Lareina Elowen mengaku tidak mendapat cinta dari suaminya—Narendra J. Wilson selama masa pernikahan itu. Hanya sering mendapat perlakuan tidak wajar dan sering kali Narendra juga memukulnya. Setelah memutuskan untuk meninggalkannya, Narendra malah mengejar Lareina dengan alasan 'menyesal'. Kira-kira kenapa dulu Narendra tidak mau mengakui Lareina sebagai istrinya?
(PERHATIAN! Cerita ini mengandung banyak adegan kekerasan dalam rumah tangga, menguras emosi dan air mata. Bijaklah dalam membaca.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LennyMarlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor Semakin Didepan
Sesampainya Lareina dan Nova di bawah, terlihatlah ada Narendra yang sudah mengerutkan alisnya dengan tampang yang sangat marah sekali. Nova juga melihat Audrey yang sudah menangis tersedu-sedu di sana.
“Kenapa Nona Audrey menangis?” tanya Nova tidak bisa membendung rasa penasarannya. Saat dia meninggalkannya, Audrey masih terlihat baik-baik saja.
“Audrey?” Barulah Lareina menyadari siapa tamu itu sebenarnya. Apakah Narendra yang memintanya untuk datang ke rumah? “Jadi, Audrey adalah tamu kita semua?”
“Iya, Nyonya. Itulah yang ingin saya katakan tadi.” Ucapannya sempat terpotong dikarenakan Narendra yang marah-marah berteriak tidak jelas di ruang tengah ini.
Ini akan menjadi awal yang buruk untuk Lareina. Kalau Narendra sudah mengajak wanita lain ke dalam rumah, bisa jadi pernikahannya akan terancam pisah dan tidak ada kesempatan baginya untuk tinggal di sana.
“Kenapa tadi kamu berteriak tidak jelas di dalam rumah? Apa yang membuatmu marah sampai suara teriakanmu sangat bergemuruh?” Lareina bertanya apa yang terjadi.
Narendra perlahan mendekati istrinya. “Kau jangan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi! Kenapa kau memukul Audrey, huh? Wajahnya sampai memerah karenamu!”
DEG!
Apakah ini permulaannya?
Kepala Lareina kemudian menggeleng, “Tidak, aku tidak pernah melakukan itu. Aku saja baru turun dari kamar, mana mungkin aku memukulnya? Percayalah padaku.”
“Nyonya benar, Tuan. Nyonya tidak bersalah. Saya dan Nyonya baru saja turun dan itu pun karena mendengar suara teriakan Anda,” lirih Nova membela majikannya.
Ini pasti hanya akal-akalan Audrey saja. “Kau diam! Jangan ikut campur! Kau tentu saja membelanya karena dia adalah tugasmu untuk menjaganya! Kau pergi dari sini.”
“Tapi, Tuan!”
“KUBILANG PERGI!”
Lareina memberikan kode khusus berupa goyangan tertentu supaya Nova bisa meninggalkan mereka. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Nova. Takut kalau suatu hari nanti Narendra justru akan memecatnya.
Walaupun tidak mau meninggalkan Lareina seorang diri untuk menghadapi situasi yang tiba-tiba sulit ini, Nova tak memiliki pilihan lain selain menurut. Dia terpaksa harus pergi ke belakang karena tidak boleh ikut campur.
“Kau sudah kuberi tahu lewat telepon untuk menyambut kedatangan Audrey yang mulai sekarang akan tinggal di sini! Apa Nova tidak memberitahumu?” sentaknya.
“Akibat Nova tidak memberitahumu dan kau terkejut saat mengetahui dia ada di sini kau justru memukulnya? Kau telah melakukan kesalahan besar!” Ia sangat marah.
Lareina tidak boleh menangis. Tahan dulu air matanya supaya Narendra tidak melihatnya dengan tatapan kasihan. “Aku sungguh tidak pernah melakukan itu.”
