Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."

Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.

Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Sekitar pukul dua dini hari Zakia kembali terbangun dari tidurnya, lehernya terasa kering dan tengkuknya terasa sedikit kaku. Zakia kehausan, matanya meneliti ruangan, mencari air minum.

"Oh ada," gumamnya senang. Tapi sesaat kemudian Zakia sadar, jaraknya lumayan jauh dari tempat tidurnya.

Zakia menatap Daren, pria itu tertidur pulas, ingin dibangunkan Zakia tak tega, melihat bagaimana kurang nyamannya tidur Daren tadi membuat Zakia memilih untuk membiarkan Daren tertidur, tak apa dia bisa melakukannya sendiri.

Pelan-pelan Zakia ingin meraih air minum tersebut, namun bukannya meraih air minum, Zakia malah tka sengaja menjatuhkan sebuah ponsel.

Mata Zakia melotot, astaga itu ponsel milik Daren!

Di ruangan yang sepi seperti ini, menjatuhkan sebuah barang bisa membuat suaranya menggema dan benar saja, suara ponsel terjatuh itu membuat Daren membuka matanya.

"Kenapa Zak? Mau ke kamar mandi?" tanya Daren. Ia sedikit mengucek matanya dan berjalan menghampiri Zakia.

Zakia yang dihampiri oleh Daren merasa tak tenang, pasalnya ia tak sengaja menjatuhkan ponsel mahal milik suaminya itu.

"Itu, ponsel bang Daren jatuh," ucap Zakia pelan.

Daren menundukkan pandangan, benar saja, ponselnya tergeletak tak berdaya di lantai dingin tersebut, tubuhnya membungkuk untuk mengambil ponsel itu dan kembali meletakkannya ke nakas, hanya seperti itu tanpa ada ocehan di dalamnya.

"Maaf ya, tadi gue mau ngambil minum tapi ga sengaja ngejatuhin ponsel abang," ungkap Zakia. Raut wajah wanita itu mengandung ketakutan. Ya bagaimana tidak takut, itu ponsel mahal woyy! Zakia bahkan belum tentu mampu membeli untuk dirinya sendiri malah merusakkan barang orang.

"Udah santai elah, ponsel doang itu, tapi lo ga kenapa-napa kan? Ga ada yang sakit kan? Bentar ya gue ambilin minum!"

Daren dengan sigap mengambil air minum, tapi sebelum air minum itu sampai ke tangan Zakia, Daren melihat posisi Zakia dulu, wanita itu perlu duduk untuk bisa minum air dengan lancar.

"Duduk bentar, biar gue benerin posisi bantalnya," suruh Daren. Zakia mulai membangkitkannya tubuh perlahan, walaupun masih merasa lemah tapi ia tetap berusaha pun dengan ada Daren di sampingnya yang siap membantunya.

Daren sedikit membungkuk untuk mengambil bantal wanita itu, Zakia reflek memegang tangan Daren untuk dijadikan tumpuan biar tubuhnya bisa duduk sempurna dan bersandar.

Sedangkan Daren berusaha membuat posisi bantal itu bisa menjadi sandaran yang empuk dan nyaman untuk sang istri, walaupun dengan tangan sebelah,karena sebelah lagi masih dipegang oleh Zakia.

Zakia fokus memperhatikan Daren yang sedang membenarkan posisi bantal, tanpa ia sadari pria itu melirik wajahnya lalu turun melihat lengannya yang sedang digenggam oleh wanita, seolah-olah lengan kokoh itu adalah tumpuan, padahal Zakia sendiri sudah duduk dengan posisi yang nyaman, Daren sendiri pun tak berniat untuk menarik lengannya, ia membiarkan Zakia menikmati rasa aman dan tanpa sadar senyum kecil terbit dari bibirnya. Jantung Daren kembali berdetak, hatinya berdesir seolah ada perasaan baru yang muncul.

Daren bisa saja menarik tangannya, namun melihat Zakia lebih tenang, ia memilih diam. Untuk pertama kalinya, Daren merasa senang karena bisa menjadi tempat seseorang bersandar

"Bantalnya tinggikan dikit bang," suruh Zakia.

"Iya," jawab Daren lembut. Zakia seketika menelan ludah, suara suaminya ini terdengar serak namun lembut secara bersamaan.

Sejenak ia menatap Daren, Zakia baru sadar bahwa posisi mereka ternyata sedekat ini, Zakia duduk di atas brankarnya dan tubuh Daren yang hampir menempel ke dirinya, sesaat jantung Zakia berdetak kencang, ia gugup, entah ini muncul karena gugup didekati Daren atau rasa gugup itu muncul karena ketakutan? Zakia belum bisa memastikan.

Tapi satu yang Zakia sadari, tangannya sedari tadi memegang tangan suaminya itu.

