Dunia tidak pernah benar-benar dikuasai manusia. Jauh sebelum manusia mengenal sihir, teknologi, atau kekuatan supernatural, dunia telah dihuni oleh Primordial, entitas purba yang merupakan manifestasi dari kekuatan alam dan dunia itu sendiri. Manusia pernah berperang melawan mereka. Untuk bertahan hidup, manusia menciptakan berbagai cara untuk melawan. Sebagian terlahir dengan kekuatan. Sebagian mempelajari sihir. Sebagian mengembangkan alkimia dan teknologi. Dan sebagian lainnya memilih jalan yang seharusnya tidak pernah ditempuh. Dari sejarah panjang itu, lahirlah delapan kekuatan besar: Esper. Magic. Alchemy. Science. Artificial Esper. Mutant. Mafia. Primordial. Mereka tidak saling percaya. Mereka tidak saling menyukai. Dan beberapa bahkan saling membenci. Namun ketika ancaman Primordial kembali meningkat, para Alchemist memaksa berbagai pihak untuk membentuk sebuah gencatan senjata bernama Peace Faction. Lima orang kemudian dipertemukan. Dafa, Artificial Esper dengan kemampuan Nullification yang tidak dapat dipahami. Alicia, Pure Esper tingkat Infinity yang kekuatannya berasal dari rasi bintang. Sirhan, Magician pengguna Dark Magic yang bahkan ditakuti oleh kaumnya sendiri. Raga, Mutant tingkat Rare dengan tubuh yang mampu berevolusi hingga menjadi sekeras berlian. Dan Nerissa, seorang Alchemist yang menjadi penghubung di antara mereka. Mereka seharusnya bekerja sama. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar datang untuk berdamai. Ada yang ingin membuktikan bahwa kaumnya adalah yang paling unggul. Ada yang ingin membalas dendam. Ada yang menyembunyikan tujuan sebenarnya. Dan ada manusia yang sejak awal memanfaatkan kekacauan ini untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Karena perang melawan Primordial mungkin bukan satu-satunya perang yang sedang berlangsung. Di CROSSLINE, musuh tidak selalu berada di seberang garis. Kadang, mereka berdiri tepat di sampingmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala Cakrabuana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNIT 01 SERAPHIM
Pagi itu, aktivitas di Scientists City berjalan seperti biasa. Kendaraan pengangkut material keluar masuk kompleks penelitian, sementara para Scientist berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya membawa perangkat dan data penelitian.
Namun, di salah satu fasilitas yang berada cukup jauh dari pusat kota, suasananya jauh lebih sibuk.
Suara alarm terdengar dari ruang pengujian.
Di balik dinding transparan, sebuah arena simulasi yang luas terbentang di tengah fasilitas. Dua sosok berdiri berhadapan di dalamnya.
Sentinel.
Executor.
Keduanya memiliki bentuk humanoid, tetapi desain tubuh dan persenjataan mereka terlihat jauh lebih kompleks dibandingkan Destroyer, generasi pertama yang menjadi dasar pengembangan mereka.
Seorang Scientist berdiri di depan panel kontrol sambil memperhatikan data yang terus bergerak di layar.
“Semua sistem aktif.”
“Sinkronisasi?”
“Seratus persen.”
“Mulai pengujian.”
Pintu arena tertutup. Beberapa detik kemudian, sistem simulasi aktif.
Sentinel bergerak lebih dahulu.
Tubuh mekanisnya melesat ke depan dengan kecepatan tinggi. Beberapa unit persenjataan yang terpasang di tubuhnya bergerak mengikuti perintah sistem, mengubah posisi untuk menghadapi Executor.
Executor tidak menunggu.
Ia langsung menyambut serangan tersebut.
Benturan keras terdengar di seluruh arena.
Sentinel mundur beberapa meter sebelum kembali bergerak. Executor mengejarnya dan melancarkan serangkaian serangan dengan kekuatan lebih besar.
Di ruang kontrol, grafik mulai berubah.
“Executor meningkatkan output.”
“Sentinel menyesuaikan.”
“Respons adaptifnya semakin cepat.”
