Novel ini menceritan kisah penyesalan seorang suami yang frustasi karena telah menganggap istrinya gila setelah melahirkan. Padahal banyak hal yang terjadi pada istrinya, ia juga mengalami baby blues.
"Aku adalah seorang suami dan ayah yang gagal. Aku tak memahami derita, tekanan batin yang dialami istriku. Aku membuatnya berjuang menjadi seorang Ibu yang tangguh dengan kebodohanku." Hisyam
Kisah ini juga menceritakan betapa besar kasih sayang seorang laki - laki pada keluarganya, Ibu, saudara, dan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura talita azalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flora wisata santerra
Pagi hari, Hisyam terbangun karena mendapat panggilan dari nomer Linda. Namun sebelum diangkat, ponselnya sudah berhenti berdering.
Hisyam pun memutuskan untuk tidur kembali, meringkuk dibawah selimut, karena hawa kota Batu yang dingin cocok untuk terus berlama - lama diatas kasur.
Baru memejamkan mata, Ponsel itu kembali berdering, dan sama seperti sebelumnya, sebelum diangkat sudah mati lagi.
Hisyam yang penasaran pun melakukan panggilan balik kepada Linda. Namun tak ada jawaban, berulang kali Hisyam melakukannya namun tetap sama.
Asha yang dari tadi sudah terbangun namun malas untuk membuka mata akhirnya memutuskan untuk bangun, ia duduk di tepi ranjang.
"Telfon siapa sih Mas, masih pagi loh ini. Dino ya?" tanya Asha.
"Eh udah bangun Dek? Emmmmm mau telfon mbak Linda?" jawab Dino.
"Loh, ada apa Mas?
"Mas juga gak tau Dek, tadi ada 2x panggilan dari mbak Linda, tapi Mas telfon balik gak di angkat" Hisyam.
"Mbak Linda paling sibuk sama anak-anak Mas," timpal Asha.
"Iya kali ya, yaudah kita mandi aja yuk, Dino ngajak kita ke kafe sawah sama apa gitu, Mas lupa," Hisyam.
"Oke, kita mandi bareng aja yuk," ajak Asha.
"Hmmmmmm tumben sih Adek agresif," Hisyam menggoda Asha.
"Kok agresif sih Mas?" tanya Asha.
"Biasanya itu Mas yang ngajak, kok sekarang malah Adek sih, ketagihan mandi bareng ya,"
Hisyam masih menggoda Asha.
"Ih apaan sih Mas," Asha mulai kesal.
"Ngaku aja gak papa Dek, Mas juga suka kok kalau disabunin Adek, geli - geli gimana gitu heheheheh," Hisyam tertawa.
"Udah ah, yaudah Adek duluan, mau Pup dulu soalnya,"
Asha langsung meninggalkan Hisyam.
Asha langsung berdiri menuju kamar mandi dan meninggalkan Hisyam yang masih tertawa terbahak - bahak.
"Habis itu panggil Mas ya Dek, kita mandi bareng," Hisyam terus saja menggoda Asha.
Dino memilih merebahkan dirinya disamping Naura. Hisyam tertidur kembali dan terbangun karena tangisan Naura.
"Cuuup cuuppp sayang, haus yaa, Bunda masih mandi sayang," Hisyam menenangkan Naura.
Naura masih menangis, dan di sela - sela tangisnya.
"Pruut pruuut prut...."
"Hmmmm Dedek kentut ya..." Hisyam tertawa karena Naura menangis sambil kentut.
Tak lama kemudian Naura diam dan menyebikkan bibirnya, tanda kalau di sedang Pup.
"Hmmmmm Naura pup ya" Hisyam.
Hisyam memanggil Asha untuk segera menyiapkan air hangat Naura dan memandikannya. Asha keluar dari kamar mandi dan berganti baju
"Loh Dek, kok langsung ganti, gak mandiin Naura dulu,"
ucap Hisyam yang melihat Asha keluar dari kamar mandi.
"Laaaah, jadi?" Asha mengangkat bahunya.
"Jadi apa Dek?" Hisyam tak memahami maksud Asha.
"Berhubung Aku sudah mandi dan sudah ganti baju, jadi mas HISYAM saja yang mandiin Naura "
Asha berata dan menyebut nama suaminya dengan penuh penekanan.
