Indonesia
NovelToon NovelToon
Altar Dandelion

Altar Dandelion

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:180.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yoru Akira

Dandelion
Tanpa Altar, Dandelion kehilangan arah. Baginya cowok itu lebih dari sekadar rumah. Tempat berpulang segala resah. Tapi satu hal yang tak dipahami Dandelion, kehadiran Altar menjadi candu dalam hidupnya. Ia akan mencari jika cowok itu jika tak muncul di hadapannya. Tanpa ia sadari Altar juga menjadi bumerang bagi hubungannya dengan cowok manapun yang sedang dekat dengannya.

Altar
Altar mencintai Dandelion tanpa sepengetahuan perempuan itu. Dia rela menjadi rumah segala resah bagi Dandelion. Tanpa pernah lelah. Tanpa pernah mengeluh. Semua masalah selalu berpulang pada Altar. Entah urusan kuliah hingga teman kencan yang selalu ganti tiap bulan. Tapi lelaki itu tak pernah bisa memiliki lebih. Bagi Dandelion, sosok Altar tak lebih dari teman baik.

Larung
Memutuskan untuk mencintai Dandelion bukan perkara mudah. Perempuan itu memiliki ambisi tinggi tentang mimpi. Hingga Larung harus memutuskan tinggal atau pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Yang kuperlukan hanya melihatmu baik-baik saja. Sekali pun kamu tak menganggapku ada. - Altar -

Mbok Yem tergopoh-gopoh menyambut kedatangan tuan mudanya saat Altar membuka pintu ruang tamu. Wajah rentanya memucat saat menyadari muka tuan mudanya babak belur. Terakhir kali Altar pulang dalam keadaan muka penuh luka saat masih kelas 1 SMA.

Waktu itu ia bertengkar dengan ayahnya dan melampiaskan amarahnya dengan memukul orang saat tawuran pelajar. Setelah sekian lama, Altar pulang dalam keadaan wajah terluka. Hati siapa yang tak sakit melihatnya? Terlebih bagi Mbok Yem yang sudah menganggap Altar seperti anak sendiri.

"Ya ampun Mas Altar, kenapa bisa jadi gini sih?" Mbok Yem memburu Altar dan meneliti wajah lelaki itu. Masih ada luka yang belum kering. "Ini kenapa ndak dibersihin yang bener, gimana kalo nanti jadi infeksi."

Altar menempelkan tangan Mbok Yem di wajahnya. Lelaki itu tersenyum untuk menunjukkan pada pengasuhnya jika ia baik-baik saja.

"Nggak apa-apa, Mbok. Bentar lagi juga kering, udah dibersihin kok lukanya."

"Duh Mas Altar, kalo liat Mas Altar kayak gini gimana Mbok bisa tenang. Mbok siapkan air hangatnya dulu. Mas Altar mandi biar badannya enakan. Duh gusti, cah bagus (Ya Tuhan, anak cakep)." Mbok Yem masih panik meski Altar sudah memintanya untuk tidak khawatir. Tetap saja wanita renta itu tetap mengkhawatirkan tuan mudanya.

Altar tak bisa mencegahnya ketika Mbok Yem menuju kamar mandi. Menyiapkan air panas seperti yang diucapkan. Sedang lelaki itu bersandar pada sofa ruang tamu. Punggungnya masih merasa nyeri akibat menahan pukulan para preman tadi malam. Untung luka-luka lebam itu tertutup kaus. Jika Mbok Yem melihatnya, Altar tak bisa membayangkan bagaimana paniknya wanita itu.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Ia baru saja pulang dari rumah Rinjani setelah memastikan kondisi perempuan itu dan adiknya lebih baik. Dan meyakinkan agar segera menghubunginya jika para preman suruhan Kohar kembali mengusiknya.

Altar memosisikan tubuhnya agar nyaman rebahan di sofa. Kantuk baru saja menyapa ketika gawainya berdering. Nama Gita muncul di layar handphone. Ia lupa jika perempuan itu mengabarkan ingin beberapa hari bersantai sejenak di Surabaya sebelum pembukaan pameran Altar tiga minggu lagi. Pasti teman sekaligus manajernya itu sudah sampai Kota Pahlawan saat ini.

"Ya, Ta."

"Gue udah sampai Juanda. Ini bareng Putra sama Dandelion. Lo di mana? Kok nggak ikut jemput."

"Aku baru aja pulang. Ada urusan tadi malam."

"Dih, sok gaya. Paling juga mabuk 'kan."

"Iya, berantem juga sama orang."

"Apa, lo habis berantem sama orang? Lo udah gila, Tar! Trus sekarang lo dimana? Tangan lo nggak apa-apa 'kan?"

Tawa Altar pecah saat sahabatnya itu khawatir dengan tangannya yang dijadikan aset penting.

"Tenang aja, aku nggak bakal sebodoh itu ngelukain tanganku."

