Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal yang Membingungkan
Pukul tujuh pagi, Zevanna datang tepat waktu.
"Huu... Untung gue tepat waktu." Gumam Zevanna dengan napas memburu.
Tisha menghampiri Zevanna. "Zev, tumben pagi-pagi gini?"
Zevanna menoleh ke arahnya. "Pagi salah, telat salah. Gimana sih lo maunya?"
Tisha terkekeh kecil. "Ya jangan marah-marah dong, eh. Zev, gue udah tau mau pakai apa minggu depan!"
"Acara masih beberapa hari lagi, Tis." Kata Zevanna.
"Justru itu! Jangan sampai nanti lo dateng pakai kaus oblong doang." Ujar Tisha.
"Ya emang kenapa? Yang penting nyaman." Ucap Zevanna.
"Ini tuh acara perusahaan, masa lo pakai kaus doang sih?"
"Bodo Amat, gue yang pakai bukan lo!" Ketus Zevanna.
Tisha mendecih. "Ya terserah lo lah, Zev."
Saat Tisha dan Zevanna sedang berbincang tentang pakaian untuk acara perusahaan minggu depan.
"Zevanna, Tisha!" Panggil Elsa.
Mereka berdua menoleh dan menatap Elsa.
Elsa menghampirinya. "Kalian berdua tolong bantuin panitia untuk mengecek beberapa perlengkapan acara di hall. Soalnya takut ada yang kurang."
Zevanna dan Tisha mengangguk. "Baik, Mbak."
"Oke kalau gitu, saya permisi dulu." Elsa pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ayo, Zev." Kata Tisha.
"Iya."
Zevanna dan Tisha berjalan menuju ke tempat hall.
Saat mereka berdua sampai, Zevanna melihat Bisma.
"Mas Bisma, bantu acara juga?" Tanya Zevanna.
Bisma kebetulan sedang membantu memindahkan perlengkapan, menoleh dan mendapati Zevanna yang berdiri di depannya.
"Iya, Mbak. Lagi diminta bantu angkat beberapa barang." Jawab Bisma.
"Oh gitu..."
"Mbak juga bantu disini?" Tanya Bisma.
"Iya, disuruh sama Mbak Elsa tadi buat ngecek perlengkapan disini." Jawab Zevanna.
"Woi, Zevanna! Bantuin napa sih? Malah ngobrol lo." Kata Tisha.
Zevanna mendengus. "Iya, iya. Sabar napa sih." Zevanna kembali menatap Bisma. "Ya udah, Mas Bisma. Saya ke temen saya dulu, ya."
"Iya, Mbak." Balas Bisma sambil tersenyum kecil.
Lalu Zevanna menghampiri Tisha.
"Ini lo cek kardus ini, Zev." Ucap Tisha menunjuk salah satu kardus.
Zevanna mengeryitkan keningnya. "Lah? Kenapa gue yang ngecek? Bukan lo aja!"
"Lo tuh ya, tinggal cek aja banyak omong lo." Kata Tisha.
"Dih, kok ngamuk lo? Ya udah iya gue cek."
Zevanna mengecek kardus yang ditunjuk sama Tisha, saat ia mengecek. Ia melihat label penyimpanan yang terasa familiar.
Zevanna mengernyit keningnya. "Kayaknya gue pernah liat tanda ini deh."
Ia mencoba mengingat.
Kemudian terlintas sekilas kejadian di gudang.
Orang yang berdiri di sana.
Zevanna langsung menggeleng. "Ah, mungkin cuma mirip aja."
Zevanna kembali menutup kardus itu.
Sementara itu, Ravenzo turun bersama Arvin untuk mengecek persiapan acara.
Ravenzo melihat para karyawan bekerja.
Dia kemudian melihat Zevanna.
"Kamu."
Zevanna menoleh ke sumber suara. "Saya lagi, Pak?"
"Memangnya kenapa?"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak kenapa-napa sih, Pak."
Ravenzo menatap Bisma. "Bisma!"
Bisma menoleh dan menghampiri Ravenzo. "Iya, Pak. Ada apa?"
"Pindahkan beberapa perlengkapan ke bagian lain, jangan ada yang tertinggal." Tegas Ravenzo.
Bisma mengangguk. "Baik, Pak."
Lalu Bisma bergegas pergi.
Setelah Bisma pergi, Ravenzo kembali melihat Zevanna yang masih sibuk.