Salah satu Scientist memperbesar data. “Blueprint Destroyer memang memberikan hasil yang jauh lebih baik dari perkiraan.”
Di belakang mereka, seseorang berdiri memperhatikan seluruh proses.
Noah Veyron.
Tatapannya tetap tenang ketika melihat kedua Android bertarung. “Berapa lama mereka bisa mempertahankan output?”
“Untuk Sentinel, stabilitasnya masih sangat baik. Executor sedikit lebih boros energi.”
“Kemampuan adaptasinya?”
“Lebih cepat dibanding Destroyer.”
Noah kembali melihat arena.
Destroyer adalah awal dari pengembangan Android.
Sentinel dan Executor adalah hasil pengembangan berikutnya.
Namun, Project 3 tidak berhenti pada Android.
“Lanjutkan pengujian,” kata Noah.
“Dengan pola yang sama?”
“Tidak. Tingkatkan kesulitannya.”
Scientist di depan panel tampak ragu sesaat. “Kalau output dinaikkan lagi, mungkin akan ada kerusakan pada sistem.”
Noah menoleh. “Kalau sistemnya rusak sekarang, kita akan tahu bagian mana yang harus diperbaiki.”
Scientist itu mengangguk. “Baik.”
Parameter simulasi berubah. Dalam hitungan detik, arena kembali dipenuhi suara benturan.
Noah tetap berdiri di sana sampai pengujian selesai.
Beberapa waktu kemudian, kedua Android kembali ke posisi awal. “Pengujian selesai.”
Layar menampilkan hasil akhir.
Sentinel dan Executor masih berdiri.
Tidak ada kerusakan serius.
Noah melihat hasil tersebut. “Teruskan pengembangan.”
“Untuk Sentinel dan Executor?”
Noah berjalan meninggalkan ruang kontrol. “Untuk seluruh Project 3.”
Pintu di belakangnya tertutup. Beberapa lantai di bawah fasilitas utama, sebuah laboratorium lain sedang dipersiapkan.
Ruangan itu jauh lebih tenang.
Tidak ada arena pertarungan.
Tidak ada suara benturan.
Hanya suara mesin yang bekerja dan beberapa Scientist yang sibuk memeriksa perangkat di sekitar sebuah platform.
Di atas platform tersebut berdiri sebuah humanoid setinggi dua meter.
Bentuknya berbeda dari Sentinel maupun Executor.
Tubuhnya memiliki struktur armor yang lebih ramping, dengan perpaduan warna putih, hitam, dan emas. Di belakang tubuhnya terdapat sepasang struktur menyerupai sayap mekanis yang terlipat dengan rapi.
Bagian tengah tubuhnya memiliki sebuah inti energi yang masih dalam keadaan tidak aktif.
Seorang Scientist memeriksa layar di samping platform. “Aether Core sudah terpasang.”
“Bagaimana stabilitasnya?”
“Masih dalam batas aman.”
“Neural system?”
“Menunggu user.”
Di sisi lain ruangan, seorang perempuan berdiri memperhatikan humanoid tersebut.
Namanya Eira Voss. Ia mengenakan pakaian penelitian yang sederhana dan tidak membawa senjata apa pun. Tatapannya tetap tertuju pada tubuh Seraphim yang berdiri di hadapannya.
Seorang Scientist mendekat. “Eira. Perangkat transfer sudah siap.”
Eira mengangguk. “Berapa lama prosesnya?”
“Jika sinkronisasi berjalan normal, hanya memakan waktu beberapa menit.”
“Jika tidak?”
Scientist itu terdiam sejenak. “Kita hentikan sebelum transfer mencapai tahap penuh.”
Eira kembali menatap Seraphim. “Baiklah.”
Ia kemudian berjalan menuju sebuah kursi yang berada beberapa meter di depan platform.
Di belakang kursi tersebut terdapat beberapa perangkat penghubung dan monitor. Di bagian atasnya terdapat sebuah perangkat menyerupai helm dengan rangkaian sensor yang dirancang untuk membaca aktivitas otak dan menghubungkannya dengan sistem Seraphim.
Eira duduk.
Seorang Scientist memasangkan perangkat tersebut pada kepalanya. “Pastikan kamu tetap tenang selama proses.”