Entah sejak kapan, tangannya selalu mencari keberadaan Daren saat tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Kebiasaan yang dulu tak pernah ia miliki.

Reflek, Zakia menarik tangannya sendiri, Daren memperhatikan itu, ia menatap Zakia dan Zakia langsung berdehem lalu membuang muka.

"Udah nyaman?"

Zakia menegakkan punggungnya di bantal yang sudah disusun suaminya, seketika nafas lega keluar dari bibir wanita itu. Tidur dalam waktu yang lumayan panjang juga membuat tubuhnya merasa kaku.

Menyadari bahwa sang istri merasa aman, Daren pun kembali mengambil air minum yang dipinta oleh Zakia. Zakia sudah membuka tangannya untuk menerima air minum itu, tapi Daren memberikannya bukan ke tangan Zakia melainkan langsung mendekatkan ujung gelas ke bibir wanita itu.

Zakia seketika membisu, ia melirik ujung gelas lalu melirik Daren. "Tangan lo takutnya masih lemah, makanya biar gue bantu," jelas Daren seolah tahu apa yang akan ditanyakan oleh sang istri.

"Bisa? Sedotan ga ada loh." Daren celingak-celinguk, tapi memang ternyata tidak ada sedotan di sekitar mereka.

"Udah gapapa," jawab Zakia pelan. Sialnya sekarang malah Daren yang berdiri terlalu jauh, Zakia menarik tangan Daren mendekat lalu minum air pelan-pelan.

"Udah? Mau lagi?" Zakia menggeleng, dia takut jika kebanyakan minum maka dirinya akan bolak-balik kamar mandi. Dalam kondisi seperti ini, jika bolak-balik kamar mandi pasti akan terasa sulit.

Kalau ada yang bilang, kan ada Daren. Memang, tapi jika dia setiap saat bolak-balik kamar mandi bukan kah itu sama saja menyusahkan suami, benar begitu kan?

"Mau makan? Laper ga?"

Zakia memegang perutnya, memang sedikit ada rasa lapar di perutnya, tapi mengingat ini sudah malam, lebih Zakia mengurungkan niatnya untuk makan. Lagian besok pagi masih bisa sarapan.

"Enggak, masih kenyang kok," jawabnya.

"Ooh oke, terus sekarang mau ngapain? Mau tidur lagi?"

"Enggak juga," ucap Zakia. Akibat tidur terlalu lama, membuat mata Zakia segar pada dini saat dini hari seperti ini, tidurnya sudah cukup panjang dan kalau dipaksa tidur lagi yang ada kepalanya pusing.

Zakia diam, ia memainkan selimut yang menutupi sebagain tubuhnya, matanya menatap lurus ke depan lalu melirik ke arah kaki yang ditutupi selimut itu, di saat berdua seperti ini Zakia ingin tahu bagaimana kondisi kakinya, apa yang dikatakan dokter? Lalu bagaimana dengan nasib tungkai kuat itu di masa yang akan datang?

"Kalau gitu, gue mau sholat tahajjud bentar, bisa kan?" tanya Daren. Zakia menoleh ke arah Daren, sholat tahajjud ya? Kemaren dia semangat berkata kepada Daren bahwa dia ingin ikut selalu tahajjud bersama pria itu.

Tapi dalam kondisi seperti ini, apakah hal itu bisa dilakukan seperti sebelumnya tanpa ada perubahan posisi?

Zakia kemudian menghela nafas dan mengangguk, Daren pun langsung berbalik menuju kamar mandi. Ia meninggalkan Zakia dengan banyak pertanyaan di kepalanya.

Sejak tadi, kepala Zakia tak bisa tenang, beban pikirannya seolah-olah menari di dalam kepala itu sendiri. Zakia ingin tahu apa yang dikatakan dokter, bagaimana kondisinya? Apakah bisa pulih atau malah bertambah parah dari yang kemarin?

Sekitar lima menit di kamar mandi, Daren pun ke luar dengan rambut yang setengah basah, ia mengambil sajadah dan menggelarkannya, saat udah siap-siap untuk melaksanakan sholat tiba-tiba Zakia mengeluarkan kalimat yang membuat Daren seketika terdiam.

"Selesai sholat kasi tau ke gue apa yang dibilangin dokter samo lo ya bang, gue mau tau kondisi gue gimana, jangan nutupin apapun," kata Zakia. Pandangannya lurus menatap Daren, tapi di dalam tatapan itu berisi tuntutan dan keinginan tahuan yang mendalam.

Duh, Kira-kira respon Zakia gimana ya pas Daren ngasih tau semuanya:)

Hallo semuanya, Terima kasih karena sudah ikut menemani perkembangan hubungan Zakia selama ini, jika berkenan silahkan follow akun ini y, biar tidak ketinggalan update selanjutnya, makasih💙💙

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!