"Kamu sudah menyelesaikan rekap?" Tanya Ravenzo.
"Belum, Pak." Jawab Zevanna.
"Kenapa belum?"
"Karena dari tadi saya diminta bantu beberapa bagian."
Ravenzo terdiam sejenak. "Baik. Selesaikan setelah ini."
Zevanna mengangguk. "Iya, Pak CEO."
Ravenzo menatap Zevanna datar. "Itu jangan diletakkan di situ."
Zevanna mengerutkan keningnya. "Kenapa, Pak?"
"Nanti menghalangi jalan!"
"Tapi kan tadi katanya taruh di area ini, Pak." Jawab Zevanna.
Ravenzo menghela napas. "Saya bilang area ini, bukan di tengah jalan."
Zevanna mendengus. "Ya bilang dari awal dong, Pak. Kan saya nggak capek mindahin barang ini."
Ravenzo sedikit tersentak. "Kok kamu marah?"
"Saya nggak marah, saya cuma kesel."
"Kamu kesel sama saya nyuruh kamu?" Tanya Ravenzo dingin.
"E-enggak, Pak. Saya nggak kesel sama bapak. Iya ini saya pindahin lagi barangnya." Kilah Zevanna.
Arvin yang mendengar langsung menahan tawa.
Setelah Ravenzo dan Arvin pergi melanjutkan pengecekan, Zevanna kembali menyusun beberapa perlengkapan yang tadi dipindahkannya.
Tisha yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya menghampirinya.
"Zev."
Zevanna masih sibuk mengatur barang. "Apaan lagi?"
Tisha menunjuk beberapa kardus di depannya. "Yang itu udah dicek belum?"
Zevanna menoleh. "Udah. Tinggal yang bagian sana."
Tisha mengangguk lalu melihat catatan di tangannya. "Oke. Kalau gitu kita balik ke meja dulu. Masih ada rekap yang harus di selesaiin."
Zevanna menghela napas. "Yah, kerja lagi."
"Emang lo kira datang ke kantor buat piknik apa?"
"Gue berharapnya sih gitu."
Tisha tertawa kecil.
Mereka berdua kemudian meninggalkan area hall dan kembali menuju bagian administrasi.
Sesampainya di meja kerja, Zevanna langsung duduk dan menyalakan komputernya.
Ia baru saja membuka dokumen ketika Elsa datang membawa beberapa lembar berkas.
"Zevanna, ini tolong dicek sebentar."
Zevanna menerima berkas tersebut. "Ini apa, Mbak?"
"Daftar tamu untuk acara minggu depan. Tadi ada beberapa berkas yang ketukar sama bagian lain." Jawab Elsa.
Zevanna mengangguk. "Oke, Mbak."
Elsa kemudian menunjuk salah satu map. "Kalau yang ini sudah selesai dicek, tolong antarkan ke lantai sepuluh."
Zevanna langsung menatap Elsa. "Lantai sepuluh?"
"Iya."
Zevanna terdiam sebentar.
Tisha yang mendengar dari meja sebelah langsung menoleh sambil menahan senyum. "Kenapa, Zev?"
Zevanna mendengus. "Kenapa harus lantai sepuluh sih?"
Tisha langsung tertawa. "Takut ketemu cowok lima miliar?"
Zevanna melotot. "Bukan takut!"
"Terus?"
"Gue cuma males naik ke atas aja."
Tisha mengangguk-angguk dengan wajah pura-pura percaya. "Iya, iya. Males."
Zevanna memutar bola matanya. "Udah, diem lo."
Zevanna kemudian memeriksa berkas tersebut satu per satu.
Setelah memastikan semuanya sesuai, ia memasukkannya ke dalam sebuah map dan berdiri dari kursinya.
"Yaudah, gue antar ini dulu."
Tisha tersenyum jahil. "Hati-hati ya, Zev."
Zevanna menatapnya curiga. "Hati-hati apaan?"
"Siapa tahu nanti ketemu Pak CEO lagi."
Zevanna mendengus.
"Kalau ketemu juga gue nggak peduli."
Tisha hanya terkekeh.
Zevanna pun berjalan meninggalkan meja sambil membawa map tersebut menuju lift.
Lalu Zevanna masuk ke dalam lift.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai sepuluh.
Zevanna keluar sambil membawa map di tangannya. Ia berjalan menuju ruangan CEO dengan langkah sedikit ragu.