“Aku saja tidak pernah tahu kalau tamumu adalah dia. Aku juga baru saja turun dari lantai atas dan bagaimana bisa aku memukulnya begitu saja?” Lareina membela diri.
Bukankah sangat aneh orang yang tertuduh telah melakukan tindakan kekerasan pada tamu sedangkan yang tertuduh saja masih berada di kamarnya? Lareina merasa ada sesuatu yang menjebaknya. Apa itu Audrey?
“Jangan berbohong! Dari mana kau belajar untuk memutarbalikkan fakta, huh? Sebaiknya kau jujur saja! Kau yang memukul Audrey, 'kan?” Dipaksa untuk jujur.
“Aku tidak memukulnya.”
“Kau yang memukulnya!”
“Aku tidak pernah memukulnya!” jerit Lareina disertai isakkan tangisannya. Dia tidak bisa menahan kesedihan atas tuduhan suaminya padanya. “Aku tidak memukulnya!”
Namun, apakah dengan air mata itu Narendra akan memercayainya? Atau justru semakin meyakinkan kalau Lareina pelakunya? Tidak ada yang tahu kapan dan siapa kejadian itu terjadi. Yang pasti, Lareina tak merasa begitu.
“Mungkin dia yang melakukannya sendiri untuk membuatmu menuduhku dan membela dia!” Itu hanya asumsi sendiri. “Dia sedang menjebakku, Narendra!”
PLAK!
Karena tak tahan dengan tuduhan istrinya pada Audrey, Narendra menampar Lareina sampai tubuh gadis itu ambruk menyentuh lantai. Kalau Audrey berniat jahat, pemandangan ini pasti menyenangkan untuknya.
“Berani sekali kau melayangkan tuduhan pada wanitaku! Kau sendiri yang melakukannya malah menuduh orang lain! Apa kau manusia, huh?” sentak Narendra.
Lareina menangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk melampiaskan rasa marah dan sedihnya. Hatinya pedih sehingga membuat sekujur tubuhnya seolah lemas tidak berdaya. Tamparan Narendra tadi juga menyakitinya.
Wanita itu kemudian berdiri setelah menyaksikan terlalu banyak adegan dalam rumah tangga Lareina dan Narendra. Dia mendekati Narendra dan mengusap tubuh pria itu untuk menenangkannya dan berhenti mengamuk.
“Sudah, Narendra. Berhenti sekarang. Aku tidak apa-apa. Sakitnya juga sudah lumayan mendingan. Kamu jangan memarahi istrimu terus,” pinta Audrey begitu sangat lirih.
“Tapi dia sudah menyakitimu. Dia juga sudah menuduhku bahwa kamulah yang melukai dirimu sendiri. Bagaimana bisa aku memaafkannya begitu saja?” tanyanya.
Gadis yang ada di depannya ini seolah tidak akan pernah bisa dipercaya. “Sudah, kamu jangan khawatir. Aku akan menghukumnya. Kamu beristirahatlah di kamarku, ya?”
Lareina sontak terbelalak. Apa maksudnya membiarkan Audrey tidur di kamarnya? Apakah Narendra juga akan tidur di sana bersama Audrey dan membuangnya saat permata itu sudah ditemukan? Tidak. Lareina tak terima.
Dia buru-buru bangun dengan pandangan yang entah mengarah ke mana. Bahkan dia sendiri saja tidak pernah tahu di mana posisi Narendra dan Audrey berdiri saat ini. Yang pasti, dia harus menghentikan mereka berdua.
“Kenapa kamu membiarkan wanita lain untuk tidur di kamarmu? Masih ada kamar tamu yang kosong yang cocok untuknya! Biarkan saja dia tidur di sana!” bantahnya.
Sebagai seorang istri, Lareina memiliki banyak hak untuk melarang wanita lain tidur bersama suaminya. “Kamu harus ingat bahwa aku ini masih istrimu, Narendra!”
