Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Sesal Yang Terlambat
.
Marissa sedang duduk di ruang keluarga bersama Clarissa ketika ponselnya berdering. Melihat nama Mario di layar, ia segera mengangkatnya dengan senyum tipis.
“Mario, bagaimana hasil tendernya? Wijaya Group berhasil mendapatkan proyek itu, kan?” tanyanya penuh harap.
Namun, senyum itu seketika menghilang setelah mendengar kabar dari seberang telepon.
“Apa? Tuan dibawa ke rumah sakit?” Marissa langsung berdiri. “Kenapa? Apa yang terjadi dengan suami saya?”
Mario segera menjelaskan bahwa Darma pingsan setelah mengetahui hasil tender lalu dibawa ke rumah sakit.
“Rumah sakit mana? Kami segera ke sana!”
Marissa menutup panggilan setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat saat ini suaminya dirawat. Setelah itu wanita itu bergegas berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Clarissa yang melihat wajah ibu mertuanya pucat segera menghampiri. “Ibu, ada apa?”
“Ayahmu terkena serangan jantung saat menghadiri tender! Ayo, kita harus segera ke rumah sakit!”
Keduanya berangkat tanpa membuang waktu. Sepanjang perjalanan, Marissa berkali-kali mencoba menghubungi Arsen, tetapi putranya tidak mengangkat telepon.
Clarissa hanya duduk diam di tempatnya. Namun dalam hatinya wanita itu bertanya-tanya, jika ayah mertuanya sampai pingsan ketika sedang menghadiri perebutan tender apakah itu artinya Wijaya group gagal mendapatkan tender itu? Kedua tangannya meremas tali tas yang berada di atas pangkuan. Kondisi Wijaya group sedang terpuruk, lalu sekarang gagal mendapatkan tender. Tanpa disadari oleh Marisa, rahang menantunya mengeras.
Sesampainya di rumah sakit dan bertanya kepada resepsionis mereka segera menemukan Arsen dan Mario berdiri di depan ruang penanganan medis.
“Arsen!” Marissa menghampiri putranya dengan wajah cemas. “Bagaimana keadaan Ayahmu? Apa yang dikatakan dokter?”
Arsen mengusap wajahnya yang tampak lelah. “Ayah mengalami serangan jantung, Ibu. Dokter sedang melakukan penanganan. Kita harus menunggu sampai mereka selesai memeriksa kondisinya.”
Marissa langsung menutup mulutnya, menahan tangis yang hampir pecah. “Ya Tuhan, kenapa bisa sampai seperti ini? Bukankah pagi tadi dia masih baik-baik saja?”
“Mungkin Ayah terlalu tertekan setelah mengetahui hasil tender,” jawab Arsen lirih. “Namun, dokter belum bisa memastikan apakah tekanan itu menjadi pemicu utamanya.”
Mereka akhirnya menunggu dengan gelisah. Waktu terasa berjalan begitu lambat sampai seorang dokter keluar dari ruang penanganan dan menghampiri keluarga Darma.
“Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter?” Arsen segera bertanya.
“Pasien mengalami serangan jantung. Kami sudah melakukan penanganan awal dan berhasil menstabilkan kondisinya untuk sementara. Namun, beliau masih memerlukan pengawasan ketat karena ada risiko komplikasi. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan intensif agar kondisi jantung dan tanda-tanda vitalnya dapat dipantau secara intensif.”
“Apakah suami saya akan selamat, Dokter?” Marissa bertanya dengan suara bergetar.
“Kami akan melakukan yang terbaik. Untuk saat ini, pasien belum diperbolehkan mendapatkan kunjungan.”
Tak lama kemudian, Darma dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Marissa, Arsen, dan Clarissa mengikuti petugas hingga tiba di depan dinding kaca besar. Dari luar, mereka melihat Darma terbaring lemah dengan wajah pucat. Selang infus terpasang di tangannya, bantuan oksigen menopang pernapasannya, sementara monitor di samping ranjang menampilkan irama jantungnya.
Marissa menempelkan telapak tangan pada kaca, air matanya mengalir deras.
“Darma, kamu harus sembuh,” bisiknya lirih. “Jangan tinggalkan aku.”
Arsen berdiri di belakang ibunya dengan tatapan kosong. Pemandangan ayahnya yang terbaring tak berdaya membuatnya sadar bahwa tekanan yang selama ini ditanggung Darma jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Namun, ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kekhawatiran akan kondisi ayahnya. Kekalahan tender itu telah membuka kenyataan yang sama sekali tidak pernah mereka duga.
“Arsen,” panggil Marissa sambil berbalik. “Apa sebenarnya yang terjadi di tempat tender? Kenapa Ayahmu begitu terkejut sampai kondisinya memburuk?”
Arsen terdiam sejenak sebelum menjawab, “Wijaya Group kalah tender, Ibu. KA Grup memilih Mahendra Corp, perusahaan Adrian Mahendra.”
Marissa mengernyitkan dahi. “Mahendra Corp? Bukankah selama ini perusahaan itu selalu kalah di bawah kita?”
Arsen mengangguk dengan wajah lesu. Tatapannya tampak kosong, ketika ingatannya terlempar kembali ke dalam ruang tender. “Iya, tetapi bukan itu saja yang membuat Ayah terkejut. Keira ada di sana.”
