Disebuah Desa tinggalah seorang gadis kecil yang masih berusia 5 tahun bernama Lulu, dia hidup bahagia bersama dengan keluarga kecilnya, yaitu Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, dan Kakak. Ayahnya Joko adalah seorang penjual bakso keliling, Ibunya Rani adalah IRT, Kakeknya Abdullah dan Neneknya Wiwit hanya tinggal dirumah, karena sudah tua, tapi terkadang Kakek dan Neneknya sering melihat kebun belakang rumah untuk merawatnya. Sedangkan Kakaknya Sari masih sekolah SMK.
Suatu ketika, saat Lulu sedang bermain di taman bersama dengan Ibu Rani dan kedua Kakek, Neneknya. Lulu di hampiri oleh Tantenya bernama Nila yang berniat untuk mengadopsi Lulu sebagai anak angkatnya, namun Ibu Rani, Kakek dan Neneknya tidak mengijinkannya, akan tetapi Tante Nila beralasan, kalau dia mangadopsi Lulu hanya sebagai pancingan supaya dia bisa cepat hamil, karena sudah 4 tahun lamanya, dia belum juga hamil. Jadi nanti, kalau dia sudah hamil, dia akan mengembalikan Lulu kepada kedua orang tuanya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ochayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa harus Lulu?
Sesampainya di Puskesmas, Lulu di periksa oleh salah satu perawat, ia mengatakan kalau Lulu hanya kelelahan, dan harus istirahat yang cukup. Lalu Lulu pun dibawa pulang oleh kedua orang tuanya dan juga Kak Sari. Kak Sari yang menjaga Lulu di kamar, melihat ada sedikit lebam di wajah Lulu, Kak Sari pun menanyakan hal yang terjadi kepada Lulu, yang sedang terduduk lemas di atas tempat tidur.
"Lulu... sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadamu? kenapa ada lebam di wajahmu?" tanya Kak Sari menyentuh pipi Lulu yang lebam, namun langsung di tepis oleh Lulu. Lulu juga terlihat seperti orang yang sedang ketakutan. Dia menundukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya.
"Jangan sentuh aku!" sahut Lulu dengan nada tinggi.
"Kamu kenapa dik? kenapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Kak Sari mulai kawatir.
"Ini semua salah Ibu! salah Ibu!" sahut Lulu.
Kak Sari yang mengawatirkan kondisi Lulu, keluar dari kamar, kemudian memanggil ibu Rani.
"Ibu...ibu ...ada yang tidak beres dengan Lulu." teriak Kak Sari menghampiri Ibu Rani yang sedang membuat bubur ayam untuk Lulu.
"Lulu? ada apa dengannya?" tanya Ibu Rani mengambil bubur ayam yang sudah matang.
"Ayo cepat ikuti aku." sahut Kak Sari mengajak Ibu Rani menuju kamar Lulu.
"Nak... Ibu bawakan makanan kesukaanmu.. dimakan ya.." ucap Ibu Rani mendekati Lulu, dan ingin menyuapi Lulu, tapi Lulu malah menepisnya dan mendorong bubur ayam tersebut hingga terjatuh dan tumpah.
"Adik.. kamu tidak boleh seperti itu ya?!! kasian ibu sudah capek membuatkan bubur ayam itu untuk kamu makan..!!" teriak Kak Sari, yang membuat Lulu menuntup kedua telinganya dan menjerit.
"Hentikan... jangan berteriak di depanku.."teriak Lulu, dan terdengar oleh Ayah Lulu yang datang dari belakang rumah. Ayah Lulu kemudian menghampiri kamar Lulu untuk melihat kondisi Lulu.
"Astaghfirullah..ada apa ini? kenapa menjadi seperti ini..?" tanya Ayah Lulu di tengah pintu.
"Ayah, sepertinya Lulu terkena sesuatu?" sahut Kak Sari menoleh ke arah Ayah Lulu.
Ayah Lulu, kemudian mendekati Lulu.
"Kamu kenapa nak? ceritalah kepada kita?" ucap Ayah Lulu membelai rambut Lulu.
"Dia jahat..!" sahut Lulu.
"Siapa yang jahat?" tanya Ayah Lulu.
"Kalau saja Ibu menjemputku tepat waktu, aku pasti tidak akan bertemu dengan orang jahat itu." sahut Lulu sambil menutup telinganya.
"Memangnya siapa yang sudah berbuat jahat kepadamu nak? laki-laki atau perempuan?" tanya Ayah Lulu.
"Dia menarik paksaku, dan membuatku terluka."
"Terluka? Dimana letak sakit yang Lulu rasakan?" tanya Ayah Lulu.
