LANJUTAN DARI CERITA BERJUDUL James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun
Musuh-musuh yang pernah mengguncang kota telah tumbang satu per satu. Brook Enterprises berkembang menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh, sementara James akhirnya memperoleh kehidupan yang selama ini ia impikan bersama Celine.
Namun, dunia bawah tanah terus bergerak. Sebuah undangan misterius dari "Pertukaran Rahasia Dunia Bawah" tahunan di Germania, yang diorganisir oleh keluarga Krause yang berkuasa, muncul kembali. Masa lalu James sebagai "Light", seorang ahli strategi jenius berusia 12 tahun, kembali menghantuinya. Apakah ini akan membawanya pada petualangan baru, atau justru membuka luka lama yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Harus Memaafkannya!!
Edwin Carter.
Kepala Keluarga Carter yang ditakuti.
Penguasa Scarlett Island.
Sebuah nama yang dihormati sekaligus ditakuti di seluruh dunia bawah tanah.
Tak terhitung banyaknya orang yang memandangnya sebagai sosok yang tak tersentuh.
Namun… Bagi Sophie… Ia hanyalah ayahnya.
Ayah yang menghilang dari hidupnya saat ia paling membutuhkannya.
Ayah yang tak pernah benar-benar bisa ia maafkan.
…
Angin sepoi-sepoi terus berembus melewati taman.
Di suatu tempat di dalam vila, tawa Chloe, Felix, dan para tamu lainnya terdengar hingga ke luar.
James diam-diam mengamati ekspresi Sophie, ia tampak tenang.
James mengenal ekspresi itu. Itu adalah wajah yang selalu diperlihatkan ibunya setiap kali mengambil keputusan yang sulit.
Tangannya perlahan mengepal di bawah meja.
"Mama… Apakah dia menghubungimu lagi?"
Sophie menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, hanya saja akhir-akhir ini aku terus memikirkannya."
Ia memandang ke arah taman, tempat tawa yang lainnya masih terdengar riang.
"Banyak sekali yang telah terjadi belakangan ini. Kau akan segera menikah, keluarga kita terus bertambah." Ia tersenyum lembut. "Dan saat melihat semua ini… aku menyadari sesuatu."
Perlahan ia menundukkan pandangannya. "Aku harus memaafkannya."
James tetap diam, ia mengamati wajah ibunya dengan saksama. "Mama… Tolong katakan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau dia mengganggumu… Aku akan mengurusnya."
Sophie tak kuasa menahan senyumnya. Ia mengulurkan tangan melewati meja dan dengan lembut meletakkan tangannya di atas tangan James.
"Kau benar-benar sudah dewasa." Ia menggenggam tangan James dengan penuh kasih. "Aku sudah memendam rasa sakit ini selama bertahun-tahun. Dan apa yang aku dapatkan? Tidak ada." Ia mengembuskan napas perlahan. "Aku harus memaafkannya. Setidaknya demi Paula dan Chase. Mereka juga pantas memiliki keluarga yang utuh. Aku ingin berbicara dengannya."
Ia menatap mata James. "Bisakah kau mengatur sebuah panggilan?"
James tidak langsung menjawab.
Sebaliknya… Ia menunduk. "Mama… Apakah kau yakin? Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi. Terakhir kali… Semua itu terjadi karena aku. Aku tidak sanggup melihatmu bersedih lagi."
Sophie langsung mengerti apa yang dimaksud James.
Ia mengusap lembut punggung tangan putranya.
"Tidak, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Apapun yang telah terjadi… Dia tetap ayahku. Mungkin memang hanya sebentar. Tetapi dia pernah menyayangiku. Dia mencintai Mama." Ia tersenyum tipis. "Dan… dia juga adalah kakekmu."
Pandangannya beralih ke langit biru yang cerah. "Sebelum usia membawanya pergi… Aku tidak ingin hidup dengan penyesalan."
James mendengarkan dalam diam.
Setelah keheningan yang cukup lama...
