Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 teror

Masak apa ya hari ini?" gumam Syafa seorang diri di tengah keheningan pagi.

​Langkah kakinya baru saja mengayun menuju dapur ketika suara bel rumah mendadak berdering nyaring. Tidak hanya sekali, suara bel itu dipencet terus-menerus tanpa jeda, menciptakan suara bising yang menusuk keheningan rumah.

​Dada Syafa berdesir cemas. Siapa yang berkunjung pagi-pagi seperti ini?

​"Iya, siapa?!" teriak Syafa menaikkan suaranya agar terdengar ke luar.

​Seketika itu juga, suara bel berhenti. Namun, rasa khawatir yang terlanjur menguasai membuat Syafa berjingkat mendekati jendela dan mengintip pelan dari balik tirai. Tidak ada sosok siapa pun di balik gerbang. Yang tersisa di atas lantai teras hanyalah sebuah kardus berukuran sedang.

​Dengan napas tertahan, Syafa melangkah keluar dan membuka tutup kardus tersebut. Seketika matanya membelalak horor. Di dalam kardus itu tergeletak potongan kepala ayam yang berdarah, lengkap dengan secarik kertas bertuliskan cairan merah kental:

​"INI BARU PERINGATAN PERTAMA, SYAFA!!!!"

​Syafa shock berat. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya bertalu-talu dihantam rasa takut. Dengan panik, ia segera membawa kardus mengerikan itu dan membuangnya jauh-jauhan ke tong sampah depan.

​Aku salah apa? Siapa yang tega ngirim teror kayak gini? batin Syafa ketakutan, pikiran dan logikanya mendadak kacau balau.

​Usai membuang benda tersebut, Syafa kembali ke dapur untuk menyelesaikan niat memasaknya. Teror tadi benar-benar merusak konsentrasinya. Merasa tak fokus untuk membuat menu rumit, Syafa akhirnya memutuskan hanya membuat nasi goreng simpel.

​Namun, bayangan potongan kepala ayam dan tulisan teror itu terus membayangi pikirannya. Saat jemarinya sibuk mengiris bawang merah di atas talenan, lamunannya membuat fokusnya teralih sejenak.

​Sreeek!

​"Ahhk! Aduh... sakit!" gumam Syafa meringis kesakitan.

​Mata pisau yang tajam tak sengaja tergelincir dan menggores cukup dalam di jarinya. Darah segar menetes di atas meja dapur. Dengan meringis menahan perih, Syafa bergegas mengambil kotak P3K di sudut rak untuk mengobati dan membungkus jarinya dengan plester.

​Setelah masakan selesai dan dimasukkan ke dalam wadah bekal, Syafa bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah.

​Saat ia sedang memoles tipis make-up di kamarnya, deru suara mesin motor yang sangat familiar terdengar berhenti tepat di balik gerbang rumah. Syafa buru-buru menyibak jendela kamar atas.

​"Ay! Masuk aja, duduk di teras! Gerbangnya enggak dikunci kok!" teriak Syafa dari jendela.

​"Woke!" sahut Alex dari kejauhan sambil mematikan mesin motornya.

​Syafa mengenakan jilbab segi empatnya dengan cepat, lalu bergegas turun ke bawah membawa piring dan wadah nasi goreng buatannya untuk dihidangkan pada Alex yang sudah duduk santai di bangku teras.

​"Nih, Ay... pasti enak banget!" ucap Syafa menyapa hangat, berusaha menyembunyikan sisa ketakutan dan rasa perih di jarinya lewat senyuman manis.

​"Wah, makasih ya!" jawab Alex berbinar-binar melihat bekal hangat di hadapannya.

​Syafa kemudian kembali sebentar ke kamar mengambil alat make-up-nya, lalu duduk di samping Alex untuk merapikan riasan wajahnya sambil menemani cowok itu makan.

​"Gimana, Ay? Enak enggak?" tanya Syafa lembut seraya menepuk-nepuk pelan bedak padat ke pipinya.

​"Ehh... khemm! Enak... enak kok!" sahut Alex sedikit tersedak.

​Tanpa Syafa sadari, kekacauan pikirannya saat memasak tadi membuat tangannya terlalu banyak menuangkan garam. Rasa nasi goreng itu sebenarnya sangat asin. Namun, Alex memilih menutupi hal itu demi menghargai usaha pacarnya.

​Syafa menghentikan gerakan bedaknya, menatap Alex penuh selidik. "Bohong, ya?"

