Yao Chen awalnya bukanlah siapa-siapa. Bukan seorang kultivator, bukan juga seorang ahli pedang. Pangeran hanya memiliki dua persoalan : bela diri dan istrinya.
Namun ibarat mendapatkan kehendak dari dewa, seorang pemuda bernama Liu Xiaotian, hadir dari dunia modern dan masuk ke dalam dunia novel fantasi kuno yang selalu dia baca pada saat-saat terakhirnya.
Bukan menjadi Bai Ling sang tokoh utama, tidak pula menjadi Hua Wuying, antagonis dengan kekuatan dahsyat. Malahan, dia masuk ke jiwa seorang pecundang bernama Yao Chen, di mana dirinya harus luntang-lantung di Baishan, hanya untuk membuktikan bahwa dirinya layak disebut alkemis sejati.
Menjadi alkemis terbaik dan impiannya sudah terwujud? Yao Chen yang sekarang menginginkan lebih. Kekuatan kegelapan tanpa batas, duduk di singgasana Kerajaan Lianyun, dan hidup selamanya bersama sang kekasih, Ratu Iblis Hua Huifang. Dunia Qingyuan akan tunduk, meski hanya dengan mendengar namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WinterBearr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Kegelapan Adalah Kekuatan
Di tengah kegelapan ruang bawah tanah itu, Yao Chen bangkit, matanya menengadah, mencari titik awal dirinya terjatuh, namun sayangnya tidak terlihat cahaya sedikitpun.
Dinding batu dengan ukiran rumit nan aneh, seperti guratan makna rahasia yang terkunci dalam keheningan abadi. Setiap ukiran itu menyerupai motif-motif kuno yang biasanya ditemukan di ruang pemujaan rahasia, bukan sekedar tempat persembunyian. Sesekali, dari celah dinding yang renggang oleh waktu, lembab udara dingin merayap, membawa aroma tanah bercampur dengan debu yang begitu pekat. Yao Chen menyimpulkan, bahwa tempat ini telah menyimpan ribuan tahun kisah yang tak terucapkan.
Alhasil Yao Chen menghela napas berat. Punggungnya masih sakit setelah jatuh, terutama bagian tulang ekor. Ia duduk dalam posisi berlutut, meraba saku dalam jubahnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah digulung rapi disertai pita coklat yang mengikatnya—lembaran catatan tentang alur novel yang pernah dia tulis.
"Kenapa tempat ini tidak pernah aku tulis?" gerutunya menjadi-jadi. "Bagus, sepertinya aku akan mati untuk ke delapan kalinya."
Alur yang dulu ia catat, cukup jelas menggambarkan arah menuju ke persembunyian Kura-kura Legendaris. Namun kenyataannya, ia malah terjebak di ruangan asing ini. Memaksa Yao Chen untuk kembali membuang napas, segala rencananya lenyap begitu saja di dalam labirin gelap gulita.
Master memandang kertas itu dengan tatapan kosong, menahan diri agar tidak merobeknya. "Tentu saja, dalam novel tidak pernah disebutkan ruang jebakan seperti ini," ujarnya lirih, seraya menundukkan kepala, menggenggam kertas itu erat-erat. "Dengan daya ingatanku saat menjadi Liu Xiaotian yang perlahan memudar, rasanya aku mulai kehabisan harapan untuk bertahan hidup di dunia ini."
"Brengsek!" serunya saat menendang bongkahan batu yang memantul hilang, dimakan kegelapan.
"Bai Ling! Shu Xiaolian! Tuan Yu! Apakah ada orang?!!" teriaknya dengan penuh keputusasaan. Namun, lagi-lagi yang terdengar hanyalah gema suaranya sendiri. Ruangan luas ini benar-benar terisolasi. Seperti gua di dalam gua.
Hingga batu yang ketiga dia lepaskan dengan satu sepakan kuat, seberkas cahaya muncul dari kejauhan, berwarna jingga, berpendar layaknya lentera tua yang berkelip di ujung sana.
Yao Chen hampir mati menggigil di tempat ini, kehilangan harapan bahkan oksigen. Namun cahaya kecil itu memberinya secercah keberanian. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah, meskipun dalam hatinya terus saja timbul bibit kecurigaan, mengira jika cahaya nan indah itu hanyalah ilusi semata atau monster yang siap menjadikannya makanan penutup.
"Cahaya... itu pasti pintu keluar."