"Semoga Pak CEO lagi nggak ada..." gumamnya.
Namun saat sampai di depan pintu, ia melihat pintu ruangan Ravenzo sedikit terbuka.
Zevanna mengetuk pelan.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk."
Zevanna masuk ke ruangan Ravenzo.
Ravenzo sedang memijat pelipisnya setelah rapat barusan beberapa menit lalu.
Zevanna berdehem kecil lalu menyerahkan berkas. "Pak, ini berkas daftar tamu yang tadi tertukar."
"Taruh di sana." Jawab Ravenzo singkat.
Zevanna menatap Ravenzo. "Bapak capek?"
"Sedikit."
Zevanna kemudian memberikan permen yang dia punya.
"Nih."
Ravenzo menatap benda itu. "Apa ini?"
"Permen. Biar nggak jutek." Kata Zevanna.
Ravenzo menatapnya datar.
Zevanna terdiam sejenak. Baru sadar dengan ucapannya barusan. "Eh, maksud saya biar nggak pusing, Pak."
Ravenzo menatap laptopnya. "Saya nggak suka makanan manis."
"Terus bapak sukanya makanan apa? Pahit? Gurih? Asin? Atau pedas?" Cerocos Zevanna.
Sebelum Ravenzo membalas ucapan Zevanna. Pintu ruangan terbuka.
Ceklek.
Arvin masuk dan melihat Zevanna memberikan permen kepada Ravenzo.
Arvin langsung senyum. "Wah."
Zevanna menoleh dan mengeryitkan kening. "Wah apaan, Mas?"
Arvin menggeleng cepat. "Nggak ada."
Zevanna buru-buru pergi, meninggalkan permennya di atas meja kerja Ravenzo.
Begitu pintu tertutup.
Arvin menatap Ravenzo. "Rav."
"Apa?"
"Sekarang lo dikasih permen sama karyawan. Wah ini keajaiban!" Kata Arvin.
Ravenzo meliriknya. "Keluar!"
"Aelah, gue baru masuk udah disuruh keluar aja."
"Kalau nggak ada yang penting, keluar!" Ulang Ravenzo.
"Iya, iya. Gue keluar, tapi permennya buat gue ya." Arvin hendak mengambil permen milik Zevanna.
Namun Ravenzo dengan cepat menyambarnya. Membuat Arvin tersentak.
"Emang ini buat lo?" Kata Ravenzo.
"Y-ya nggak sih, tapi kan—"
"Keluar!" Ucap Ravenzo singkat.
Arvin mengangguk. "Oke gue keluar."
Arvin keluar dari ruangan Ravenzo.
Ravenzo menghela napas dan menatap permen milik Zevanna.
"Dasar."
***
Di pantry, Zevanna menghampiri Tisha.
"Tisha!"
"Apaan?"
"Tadi gue kan ke ruangan CEO, gue liat dia capek banget terus gue kasih dia permen tapi dia bilang nggak suka makanan manis." Kata Zevanna.
Tisha tersenyum. "Cieee lo perhatian juga ternyata sama pak CEO." Godanya.
"Gue cuma ngasih permen biar dia nggak pusing."
"Iya itu namanya lo perhatian."
"Nggak!" Bela Zevanna. "Masa ngasih permen dibilang perhatian, aneh lo."
"Iya, iya. Deh, terserah lo aja." Kata Tisha.
"Jangan bikin cerita sendiri lo!"
"Emang kenapa kalau gue bikin cerita sendiri? Lo takut digosipin ya sama orang disini?"
Zevanna mendengus dan berdecak. "Diem lo!"
***
Setelah selesai berbicara dengan Tisha di pantry, Zevanna kembali ke meja kerjanya.
Ia menarik kursinya lalu kembali menatap layar komputer.
"Masih banyak juga data yang harus dimasukin..." gumamnya sambil menghela napas.
Jari-jarinya kembali mengetik beberapa data administrasi yang diberikan Elsa.
Beberapa menit berlalu.
Zevanna kemudian membuka salah satu folder lama yang berisi dokumen administrasi perusahaan. Ia hendak mencari data yang berkaitan dengan persiapan acara minggu depan.
Matanya menyusuri daftar nama yang tertera di layar.
Satu per satu.
Sampai akhirnya—Jari Zevanna berhenti mengetik.
Keningnya berkerut.