Ia perlahan mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan mengatur panggilan dengan pak tua itu."
Sophie langsung menatapnya. "Dia adalah kakekmu."
James mengembuskan napas panjang dengan dramatis. "Aku memang masih tidak menyukai sikap pak tua itu. Tapi..." Ia tersenyum. "Demi Mama… Aku akan memanggilnya Kakek."
Sorot mata Sophie melembut. "Terima kasih."
James membalas senyumnya.
Lalu… Sophie tiba-tiba menyipitkan mata. "Ngomong-ngomong..."
James mengedip. "Hm?"
"Apa maksud senjata yang tadi dibicarakan Silvey?"
James membeku, ekspresinya langsung berubah canggung. "T... tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mama. Kami hanya membicarakan hal-hal acak. Mama abaikan saja."
Sophie perlahan melipat kedua tangannya.
James menggaruk belakang kepalanya.
"Itu benar-benar bukan sesuatu yang penting."
Sophie mengembuskan napas pasrah. "Kau akan menikah beberapa hari lagi. Jadi jangan melakukan hal yang berbahaya."
James langsung mengangguk. "Baik."
Sesaat kemudian ia tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan. "Jadi..."
Sophie mengangkat sebelah alis. "Jadi?"
"Apakah Mama masih menyisakan untukku..."
Ia tampak bingung. "Menyisakan apa?"
"Camilannya, yang tadi Mama bilang."
Sophie menatapnya selama dua detik sebelum akhirnya tertawa. "Jadi itu yang sebenarnya kau khawatirkan?"
James tersenyum polos. "Tadi aku sudah lapar. Sekarang aku benar-benar kelaparan."
"Masih banyak." Sophie berdiri. "Ayo, kita masuk."
James berdiri di sampingnya. "Mamaku memang yang terbaik."
Sophie menepuk pelan lengannya. "Merayu Mama tidak akan membuatmu mendapat makanan penutup tambahan."
James menyeringai. "Tidak ada salahnya mencoba."
Keduanya berjalan kembali menuju vila bersama.
…
Mars Residency.
Ting Tong.
Bel apartemen bergema.
Di dalam apartemen...
Celine meletakkan buku yang sedang dibacanya di atas meja sebelum berjalan menuju pintu.
Ia membukanya.
Di luar berdiri dua wajah yang sudah sangat dikenalnya. Alice mengangkat tangan sambil tersenyum cerah. Kate berdiri di sampingnya sambil membawa sebuah kantong kertas.
Celine mengedipkan mata karena terkejut. "Ada apa?"
Alice mengangkat bahu santai. "Tidak ada. Karena sekarang kau sudah mulai datang ke kantor pada hari kerja… Jadi sebenarnya tidak ada alasan lagi untuk membuka kantor setiap hari Minggu."
Celine tampak bingung. "Jadi… Kita selama ini hanya bekerja pada hari Minggu karena dulu aku hanya datang saat akhir pekan?"
Kate mengangguk. "Ya."
Celine menatap mereka berdua. "Hei. Seharusnya kalian bilang dari dulu. Aku pikir hari Minggu memang hari kerja biasa."
Alice melambaikan tangan dengan santai. "Itu bukan masalah besar. Kami hanya membutuhkan kepala desainer kami untuk mengawasi tim. Para desainer selalu senang setiap kali kau datang. Mereka belajar banyak darimu."
Celine tampak sedikit malu. "Lissy… Bukankah itu terlalu berlebihan? Mengubah jadwal semua orang hanya karena aku..."
Kate langsung memotong. "Apa yang sedang kau bicarakan? Kau juga pemilik Tulip Corporation."
Alice melipat kedua tangannya dengan dramatis. "Jadi… Apakah kau berencana membiarkan kami berdiri di depan pintu selamanya?"
Celine tiba-tiba tertawa. "Oh. Masuklah.”
Mereka pun masuk ke dalam apartemen.
