Menceritakan perjuangan seorang gadis bernama Lissa dalam mencari kebahagiaan, dari segala masalah yang dialaminya sejak ia masih kecil.
Hingga takdir mempertemukannya pada pemuda tampan bernama Vino, yang membawa sejuta harapan padanya.
Keduanya saling mencintai meski harus melewati rintangan yang tak mudah.
Membuat mereka terkadang harus menyerah pada keadaan.
Sementara tanpa Lissa sadari ada pemuda lain bernama Rio yang selalu menaruh perhatian padanya.
Meski memiliki sikap acuh dan dingin, hal itu tak mengurangi pesona yang Rio miliki sejak lahir.
Walau terkadang sikapnya membuat Lissa semakin membencinya.
Bagaimanakah kisah hidup Lissa diantara kedua pria tampan ini?
Simak ceritanya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah.
Sepanjag malam aku dibuat kesal dengan tingkah Vino yang terus saja meledekku.
Belum lagi teman-temanku yang seolah lebih percaya oleh bualan Vino.
Tentu saja mereka percaya, aku tidak menyadari bahwa dari halaman depan ini mereka dapat melihat ke balkon tempat aku dan Vino tadi puas bercumbu.
Dari situ mereka berfantasi ria bahwa kami benar-benar telah melakukan apa yang diucapkan Vino ke mereka.
Apalagi tadi kami cukup lama menghabiskan waktu hanya berdua di atas sana.
Merasa sangat kesal dengan berbagai ledekan dari mereka, selesai makan aku langsung memutuskan untuk lebih dulu masuk ke kamar.
"Kamu mau kemana Lissa?" Rina yang melihatku berdiri langsung bertanya padaku.
"Oh, aku masuk duluan ya Rin,udah ngantuk soalnya."
Kemudian aku berjalan tanpa melihat ke arah mereka lagi.
"Lihat itu Vino, kamu udah bikin Lissa gempor begitu, kan kasihan, masih jam segini aja dia udah kelelahan, gimana besok coba!" masih kudengar olok olokan dari mulut Agus saat aku memasuki villa.
"Agus! sini aku sobek mulut kamu itu." suara Rina meneriakki Agus.
Tapi aku yang sudah sangat kesal malas menanggapi celotehan mereka.
Aku sudah tidak perduli dan hanya ingin cepat tidur dan menutup telingaku.
Meskipun begitu aku berharap Vino mengejarku dan meminta maaf.
Kuperlambat langkahku saat melewati ruang tamu, dari kaca jendela aku bisa melihat mereka sama sekali tidak peduli dan merasa bersalah padaku sedikit pun.
Hanya canda tawa dan senyum sumringah yang kulihat di wajah tanpa dosa mereka.
"Awas aja kamu Vino." kuhempaskan tubuhku di atas ranjang sesampainya di kamar.
Bahkan niatku untuk mengganti baju tidur pun sudah aku lupakan.
"Vino, kamu kenapa sih,aku kesel sama kamu!"
Kupukul bantal yang ada di sampingku.
Mataku sudah sangat lelah, tapi entah kenapa terasa sulit untuk dipejamkan.
Kugulingkan tubuhku kesana kemari di
ranjang yang luas ini.
Sayup-sayup kudengar mereka masih asyik tertawa dan bernyanyi bahagia.
Rasa penasaran menuntunku untuk melihat mereka dari atas sini.
Tapi aku masih marah karena tidak biasanya Vino begini.
Biasanya kalau aku marah sedikit saja dia pasti langsung memohon dan merayuku.
Tapi sikapnya kali ini berbeda.
"Apa dia semarah itu tadi? tapi aku kan enggak niat sama sekali untuk ngerjain dia, Vinonya aja yang salah tanggap." pikirku.
"Lagipula harusnya kan aku yang lebih berhak marah, bukannya selama aku duduk bersama mereka tadi aku cuma jadi bahan candaan dan olok-olokan aja." pikirku lagi.
Tapi aku masih penasaran, kubuka sedikit tirai jendela dikamarku.
Dan dari atas sini aku bisa melihat mereka benar-benar sudah tidak peduli lagi padaku.
"Vino?" tiba-tiba saja mataku mengarah ke Vino yang saat ini duduk bersebelahan dengan Novi.
Ya Novi, dia adalah teman satu sekolah kami, tapi kami beda kelas dan lebih tepatnya dia adalah teman dekatnya Tomo.
Sudah lama Tomo menyukai gadis itu dan berusaha mengejarnya, tapi sayangnys selalu ditolak.
Awalnya aku juga heran, kenapa kemaren Novi mau ikut dengan kami.
Padahal biasanya dia selalu menghindari Tomo.