"Oke, kita masih di jalan. Sebentar lagi sampai sana," kata Gita sebelum menutup panggilan telepon. Sedang Altar memejamkan matanya. Mengusir kantuk serta efek alkohol yang menggantung di matanya.

Tak berselang lama, ketukan di pintu disusul bunyi bel membuat Altar terjaga. Ia melirik jam dinding di ruang tamu. Pukul 11.30. Sepertinya waktu yang terasa singkat sudah terlewati hampir tiga jam.

Lelaki itu bangun dari posisi bersandarnya pada sofa. Ia berjalan sempoyongan dan membuka lebar daun pintu. Tak sesuai dugaan, gadis yang mengaku sebagai Putri kini berdiri di depan pintu. Wajahnya seperti Mbok Yem saat pertama kali melihatnya pagi tadi.

"Mas Altar, kenapa?" tanya Putri panik sambil memegang kedua pipi Altar. Merasa risih dengan perlakuan perempuan itu, Altar menampel tangan Putri dari pipinya. "Sori, aku cuma khawatir liat wajah Mas Altar terluka."

"Bukan urusan kamu. Dan bukannya saya sudah bilang untuk jangan datang lagi ke rumah ini? Untuk apa lagi kamu ke sini?"

"Mas, Putri cuma mau minta tolong sekali aja. Mama butuh Mas Altar untuk sembuh. Putri janji setelah itu nggak akan ganggu Mas Altar lagi. Putri mohon, Mas!"

Wajah melas penuh harap itu tak menggoyahkan pendirian Altar.

"Maaf, saya sibuk. Kamu lebih baik pergi sekarang sebelum saya berbuat kasar!"

Gadis yang bahkan belum genap 20 tahun itu, tak sanggup menyembunyikan air mata. Tatapan matanya jelas terluka. Tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa jika Altar begitu membenci dia dan mamanya. Di masa lalu, mereka memang berutang kesalahan. Namun ia juga ingin memperbaiki masa kini hingga tidak lagi terjadi salah paham di masa depan.

"Aku berharap Mas Altar berubah pikiran."

Sebelum Putri pergi, gadis itu menyelipkan selembar kertas ke tangan Altar. Ia pergi tepat saat Gita turun dari mobil diikuti Putra dan Dandelion.

"Dia siapa, Nyet? Wajahnya kok mirip sama lo. Kayak liat lo versi cewek," komentar Gita saat memangkas jarak dengan Altar.

"Bukan siapa-siapa." Jawaban Altar menghindari pembicaraan lebih lanjut tentang Putri. Meski ia yakin, Gita tak akan semudah itu menyerah untuk mencari tahu.

***

Dandelion merasa menjadi orang paling tidak berguna saat ini. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain duduk di sudut ruangan seolah-olah tak peduli dengan sekitar. Padahal ia diam-diam mengamati Gita dengan telaten merawat luka-luka di punggung Altar. Perlakuan akrab mereka membuatnya ingin menggantikan posisi perempuan itu.

"Kenapa sih Dek, dari tadi suntuk banget?" tanya Putra sambil duduk di samping Dandelion. Ia menawarkan buah potong yang baru saja diantarkan Mbok Yem.

"Nggak, gue cuma penasaran aja. Kok lo bisa biasa aja sih Mas liat Mbak Gita perhatian banget sama..." Perasaan kesal lagi-lagi melukai hati Dandelion saat menyebut nama lelaki itu. Ia memilih tak melanjutkan kalimatnya dan membuang muka.

"Siapa bilang gue biasa aja. Sebenarnya gue juga kesel kali Dek liat Mbak Gita segitu pedulinya sama Altar. Tapi gue 'kan gak bisa bantu Altar. Ya mau gimana lagi. Lagian Altar 'kan juga tanggung jawabnya Mbak Gita. Jadi saling jaga kepercayaan aja."

Jawaban Putra tak bisa diterima begitu saja oleh Dandelion. Ia merasa kakaknya itu terlalu percaya dengan dua orang yang tak ingin dilihatnya.

"Emang kenapa sih lo tanya gitu? Masa lo cemburu liat Altar sama Mbak Gita?"

"Gue pulang aja deh Mas, nggak ada gunanya juga masih di sini." Kelit Dandelion menghindari pertanyaan Putra. Gadis itu berlalu dari kamar Altar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tanpa disadari, Gita tersenyum penuh makna melihat perubahan ekspresi Dandelion.

***

"Dah nih, pegang sendiri! Siapa suruh berantem nggak pake mikir." Gita melemparkan handuk yang ia gunakan mengompres luka lebam Altar ke pangkuan lelaki itu. "Lo tuh mikir nggak sih risikonya, Tar. Gimana kalo media sampai tahu lo berantem di diskotik? Image yang udah lo bangun bisa ancur dalam hitungan detik, Tar. Bego banget sih lo!"

Gita melepaskan topengnya saat Dandelion sudah meninggalkan kamar Altar. Bagaimana pun ia tak ingin menunjukkan sisi buruknya pada calon adik iparnya itu. Bahkan Putra pun tak menyadari jika kekasihnya menahan amarah agar tidak tumpah sejak mendengar berita tentang Altar.