Kate langsung melirik ke arah dapur. "Hei. Apakah masih ada mi instan dalam mangkuk itu?"
Mata Alice langsung berbinar. "Aku juga mau satu."
Celine bergantian menatap mereka. "Kalian berdua belum sarapan?"
Kate langsung tertawa.
"Alice bangun..." Ia sengaja berhenti sejenak. "Sangat siang."
Alice memutar bola matanya.
"Menurutmu itu salah siapa?" Ia menunjuk Celine. "Sahabatku akan menikah. Mana mungkin aku tidak ikut merayakannya?"
Ia berjalan ke ruang tamu lalu menjatuhkan diri ke sofa.
"Dan lagi..." Ia memandang sekeliling apartemen. "Kurasa setelah ini kita tidak akan punya banyak kesempatan. Makan mi instan bersama… Seperti saat kuliah dulu. Ayo kita mengenangnya sekali lagi."
Senyum hangat perlahan muncul di wajah Celine. Ia mengangguk. "Baik, aku akan memanaskan air."
Kate sudah lebih dulu berjalan ke dapur.
"Aku saja." Ia menoleh sambil menyeringai. "Kalian berdua duduk. Mengobrollah, aku yang akan menyiapkan semuanya."
Alice langsung mendekat ke arah Celine begitu Kate menghilang ke dapur. Senyum jahil perlahan menghiasi wajahnya.
"Jadi… Ceritakan semuanya. Bagaimana rasanya menjadi calon pengantin lima hari sebelum pernikahan?"
Rowany
Kediaman Bjorn
Malam telah menyelimuti seluruh kawasan rumah megah itu.
Di salah satu aula yang luas, perapian menyala.
Bjorn berdiri di depan jendela tinggi dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Tatapan tajamnya tertuju ke kegelapan di luar.
Astrid perlahan memasuki ruangan. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Bjorn. "Apakah kau sudah mendengar kabar dari Thea?"
Bjorn tidak menoleh.
"Aku tidak bisa menghubunginya sejak dia berada di New World."
Bjorn kemudian berbicara. "Ya. Dia sedang sibuk dengan sesuatu yang sangat penting."
Astrid mendengarkan.
Sudut bibir Bjorn perlahan terangkat membentuk senyum puas.
"Dia akan menjadi bagian yang sangat penting dalam rencana besar kita yang akan datang." Ia perlahan mengangkat gelas di tangannya. "Dan setelah semuanya berhasil… Aku berencana secara resmi mengumumkannya sebagai Pewaris The WEB."
Astrid tampak sedikit terkejut. "Jadi… Akhirnya kau memutuskannya."
Bjorn mengangguk. "Sudah waktunya.”
“Anak-anakku sudah membuktikan kemampuan mereka. Tapi, di antara mereka semua… Thea adalah yang paling memahami arti tanggung jawab."
Ia kembali memandang keluar. Senyumnya semakin lebar. "Kalau lelaki tua itu masih hidup… Dia pasti akan mati sekali lagi setelah melihat apa yang telah kita bangun."
Tawa keras menggema ke seluruh aula.
"Hahaha..."
Ekspresi Astrid langsung berubah dingin. "Jangan membicarakan dia."
Bjorn hanya melambaikan tangannya. "Baiklah. Tidak ada gunanya membicarakan orang yang sudah mati."
Tatapannya kembali mengarah ke kegelapan di balik jendela.
"Pada saat semua orang menyadari apa yang sedang terjadi… Semuanya sudah terlambat."
…
Jingbei, Growanie
Kediaman Keluarga Chen
Tok.
Tok.
Suara seorang pria tua terdengar dari dalam. "Masuk."
Rouxi perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka.
Tuan Chen duduk di balik meja kayu tradisional sambil menikmati secangkir teh dengan tenang. Ia perlahan mengangkat kepalanya. "Katakan, Rouxi. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Rouxi membungkukkan tubuhnya dengan hormat. "Ayah, aku telah berhasil menjual katana terkutuk itu."