Di salah satu data lama, terdapat sebuah nama yang sangat ia kenal.
Zoyya Fiorellia Oliver.
Zevanna terdiam.
Tatapannya terpaku pada layar.
"...Kak Zoyya?"
Ia mendekatkan wajahnya ke layar, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah membaca.
Nama itu benar-benar milik kakaknya.
Zevanna menelan ludah pelan. "Kenapa data Kak Zoyya masih ada di sini...?"
Ia menggeser layar sedikit dan membaca bagian keterangan di bawah nama tersebut.
Jabatan: Sekretaris.
Zevanna kembali terdiam.
Ingatan tentang kakaknya yang dulu bekerja di Verion Group kembali terlintas di kepalanya.
Namun tiba-tiba, pikirannya justru terhubung dengan kejadian beberapa hari lalu.
Gudang.
Sosok asing yang berdiri di sana.
Tatapan yang sempat ia lihat sebelum orang itu pergi.
Zevanna mengerutkan kening. "Jangan-jangan..."
Ia menggeleng pelan. "Nggak mungkin."
Zevanna kembali menatap layar. "Apa hubungannya data Kak Zoyya sama orang yang gue lihat di gudang?"
Rasa penasarannya mulai muncul. Tangannya bahkan sudah menggerakkan mouse untuk membuka data tersebut.
Namun sebelum sempat mengkliknya—
"Zevanna!"
Zevanna langsung tersentak.
Tangannya refleks menutup file tersebut.
"I-iya, Mbak?"
Elsa berdiri tak jauh dari mejanya sambil membawa beberapa dokumen.
"Kamu sudah selesai memasukkan data yang tadi?"
Zevanna menggeleng. "Belum, Mbak. Tinggal sedikit lagi."
Elsa mengangguk. "Kalau begitu setelah selesai, tolong bantu saya periksa beberapa dokumen ini, ya."
Zevanna melirik dokumen yang dibawa Elsa. "Iya, Mbak."
Elsa kemudian kembali pergi.
Zevanna menatap layar komputernya lagi.
Sesaat ia melirik folder tadi.
Tangannya sempat ingin membukanya kembali. Namun ia mengurungkan niatnya.
"Nanti aja lah..."
Ia kembali mengerjakan pekerjaannya.
Setelah Elsa pergi, Zevanna masih menatap layar komputernya.
Pikirannya masih tertuju pada nama yang baru saja ia temukan.
Zoyya Fiorellia Oliver.
Ia menghela napas pelan.
Apa sebenarnya yang terjadi sama Kak Zoyya selama bekerja di sini...?
Zevanna menggeleng cepat. "Udah, jangan mikir yang aneh-aneh dulu."
Ia kembali mengetik, berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya.
Namun beberapa detik kemudian, tangannya kembali berhenti.
Zevanna malah bengong menatap layar.
Dari meja sebelah, Tisha yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya menghampiri.
"Zev."
"Hm?"
"Lo kenapa?"
Zevanna menoleh. "Kenapa apaan?"
Tisha menunjuk wajahnya. "Dari tadi bengong. Jangan-jangan lo sakit?"
"Nggak."
"Terus mikirin apa?"
Zevanna terdiam. Ia hampir saja mengatakan tentang data Zoyya yang baru ditemukannya. Namun akhirnya ia menggeleng.
"Nggak ada."
Tisha menyipitkan mata. "Lo mikirin Pak CEO?"
Zevanna langsung menoleh tajam. "Dih, nggak!"
Tisha terkekeh. "Lah, gue baru nanya."
"Ya jangan asal nuduh!"
"Terus lo mikirin apa?"
Zevanna kembali terdiam beberapa detik. "Mikirin..."
Tisha menunggu jawabannya.
Zevanna akhirnya menjawab dengan wajah serius. "...makan."
Tisha langsung melongo. "HAH?"
"Mikirin makan." Ulang Zevanna.
"Baru juga makan!"
"Terus kenapa?"
Tisha menatap Zevanna tidak percaya. "Lo tuh aneh banget."
Zevanna mengangkat bahu. "Ya emang gue kenapa?"
Tisha menghela napas sambil kembali ke mejanya. "Udah, kerja sana. Jangan sampai nanti Mbak Elsa nyariin lagi."
"Iya, bawel lo."
Tisha baru berjalan beberapa langkah ketika tiba-tiba menoleh. "Oh iya, Zev."