Tetapi, Narendra malah terkekeh. “Kau istriku? Istri macam apa yang tidak bisa melayani suaminya sendiri? Kau hanya menjadi beban di hidupku! Kau tak berguna!”
Dia kemudian melanjutkan, “Aku sudah memintamu untuk menandatangani surat perceraiannya tapi kau tidak pernah mau melakukan itu! Ini adalah nasibmu sendiri!”
“Aku tidak pernah mencintaimu dan selamanya tidak akan pernah mencintaimu! Aku hanya mencintai Audrey! Asal kau tahu saja, dia yang akan menggantikan posisimu!”
Kedua tangan Lareina mengepal kuat saat Narendra terus mengatakan tidak akan pernah mencintainya. Merasa tidak terima dan rasanya ingin melakukan apa pun yang diinginkan oleh hatinya. Tetapi, apakah bisa?
“Ayo, Audrey.”
“Iya.”
Narendra membawa wanita itu ke dalam kamarnya sedangkan istrinya sendiri tidak pernah dibiarkan memasuki kamar itu selama setahun ini. Apakah Narendra sengaja melakukan itu karena tahu Audrey akan kembali?
“Kalau kamu berani membawanya ke dalam kamarmu, aku akan memberi tahu semua rahasiamu yang kuketahui pada wanita itu! Aku tidak main-main!” ancam Lareina.
Posisi gadis itu membelakangi suaminya dan Audrey. Langkah Narendra terhenti dengan tatapan yang seperti akan meledak. Perlahan wajahnya berbalik ke belakang. Matanya sampai menimbulkan seperti urat merah.
“Apa?”
Lareina berbalik badan setelah tahu posisi saat ini Narendra berdiri adalah di belakangnya. “Aku akan memberi tahu semuanya. Itu pun jika kamu membantahku.”
Setelah berhasil menguasai diri, Lareina berani menunjukkan ketegasannya sebagai seorang istri yang berniat menghentikan perselingkuhan suaminya. Sekarang Narendra pilih saja mana yang menguntungkannya.
“Kau mengancamku?”
“Aku seperti ini karena aku adalah istrimu. Aku tahu dia tidak mungkin tahu bahwa kamu adalah ... ” Lareina tertawa kecil. “ ... Maafkan aku. Aku hampir keceplosan.”
Hanya bisa menggigit jari dengan rasa ragu. Ini pertama kalinya Narendra melihat Lareina melawannya dengan menggunakan kejadian di tahun lalu. Tetapi, apa yang membuat Narendra khawatir? Tidak ada bukti untuk itu.
Namun, dia juga termasuk manusia yang selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan apalagi di saat seperti ini. Karena bisa jadi Lareina memiliki cukup banyak bukti yang mengarah pada kematian Zyon Lapileon.
“Ada apa ini, Narendra? Istrimu mau mengatakan apa? Apa yang kamu sembunyikan dariku sekarang?” tanya Audrey mengerutkan alisnya. Rasanya dia juga berhak tahu.
“Tidak ada. Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu. Dia hanya mengada-ngada dan kamu tidak perlu memercayainya. Jangan dihiraukan,” ucap Narendra berbohong.
Dia terus mendorong pelan punggung Audrey supaya mau ke kamar dan berhenti mendengarkan ucapan Lareina yang terlalu blak-blakan itu. Terkadang Audrey sangat penasaran apa yang diketahui oleh Lareina.
.
.
.
Narendra dan Audrey akhirnya tiba di kamar pria itu yang terlihat sangat rapi dan bersih. Audrey juga tampaknya sangat menyukai kamar tersebut. Buktinya, dari tadi bibirnya senyum-senyum sendiri dengan manisnya.
“Bagaimana menurutmu? Kamarnya memang cukup luas dan lebih luas dibandingkan dengan kamar yang lain. Tapi aku tidak tahu kamu akan merasa nyaman atau tidak.”
