Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Bisikan manis
Langkah kaki Adrian begitu lebar dan cepat hingga membuat Rio di belakangnya hampir kehabisan napas. Pria jangkung itu bahkan tidak mau menunggu mobil disiapkan dari parkiran. Menurut logika cemburunya saat ini, naik mobil hanya akan membuang waktu akibat harus memutar arah dan menunggu lampu merah, jadi berjalan kaki memotong jalan adalah pilihan paling pas!
Namun, belum sempat Adrian benar-benar menginjakkan kaki di pelataran restoran seberang, langkahnya terhenti kaku. Dari arah pintu keluar restoran, sosok Nayla dan Mira sudah melangkah keluar.
Karena berada di area publik yang ramai lalu lalang orang, Nayla yang kaget melihat bos besarnya berdiri di seberang jalan langsung menyapa formal.
"E-eh... Pak Adrian? Bapak mau pergi makan siang?"
Adrian mematung di tempat. Tatapan mukanya yang tadinya asam dan dipenuhi cemburu berat mendadak melunak seketika begitu maniknya menangkap raut wajah ayu istrinya. Otaknya yang cerdas berputar cepat, 'Kalau aku bilang aku ke sini karena cemburu melihat fotonya bersama pria lain... apakah Nayla akan merasa tidak nyaman dan berpikir aku ini terlalu kekanak-kanakan?'
Ekspresi masam sang CEO mendadak berubah drastis menjadi begitu tenang dan berwibawa. "Tidak... Aku hanya ingin menyusulmu. Siapa tahu kamu kesulitan menyeberang jalan."
Rio yang baru berhasil mengejar dan berdiri dengan napas terengah-engah di belakang Adrian langsung membelalakkan matanya. Pria itu sudah memajukan bibirnya hendak bersuara, "Alasan aja Pak, padahal tadi di atas udah mau bakar kantor."
Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari mulut Rio, Adrian melirik tajam ke belakang dan menyenggol siku asistennya itu dengan tegas, mengisyaratkan agar Rio bungkam jika masih sayang pada posisi jabatannya.
Mira yang berdiri di samping Nayla langsung menyenggol lengan sahabatnya seraya menahan tawa geli. "Uhuy... Pak CEO perhatian sekali ya sama sekretarisnya! Sampai rela jalan kaki jemput ke seberang jalan!" bisik Mira dengan nada menggoda.
Adrian berdehem pelan menutupi rasa salah tingkahnya. "Ayo Nayla, masih banyak pekerjaan yang menunggu," ajaknya.
Di dalam hatinya, Adrian sudah tidak tahan ingin menggenggam jemari empuk Nayla saat itu juga. Namun, sebelum mereka melangkah...
"Nayla! Tunggu!"
Sebuah suara pria terdengar memanggil dari arah pintu restoran. Farhan berlari-lari kecil mendekat seraya mengacungkan sebuah benda kecil di tangannya. "Ini... kaca kecilmu ketinggalan di meja."
Nayla tersentak, buru-buru merogoh saku blazer-nya. Benar saja, cermin lipat kecil miliknya tidak ada di sana. "E-eh, iya! Astaga, terima kasih banyak ya, Kak Farhan..."
Melihat kehadiran pria bertubuh tegap yang ada di foto Story tadi kini berdiri nyata di depan matanya, lengkap dengan ulasan senyum ramah yang ditujukan pada istrinya, aura di sekitar tubuh Adrian seketika kembali meredup muram dan menyengat dingin.
Saat jemari Nayla terulur hendak meraih cermin kecil itu, Adrian dengan cepat bergerak maju. Tangan tegapnya meraih cermin lipat itu lebih dulu dari genggaman Farhan tanpa kata.
Lalu, tanpa segan dan tanpa memedulikan status privasi mereka lagi di pinggir jalan, Adrian langsung menyelipkan jemarinya ke dalam selaksa jemari Nayla, menggenggam erat tangan istrinya dan menuntunnya menyeberang jalan secara posesif. Gerakan tegas itu seolah-olah menjadi deklarasi mutlak bahwa wanita di sampingnya ini sudah ada yang memiliki.
Farhan berdiri mematung di seberang jalan, mengerutkan alisnya bingung melihat keintiman tak biasa antara mereka berdua. Karena tidak tahu siapa sosok pria berjas rapi itu, Farhan menoleh pada Mira yang masih berdiri di sampingnya.
