Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24 - Sepuluh Juta Membuka Jalan

Mulut mereka terasa kering oleh angka yang baru saja diucapkan; Bapak dan Ibu sama-sama kehilangan suara.

Seprai bermotif bunga masih menjadi latar tumpukan uang yang baru saja dirapikan, dan lampu gantung di langit-langit menerangi wajah dua orang tua yang sulit mempercayai mata mereka sendiri.

"Betul," kata Intan dengan yakin. "Aku menghitungnya dua kali tadi dengan teliti."

Angkanya sedikit lebih rendah dari perkiraanku, tetapi biaya memang harus dipotong. Perinciannya rumit kalau ditulis satu-satu, jadi intinya saja: modal awal hanya seratus dua puluh ribu-uang yang kutabung sejak kecil.

"Setelah itu potong gaji dua pemuda pengantar; karena dibayar per bulan dan bulan kerjanya mulai lima belas Juli, keduanya belum genap sebulan, masing-masing sepuluh ribu sehari."

Lalu potong ongkos sewa tempat sejak gerobak kita berdiri, sekitar tujuh ratus ribu.

"Masih ada ongkos-ongkos kecil yang sulit dihitung satu per satu. Semua digabung, laba bersihnya kira-kira sepuluh juta rupiah."

Begitu kalimat itu selesai, Ibu berseru nyaring: "Sepuluh juta bukan angka kecil! Bapak dan Ibu bekerja bertahun-tahun tidak pernah menabung sebanyak ini!"

"Dulu waktu membeli rumah ini, kami tidak punya uang, terpaksa meminjam uang jutaan rupiah; menumpuk utang sampai bertahun-tahun baru lunas; dan kau, sekali jadi langsung membawa sepuluh juta!"

Intan tersenyum. Ia mengeluarkan selembar amplop dari tasnya, lalu menaruhnya di atas seprai.

"Hampir saja terlupa. Tadi siang kepala sekolah memberiku hadiah lima juta rupiah. Kalau digabung, menjadi lima belas juta."

Mata Ibu membelalak lebar; Bapak menelan ludah lebih keras dari sebelumnya.

Pintu berderit; Dimas masuk dengan rambut dan bahu yang basah karena terpaan hujan.

Ia hendak menyapu tubuhnya dengan handuk ketika matanya menangkap pemandangan di atas tempat tidur: tumpukan uang pecahan besar yang dirapikan menjadi enam kelompok rapi.

Langkahnya membeku, tangannya berhenti di saku baju.

"Kak, kau sudah pulang?" Intan menoleh santai.

Dimas berjalan mendekat, menatap gundukan itu dari dekat, lalu mengangkat wajah kepada adik perempuannya yang baru lulus SMP.

Ia tidak tahu lagi harus berkata apa; adiknya dua tahun lebih muda darinya, tetapi sudah sanggup membawa pulang uang sebanyak itu—bahkan sampai menerima hadiah lima juta dari sekolah.

Selama ia duduk di bangku SMP, ia tidak pernah mendengar keberhasilan seperti ini.

Dimas duduk di sisi tempat tidur, memungut selembar uang sepuluh ribu, lalu mengangkatnya ke arah lampu seperti memeriksa uang palsu.

"Ini uang sungguhan, kan? Bukan kertas mainan?"

Ibu menyenggol lengannya. "Kau ini, adikmu membawa uang sebanyak itu, kau malah mengganggu-ganggu."

Dimas terkekeh, meletakkan kembali uang itu, lalu berpaling kepada Intan dengan penuh tanya.

Ibu bergumam setengah percaya: "Setinggi itukah untungnya berjualan?"

Intan mengangguk, lalu menarik napas, dan suaranya berubah serius.

"Kak, Bapak, Ibu, yang akan kukatakan ini penting. Kalian juga harus mempertimbangkan hal ini. Keluarga kita miskin; semua hal butuh uang; kalian semua tahu itu."

Mendengar kata-kata itu, ketiga orang dewasa di ruangan itu mendadak kehilangan keriangan mereka.

Bapak menegakkan punggungnya, Ibu mengusap lututnya, Dimas menyimpan handuk itu di pangkuan, lalu duduk bersila.