“Aku tahu prosedurnya.”
“Kesadaranmu akan dipindahkan sementara ke sistem Seraphim. Selama transfer berlangsung, tubuh aslimu akan tetap berada di sini.”
Eira menatap Seraphim melalui kaca pelindung. “Mulai saja.”
Scientist tersebut kembali ke panel kontrol. “Consciousness Transfer System siap.”
Lampu di sekitar ruangan berubah. Sistem Seraphim mulai aktif.
AETHER CORE: STANDBY
NEURAL INTERFACE: CONNECTED
USER: EIRA VOSS
Salah satu monitor menunjukkan aktivitas otak Eira. Garis-garis pada layar mulai bergerak semakin cepat.
“Mulai transfer.”
Perangkat di kepala Eira menyala. Pada saat yang sama, Aether Core Seraphim mulai berdenyut.
CONSCIOUSNESS TRANSFER: INITIATED
Eira memejamkan mata.
Tubuhnya tetap diam di kursi.
Para Scientist memperhatikan monitor.
“Transfer lima belas persen.”
“Dua puluh lima.”
“Empat puluh.”
Angka terus meningkat.
Seraphim masih berdiri tanpa bergerak.
“Enam puluh persen.”
Aktivitas pada monitor Eira berubah.
“Delapan puluh.”
Salah satu Scientist memperhatikan data dengan lebih serius. “Stabilitas?”
“Masih aman.”
“Lanjutkan.”
Angka mencapai sembilan puluh persen. Kemudian layar utama berkedip.
CONSCIOUSNESS TRANSFER: COMPLETE
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa detik tidak terjadi apa-apa. Lalu mata Seraphim menyala.
Kepalanya bergerak perlahan.
Seorang Scientist menatap layar dengan tidak percaya. “Berhasil.”
Seraphim menggerakkan tangan kanannya.
Gerakan itu tidak terlihat seperti respons mesin yang menjalankan perintah otomatis.
Gerakannya terlalu alami.
Jari-jari Seraphim bergerak satu per satu.
Kemudian kepalanya menoleh ke arah para Scientist.
Eira melihat mereka. Bukan dari tubuhnya sendiri. Ia melihat melalui Seraphim. “Suara kalian terdengar berbeda.”
Salah satu Scientist tersenyum tipis. “Karena gelombang suara yang ditangkap Seraphim berbeda dengan yang diterima manusia biasa.”
Eira mengangkat tangannya.
Seraphim melakukan gerakan yang sama.
Ia mengepalkan tangan.
Membuka kembali. Kemudian menggerakkan bahunya. “Responsnya cepat.”
“Neural synchronization berada pada tingkat sempurna.”
Eira mencoba melangkah.
Seraphim bergerak.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Tidak ada keterlambatan.
Tidak ada perbedaan antara perintah dan gerakan.
Eira berhenti di tengah ruangan. Ia melihat kedua tangannya sendiri. Tubuh yang sekarang ia gunakan bukan tubuh manusianya.
Namun setiap gerakan terasa seperti miliknya. “Jadi ini Seraphim.”
Seorang Scientist melihat data pada layar. “Prototype 01 berhasil menerima kesadaran user.”
“Berapa lama transfer bisa dipertahankan?”
“Belum diketahui.”
“Kalau begitu kita cari tahu.”
Eira menoleh. “Tes apa yang akan kita lakukan?”
Scientist tersebut membuka data pengujian. “Mobilitas, respons tempur, Aether Core, dan sinkronisasi penuh.”
Eira mengangkat kepala. “Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai.”
Sayap mekanis di belakang Seraphim perlahan terbuka.
Sistem kembali aktif.
SERAPHIM
ARMOR PROTOTYPE 01
USER: EIRA VOSS
Beberapa Scientist berdiri memperhatikan layar.
Tidak jauh dari sana, tubuh asli Eira masih terbaring diam di kursi transfer.
Sementara kesadarannya telah berada di tempat lain.
Di dalam Seraphim.
Dan untuk pertama kalinya, Project 3 tidak hanya memiliki manusia yang dimodifikasi atau mesin yang mampu bertarung.