Mata Tuan Chen langsung membelalak. "Kau benar-benar berhasil?"
Senyum tulus muncul di wajah tuanya. "Keluarga Chen berterima kasih atas usahamu."
Rouxi sedikit menundukkan kepalanya. "Aku hanya menjalankan tanggung jawabku sebagai anggota keluarga ini."
Pria tua itu mengangguk puas. Kemudian rasa penasaran muncul di wajahnya.
"Berapa harga yang berhasil kau dapatkan?" Ia terkekeh pelan. "Bahkan jika kau hanya mendapatkan satu juta dolar… Itu sudah bisa dianggap hasil yang sangat baik."
Rouxi langsung menjawab. "Kami menjualnya… Dengan harga tiga puluh juta dolar."
Hening.
Cangkir teh di tangan pria tua itu hampir terlepas.
"Tig… Tiga puluh?" Ia menatap Rouxi dengan tidak percaya.
Rouxi mengangguk. "Ya, Ayah."
Selama beberapa detik… Pria tua itu hanya memandanginya.
Lalu ia perlahan menyandarkan tubuh ke kursinya. "Luar biasa… Jadi pembelinya benar-benar mengenal orang-orang dari Klan Kuno. Apakah dia mengenali lambang itu?"
Rouxi kembali mengangguk. "Dia langsung mengenali simbol yang terukir pada katana itu. Dia sangat tertarik pada satu hal. Bagaimana pedang itu bisa sampai ke tangan keluarga kita."
Pria tua itu menyipitkan matanya. "Dan… Apa yang kau katakan kepadanya?"
Rouxi tersenyum tipis. "Hanya secukupnya… Untuk membangkitkan rasa penasarannya. Aku memastikan dia memiliki alasan untuk datang mengunjungi kita secara langsung."
Tuan Chen perlahan mengangguk puas. "Kau menanganinya dengan sangat baik. Aku akan mempertimbangkan kembali posisimu di dalam keluarga. Petunjuk yang berkaitan dengan Klan Kuno sangatlah berharga. Jika pemuda itu benar-benar memiliki hubungan dengan mereka… Dia adalah seseorang yang layak dijadikan sekutu."
Rouxi tetap tenang. "Dia pasti akan datang. Dia juga mengatakan bahwa dia memiliki hubungan dengan suamiku."
Mata pria tua itu berbinar. "Bagus. Putraku akhirnya bisa menjadi seseorang yang berguna."
Rouxi menatapnya dengan tenang sebelum berbicara. "Dia selalu bekerja keras. Hanya untuk mendapatkan pengakuan darimu."
Ekspresi pria tua itu sedikit melunak. "Akan kuingat itu."
Senyum tipis muncul di bibir Rouxi. "Terima kasih, Ayah."
Ia berdiri dengan anggun. "Tiga puluh juta dolar itu sudah ditransfer ke rekening keluarga."
Tuan Chen perlahan mengangguk. "Baik, kau boleh pergi."
Rouxi kembali membungkukkan tubuhnya dengan hormat sebelum berbalik menuju pintu keluar.
Pintu kayu itu perlahan tertutup di belakangnya.
Saat ia melangkah ke koridor yang kosong… Senyum hormat di wajahnya menghilang. Tapi, seringai penuh keyakinan menghiasi bibirnya.
Ia menoleh ke arah ruangan yang pintunya telah tertutup. "Pak tua… Suatu hari nanti… Serahkan kursi itu kepada suamiku."
kaya banyak nama pemeran orang sama nama tempat/kota yaa ?? ,apa hanya perasaan ku saja . soalnya pusing juga bacanya . susah mengingat ngingatnya . maaf yaa 😅😬🤭🙏🏽🙏🏽🙏🏽
Dia menghilang ke lantai atas apa kemudian Dia pergi ke lantai atas .
cuman masukan aja thor 😬🙏🏽 siapa tau ada yg mau dikoreksi .