"Apa lagi sih?"
"Kalau lo laper, nanti gue temenin ke pantry lagi."
Zevanna tersenyum kecil. "Nah, gitu dong. Teman yang baik."
Tisha mendengus. "Dasar tukang makan."
Zevanna terkekeh lalu kembali menghadap komputer.
Namun ketika Tisha sudah kembali ke mejanya, senyum Zevanna perlahan menghilang.
Tatapannya kembali tertuju pada layar.
Untuk sesaat, nama kakaknya kembali terlintas di pikirannya.
Tapi kali ini Zevanna memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh.
Belum sekarang.
Ia menghela napas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Di lantai eksekutif, Ravenzo kembali mengikuti rapat dengan beberapa manajer.
Ia menatap Henry yang sedang menjelaskan laporan persiapan acara perusahaan.
"Untuk persiapan acara minggu depan, sebagian besar perlengkapan sudah selesai diperiksa," jelas Henry sambil melihat dokumen di tangannya.
Ravenzo menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Berapa persen?"
"Kurang lebih delapan puluh persen, Pak." Jawab Henry.
Ravenzo mengangguk kecil. "Bagian mana yang belum selesai?"
Henry membuka beberapa halaman laporan. "Bagian dekorasi dan registrasi tamu masih dalam proses. Untuk daftar tamu VVIP juga masih ada beberapa data yang harus diperbarui."
Ravenzo mengernyit. "Pastikan jangan ada kesalahan."
"Baik, Pak."
Salah satu manajer lain kemudian ikut angkat bicara.
"Untuk keamanan selama acara juga sudah kami koordinasikan dengan tim terkait."
Ravenzo mengangguk. "Bagus."
Ia kembali melihat dokumen di depannya. "Dan untuk karyawan yang membantu persiapan acara?"
Henry menjawab, "Beberapa sudah mulai dilibatkan sejak kemarin, termasuk bagian administrasi."
Ravenzo terdiam sejenak.
Entah kenapa, pikirannya sekilas tertuju pada seorang karyawan yang sejak beberapa hari terakhir cukup sering ia temui.
Zevanna.
Namun Ravenzo segera mengalihkan pikirannya.
"Pastikan pembagian tugasnya jelas. Jangan sampai ada pekerjaan yang menumpuk pada satu bagian."
Henry mengangguk. "Baik, Pak."
Ravenzo menutup dokumen di depannya. "Kalau begitu lanjutkan sesuai jadwal. Saya nggak mau ada masalah menjelang hari acara."
"Baik, Pak."
Rapat pun kembali dilanjutkan dengan pembahasan beberapa hal lainnya.
Sementara itu, Ravenzo tetap mendengarkan dengan serius meskipun pikirannya sesekali kembali teringat pada kejadian di area acara tadi.
Terutama pada satu orang yang selalu saja berhasil membuat suasana di sekitarnya menjadi sedikit berbeda.
***
Sore hari tepat pukul empat sore, Ravenzo turun untuk melihat perkembangan acara.
Ia bertemu Zevanna.
"Masih bekerja?" Tanya Ravenzo.
Zevanna menoleh. "Iya, Pak."
"Kamu belum pulang?"
Zevanna menggeleng. "Belum waktunya pulang, masih jam empat. Kan pulangnya jam lima sore, Pak."
Ravenzo mengangguk.
Zevanna menatap Ravenzo. "Bapak juga belum pulang."
"Saya CEO." Jawabnya singkat.
"Terus?" Zevanna mengangkat alisnya.
Ravenzo terdiam sejenak. "Nggak apa-apa."
"Oh gitu, berarti bapak pulangnya sama dong kayak karyawan lain?" Kata Zevanna.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanya Ravenzo.
"Ya kan siapa tau jam pulang kita sama."
"Jam pulang saya beda, apa kamu mau gantiin saya?"
Zevanna tersentak mendengar kalimat Ravenzo, lalu menggeleng. "Enggak, Pak. Saya nggak mau jadi CEO."
"Kenapa nggak mau?"
"Karena pekerjaannya berat." Jawab Zevanna apa adanya.
Ravenzo terdiam dan berdehem. "Kembali kerja, kalau udah beres cepet pulang."
"Iya pak!"
Ravenzo berjalan ke ruangan lain.
Zevanna menatap punggung Ravenzo yang menjauh lalu menghela napas.
