Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Cukup Sulit
Di sore hari, Karissa sedang duduk di sebua kafe sambil membawa map berwarna cokelat. Ia terus memegangnya, ekspresi wajahnya terlihat bahagia.Ia mengingat apa yang Dokter Kevin katakan padanya, bahwa kepalanya sama sekali tidak bermasalah, dan rasa sakitnya itu diakibatkan oleh benturan, bukan karena ada cedera yang serius.
"Jadi, kau tetap akan membiarkan Marine begitu saja?" tanya Davi merasa kesal mendengar apa yang terjadi di toilet restoran. "Kalau tahu dari awal kalian bertengkar di toilet, aku pasti akan membantumu menghajar balik wanita rubah itu!"
"Nih, kartu bank punyamu!" Tiba-tiba Davi memberikan kartu bank yang waktu itu ia pakai untuk membayar makanan di restoran.
"Terima kasih traktirannya!" ucapannya masih terlihat sangat kesal.
Karissa mengambil kartu itu, lalu memasukkannya ke dalam dompet.
Ia menjawab dengan tenang, "Walau bagaimanapun, Marine pernah menjadi teman kita! Aku tidak mau membuat masalah lagi dengan dia. Tapi, kalau dia berani berbuat macam-macam duluan, aku tidak akan tinggal diam!"
"Bagus!" balas Davi dengan bersemangat.
Ia meneguk minumanya dengan cepat, lalu berkata lagi, "Kau dan Louis sekarang sudah baikan. Itu artinya, kau sudah berhasil merebut Louis lagi dari tangan Marine! Dulu, dia yang merebut Louis darimu, kan? Sekarang sudah impas!"
"Heh!" Karissa tersenyum kecut. Ada ketidakberdayaan dari sorot matanya.
Karissa menunduk, menjawab dengan pelan, "Sampai detik ini, mereka masih berhubungan! Sedangkan aku dan Louis ... walau kami sudah baikan, tapi hubungan kami cukup sulit ...."
"Hah ... sulit?" Davi bingung dengan maksud ucapan wanita itu.
"Sulit bagaimana maksudmu?" Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Karissa.
Setahu Davi, akhir-akhir ini, hubungan mereka sudah membaik. Tiap kali dirinya menghubungi Louis dan memintanya untuk datang ke tempat yang ada Karissa-nya, pria itu selalu datang dengan cepat. Selalu bisa diandalkan untuk menjaga Karissa.
'Tapi sekarang ... kenapa Kariss bilang kalau hubungan mereka sulit?'
"Itu karena ...." Karissa berpikir sejenak sebelum mengatakan semuanya pada Davi. "Aku ... sudah menikahi ayahnya! Sekarang, kami hidup bersama di satu atap sebagai ibu tiri dan anak tiri."
"A-apa? Me-menikahi ayah Louis? Kariss, apa kau sedang berlatih akting? Hahaha! Sangat lucu! Haha!" ejek Davi. Sama sekali tidak percaya dengan ucapan wanita di depannya.
"Aku tidak sedang berakting! Aku serius, Davi!"
Karissa meneguk habis minumannya setelah mengatakan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan.
Walau Davi menganggap ini semua tidak masuk akal, tapi, itulah yang terjadi. Dirinya sudah menikah dengan ayah Louis.
Yaaa, walau hanya menikah pura-pura, tapi, orang lain tidak boleh ada yang tahu kalau itu hanya sebuah kebohongan. Karissa dan Lee harus meyakinkan semua orang bahwa mereka benar-benar sudah menikah dan hidup sangat bahagia.
"Davi, ke depannya, kau tidak boleh menghubungi Louis lagi terkait dengan apa yang aku lakukan di luar!" Karissa memperingatkan Davi tentang hal itu.
Karena setiap kali dirinya berada di luar, Davi selalu menghubungi Louis untuk segera datang. Karissa tidak suka dengan hal itu.
"Tapi kenapa .... Kenapa aku tidak boleh menghubungi Louis?" tanya Davi dengan mengerutkan kening. "Bukankah bagus kalau dia ada di sisimu? Kau akan aman!"
Karissa tidak menjawab. Ia kembali meneguk minumannya.
"Oh iya, kenapa kau bilang menikah dengan ayahnya? Apa yang sedang kau rencanakan?"
Sebelum Karissa menjawab, terdengar bunyi nada dering dari ponselnya. Setelah melihat nama yang tertera di sana, ia memperlihatkan ponselnya pada Davi.
"Suamiku menelepon!"
Dengan segera Karissa menekan tombol hijau di layar ponsel, dan menyalakan speaker teleponnya agar Davi bisa mendengar percakapan mereka.
Kalau harus dijelaskan lagi tentang pernikahan Karissa dengan Tuan Lee, Davi tetap tidak akan percaya. Tapi, kalau Davi mendengar dengan telinganya sendiri, dia pasti akan percaya.
"Halo, Sayang, ada apa?" sapa Karissa dengan manis. Membuat Davi membuka mulutnya lebar-lebar sambil menatap Karissa.
"Malam ini bisakah ikut dengaku?" tanya Tuan Lee dari seberang telepon.
"Ikut ke mana?" tanya Karissa dengan heran.
"Malam ini, ada pertemuan dengan rekan bisnis di luar kota! Lebih tepatnya, di tempat wisata yang ada di puncak gunung! Semua orang akan membawa pasangannya. Jadi, aku juga harus membawamu!"
"Kami akan tidur di penginapan yang ada di sana," tambah Tuan Lee lagi.