Mereka memiliki sesuatu yang berada di antara keduanya.
Sebuah tubuh buatan yang dikendalikan oleh kesadaran manusia.
Unit 01 telah aktif.
Eira Voss bukan manusia biasa. Jauh sebelum namanya dikaitkan dengan Seraphim, tubuh Eira telah menjadi bagian dari penelitian Scientists.
Para Scientist menggunakan blueprint biologis Mutant sebagai dasar eksperimen. DNA manusia dimodifikasi untuk meningkatkan kemampuan tubuh tanpa memicu perubahan bentuk fisik seperti yang terjadi pada Mutant.
Hasilnya adalah manusia dengan kemampuan fisik yang jauh melampaui manusia normal.
Mereka menyebut hasil eksperimen tersebut sebagai High Human.
Eira memiliki daya tahan tubuh yang tinggi. Cedera yang membutuhkan waktu lama untuk pulih pada manusia biasa dapat dipulihkan tubuhnya dalam waktu yang jauh lebih singkat. Proses regenerasi selnya juga bekerja lebih cepat, membuat tubuhnya mampu bertahan terhadap tekanan fisik yang tidak dapat ditanggung manusia normal.
Namun, perubahan tersebut tidak membuat Eira kehilangan bentuk manusianya.
Tidak ada tanduk.
Tidak ada sayap biologis.
Tidak ada perubahan struktur tubuh seperti Mutant.
Secara fisik, Eira masih terlihat seperti manusia biasa. Hanya saja, tubuhnya telah melewati batas kemampuan manusia normal.
Seorang Scientist membuka data lama di layar. “Subjek Voss mempertahankan stabilitas genetik sampai sekarang.”
“Efek samping?”
“Tidak ada mutasi fisik.”
“Regenerasi?”
“Di atas standar manusia.”
Scientist tersebut mengganti halaman data. “Daya tahan tubuh juga meningkat secara signifikan.”
Di ruangan lain, Eira sedang menjalani pemeriksaan setelah pengujian sebelumnya.
Ia duduk dengan tenang ketika sebuah alat memindai tubuhnya.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada tanda kelelahan yang berarti.
Seorang Scientist memperhatikan hasil pemeriksaan. “Tubuhmu masih beradaptasi.”
Eira menatap layar. “Bukankah itu tujuan eksperimen ini?”
Scientist tersebut tidak langsung menjawab.
Eira berdiri. Ia mengambil jaketnya dan mengenakannya kembali. “Kalau tubuh ini memang dibuat untuk bertahan lebih lama daripada manusia biasa, aku tidak melihat dimana masalahnya.”
Scientist itu menatapnya. “Kamu berbeda dari subjek lainnya.”
Eira berhenti. “Dalam hal apa?”
“Mutant membutuhkan perubahan biologis yang lebih ekstrem untuk memperoleh kemampuan mereka. Kamu tidak.”
Eira hanya diam.
Scientist itu kembali melihat data. “Tubuhmu tetap manusia. Tetapi kemampuan biologisnya sudah melewati batas normal.”
Eira tidak menjawab. Ia hanya berjalan meninggalkan ruang pemeriksaan.
Di balik kaca, para Scientist kembali memperhatikan data miliknya.
SUBJECT: EIRA VOSS
CLASSIFICATION: HIGH HUMAN
GENETIC MODIFICATION: STABLE
PHYSICAL ENHANCEMENT: ACTIVE
REGENERATION FACTOR: HIGH
MUTATION: NONE
Namun ada satu data lain yang belum mereka masukkan ke laporan utama.
Eira bukan hanya dipersiapkan karena tubuhnya mampu bertahan terhadap proses transfer kesadaran.
Tubuhnya adalah alasan mengapa Scientists percaya bahwa ia dapat menjadi pengguna yang tepat untuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Seraphim.
Pemilihan Eira sebagai pengguna Seraphim bukan keputusan yang dibuat secara kebetulan.
Seraphim membutuhkan tubuh yang mampu bertahan terhadap proses transfer kesadaran dan tekanan yang dihasilkan oleh sistem Aether Core. Kesadaran manusia biasa dapat dipindahkan ke sistem, tetapi mempertahankan sinkronisasi dalam waktu lama merupakan persoalan yang berbeda.