"Tuh CEO kenapa sih samperin gue mulu?" Gumam Zevanna.
Ravenzo sudah berjalan cukup jauh meninggalkan area acara.
Zevanna kembali fokus pada pekerjaannya. Ia merapikan beberapa dokumen yang masih berserakan di atas meja sebelum membawanya ke bagian administrasi.
"Ini tinggal dikit lagi..." gumamnya.
Setelah memastikan meja kerjanya sudah rapi, Zevanna berdiri dan membawa beberapa dokumen ke ruangan sebelah.
Namun saat melewati koridor yang agak sepi, langkahnya tiba-tiba melambat. Entah kenapa, ia merasa seperti sedang diperhatikan.
Zevanna menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.
"Hm?"
Ia mengernyitkan kening. "Mungkin perasaan gue aja."
Zevanna kembali berjalan. Namun baru beberapa langkah, ia tanpa sengaja melirik ke ujung koridor.
Ada seseorang berdiri di sana. Sosok itu hanya terlihat dari belakang.
Zevanna berhenti.
"Eh...?"
Orang tersebut tampak seperti sedang memperhatikan sesuatu di dekat area penyimpanan.
Zevanna menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas.
Gue pernah lihat orang itu...?
Sosok tersebut tiba-tiba menoleh sedikit.
Zevanna refleks berdiri lebih tegak.
Wajah orang itu belum terlihat jelas. Namun sebelum Zevanna sempat mendekat, sosok tersebut langsung berbalik dan berjalan menjauh.
"Eh!"
Zevanna spontan melangkah mengejarnya.
"Tunggu!"
Namun ketika sampai di ujung koridor—
Kosong.
Orang itu sudah tidak terlihat.
Zevanna melihat ke kanan dan kiri.
"Ke mana orangnya?"
Ia berjalan beberapa langkah, tetapi tidak menemukan siapa pun.
Perlahan, ekspresinya berubah serius.
Seketika pikirannya kembali pada kejadian di gudang beberapa hari lalu.
Sosok yang sama-sama pergi sebelum ia sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Zevanna menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
Ia menggeleng cepat. "Nggak mungkin."
Zevanna menatap ujung koridor sekali lagi. "Tapi kenapa rasanya familiar banget?"
Ia akhirnya kembali berjalan menuju meja kerjanya.Namun kali ini, pikirannya tidak bisa tenang.
"Zevanna!" Panggil Tisha.
Zevanna mendongak.
"Lo habis dari mana?" Tanya Tisha.
"G-gue habis dari toilet tadi." Bohong Zevanna.
"Oh gitu." Tisha manggut-manggut. "Ya udah yuk kita pulang."
Zevanna melirik jam tangannya. "Oh, udah jam lima aja. Padahal tadi baru jam empat."
"Lo terlalu sibuk kerja tadi sampai nggak nyadar udah jam lima." Celetuk Tisha.
Zevanna mendengus kecil, lalu mereka berdua berjalan bersama keluar dari lobi.
"Eh, Zev. Pasti nanti acaranya meriah ya? Gue nggak sabar banget!" Heboh Tisha.
Zevanna mengeluh. "Kenapa acara kantor ribet banget sih?"
"Karena lo bagian dari panitia."
"Dih, gue kan cuma karyawan biasa, masa disuruh ini-itu. Emangnya gue ini superhero apa?!" Kata Zevanna.
"Makanya kerja." Balas Tisha.
Zevanna mendecih kesal. "Lo nggak liat gue kerja tadi? Lo kira gue ngapain tadi hah? Rebahan gitu?"
Tisha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya nggak sih."
Zevanna manyun, lalu mereka tertawa.
***
Malam telah tiba, Zevanna sudah di kamar.
Ia awalnya ingin menonton drachin.
Tapi pikirannya kembali ke nama Zoyya dan sosok di koridor.
"Siapa sebenarnya orang yang waktu itu ada di gudang?" Gumamnya bingung.
"Coba aja waktu itu gue bisa lihat wajahnya dengan jelas..."
Zevanna menghela napas. "Dia pakai masker sama topi. Gue bahkan hampir ketahuan gara-gara dia."
Ia terdiam sejenak. "Kalau aja gue tahu siapa orang itu..."
Zevanna kembali menatap langit-langit kamar.
"Apa dia ada hubungannya sama kak Zoyya?"
Bersambung…