​"Ihh, beneran! Kamu belum coba, ya? Cobain dulu deh nih," kilah Alex cepat. Ia mengambil sesendok nasi goreng lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Syafa.

​Syafa menerima suapan dari tangan Alex. Namun, baru saja nasi itu mengunyah di dalam mulutnya, rasa asin yang menyengat langsung membuat Syafa terbatuk-batuk.

​"Uhuk! Ay... ini mah asin banget loh!" keluh Syafa menahan malu, menyadari kesalahannya.

​Alex terkekeh pelan melihat ekspresi panik Syafa. "Enggak kok, ini tetap enak," puji Alex tulus sambil mengusap pelan puncak jilbab Syafa. "Cuma... lain kali garamnya jangan kebanyakan ya, Cantik."

​"Maaf ya, Ay... Ya udah, enggak usah dimakan lagi," bisik Syafa tertunduk malu.

​"Aman, Sayang. Apapun masakan kamu, pasti tetap enak kok di mulut aku. Aku malah makasih banget udah dibuatin sarapan kayak gini," tutur Alex lembut menenangkan.

​Mendengar bisikan tulus dan panggilan hangat dari Alex, rona merah seketika menyembur deras di kedua pipi Syafa. Sisa trauma teror pagi tadi mendadak menguap, tergantikan oleh debar bahagia yang membuncah di dadanya.

Ayo, udah siap!" ucap Syafa usai memastikan riasan tipis dan letak jilbabnya rapi.

​"Oke, ayo berangkat," sahut Alex sambil beranjak berdiri dari bangku teras dan menyambar helmnya.

​Mereka berdua membelah jalanan pagi menuju kampus. Sesampainya di pelataran parkir, Alex mengantarkan Syafa hingga ke dekat deretan lorong sebelum akhirnya berpisah karena beda fakultas dan jadwal kuliah.

​"Nanti kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku ya, Ay," pesan Alex menatap lembut ke arah Syafa yang kini sudah dihampiri oleh teman-teman kuliahnya.

​"Iya, Ay. Nanti aku kabarin," jawab Syafa tersenyum hangat.

​Setelah mematangkan pandang, mereka berdua melangkah ke tujuan masing-masing. Alex berjalan menuju gedung jalurnya dan mendapati Umam sedang bersandar santai di pembatas lorong.

​"Asyik... Yang nempel berduaan terus dari kemarin!" sindir Umam begitu Alex mendekat.

​"Yeee... Ya namanya juga orang punya pacar, Mam!" ucap Alex terkekeh pelan, melirik jahat ke arah Umam yang sampai detik ini statusnya masih betah sendiri.

​"Dih, sombong amat! Sabar aja lu, tunggu tanggal mainnya nanti gue nyusul!" balas Umam tak mau kalah membalas ledekan Alex.

​Keduanya tertawa santai seraya berjalan menyusuri koridor kampus. Di tengah perjalanan, sosok Marko berjalan berlawanan arah menghampiri mereka.

​"Apa kabar, Ko? Dari kemarin hilang terus, kagak ada kabarnya lu," sapa Alex mendahului.

​Marko mendengkus geli. "Dih, apaan! Lu yang kagak ada kabar! Gue dari kemarin bareng Umam terus. Lu-nya aja yang pacaran sibuk melupakan dunia, makanya rajin-rajin buka grup!"

​"Iya kah? Wah, sori, sori... Lu lupa kalau dunia serasa milik berdua," sahut Alex sambil menyengir canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

​Akhirnya mereka bertiga melangkah bersama menuju ruang kuliah. Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, sosok Andre—sahabat mereka satu lagi—sudah duduk rapi di barisan tengah membawa buku catatannya.

​"Rajin amat lu, Ndre!" puji Alex menepuk bahu Andre.

​"Lah, gue mah emang udah biasa rajin begini, kagak kayak lu bertiga," sahut Andre santai diselingi tawa kecil.

​Mereka bertiga mengambil posisi duduk di samping Andre. Tak lama kemudian, dosen pengampu masuk dan perkuliahan pun dimulai. Suasana kelas mendadak hening, berfokus pada materi yang dipaparkan di depan papan tulis.

​Di tengah keseriusan dosen menerangkan, layar ponsel Alex yang tergeletak di atas meja tiba-tiba menyala pendek. Notifikasi pesan masuk muncul di atas layar dari nomor tak dikenal.

​Alex melirik sekilas, dan detik itu juga badannya membeku.

​[Nomor Tanpa Nama]: Lu tinggalin Syafa sekarang, atau lu mau gue bunuh?!

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!