"Mira... itu siapa?" tanya Farhan heran. "Kenapa dia bisa sedekat itu sampai pegangan tangan sama Nayla?"
Mira menyeringai lebar, menepuk-nepuk tangannya gemas. "Ahaha! Itu rahasia besar, Kak Farhan! Yang jelas, Kakak baru aja bikin seorang CEO miliarder terbakar cemburu setengah mati! Daaah Kak Farhan!" seru Mira heboh seraya berlari menyeberang jalan mengekor di belakang.
Di belakang pasangan yang sedang memadu kehangatan itu, Rio berjalan dengan menepuk jidatnya sendiri seraya meratapi nasib.
"Aduh Pak Bos... tadi aja gue disuruh diem, begitu ada saingan langsung main sambar aja di depan umum! Fix ini mah batal jatah tiket ke Paris buat gue! Mbak Nayla ditarik sejelas itu di depan umum!" batin Rio meratapi taruhannya seraya terkekeh geli.
Di sisi lain, Mira justru mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan mata berbinar-binar liar. Wajahnya dipenuhi rasa gemas yang luar biasa tinggi.
"Kyaaa! Pak Adrian cemburu berat! Dari sikap posesifnya udah kelihatan banget siapa yang jatuh cinta dan bucin duluan! Asyik, fix aku yang bakal terbang gratis ke Paris!" jerit Mira kegirangan di dalam hatinya.
Sementara itu, Adrian terus berjalan cepat tanpa ada niat sedikit pun untuk merenggangkan genggaman tangannya dari jemari Nayla. Genggaman itu begitu erat, seolah tak membiarkan ada celah sedikit pun bagi wanita itu untuk lepas.
Saat mereka mulai menyeberangi gerbang utama dan melangkah memasuki area pelataran lobi perkantoran, Nayla mulai panik. Matanya melirik cemas ke arah beberapa staf dan petugas keamanan yang berdiri di sekitar pintu kaca.
"M-Mas... nanti staf lobi lihat kalau kita terus-terusan gandengan tangan begini..." bisik Nayla pelan, mencoba menarik jemarinya perlahan.
Namun, Adrian sama sekali tidak menjawab. Pria itu seolah menulikan telinganya dan tetap enggan melepaskan genggaman tangannya.
Begitu pintu kaca otomatis lobi terbuka, pemandangan tak biasa itu seketika menjadi pusat perhatian. Petugas security, beberapa staf operasional yang melintas, petugas OB, hingga dua orang resepsionis di meja depan membelalakkan mata heran. Mereka menatap kaku ke arah tangan sang CEO yang menggenggam erat jemari sekretarisnya.
Melihat situasi kritis yang bisa memicu desas-desus liar, otak Nayla berputar cepat mencari alasan paling masuk akal.
"A-anu... semuanya, tolong jangan salah paham ya!" seru Nayla dengan suara cukup lantang dan raut wajah dibuat cemas setengah mati. "Pak Adrian ini sedang tidak enak badan... Kepalanya mendadak pusing berat, jadi saya memegang tangannya kuat-kuat agar beliau tidak jatuh!"
Seluruh staf, security, dan OB yang mendengar penjelasan spontan itu seketika bernapas lega dan mengangguk-angguk serempak.
"Ohhh... begitu..." sahut mereka kompak dengan raut wajah prihatin.
"Iya! Permisi ya semuanya!" cicit Nayla seraya menarik pelan lengan Adrian untuk bergegas melangkah menuju lift VIP khusus direksi.
Cklek.
Pintu lift VIP tertutup rapat, meluncur naik membawa mereka berdua ke lantai atas.
Nayla bernapas lega, mengusap dadanya. "Fiuh... untung saja mereka tidak curiga dan percaya sama alasanku tadi."
Begitu situasi aman di dalam lift, Adrian perlahan melepaskan genggaman tangannya. Namun, bukannya memberi jarak, pria jangkung itu justru memajukan tubuhnya, mengungkung tubuh Nayla di antara kedua lengan tegapnya hingga punggung wanita itu bersandar pada dinding lift.
Adrian menatap lurus ke dalam netra hitam Nayla dengan pandangan yang amat intens dan tajam.