Ia terus melanjutkan langkahnya, setiap langkah yang awalnya terasa berat, kini semakin ringan saat cahaya itu kian dekat. Senyuman merekah lebar di bibir, sebelum kembali melengkung ke arah yang berlawanan.
Cahaya itu bukanlah sinar mentari yang menembus masuk, melainkan sebuah antena panjang dari seekor katak raksasa. Makhluk hijau itu bersisik tebal seperti perisai, kulit hijaunya membiru termakan lumut. Hanya sekilas angin tipis yang lewat, mampu membuat bulu kuduknya berdiri, lututnya lemas seketika.
"Luar biasa... " gumamnya "Aku harap setelah ini aku dapat kembali ke kursi kantorku yang empuk, bertemu bos yang super ramah, dan menikahi wanita secantik Hua Huifang. Aku rindu duniaku yang dulu... dunia ini seperti neraka."
Rambutnya berkibar, setelah secara reflek, dirinya dengan gesit melompat ke samping, menghindar beberapa meter dari serangan lidah panjang katak raksasa. "T-tubuhku?!"
"Terasa begitu ringan!"
Satu hantaman lidah itu menghancurkan batu penuh ukiran kuno di belakang, membuat puing-puingnya berhamburan tidak karuan.
Di tengah adrenalin yang terpacu sempurna, sebuah energi aneh terasa mengalir deras di setiap nadinya. Darahnya kian memanas, energinya melonjak, mengisi setiap serat otot dengan kekuatan yang luar biasa. "Inikah yang disebut sebagai Qi?” bisiknya, dengan senyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, makhluk ini… mungkin adalah ujianku untuk membuktikan kebangkitan awal kekuatan Yao Chen!”
"Luar biasa! Aku tidak menyangka aku tidak lagi cacat kultivasi! serunya dengan tawa kegilaan. Suaranya bergema nyaring di setiap sudut kegelapan, seperti tawa seseorang yang berhasil sukses setelah bermain judi online.
Kekuatan yang dia rasakan, lantas menghapus segala penderitaan masa lalunya. Kedua tangannya kini berkobar diselimuti oleh api hitam yang terus bergoyang. Makin membesar, bersamaan dengan seringai di wajahnya.
"Dengan kekuatan ini... aku mungkin bisa membuka semua aliran di dalam tubuhku ke ranah yang lebih tinggi. Bai Ling... Xiaolian... bertahanlah... mastermu sudah kembali!"
Rambut gondrongnya terbawa angin, mengikuti setiap langkah cepat Yao Chen yang terus menghindari setiap serangan lidah penghancur milik katak raksasa itu. Ke kanan-ke kiri sama saja, Liu Xiaotian terlalu gesit. Pukulan demi pukulan dilayangkan tanpa ampun. Setiap pukulan memancarkan ledakan api hitam yang menyelimuti, makhluk itu terpental, menjerit kesakitan yang tak berkesudahan.
Namun pemuda itu sepertinya ingin menikmati setiap momen yang ada, hingga pada pukulan terakhir, kekuatannya menurun drastis. Meskipun begitu, tenaga dalam yang telah ia kumpulkan cukup untuk menghempaskan katak raksasa itu untuk terbang menghantam dinding batu di ujung sana.
"Arrgh!" jerit Yao Chen ketika lengan kanannya terasa mendidih. Kulitnya merah melepuh, dan darah segar keluar melalui setiap ujung jemarinya. "Tangan kananku... sial, kekuatan kegelapan ini terlalu besar. Aku terlalu terbawa suasana, seharusnya aku mengingat penjelasan Xiaolian waktu itu."
Meski demikian, ada kebanggaan di dalam sorot matanya. Yao Chen puas dengan apa yang ia dapatkan. Kini dirinya hanya perlu fokus untuk berlatih... dan berkultivasi tentunya.
Namun, tanpa disangka-sangka, angin berubah haluan. Pagi menjadi malam. Cerah menjadi badai. Dari salah satu sudut gua yang samasekali tidak diperhitungkan oleh Yao Chen. Sebuah lidah raksasa terjulur kencang. Melesat bagaikan angin.
Pemuda itu hanya mampu melirik, saat dirinya disibukkan oleh senyum kemenangan. Lantas suara mengerikan tercipta, ketika darah dan daging berhamburan di udara. Tangan kirinya lenyap tak bersisa. Memberikan coretan seni dengan tinta merah pada permukaan dinding gua.