"Iya, marahin aja sepuas kamu Ta. Mumpung masih selamat ini," jawab Altar sekenanya sambil mengompres luka lebam di wajahnya. Perempuan itu berhasil mengecoh dua bersaudara yang dari tadi menganggap tulus perlakuannya pada Altar. "Pinter banget sih cari muka. Tuh liat, pacar kamu aja sampe bingung gitu."

"Bodo! Lo nggak tahu gimana paniknya gue saat denger lo abis berantem. Ya Tuhan Altar, stres gue."

"Aku berantem juga bukan karena kemauan, Ta."

"Iya gue tahu lo belain junior lo, tapi inget posisi diri lo sendiri dong."

"Udahlah Ta, namanya juga musibah 'kan," bela Putra justru membuat perempuan itu makin geram. Ia mendekati Putra dan mencubit pipi lelakinya.

"Mana bisa aku kayak gitu, Sayang. Dia udah bikin jantung aku mau copot loh."

"Ya udah, 'kan nggak seperti yang kamu bayangkan toh kejadiannya."

"Ya tetep aja dia udah bikin syok terapi buat aku."

"Kan, kalau udah jatuh cinta dunia serasa milik berdua. Lainnya ibarat debu. Nggak keliatan."

"Diem lo! Gue masih kesel ya sama lo. Lo juga masih utang penjelasan sama gue."

Tanpa memedulikan komentar Gita, Altar bangun dari tempat tidur. Tenggorokan lelaki itu kering. "Mau ke mana lo? Gue belum selesai ngomong, Nyet."

"Ngasih kalian waktu buat berdua. Kalo di rumah Putra mana bisa kamu berdua gitu. Di hotel perlu bayar mahal."

"Eh Monyet, sialan lo!" Kali ini suara Putra yang memaki. Namun suaranya segera hilang.

Altar tak ingin membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Ia lebih memikirkan ekspresi Dandelion selama duduk di sofa yang terletak di kamarnya. Perempuannya kini tak lagi peduli meski melihat wajahnya penuh luka.

Dulu, dia orang pertama yang akan menghapus darah dari luka akibat terlibat tawuran antar pelajar. Dia juga yang akan membersihkannya sambil mengomel jika tawuran cuma bikin rugi. Tapi, gadis itu kini memilih untuk tidak peduli.

1
@tik jishafa
Diih altar buat penuh perjuangan dgn perasaanya maen sobek aj...yaa nikmati aj kesakitan itu kan selama ini itu yg kamu tabur dgn altar km egois, dan tidak peka dandelion
@tik jishafa
Baru nemu novel ini dan alur ceritanya bagus, bisa bikin permainan emosi pembacanya, penulisan katanya rapi nyaman dibaca. dan yg bagus lgi novelnya udah tamat jdi gak hrs penasaran dgn cerita selanjutnya. Good job autor 👍👍
@tik jishafa
Baru nemu novel ini..ceritanya oke, penulisan kata"nya cakep nyaman dibaca. untung udah tamat jdi aseek gak perlu nunggu up lama 🤭
@tik jishafa
Altar CIDAHA : CINTA DALAM HATI 🤭
Ai Noerhidayah471
kenapa Altar gak jujur aja siihhhh
RAMBE NAJOGI
mampir lagi aku thoorr dkaryamu, ini cerita altar yg pelukis itu kan ya
Arin Minty
tiap bab selalu bikin oleng...😫😫😫untung ending sesuai harapan...🥰😘
Merry Maria
yaaahhhhh...habis 😟😟
nano suwarman
dandelion bodoh.. kasian altar.. nyesek Mulu ngadepin dandelion
Nanonano 🌱
iseng baca kisah Dandelion sama bg Altar lagi untuk ke sekian kalinya, ternyata tetap bikin penasaran, tetap bikin baper, dan masih tetap keren 👍
Cici
rapih banget tulisannya thor 💞
Rahmiyati
sebel bgt deh kak... aslinya sih menghayati bgt ceritanya
ႩჄჄႩ
akhirnya kurang manteb...
ႩჄჄႩ
masih membingungkan nih akhirnya. dan masih tanda tanya. soalnya jani sama2 pakai lipstik maroon. ya.. jani yg mana yg akan dinikahi altar? semriwing semriwing nyess nyeezs gitu ya ke hati.
Erni Fitriana
keremu lagi dikarya ter debessssss mu ...lanjut kak...sydah langsung like n love😘😘😘😘😘
L.A
masih pantengin. di Platform mana ya di terusi ?
L.A
aku bingung nih. di awal. yg nemenin adik rinjani farel. tp kok nikah sma senjani? jd gmn?
L.A
kann aku sebelll.... bayangin gitu jreng² , eh bersambung 🤣🤣
Nacita
yah udahan aja sih 😔
Nacita
dahlahhhh 😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!