"Oh! Kalian akan membicarakan masalah pekerjaan, ya? Tidak enak ah kalau aku ikut!" tolak Karissa sedikit malu-malu.
"Lebih tidak enak lagi, kalau aku harus menjadi nyamuk di sana. Mereka membawa pasangan, masa aku hanya melihat saja," balas Tuan Lee dengan sedikit bercanda. "Kau harus ikut, ya!"
"Oh, seperti itu! Baiklah, aku akan segera bersiap!"
Akhirnya Karissa setuju ikut ke tempat wisata.
Ia pun segera bertanya, "Jam berapa aku dijemputku?"
"Jam tujuh malam, kau sudah harus siap!"
"Emmh!" Karissa mengangguk.
"Adakah barang yang ingin kau bawa?" tanyanya tiba-tiba. Itu membuat Tuan Lee berpikir sejenak.
"Bawakan aku pakaian tidur saja!"
"Oke!"
"Sampai jumpa nanti!"
Klik!
Sambungan berakhir.
Karissa melihat layar ponselnya sudah gelap. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, menyeringai penuh kepuasan menatap Davi.
"Bagaimana, apa kau masih tidak percaya?" tanya Karissa dengan bangga. "Itu tadi ayahnya Louis!"
"Ka-Kariss! Apa kau sudah gila? Kenapa menikah dengan pria tua seperti ayah Louis? Apa di dunia ini pria muda sudah musnah, ya? Kau memilih pria yang pantasnya menjadi ayahmu!"
Davi semakin tidak mengerti dengan pola pikir sahabatnya ini. 'Menikah dengan ayah dari mantannya! Ini sangat konyol!'
"Tunggu! Tadi, aku melihat nama 'Tuan Lee' di ponselmu. Sejak kapan suami sendiri dinamai 'Tuan' oleh istrinya?" tanya Davi dengan tajam.
Ia memicingkan mata, melipat kedua tangan sambil duduk di depan Karissa.
"Haha, itu adalah 'nama sayang' yang aku berikan padanya," jawab Karissa dengan senyum yang dipaksakan. Ia juga sedikit gugup.
"Dan alasan aku menikahi ayah Louis ... itu karena ...." Tiba-tiba senyumnya berubah menjadi raut wajah penuh kesedihan. Namun Davi tidak menyadari akan hal itu.
Karissa segera membenarkan emosinya. Ia menjawab dengan lantang, "Tentu saja, itu karena Tuan Lee sangat tampan. Haha! Kalau tidak, mana mungkin aku mau menikah dengannya!"
"Hah???"
***
Jam tujuh malam, Karissa sudah siap dengan barang bawaannya. Ia berdiri di depan jendela kamar sambil menatap ke halaman rumah, menunggu Tuan Lee datang menjemput.nya.
Dari kejauhan, terlihat dua mobil berjalan masuk dan berhenti. Dari salah satu mobil, keluar seorang pria yang sedang ia tunggu. Karissa segera menutup jendela kamar, lalu bersiap turun ke bawah.
Tapi, sebelum jendela kamar benar-benar ditutup rapat, terlihat seorang pria dan wanita keluar dari dalam mobil yang satunya lagi, lalu masuk ke dalam rumah.
Mereka adalah ... Louis dan juga ... Marine!
"Apa yang sedang mereka lakukan?" bisik Karissa pada dirinya sendiri.
Ada perasaan tidak enak ketika ia melihat Louis bersama dengan Marine. Walau tahu setiap hari mereka pasti selalu bersama di kantor, tapi .... melihat kedekatan mereka dengan mata dan kepala sendiri, rasanya sungguh tidak nyaman.
Tidak ingin terlihat buruk di depan Tuan Lee nanti, Karissa segera membenarkan emosinya. Ia memalingkan muka, menutup jendela lalu menutupnya dengan tirai. Setelah selesai, ia keluar dari dalam kamar dengan menenteng tas cukup besar berisi baju tidur dirinya dan baju tidur Tuan Lee, juga beberapa barang lainnya.
Ketika Karissa sedang berjalan menuruni anak tangga, tiba-tiba ia berpapasan dengan Louis dan juga Marine. Mereka sedang naik ke lantai dua.
"Mau pergi ke mana dengan membawa tas itu?" tanya Louis tiba-tiba ketika mereka berpapasan di tangga.
Ia curiga, Karissa akan ikut bersama ayahnya ke luar kota untuk pertemuan bisnis.
"Eh!" Karissa segera mendongak, menoleh ke samping dan melihat mereka berdua.
Karissa menatap Louis dan Marine dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Lalu berkata dengan ramah, "Aku mau pergi bersama ayahmu! Kau baik-baik di rumah, jangan sampai membuat masalah!"
Ucapannya penuh dengan peringatan, seolah ia sedang memperingatkan Louis agar tidak membuat masalah dengan Marine di rumah ini.
"Hah, kau juga akan ikut? Bukankah itu pertemuan bisnis, kenapa seorang istri harus mengikuti suaminya bekerja? Itu sangat mengganggu," jawabnya dengan sedikit cibiran.
"Ayah yang meminta Kariss untuk ikut!" Tiba-tiba terdengar suara Tuan Lee dari lantai bawah.
Ia melihat ketiga orang itu berdiri di tengah-tengah tangga dengan tatapan yang berbeda, seperti sedang bermusuhan.
"Ayo, kita sudah hampir terlambat," ucapnya pada Karissa. Senyumnya ramah pada wanita itu.
"Oh, ya!" Karissa bergegas turun ke bawah, menghiraukan dua orang itu yang masih berdiri.