Kami tidak cukup mengenalnya, tapi kami pikir dia sudah mulai luluh melihat perjuangan Tomo selama ini, dan mungkin karena alasan itu akhirnya dia mau ikut.
Kembali ke Vino.
Untuk apa coba dia duduk sangat dekat dengan Novi.
Bahkan sesekali kulihat lengan Novi sengaja menyentuh tubuh Vino, dan sepertinya Vino tidak berusaha menolaknya.
Aku melihat tatapan manja yang Novi tunjukan seperti ada niat yang lebih kepada Vino.
"Arrgghh." amarahku memuncak kali ini.
Ingin rasanya aku berlari dan menghampiri mereka.
Tapi saat tanganku menarik gagang pintu, niatku segera kuurungkan.
"Apa kata mereka nanti?" pikirku.
Lalu aku kembali mengamati mereka.
"Dasar brengsek kamu Vino, baru aja tadi kamu bilang sayang sama aku, tapi sekarang, kamu udah kasih senyum manis sama wanita lain." gerutuku sambil menghentakan kakiku ke lantai.
"Apa aku cemburu pada Vino? pake di tanya lagi, ya jelas lah aku cemburu, kan Vino itu pacar kamu Lissa." batinku sambil mengetuk ngetukan kepalaku ke dinding.
Aku benar-benar tidak suka dengan situasi ini.
"Awas kamu Vino, aku enggak bakal maafin kamu, lihat aja."
Lalu aku berjalan lemah ke atas ranjang dan membaringkan tubuhku yang sudah lelah jiwa dan raga.
Malam pun berlalu, kulihat cahaya matahari mulai menerobos masuk dari sela jendela.
Aku terbangun sambil meregangkan semua tubuhku.
Tapi aku tidak melihat siapapun disini.
"Kemana Rina?" pikirku
Kubuka jendela kamar yang mengarah ke balkon.
Aku hirup dalam-dalam aroma laut yang begitu menyegarkan pagi ini.
Bahkan matahari pun mulai menyambutku pagi ini.
Tapi keindahan yang kurasakan saat ini berbanding terbalik dengan perasaanku.
Mengingat apa yang kulihat tadi malam mulai memancing amarahku.
"Stop Lissa! jangan rusak hari indahmu dengan hal-hal yang negatif."
Aku mencoba menghibur hatiku sendiri.
Kulangkahkan kaki ku ke dalam kamar mandi.
Lalu kuputuskan berendam agak lama disana.
Mungkin dengan begitu dapat sedikit meredakan nyeri dihatiku.
Tapi tiba-tiba suara Rina membuyarkan lamunanku.
"Lissa, Lissa kamu dimana? mau ikut enggak?" teriak Rina dari luar.
"Tunggu sebantar Rina." sambungku dari kamar mandi.
Aku keluar buru-buru dengan hanya memakai banduk dan rambutku yang masih basah.
Kemudian aku melihat Rina sudah bersiap-siap seperti akan pergi ke suatu tempat.
"Kamu mau ke mana Rin?"
"Kita mau jalan-jalan di sekitar sini Lissa.
Kamu mau ikut enggak? gih cepat sana siap-siap." ucapnya kemudian.
"Aku ikut deh, tunggu sebentar ya Rin."
Kemudian aku dengan cepat memakai hot pant berwarna hitam yang membuat kaki jenjangku terlihat.
Atasan berwarna putih yang sedikit memperlihatkan bahuku.
Tak lupa aku memakai sepatu kets berwarna senada dengan bajuku.
Aku berdandan seadanya, rambutku yang masih sedikit basah kubiarkan terurai.
"Lissa cepetan, udah pada nungguin tuh di bawah!" Rina berlari sambil menarik tanganku.
Kulihat Mereka semua sudah menunggu.
Aku jadi merasa tidak enak karena membuat mereka menunggu agak lama.
Aku masuk kemobil, tapi tidak seperti kemarin aku duduk didepan bersama Vino yang menyetir, kali ini aku duduk di belakang bersama Rina dan Melly.
Agus mengambil alih kemudi dan Vino duduk disebelahnya.
Sementara Yuda,Tomo dan juga Novi duduk di kursi penumpang paling belakang.
Tidak ada ucapan selamat pagi atau sekedar menyapa dan senyuman dari Vino.
Yang ada hanya wajah datar, seolah dia sudah tidak peduli akan kehadiranku disini.
"Ada apa dengan Vino? apa dia masih marah?"
kucoba mengalihkan semua prasangka dengan memainkan ponsel di tanganku.
Sesekali Rina dan Melly mengajakku bicara dan tertawa dan aku hanya menjawab dengan senyum seadanya.