Nada bicara Intan kali ini bukan lagi suara anak kecil yang bercerita; ia sungguh-sungguh sedang mengajak mereka bermusyawarah.

Mereka semua lebih tua dari Intan dan tentu lebih paham keadaan keluarga daripada Intan sendiri.

"Kalau kalian sudah tahu keadaan keluarga, aku bicara terus terang."

"Ibu sekarang bekerja sebagai tukang cat di perusahaan dekorasi. Pekerjaannya dijamin ada, dan gajinya empat ratus lima puluh ribu sebulan; di kota kecil seperti ini, rata-rata penghasilan orang tiga ratus sampai empat ratus ribu, jadi gaji Ibu masih lumayan."

"Tetapi pekerjaan itu menyiksa badan: keringat, debu, aroma cat dan tiner yang menyengat. Aku tidak ingin Ibu terus-terusan menjadi tukang cat."

Ibu diam; memang benar, setiap kali pulang kerja, tubuhnya pening oleh bau cat yang menempel.

"Lalu Bapak."

"Bapak bekerja sebagai tukang saluran air; mencari pekerjaan itu tidak sulit, dan upahnya sedikit lebih tinggi dari Ibu. Tetapi menurutku pekerjaan itu kurang aman. Dua tahun lalu ada kabar tukang saluran air meninggal dunia karena tersengat listrik."

"Begitu pula pekerjaan Bapak selalu dari rekomendasi kenalan, tidak menentu; daripada begitu, lebih baik Bapak berhenti."

Intan menyatukan kedua ujung jarinya. "Kalau begitu, Ibu dan Bapak buka gerobak saja."

Memang banyak orang memandang rendah penjual gerobak, tetapi dagang ini benar-benar menguntungkan, dan kita mencari uang dari kemampuan diri sendiri: tidak mencuri, tidak merampok, tidak ada yang perlu kita malu.

"Daripada gaji yang harus ditunggu sampai tanggal bayar dan habis sebelum akhir bulan, lebih baik begini."

Dengan laju seperti ini, kurang dari dua tahun kita bisa pindah dari sini, menjauh dari lorong-lorong sempit dan gosip-gosip yang menyebalkan.

"Rumah yang lebih sehat dan halaman yang luas bukan lagi mimpi yang jauh."

Saat menyebut gosip, benak Intan melintas sekelebat sosok perempuan bermulut panjang di seberang rumah.

Ia tidak menyebut namanya; Bapak dan Ibu pun mengerti arah pembicaraan.

Ibu terkesima oleh kata-kata Intan; sebelumnya ia tidak pernah membayangkan gerobak bisa mendatangkan uang sebesar ini, apalagi sampai berani memikirkan menu andalan.

Kini, tersulut oleh angka sepuluh juta itu, pikirannya menjadi jauh lebih hidup.

Namun ia masih risau: "Nak, berjualan itu memang bukan pekerjaan mudah, tetapi yang kita jual es campur—mudah laris waktu panas. Kalau cuaca dingin, bagaimana?"

Ibu lalu menghitung dalam hati. Kota mereka dekat pantai selatan dan musim panasnya panjang: biasanya mulai terasa panas sejak Mei, dan bulan November pun orang masih mengenakan kemeja lengan pendek.

Tetapi waktu yang benar-benar ramai hanya sekitar lima bulan dalam setahun.

Dengan laju untung seperti yang diperlihatkan Intan, setahun barangkali bisa terkumpul enam puluh juta.

Bandingkan bila Ibu dan Bapak berdua bekerja biasa: sekeras apa pun, paling mampu menabung dua belas juta setahun.

Selain itu, berjualan masih menyisakan lima bulan senggang untuk mencari sambilan lain.

Es campur tidak lagi satu-satunya andalan; bila bakso digarap bersungguh-sungguh, celah-celah yang tersisa bisa ditutup rapat.

Semakin dipikir, Ibu semakin bersemangat. Ia memandang Intan dengan mata berbinar; barulah ia sadar bahwa anak perempuannya yang baru lulus itu bagaikan penunjuk jalan rezeki bagi keluarga.

Semua keputusan besar sebaiknya bersandar pada anaknya.