Semakin tinggi output Seraphim, semakin besar tekanan yang diterima sistem saraf pengguna.
Karena itu, Scientists membutuhkan seseorang yang memiliki tubuh dengan kemampuan pemulihan dan daya tahan jauh di atas manusia normal.
Eira memenuhi seluruh kriteria tersebut.
Selain stabil secara genetik, High Human memiliki kemampuan regenerasi yang memungkinkan tubuh Eira mempertahankan kondisi fisiknya setelah proses transfer kesadaran berulang.
“Dengan tubuh seperti milik Eira, Seraphim bisa beroperasi lebih lama.”
Noah berdiri di depan layar yang menampilkan data Eira. “Berapa lama batasnya?”
Scientist di sampingnya membuka beberapa data pengujian. “Belum diketahui.”
Noah terdiam. “Kalau begitu kita cari tahu.”
Scientist tersebut menatapnya. “Dengan pengujian tempur?”
Noah mengangguk. “Iya, kita akan menggunakan Destroyer sebagai lawannya.”
Tidak lama kemudian, arena pengujian kembali digunakan.
Pintu besar terbuka.
Destroyer berjalan masuk dan berhenti di tengah arena.
Di sisi lain, Seraphim kemudian berdiri dengan Eira di dalam sistemnya.
Kedua sosok tersebut memiliki tinggi yang hampir sama, tetapi bentuk tubuh mereka menunjukkan perbedaan yang jelas.
Destroyer merupakan Android Gen 1.
Seraphim merupakan Armor Prototype 01 yang dikendalikan oleh kesadaran manusia.
Noah berdiri di ruang kontrol. “Mulai pengujian.”
Lampu arena menyala.
Eira menggerakkan tangan Seraphim. “Target?”
“Destroyer.”
“Baik.”
Destroyer langsung bergerak. Serangannya datang tanpa peringatan.
Seraphim mengangkat lengannya.
Benturan terdengar keras.
Eira terdorong beberapa langkah, tetapi tubuh Seraphim tetap berdiri.
“Daya tahan sesuai perkiraan,” ujar salah satu Scientist.
Destroyer kembali menyerang.
Kali ini Seraphim menghindar.
Eira mulai memahami pergerakan tubuh barunya.
Setiap gerakan terasa seperti tubuhnya sendiri. Ia berputar dan menghantam Destroyer hingga Android tersebut mundur beberapa meter.
Noah memperhatikan monitor. “Responsnya cepat.”
“Sinkronisasi Eira tetap stabil.”
Destroyer kembali maju. Sistem adaptasinya mulai bekerja. Pola gerakan Seraphim dianalisis.
Destroyer kemudian mengubah pola serangannya.
Eira menyadarinya. “Dia belajar.”
Noah mendengar suara Eira melalui sistem komunikasi. “Itu adalah kemampuan dari Destroyer.”
Seraphim mundur. Kemudian sebuah panel pada sisi tubuhnya terbuka.
Eira melihat sesuatu muncul dari sistem persenjataan.
Sebuah gagang pedang terbentuk di tangan Seraphim.
Namun tidak ada bilah di atasnya.
“Pedang?”
“Aktifkan Rune Core,” ucap salah seorang Scientist.
Eira mengaktifkan sistem. Aether mengalir dari Rune Core menuju gagang tersebut.
Dalam sekejap, sebuah bilah cahaya muncul.
Bentuknya menyerupai sebilah perdang.
Bilah tersebut tidak terbentuk oleh logam melainkan terbentuk dari laser berenergi tinggi yang dipadatkan oleh sistem Seraphim, dengan sumber energi berasal dari Rune Core.
Cahaya emas yang menyelimuti bilahnya bergetar tipis.
Eira mengangkat pedang tersebut.
Destroyer kembali menyerang.
Kali ini Eira bergerak lebih cepat.
Seraphim menebaskan pedangnya.
Destroyer berhasil menghindar, tetapi bagian pelindung lengannya tergores.