Nada bicaranya cukup lembut dan halus. Audrey menjawab, “Ini bahkan lebih baik daripada kamarku. Saat menginjakkan kaki di sini saja sudah terasa kenyamanannya.”
Wajah Narendra tertunduk, tersipu malu oleh ucapan Audrey mengenai kamarnya yang memang selalu terawat dengan baik. “Baguslah kalau kamu bisa nyaman di sini.”
“Mm ... maaf jika aku mencampuri urusan kalian. Tapi, aku mendengar istrimu mengatakan sesuatu soal rahasiamu. Kamu merahasiakan apa dariku?” tanya Audrey.
Cuma sebentar rasa tersipu malu itu berlangsung. Selebihnya, giliran tampang terkejut dan keraguan yang Narendra tampilkan. Ia bingung harus mengatakan apa dan bagaimana. Sebisa mungkin rahasia itu tidak boleh Audrey ketahui.
“Kamu jangan terlalu memikirkan ucapannya yang tidak jelas itu. Dia hanya mengarang cerita dan bisa-bisanya kamu masih memercayainya?” Mencoba berputar.
Audrey tidak terlalu percaya pada apa yang Narendra katakan. “Tapi aku merasa istrimu mengetahui sesuatu soal rahasiamu. Aku juga mungkin perlu tahu soal itu?”
“Untuk apa kamu perlu tahu soal omong kosongnya? Dia hanya mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Dia hanya tidak ingin kamu ada di sini,” kata Narendra.
Terjadilah suatu keributan antara Narendra dengan Audrey. Di satu sisi Audrey merasa ada sesuatu yang terjadi dan Lareina tahu segalanya terkait masalah satu itu. Sedangkan Narendra terus saja berkata itu hanya tipuan.
“Ya, sudah. Aku percaya padamu. Tapi, kalau kamu mau hubungan kita berjalan dengan lancar, kamu jangan terus membohongiku. Kamu paham?” tanya Audrey.
“Iya, aku mengerti.”
Setelah sedikit membaik, Audrey memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit untuk mengetahui lebih luas ada apa saja di dalam kamar Narendra itu. Pajangan menghiasi kamarnya dan itu sangat cantik saat dia melihatnya.
“Kamu suka sekali mengoleksi minuman sejenis wine, ya? Kamu sampai membuat lemari ini pernah dengan minuman kesukaanmu,” ucap Audrey sedikit tersenyum.
“Iya, aku memang menyukainya. Bahkan setiap malam aku selalu minum wine untuk menenangkan tidurku. Apa kamu mau mencobanya sedikit?” Ia mulai menggodanya.
“Mencobanya sedikit?”
Audrey perlahan berjalan menuju lemari di mana semua minuman kesukaan Narendra berada di sana. Menyentuh satu botol wine merah dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, Audrey berbalik badan menatap Narendra.
“Kamu bilang kamu tidak bisa tidur tanpa ini, 'kan? Walau sebanyak apa pun kamu meminum banyak alkohol, kamu tidak pernah mabuk.” Audrey mengambil satu gelas.
CURR!
Dia menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas kosong dan menyuruh Narendra untuk meminumnya. “Ini sebagai persembahan pertamaku dan hubungan kita.”
“Kamu menyuruhku untuk minum sendirian? Bagaimana denganmu?” Narendra mendekati Audrey dan menarik pinggang wanita itu. “Aku ingin minum bersamamu.”
“Aku juga akan minum.” Kembali mengambil satu gelas dan itu adalah bagiannya. “Kita rayakan hari pertama hubungan kita. Kamu harus menghabiskannya, Sayang.”
“Tentu saja.”
Baik Narendra maupun Audrey keduanya mulai meminum alkohol tersebut sampai habis bahkan sampai ada tetesan air yang menempel di sekitaran bibir wanita itu. Secara mengejutkan, Narendra sampai menjilat tetesan tersebut.
BERSAMBUNG