Nayla menelan ludah, bulu kuduknya merinding hebat ditatap sedekat itu. "M-Mas... kamu kenapa sih?"
Nayla mematut wajah suaminya yang masih menyisakan sedikit kerut masam di dahi. Seketika itu juga, sebuah pemikiran melintas di kepalanya. Sudut lipatan bibir Nayla perlahan terangkat, membentuk senyuman manis nan jahil.
"Nayla..." panggil Adrian dengan suara rendah yang berat. "Seperti apa sebenarnya kriteria pria yang kamu suka?"
Tebakan Nayla makin tepat sasaran. "Jadi... Mas Adrian cemburu ya?" goda Nayla tertawa kecil. "Mas pasti lihat unggahan Story punya Mira kan? Makanya tadi Mas nekat jalan kaki nyusul ke restoran seberang?"
Mendengar tebakan tepat sasaran itu, raut wajah Adrian seketika berubah canggung. Pria dingin nan tegas itu untuk pertama kalinya terlihat salah tingkah. Adrian sedikit mundur, memalingkan pandangan mata tajamnya dari Nayla seraya berdehem pelan untuk menutupi rasa malunya.
"Ehem... Ya... kamu menyebut pria itu sebagai idola," gumam Adrian pelan dengan nada bersungut-sungut yang amat konyol untuk ukuran seorang CEO.
Melihat kepolosan dan kecemburuan manis suaminya, rasa gemas meluap di dada Nayla. Karena pintu lift masih tertutup rapat dan sedang meluncur naik, Nayla memberanikan diri memajukan tubuhnya. Jemari lentiknya terulur merangkul lengan tegap Adrian erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Mas... yang nulis Keterangan foto di Story itu kan Mira, bukan aku..." tutur Nayla lembut dengan suara manis yang memanjakan telinga. "Mas dengarkan aku baik-baik ya... Tidak ada lagi pria lain yang menarik hatiku di dunia ini... selain kamu, Mas."
Deg!
Untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya, Adrian mendengar kalimat gombalan nan tulus meluncur langsung dari bibir wanita satu-satunya yang berhasil memikat hatinya.
Rasa cemburu, panas, dan jengkel di dalam dada Adrian seketika sirna tak bersisa, berganti menjadi luapan kehangatan dan kebahagiaan yang membuncah hebat. Adrian tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar lalu mendaratkan jemarinya untuk mencubit gemas pipi chubby istrinya.
"Kamu ini... pandai sekali mengambil hatiku, ya?" bisik Adrian dengan binar mata yang begitu dalam dan penuh cinta. "Kan aku jadi semakin ingin cepat-cepat pulang ke rumah..."
Pipi Nayla mendadak membara merah padam. "Ih... Mas!"
Adrian menunduk, mengikis jarak wajah mereka seraya berbisik tepat di depan bibir merona Nayla. "Sayang... aku sebenarnya sudah sangat ingin mengakui status kita di depan semua orang... bahwa kamu adalah istriku yang sah."
Nayla menatap mata suaminya, lalu menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan. "Sabar ya, Mas... Aku hanya butuh sedikit waktu lagi sampai aku benar-benar siap."
Adrian menghela napas pasrah, menatap lembut wajah ayu istrinya. "Baiklah... aku akan selalu menunggu sampai kamu siap."
Pria itu kemudian menundukkan kepalanya lagi, berniat mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya. Namun...
Ting!
Suara denting indikator lift berbunyi nyaring, menandakan mereka telah sampai di lantai eksekutif. Pintu besi lift perlahan bergerak terbuka!
Nayla yang kaget setengah mati dengan sigap melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Adrian. Ia melompat mundur selangkah, merapikan tatanan blazer-nya, lalu menegakkan tubuhnya, kembali berlagak sangat formal bagaikan seorang sekretaris teladan di hadapan atasannya.
"Mari, Pak Adrian," ujar Nayla formal dengan senyum profesional.
Adrian berdiri mematung di dalam lift, melipat kedua tangannya di dada seraya menatap punggung istrinya yang melangkah keluar lebih dulu.
Di dalam hati kecil sang CEO, Adrian mendesah pasrah seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Aduh... Sebenarnya aku tidak tahan terus-terusan akting kaku seperti ini. Aku ingin bebas memeluknya tanpa takut dilihat orang lain!"
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️