Salah satu Scientist langsung memperhatikan data. “Bilah berhasil menembus lapisan armor Destroyer.”
Noah tetap tenang. “Tetap lanjutkan.”
Destroyer meningkatkan output.
Serangannya semakin cepat.
Seraphim mulai menerima beberapa benturan.
Tubuhnya tetap bertahan.
Eira merasakan tekanan meningkat, tetapi sistem tubuhnya tidak menunjukkan penurunan stabilitas.
“Eira masih stabil.”
“Berapa output Seraphim?”
“Naik.”
“Transfer kesadaran?”
“Masih aman.”
Noah memperhatikan data tersebut. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit.
Bukan karena Seraphim memiliki kekuatan yang luar biasa. Melainkan karena Eira mampu mempertahankan sinkronisasi ketika output terus meningkat.
Itulah alasan sebenarnya dia dipilih.
Bukan hanya karena Seraphim membutuhkan seseorang yang kuat.
Seraphim membutuhkan seseorang yang mampu bertahan ketika tubuh dan kesadarannya dipaksa melampaui batas manusia normal.
Dan Eira adalah salah satu dari sedikit manusia yang memenuhi persyaratan tersebut.
Di arena, Eira menggenggam pedang energi itu lebih erat.
Destroyer kembali bergerak.
Seraphim mengambil posisi.
Pengujian belum selesai.
Pertarungan terus berlanjut.
Destroyer tidak memberikan kesempatan bagi Seraphim untuk mengatur jarak. Sistem adaptasinya bekerja tanpa henti, membaca setiap gerakan Eira dan menyesuaikan pola serangannya.
Seraphim mengangkat pedang energinya.
Bilah yang terbentuk dari energi Rune Core kembali beradu dengan persenjataan Destroyer.
Dentang keras memenuhi arena.
Destroyer mundur.
Seraphim mengejar.
Namun kali ini Destroyer membuka beberapa panel pada tubuhnya. Energi mulai terkumpul di bagian persenjataannya.
Noah memperhatikan perubahan tersebut dari ruang kontrol. “Dia mengganti sistem senjata.”
Salah satu Scientist mengangguk. “Destroyer menggunakan persenjataan berbasis energi.”
Sebuah tembakan energi melesat.
Eira menghindar.
Seraphim bergerak ke samping, lalu kembali maju dengan kecepatan tinggi.
Destroyer menembakkan energi lainnya.
Eira memutar tubuh Seraphim dan menebaskan pedangnya.
Bilah energi menghantam serangan Destroyer di udara.
Ledakan kecil terjadi di antara keduanya.
Gelombang energi menyebar ke seluruh arena.
Kaca pelindung ruang pengujian bergetar.
Retakan kecil mulai muncul.
“Tekanan energi meningkat!”
“Perkuat sistem pengaman!”
Para Scientist segera mengaktifkan pengaman tambahan.
Di dalam arena, pertarungan semakin cepat.
Destroyer terus beradaptasi.
Setiap kali Eira mengubah pola gerakan, Destroyer menyesuaikan diri.
Namun Seraphim tetap mampu bergerak lebih cepat.
Eira mengayunkan pedangnya.
Destroyer menahan dengan senjata energinya.
Benturan berikutnya jauh lebih kuat.
BRAK!
Retakan pada kaca semakin melebar.
Beberapa Scientist mulai mundur dari panel. “Struktur arena tidak akan bertahan kalau mereka terus meningkatkan output!”
Noah masih memperhatikan pertarungan.
Destroyer kembali menyerang.
Seraphim menghindar dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat.
Dalam satu gerakan, Eira sudah berada di belakang Destroyer.
Pedang energinya terangkat.
Namun sebelum serangan berikutnya terjadi, suara pintu ruang kontrol terbuka.
Semua orang menoleh.
Adrian Veyron masuk. Ia melihat layar utama yang menampilkan pertarungan tersebut. “Cukup.”
Perintah itu langsung terdengar melalui sistem komunikasi. “Pengujian dihentikan.”
Eira menghentikan gerakan Seraphim.
Destroyer juga berhenti.
Pedang energi di tangan Seraphim perlahan menghilang ketika aliran dari Rune Core dihentikan.