"Duh alaaaaah.." Hisyam putus asa.
"Loh gak mau ya Mas, kalau gak mau ya gak papa, tapi jangan coba - coba minta ya,"
gantian Asha yang menggoda Hisyam.
"Gak gitu Dek, Mas mau, tapi...."
"Tapi apa Mas?"
"Tapi kan Naura pup i Dek," Hisyam berkata dengan raut wajah memelas.
Asha terbahak-bahak melihat Hisyam yang menutup hidungnya pada saat melepas baju Naura, dan Hanya tersisa diapersnya.
"Ayo Mas, semangat," Asha.
"Iya, iyaaaaa..." Hisyam mengangkat naura ke kamar mandi.
"Airnya udah siap semua kan Dek?" Hisyam berkata sembari menunggu Asha berubah pikiran.
"Udah," jawab Asha singkat.
"Oke, sayang kita mandi ya....." Hisyam memandang Naura dengan kata yang di buat - buat.
Asha masih terbahak - bahak melihat suaminya yang terlihat gontai menggendong Naura menuju kamar mandi dan nenyusul suaminya.
*****
"Bagiamana sudah ada uangnya Lin?" tanya bu Tedjo.
"Belum bu, Hisyam gak angkat panggilanku bu, aku juga tidak punya uang" jawab Linda.
"Suami kamu masih belum tahu mau usaha apa Lind?" tanya bu Tedjo dengan tatapan intens.
"Loh kenapa Ibu jadi ngatur suamiku bu, kan udah perjanjian kalau Ibu itu ikut Hisyam, jadi Hisyam dong yang nanggung Ibu,"
Linda berkata dengan nada tinggi.
Ibu Tedjo diam, kemudian menatap Dewi. Namun Dewi seol ah paham maksud tatapan Ibunya dan langsung bicara,
"Kalau suamiku emang belum ada rejeki bu,"
sahut Dewi .
"Halah, suami kamu kan istrinya cuma kamu aja, kamu juga belum punya anak, kok kamu selalu gak punya uang," ketus Linda pada Dewi.
Linda masih terbawa emosi karena mengingat suaminya belum memberinya uang dan sudah beberapa hari tidak dirumahnya.
"Namanya juga gak punya, ya mau gimana lagi," dengus Dewi.
Pembicaraan mereka pun berakhir dan diam dengan pikirannya masing - masing.
Hisyam memang yang paling bisa diandalkan soal uang, dia yang paling mapan dalam hal pekerjaannya. (Batin bu Tedjo)
Mbak Linda apa - apa an sih, pakai nyangkut - nyangkut aku segala, kan suamiku gak pernah ngasih aku uang banyak, seminggu paling juga 200, mana cukup. Makanya aku manfaatin Hisyam. (batin Dewi)
Ini si Ibu kok jadi nuntut suamiku, kan uangnya udah di kuasain nenek peot, boro - boro buka usaha, ngasih uang aku aja enggak, kalau ku paksa, nanti aku malah ditinggalin. (Batin Linda).
******
"Bro, ayo berangkat," ajak Dino pada Hisyam.
"Oke, gue panggil Asha dulu," jawab Hisyam.
"Dek, udah belum? di tungguin Dino sama Dini, Alan dilur,"
Udah Mas, tolong bawain tas nya ya, sama itu tolong masukin botolnya ke samping kiri tas.
Asha dan Dino keluar dan disambut oleh Alan.
"Aunty, aku mau ciun dedek cantik, aku kangen, semalaman gak ketemu, boleh ?" Alan.
"Ya pasti boleh dong sayang," jawab Asha.
Alan langsung berjinjit untuk bisa mencium Naura, sedangkan Asha sedikit membungkuk.
Mereka langsung masuk mobil.
"Syam, Flora wisata santera dulu, apa ke cafe sawah dulu?" Tanya Dino.
"Gue sih ngikut aja bro," jawab Hisyam pasrah.
"Oke, loe sama Asha udah sarapan?" Dino.
"Udahlah bro, udah jam 10 ini," Hisyam sambil melihat jam tangannya.
"Oke, juga gue sama Dini juga udah" Dino singkat.
Sementara Dini dan Asha mendengarkan dan melihat sekeliling, Asha yang sudah lama tak liburan merasa senang.
