk ke dalam ruangan gelap,” jawab Lysander.
“Kenapa harus masuk ke ruangan gelap?”
“Biar kamu memiliki sedikit gambaran tentang apa yang kamu maksud.”
Xavier mengangguk lalu ia menutup bukunya dan berdiri. Berjalan keluar dari ruang baca tersebut lebih awal dari biasanya.
“Sudah selesai?” Tanya Lysander yang masih duduk di kursinya.
Xavier berhenti melangkah kemudian menoleh ke arahnya.
“Sudah, aku mau tidur.”
“Besok masih mau datang lagi?”
“Hmmm.” Xavier memasang posisi berfikir.
“Datang! masih banyak buku yang belum selesai dibaca.”
Setelah itu, Lysander tidak mengatakan apapun lagi dan menatap ke arah buku yang masih terbuka.
“Gavin!” Panggilnya dan Gavin pun langsung masuk ke dalam ruang baca.
“Ya Tuan Muda.”
“Apa yang aku minta waktu itu sudah selesai?”
“Tadi sudah ada kabar, besok akan diantar ke sini.”
“Kalau sudah datang, langsung berikan ke Komandan Kaelen.”
“Anda tidak ingin melihatnya?”
“Tidak perlu, bilang saja minta buatkan masing-masing satu set, biar orangnya yang mencoba dan memilihnya sendiri.”
“Baik Tuan Muda.”
Setelah itu, keduanya keluar dari ruang baca dan kembali ke tenda. Malam ini mereka bisa beristirahat lebih awal dari sebelum-sebelumnya.
Di istana…
Sepucuk surat tiba dan langsung diantar oleh sang mata-mata ke Kaisar.
“Yang Mulia, ada laporan dari Draven.”
Cassian yang sedang membaca dokumen, langsung mengangkat kepalanya dan menutup dokumen di tangannya.
“Cepat berikan padaku.”
Cassian membuka surat tersebut dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat sangat penasaran dengan isi surat tersebut. Namun ketika ia membaca baris pertama, raut wajahnya berubah serius. Semakin banyak baris kalimat yang dibaca, dahinya semakin berkerut.
BRAK!
“LAPORAN APA INI?”
Sang Kasim yang selalu mendampingi Cassian langsung berlutut. Begitu juga dengan sang mata-mata.
“Mohon jangan marah Yang Mulia, kesehatan anda jauh lebih penting!” ucap Sang Kasim.
“Apa benar dia orang unggulan yang akan menjadi pengawal pribadiku? bukan seorang anak ingusan?”
“Yang Mulia,” Sang Kasim dan mata-mata tersebut semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Membuat laporan saja tidak becus!”
Setelah itu, Cassian langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan emosi yang sangat jelas terlihat di wajahnya.
“Sial! awas saja nanti,” gumam mata-mata Cassian.
Setelah Cassian pergi, Kasim Kaisar berjalan dengan cepat menuju bagian belakang istana. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
Saat sampai di sana, seorang pemuda berjubah sudah berdiri menunggunya. Sang Kasim mengeluarkan sepucuk surat dari dalam pakaiannya dan memberikannya kepada pria berjubah hitam itu.
“Ini suratnya, jangan sampai kejadian hari ini terulang lagi.”
“Baik Tuan, ini kelalaian saya karena tidak memeriksanya terlebih dahulu.”
“Tidak apa-apa, hati-hati keluarnya.”
“Baik Tuan.”
Setelah Kasim tersebut pergi, pria berjubah atau mata mata Kaisar pun membuka dan membaca isi surat tersebut.
“Lysander jalan-jalan pagi?”
“Lysander minum teh?”
“Lysander tidur jam sebelas?”
“Apa-apaan ini? pantas saja Kaisar semurka itu.”
Setelah itu, ia pergi menuju ke sebuah rumah terbengkalai yang berada di pinggiran kota.
“Beri dia pelajaran, jangan sampai mati.”
“Baik!”
Sementara itu di Draven, Lysander sedang duduk di kursinya sambil membaca sebuah buku. Malam sudah larut namun matanya belum terasa mengantuk sedikitpun. Setelah terbiasa begadang bersama dengan Xavier, malam ini ingin tidur lebih awal pun sudah tidak bisa. Gavin duduk di atas tempat tidurnya sambil mengelap pedangnya.
“Gavin,” panggilnya sambil menoleh ke arah Gavin.
“Ya Tuan Muda?”
“Beberapa hari ini awasi Jax.”
“Apa dia melakukan sesuatu yang membuat anda khawatir?”
“Tidak, tapi seharusnya hari ini suratnya tiba di istana, Paman Kaisar mungkin sedang murka dan bawahannya yang terkena imbasnya.”
“Memangnya isi surat itu apa?”
“Hanya tulisan anak kecil,” jawab Lysander sambil tersenyum kecil.
Lysander kembali melihat ke arah bukunya, lalu berkata, “Beberapa orang mungkin akan mencari masalah dengannya, cukup awasi jangan sampai dia mati di sini.”
“Baik Tuan Muda.”