Adrian berjalan mendekati panel utama. “Seraphim masih dalam tahap pengembangan.”
Seorang Scientist mengangguk.
Adrian memperhatikan data pertempuran. “Kalau pengujian diteruskan, Destroyer akan semakin sulit mengimbanginya.”
Noah menatap layar. “Kemampuan adaptasi Destroyer tidak memiliki batas bukan?”
“Adaptasi bukan berarti selalu lebih cepat.” Adrian menunjuk grafik pergerakan Seraphim. “Destroyer memang akan terus membaca dan menyesuaikan diri terhadap lawannya. Namun Seraphim memiliki keunggulan pada kecepatan respons dan pergerakan.”
Ia melihat data Eira. “Selama sinkronisasi tetap stabil, Eira dapat mengubah gerakan Seraphim sebelum sistem Destroyer selesai beradaptasi.”
Noah diam.
Adrian melanjutkan. “Kalau pertarungan tadi diteruskan, Destroyer mungkin masih bisa bertahan.”
Ia berhenti sejenak. “Tetapi kemungkinan besar dia akan kalah dalam kecepatan.”
Di arena, Eira masih berdiri dalam tubuh Seraphim. Ia menatap Destroyer dari kejauhan.
Pengujian selesai.
Namun data yang mereka dapatkan jauh lebih penting daripada hasil pertarungan itu sendiri.
Seraphim masih belum selesai dikembangkan.
Dan bahkan dalam kondisi tersebut, Destroyer sudah mulai kesulitan mengejarnya.
Setelah pengujian dihentikan, aktivitas di ruang penelitian kembali berjalan seperti biasa. Para Scientist mulai memeriksa kerusakan pada arena dan memastikan seluruh sistem keamanan kembali normal.
Seraphim dikembalikan ke platformnya.
Kesadaran Eira perlahan dipindahkan kembali ke tubuh aslinya melalui perangkat transfer. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka.
Di ruang kontrol, Noah masih berdiri di depan monitor.
Adrian berada di sampingnya.
“Seraphim berhasil melewati pengujian pertama,” ujar Noah.
“Dan masih banyak yang harus diperbaiki,” jawab Adrian.
Noah melihat data pertempuran yang masih tersimpan di layar. “Kalau dikembangkan lebih jauh, kemampuannya akan meningkat.”
“Begitu juga Sentinel dan Executor,” Adrian kemudian mengalihkan pandangan ke layar lain.
Bukan lagi data Project 3. Sebuah peta jaringan bawah tanah muncul di sana.
Beberapa wilayah ditandai dengan simbol berbeda.
Noah mengenali simbol tersebut. “Syndicate.”
Adrian mengangguk. “Mereka semakin besar. Council sudah membahasnya, tetapi belum memberikan izin untuk tindakan langsung.”
Noah terdiam.
Adrian mematikan sebagian tampilan peta. “Namun itu bukan berarti masalahnya selesai.”
Noah menatapnya. “Apa rencana ayah?”
Adrian tidak langsung menjawab. Ia melihat kembali ke arah ruang pengujian, tempat Seraphim masih berdiri dalam keadaan tidak aktif. “Project 3 dibuat untuk menghadapi ancaman yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa.”
Noah memahami maksudnya. “Jadi ayah ingin menggunakan mereka?”
“Iya, tapi belum saatnya.” Adrian berjalan meninggalkan panel. “Tapi kalau Syndicate terus berkembang, suatu saat kita mungkin tidak punya pilihan.”
Noah mengikuti langkahnya. “Operasi pembersihan?”
Adrian berhenti di depan pintu. “Ya.”
Hanya satu kata.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Noah tidak bertanya lagi.
Adrian membuka pintu dan keluar dari ruangan.
Di belakang mereka, layar peta Syndicate masih menyala. Beberapa simbol tetap berkedip di antara jaringan bawah tanah Nexoria.
Belum ada serangan.
Belum ada perang.
Namun keputusan sudah mulai terbentuk di dalam Scientists City.
Dan sementara Project 3 terus berkembang, Syndicate masih belum mengetahui bahwa sebuah rencana sedang perlahan diarahkan kepada mereka.