Seolah membaca pikiran Ibu, Intan tersenyum: "Ibu, sekarang semua orang menjual es campur dingin."

"Waktu cuaca dingin, kita ganti yang hangat dan menambah banyak varian rasa; itu bukan masalah."

"Lagipula kita bisa mengembangkan gerobak ini. Ibu dan Bapak berdua menjaga jualan es campur, sedangkan aku yang menjaga jualan bakso. Bakso goreng ini enak, paling serasi dimakan bersama es campur."

"Kedua menu itu saling menguatkan: siapa yang minum es campur ingin pula teman makan, dan siapa yang makan bakso goreng biasanya haus dan ingin yang manis dingin."

Bapak mendengarkan sambil mengangguk-angguk; penjelasan sederhana itu masuk di akal.

"Kalau ada pesanan antar, Bapak yang mengantar; Ibu juga bisa membantu Bapak. Kalian berdua menjaga dua lapak jualan, tidak kalah dari orang yang bekerja."

"Nanti kalau uangnya cukup, kita bisa membangun gerobak berbentuk mobil; panas dan hujan tidak perlu lagi dikhawatirkan."

Bapak dan Ibu mengangguk-angguk berulang kali. Gerobak mobil yang digambarkan Intan adalah sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka berani impikan.

Kini, satu-satunya yang terbayang hanyalah berapa banyak uang yang bisa dikumpulkan.

Kalau Intan terus menghasilkan seperti ini, sebelum ujian nasional Dimas tahun depan mereka barangkali sudah bisa membeli rumah; lingkungan tempat tinggal anak-anak menjadi lebih baik, dan biaya sekolah dua anak pun terjamin.

Ibu berdiri tegak, membuang kelelahan di pundaknya. "Baiklah! Ibu senang sekali mendengarkanmu!"

"Besok aku pamit kerja kepada pemimpin kerjaku. Hanya saja, pekerjaan yang sedang kami garap belum selesai kira-kira sepuluh hari; sepuluh hari lagi aku baru bisa turun membantu gerobak."

Setelah mengucapkannya, alis Ibu tetap berkerut; seakan tidak sabar menunggu sepuluh hari itu berakhir.

Bapak menghela napas lega lalu memutuskan: "Yang di sisi Bapak mudah. Tinggal tidak menerima kerja baru; besok aku sudah bisa keluar jualan."

Kebetulan Intan boleh istirahat dulu. Kudengar sebelum sekolah mulai masih ada masa orientasi siswa selama seminggu; kabarnya seru.

"Yang penting jangan sampai kelelahan selama orientasi itu."

Dimas, yang sejak tadi hanya mendengarkan, menyambung: "Katanya orientasi di SMA Nusantara 1 benar-benar keras, bukan main-main seperti sekolah lain. Seminggu itu kalian akan kepayahan."

Intan tidak memikirkannya; hal yang jauh pun bisa dibicarakan belakangan.

Ia menoleh ke jendela; hujan malam itu masih turun.

Bulan sabit itu mungkin sedang bersembunyi di balik awan, jadi tidak akan terlihat dari sini.

Intan lalu berpaling kepada Bapak dan Ibu: "Bapak, Ibu, menurutku sebaiknya tempat gerobak yang sekarang kita pakai, disewa dengan resmi."

Lokasinya di sebelah toko air mineral, di pojok yang selama ini kita pakai. Kita bisa mendirikan kios atau kedai di sana, menjual pakaian atau makanan tanpa mengganggu orang lain, dan biaya sewanya pun rasanya masuk akal.

"Selain itu," lanjutnya Intan, "kita bisa mendirikan tenda, menaruh beberapa meja dan kursi."

"Nanti kalau bakso sudah jalan, siapa pun yang ingin duduk-duduk di sini boleh; mereka yang ingin membungkus dan membawa pulang juga boleh. Ini lebih ramah bagi pelanggan."

Bapak termangu sesaat oleh usulan itu. "Nak, jualan sekarang orang sedang gila-gilanya berebut tempat."

Aku belum pernah mendengar ada orang yang menyewakan tempatnya kepada penjual lain.

"Kalau mau sewa sungguhan, kita mau meminta kepada siapa?"