Akhirnya kami sampai di sebuah pantai yang indah dihiasi batu karang yang berjajar.
Air laut yang begitu biru membentang luas.
Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.
Kami berjalan menyusuri lalu lalang turis yang asyik berjemur dan berselfie ria.
Kulihat Rina berjalan bergandengan tangan dengan Yuda begitu mesra.
Agus tertawa dan bercanda bersama Melly.
Tomo juga berjalan beriringan dengan Novi
disebelahnya.
Sementara Vino juga ikut berbaur dan berbincang bersama mereka.
Aku yang merasa diacuhkan memilih berjalan sedikit kebelakang.
Sambil sesekali menikmati setiap keindahan yang kami susuri.
Namun tentu saja mataku tertuju pada Vino yang sudah berjalan sedikit jauh didepanku.
Entah mengapa hatiku terasa sakit melihatnya.
Dadaku terasa sesak seolah terhimpit oleh rasa kecewa.
Aku memutuskan mencari toilet terdekat.
Aku tidak peduli dengan mereka yang sudah tidak terlihat dari pandanganku.
Mataku terasa panas dengan genangan yang sudah tidak bisa kutahan lagi.
Aku segera masuk dan menumpahkan semua rasa sesak didada yang begitu menyiksaku.
"Vino, apa semua yang pernah terucap dari bibirmu itu semua dusta, kenapa kamu bisa sekejam ini sama aku."
Cukup lama aku terisak sambil menutup mulutku rapat dalam toilet.
Aku segera keluar saat ada yang mengetuk pintu dari luar.
Kubasuh wajahku dengan air untuk menutupi sisa air mata.
Kurapikan penampilanku yang sedikit berantakan di cermin.
Sampai ada seseorang yang menyodorkan sapu tangan berwarna biru muda miliknya kearahku.
Aku menoleh dan melihatnya.
"Terima sapu tangan ini, gunakan untuk menyeka air matamu, dan jangan biarkan orang melihat air mata membasahi wajahmu yang cantik nak." ucap seorang ibu paruh baya yang masih sangat cantik.
Aku hanya terdiam sambil menerima sapu tangan pemberiannya.
"Terima kasih bu." ucapku lirih.
Kemudian dia pergi dan memberikan senyuman padaku.
Mungkin secara tak sengaja ibu tadi mendengar isak tangisku.
Kemudian mataku tertuju pada sebuah ponsel yang tertinggal di meja.
"Barangkali ini milik ibu yang baik tadi."
Aku segera mengejarnya sebelum ibu itu pergi semakin jauh.
Lalau aku berjalan menyusuri setiap jalan yang mungkin dia lalui, tapi aku tidak melihatnya lagi.
Kutatapi ponsel yang ada di tanganku.
Ingin rasanya kubuka untuk mengetahui pemiliknya dan mencari nomor yang mungkin bisa kuhubungi.
Tapi aku rasa itu kurang sopan.
Aku terduduk di salah satu kursi yang tidak jauh di bawah pohon rindang.
Mataku masih sibuk mencari sosok ibu yang mungkin adalah pemilik ponsel ini.
Namun aku dikagetkan dengan suara panggilan dari ponsel ini.
Dan jelas tertulis Anakku sayang di layar ponsel yang kutemukan.
Kemudian aku menjawabnya dan menjelaskan bagaimana ponsel ini bisa ada ditanganku.
Lalu orang itu memintaku bertemu di sebuah restauran yang tidak jauh dari tempatku saat ini.
Aku menawarkan diri untuk mengantarnya karena jaraknya cukup dekat.
Aku berjalan menyusuri taman dan kolam ikan indah di halaman restauran.
Kemudian orang itu menelpon lagi dan memintaku masuk ke dalam.
Pemilik ponsel ini menungguku di salah satu pondok yang dikelilingi kolam ikan.
Dari sini aku melihat ibu yang aku temui di toilet tadi.
Disampingnya terlihat seorang pria paruh baya yang ramah.
Dan didepannya ada seorang pria duduk membelakangiku sambil memainkan ponselnya.
"Kamu gadis yang tadi ibu temui kan?" ucapnya dengan senyum sumringah.
"Iya bu."
Mendengar suaraku, pria muda itu berbalik melihat ke arahku.
Dan betapa terkejutnya aku saat melihatnya.
Begitupun Pria itu, wajahnya menunjukkan kalau dia juga sangat terkejut melihat keberadaanku disini.
jngan lama² dong klo ngilang😔😔kan kngen ma rioo😘😘
thoer kpn ni rencana up lgi,??
msak nunggu 3xpuasa ma 3x lebaran lgi😁😁✌️