Marissa menatap putranya dengan kebingungan. “Keira? Ngapain perempuan miskin itu datang ke acara tender sebesar itu?”
“Dia datang bersama Tuan Daren Antasena dan seluruh jajaran direksi KA Grup.” Tubuh Arsen luruh dan jatuh terduduk bersandar pada dinding.
Clarissa yang mendengar penjelasan itu langsung menoleh. “Apa maksudmu? Sejak kapan Keira mengenal Tuan Daren?” tapi tiba-tiba wanita itu menghentikan pertanyaannya ketika mengingat bahwa pada hari pernikahan mereka Keira juga datang bersama dengan Daren Antasena.
Arsen menarik napas panjang sebelum mengungkapkan kenyataan yang masih sulit diterimanya. “Ternyata… pemilik KA Grup yang sebenarnya bukan Tuan Daren Antasena, tetapi Keira Anindita.”
“Apa?!” Marissa terperanjat. “Tidak mungkin! Bagaimana perempuan yang selama empat tahun tinggal di rumah kita bisa memiliki perusahaan sebesar itu?”
“Aku juga tidak percaya pada awalnya, Ibu. Namun, Daren sendiri yang mengumumkannya. KA Grup bahkan diambil dari inisial nama lengkapnya, Keira Anindita.”
Marissa terdiam. Berbagai kejadian masa lalu mulai terlintas di benaknya. Ia teringat bagaimana Wijaya Group berkali-kali berhasil melewati kesulitan karena bantuan yang datang pada saat-saat genting. Selama ini, ia menganggap semua itu sebagai keberhasilan Darma dan Arsen. Kini, ia mulai memahami bahwa Keira mungkin berada di balik semua pertolongan tersebut.
“Jadi selama ini Keira yang membantu perusahaan kita?” tanyanya lirih.
Arsen tidak menjawab. Namun, dari diamnya itu sudah cukup menjelaskan segalanya.
Marissa menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ya Tuhan, apa yang sudah kita lakukan terhadap perempuan itu?”
Clarissa menatap suaminya dengan perasaan gelisah. Ia bisa melihat perubahan besar pada diri Arsen dan Marissa ketika mengetahui fakta itu.
“Arsen, apa yang kamu lakukan setelah kamu mengetahui bahwa Keira adalah pemilik KA Grup?”
“Aku menghampirinya dan memohon agar dia memberikan tender itu kepada Wijaya Group,” jawab Arsen jujur. “Aku bahkan memohon di depan semua orang.”
“Lalu, apa jawabannya?” tanya Clarissa, meskipun ia sudah bisa menebaknya.
Dengan wajah tertunduk, Arsen memejamkan mata membayangkan wajah Keira ketika dia memohon. Dan saat itulah ia merasa dadanya kembali sesak. Pria itu pun menggelengkan kepalanya. “Dia menolak. Karena katanya dia sudah bukan lagi anggota keluarga Wijaya.”
Clarissa mengepalkan tangannya. Penolakan itu memang masuk akal saat ia mengingat pertemuannya dengan Keira untuk pertama kali dalam pesta keluarga Wijaya. Saat itu semua anggota keluarga Wijaya memperlakukannya layaknya seorang pembantu.
“Kamu menyesal sudah menceraikannya, bukan?” tanya Clarissa tiba-tiba.
Arsen menatap istrinya dengan kesal. “Clarissa, jangan membahas itu sekarang.”
“Kenapa tidak? Kamu pulang dengan wajah seperti itu setelah mengetahui bahwa dia adalah pemilik sebuah perusahaan besar. Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan!” Clarissa menatap ke arah arsen dengan wajah merah padam.
“Cukup!” bentak Arsen.
Marissa segera berdiri di antara mereka. “Sudah! Ayah kalian sedang sakit. Jangan bertengkar di rumah sakit!”
Keduanya terdiam. Marissa kemudian kembali menatap Darma dari balik kaca, sementara pikirannya dipenuhi penyesalan.
“Kita harus meminta maaf kepada Keira,” ucapnya tiba-tiba. ”Dengan begitu dia pasti mau membantu keluarga Wijaya lagi. Kalau perlu, ajak saja dia rujuk. Bukankah dia sangat mencintaimu. Pasti dia melakukan hal.itu karena ingin menarik perhatianmu.”
Arsen menghela nafas mendengar kata-kata ibunya. Dari yang ia lihat tadi ketika berada di ruang tender, Keira mungkin tidak akan lagi bisa dirayu. Tiba-tiba saja penyesalan itu muncul dalam hatinya. Selama ini, ia mengira Keira hanyalah perempuan biasa yang bergantung pada dirinya. Kini, ia justru mengetahui bahwa perempuan yang diceraikannya memiliki kekuasaan dan kemampuan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
Sementara itu, Clarissa berdiri dengan mata berkilat dan rahang mengeras. Marissa berbicara begitu enteng seolah tak memikirkan perasaannya. Padahal dulu wanita itu yang begitu getol mendekati dirinya agar mau menikah dengan Arsen. Sekarang setelah mengetahui posisi Keira bahkan lebih tinggi di atas keluarga Halim seenaknya saja wanita tua itu berbicara seperti itu.
Soryyyy yeee......😛😛😛