Wajahnya tampak ragu-ragu, menunggu jawaban anak perempuannya.

"Ada kok," jawab Intan sambil melipat ujung seprai perlahan.

"Pak Lamijo, pemilik toko air mineral di sebelah. Pojok yang kita pakai selama ini memang bagian dari garasinya. Sewanya kita mohon dinaikkan dari lima ratus ribu menjadi tujuh ratus ribu sebulan; kita minta beliau sekalian menjaga gerobak, lalu tenda dan beberapa meja kursi boleh berdiri di situ."

Bapak mengerjap beberapa kali, memproses usulan itu dalam kepala.

"Besok kubicarakan baik-baik dengan Pak Lamijo," katanya akhirnya, "kalau beliau bersedia, itu kabar yang sangat baik."

Hujan masih mengalir di luar jendela, tetapi di dalam rumah kecil itu kehangatannya terasa seperti sinar yang menembus mendung.

Untuk pertama kalinya, keluarga itu tidur dengan bayangan besok yang tidak lagi suram: gerobak yang lebih besar, dua menu yang saling menyokong, dan sebuah pintu sewa yang siap menunggu negosiasi esok hari.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
ternyata Vino ini pengkhianat sepertinya 🤔dan Intan sudah mulai pasang taktik strategi sendiri untuk membalas Vino
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: iya betul sekali.intan akan mengubah nasibnya dan keluarganya
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah mungkin umpatanmu malah berbalik loh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
sudah salah kok malah nantang bertengkar
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
muantap intan. tambah maju terus
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
betul itu. jangan sampai sekolahmu terbengkalai ya
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᴀ͡ɢᴜᷯsͥᴛᷤ͜ᴅͦ✰͜͡𝐯𐝃🐸
reinkarnasi atau time travel nih kk
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: time travel. kembali ke masa mudanya lagi
total 1 replies
Ay
semoga saja air itu bisa membuat tubuh ayah dan ibumu sehat tan
Ay
bu si intan itu sbnrnya org dewasa yg terjebak di raga Abegeh🤭
Ay
Astaga bu, ya kali gk bs bedain gula dan garam. mgkn klo ketumbar dan merica msih oke lh ya, gula dan garam kn pengetahuan basic/Facepalm/
Xlyzy
Kali ini di antar bapak jadi kamu harus bisa berjuang lah intan dalam ujian mu
Fairuz
Bagian kembalinya Intan ke masa lalu terasa emosional dan penuh misteri, apalagi kemunculan ibunya membuat penasaran tentang kesempatan kedua untuk mengubah takdir.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: makasih ya sudah mampir
total 1 replies
Myz Pena
kalau benar adanya seeprti itu berarti emang pak sutrisno anak sekaligus saudara yang egois.. karena saat lebih memilih menikah dengan istrinya sri rahayu ia rela memutus kontak dengan ayahnya.... pantas aja pak sudarmo nggak terlalu prhatian dan sayang kepada sutrisno
Myz Pena
bapaknya sangat perhatian pada intan.. untung aja intan sudah mulai belajar menata hidupnya kembali.. agar bisa lebih kuat dan nggak manja👍
Arsya12
💪👍👍👍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok. thanks sudah mampir
total 1 replies
☠ ✮⃝🍌 ᷢ ͩAti⁵⁰☕︎⃝❥ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ ♱
semangat thorr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok. makasih ya sudah mampir
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ Ney
hadirr di cerita mu
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok makasih sudah mampir
total 1 replies
ginevra
ya elah... orang cuma bisa mencibir. pas tau bahan gosipnya menjadi lebih baik, jadi kepanasan sendiri
ginevra
seneng banget liat intan semangat banget hari ini... semua jadi lebih cerah kalau kita semangat memulai hari 🥳🥳🥳🥳
Miu.Nuha
masa depan emang siapa yg tau ya, In 😭 tpi kamu dpt kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu. aku jadi pingin, hiks...

semoga kali ini bisa bener2 kamu genggam ya itu takdir, supaya enggk kayak 15 di masa depan itu...
Putry Chan
bertengkar aja lah padahal cuman Masalah sepele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!