"Di bawah sini Ayah, rasanya perih dan sakit.." Lulu menunjukkan area sensitifnya. Seketika kedua orang tua Lulu dan Kak Sari, terdiam dan mencerna penjelasan dari Lulu, mereka semua tidak menyangka kalau Lulu sudah menjadi korban pelecehan seksual dari orang asing. Ibu Rani, mencoba untuk mendekati Lulu dan membujuk Lulu untuk membuka celananya. Namun, Lulu masih marah dengan Ibu Rani, dan menolaknya, kemudian Kak Sari lah, yang membujuk Lulu untuk membuka celananya dan setelah Kak Sari melihat area sensitif Lulu, dia sangat syok, karena area sensitif Lulu terlihat membengkak, melihat kondisi Lulu yang seperti itu, kedua orang tuanya dan Kak Sari, kemudian membawa Lulu ke Rumah Sakit untuk mengobati area sensitif Lulu. Ibu Rani yang menunggu Lulu di ruang tunggu bersama dengan Ayah Lulu dan Kak Sari, merasa bersalah dan menangis tersedu-sedu di pelukan Ayah Lulu.
"Aku tidak menyangka, karena keteledoranku selalu membuat Lulu dalam bahaya, benar kata kamu mas, aku tidak becus menjaga Lulu, aku gagal menjadi Ibu yang sempurna bagi Lulu." ucap Ibu Rani menangis di pelukan Ayah Lulu.
"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri..itu semua musibah, tidak semua karena keteledoranmu." sahut Ayah Lulu.
"Iya Bu, Ibu jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, tidak baik buat kesehatan ibu." sahut Kak Sari yang berada di sampingnya.
"Tapi, setiap kejadian-kejadian yang dialami Lulu, pasti pas diwaktu aku yang menjaganya. Aku merasa gagal menjadi Ibu." ucap Ibu Rani tertunduk lesu.
Lalu, Pak Dokter keluar dan memberi kabar kondisi Lulu.
"Sebelumnya, saya minta maaf kepada Ibu dan Bapak, bengkak pada bagian area sensitif Lulu, tidak hanya disebabkan oleh gesekan, tapi juga ada sedikit retakan di tulang area sensitifnya dan harus menjalani perawatan selama beberapa hari untuk mengetahui perkembangan lukanya. Apa Bapak dan Ibu mengijinkan Lulu tinggal?" ucap Pak Dokter.
"Iya kami mengijinkan, saya harap Pak Dokter bisa menyembuhkan luka anak saya." sahut Ayah Lulu.
"Baiklah. Mohon salah satu dari Ibu atau Bapak ikut ke ruangan saya untuk penjelasan lebih lanjut." ucap Pak Dokter. Akhirnya Ayah Lulu yang ikut dengan Dokter. Sementara Ibu Rani dan Kak Sari, masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan jam jenguk Lulu. Setelah beberapa menit kemudian, salah satu perawat, mengijinkan Kak Sari dan Ibu Rani masuk ke dalam ruangan Lulu. Ibu Rani memeluk erat tubuh Lulu yang masih tertidur dan berkali-kali meminta maaf kepada Lulu.
"Maafkan Ibu nak.. ibu minta maaf..." ucap Ibu Rani menangis sambil memeluk tubuh Lulu.
"I..ibu...menjauhlah..! aku benci Ibu." sahut Lulu yang terbangun dengan suara lirih.
"Adik.. tidak baik kamu membenci Ibu seperti itu." sahut Kak Sari mendekati Lulu.
"Tapi, Ibu jahat Kak, dia sudah membuat Lulu menjadi seperti ini." sahut Lulu lirih.
"Adik, tapi tidak semuanya salah ibu, ibu sayang sekali sama Lulu, coba ceritakan sebenarnya apa yang sudah terjadi?" ucap Kak Sari menggenggam jemari Lulu.
"Bohong! aku tetap tidak suka ada Ibu disini, pergi..!! ibu pergi. .!" teriak Lulu mengacungkan jarinya dan menunjukkan ke arah luar untuk mengusir Ibu Rani. Ibu Rani hanya terdiam dan keluar dari ruangan sambil menangis.
"Kak, aku takut...dia orang jahat.." ucap Lulu setelah ibu Rani pergi.
"Kamu tidak perlu takut dik, ada Kakak disini. Sekarang coba ceritakan sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Kak Sari.
"Sebenarnya, waktu aku pulang dari rumah temanku, masih aman-aman saja, tapi lama-lama, aku merasa seperti ada yang mengikutiku, aku pun menoleh ke belakang, tiba-tiba orang tua itu, menarik paksa dan membawaku ke tempat sepi, lalu dia memaksaku untuk melakukan itu, aku menjerit kesakitan, tapi dia menutup mulutku dan setelah aku tidak sadar, dia membawaku entah kemana." sahut Lulu.
"Orang tua biadab! beraninya dia melakukan hal keji seperti itu pada adikku." ucap Kak Sari marah.
"Apa, adik tahu ciri-ciri orangnya seperti apa?" tanya Kak Sari.
"Aku hanya ingat matanya sipit, wajahnya bulat dan mulutnya sering mengeluarkan air liur." sahut Lulu. Lalu Ayah Lulu datang bersama dengan Pak Dokter, sedangkan Ibu Rani mengikuti mereka berdua dari belakang, supaya Lulu tidak melihatnya masuk. Kak Sari pun menghentikan pertanyaannya.