Mereka langsung menuju arah Pujon, menuju Flora Wisata santerra terlebih dahulu dan memutuskan untuk ke kafe sawah nanti sembari makan siang
Mereka sampai di lokasi.
Alan antusias menuju istana balon. Dino membeli tiket dan kemudian masuk kedalam istana balon. Alan berlari dengan antusias.
Puas dengan tawa Alan. Para orang tua itu tertarik dengan spot foto lainnya.
"Mas, aku ingin kesana," Asha menunjuk spot foto itu.
"Waaaah, aku juga mau kesana Pah," ucap Dini yang juga ingin foto ditempat itu.
"Oke, ayo, disana juga bisa menyewa baju ala - ala negara itu loh,"
"Negara apa?"
"Ya itu, aku lupa nama negara yang ada bunga sakuranya,"
Mereka tak tertarik mendengar ucapan Dino yang sepertinya pura - pura, langsung melenggang meninggalkan Dino.
"Mas, fotoin aku ya, sama Naura dulu, trus nanti aku mau sendirian, terus nandi bertiga," pinta Asha.
"Mana pah? kok ga ada yang nyewa bajunya," tanya Dini.
"Biasanya sekitar sini Mah," jawab Dino.
"Biasanya? berarti papah udah pernah kesini ? sana siapa? " tanya Dini penuh selidik.
Wisata ini terbilang baru, dan seingat dini Dino sudah 3 tahun ke kota ini, kenapa dia bisa seolah - olah pernah kesini. Dini pun mulai curiga.
Asha dan Hisyam yang mendengar perdebatan suami istri tersebut memilih meninggalkan mereka dan mencari spot foto yang menarik lainnya.
"Setelah ini, kita kesana yuk, Mas lebih tertarik disana" Ajak Hisyam mengajak Asha karena ada perdebatan suami istri itu.
Asha yang melihat bangunan itu merasa senang.
"Wow Mas, indah sekali " Asha.
"Ayo foto bertiga," ajak Hisyam.
"Sini Dek, mendekat," Hisyam merangkul Asha.
Sementara Dino dan Dini entah kemana. Setelah puas berfoto - foto. Asha merasa pundaknya kram karena menggendong Naura dari tadi. Sementara Hisyam menjadi tukang fotp Asha dan Naura.
"Mas, mereka kemana ya? kok gak ketemu - ketemu dari tadi," Tanya Asha.
"Sebentar Dek, Mas telfon dulu," jawab Hisyam.
"Bro, loe dimana?" tanya Hisyam saat panggilannya sudah diangkat oleh Dino.
"Gue di mobil bro, biasa ada yang ngambek," jawab Dino.
"Oke, gue kesana" jawab Hisyam.
"Santai aja, puasin dulu," Dino.
"Asha udah capek, mau balik aja," jawab Hisyam.
Asha dan Hisyam menuju tempat keluar.
Sebelum masuk dalam mobil, Asha kembali memotret tempat itu.
Hasil jepretan Asha. heheheh
"Masih belum puas Dek?" tanya Hisyam.
"Eh, udah kok Mas, cuma mau punya gambar yang kek gini," tunjuk Asha pada hasil jepretannya.
Mereka semua sudah masuk dalam mobil. Asha dan Hisyam saling berpandangan kala melihat Dino dan Dini saling diam. Sementara Alan tertidur di pangkuan Dini.
"Bro, kita balik aja, Asha udah capek katanya, itu Alan juga udah tidur, gak papa kan?"
Alibi Hisyam, karena merasa suasana sudah tidak enak, jika Hisyam memaksa untuk terus melanjutkan ke cafe sawah, Hisyam merasa tidak enak pada Dino dan Dini karena yang merasa senang hanya dirinya dan Asha.
Hisyam sadar dirinya hanya menumpang.
"Loh gak papa bro, gue tau loe gak enak karena ada yang ngambek, tapi yang ngambek santai aja bro, malah udah tidur," alih Dino sambil melirik Dini.
"Balik aja bro, udah capek juga," jawab Hisyam.
Dini yang tadinya marah, semakin marah ketika mendengar Dino tadi pada saat menerima panggilan dari Hisyam bahwa dirinya sedang ngambek.
Mereka balik menuju penginapan. Semuanya hening. Asha yang kelelahan tertidur.
jgn digantung ya thor novelnya