Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
[TING!]
[Misi Membalikkan Opini Publik telah selesai secara absolut.]
[Publik telah memberikan hukuman sosial yang mematikan pada pihak musuh.]
[Kemampuan Manipulasi Suara Instrumental telah aktif seutuhnya.]
Stevan menatap layar biru sistem itu dengan perasaan puas karena rencananya berjalan jauh lebih mulus dari yang ia bayangkan.
Brak!
Suara kaleng sampah besi yang ditendang dengan sangat keras langsung memecah ketenangan taman kampus tersebut.
Clara tersentak kaget dan refleks bersembunyi sedikit di balik bahu tegap Stevan.
Dari arah jalan setapak, Dion berjalan terhuyung-huyung mendekati mereka dengan penampilan yang sangat berantakan dan bau alkohol.
Rambut pemuda itu acak-acakan, kemejanya kusut masai, dan matanya merah menyala dipenuhi oleh kebencian serta keputusasaan absolut.
"Stevan! Ini semua gara-gara kau, dasar bajingan bertopeng!" teriak Dion dengan suara serak yang menggema.
Beberapa mahasiswa di sekitar taman langsung menoleh kaget dan mulai merekam kejadian itu menggunakan kamera ponsel mereka.
Stevan tetap duduk santai di bangkunya, menyilangkan kakinya, dan sama sekali tidak merasa terancam dengan kedatangan musuhnya itu.
Dion berlari mendekat dan mencoba menarik kerah kemeja Stevan dengan gerakan yang sangat kasar.
Grep.
Tangan kiri Stevan bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Dion di udara sebelum sempat menyentuh bajunya.
Berkat Keahlian Bela Diri Jarak Dekat dari sistem, tenaga Dion saat ini terasa selembek tenaga anak balita bagi Stevan.
"Lepaskan tanganku, si bisu sialan!" jerit Dion sambil meronta-ronta dengan panik.
Stevan memelintir sedikit pergelangan tangan itu ke arah bawah, membuat Dion meringis kesakitan dan terpaksa berlutut di tanah.
Stevan melepaskan cengkeramannya, lalu merogoh ponselnya dengan tangan kanan dan mengetik dengan sangat cepat.
Ia menyodorkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Dion yang sedang berlutut menahan sakit.
"Kau menghancurkan dirimu sendiri dengan tanganmu, Dion," bunyi tulisan di layar ponsel tersebut.
Dion membaca kalimat itu dan meludah ke tanah dengan penuh amarah yang tidak berdaya.
"Kau menjebakku! Kau yang merencanakan semua kehancuran ini dari awal kan?!" teriak Dion menuduh tanpa malu.
Stevan tersenyum sangat tipis dan mengejek di balik masker medis hitamnya.
Ia menarik ponselnya dan mengetik lagi dengan sangat santai seolah sedang berbicara dengan orang bodoh.
"Aku hanya membiarkan keserakahan dan kesombonganmu menelan karirmu bulat-bulat."
"Kau mencuri posisiku saat aku hancur, dan mencoba menikamku dari belakang demi panggung murahan itu."
"Sekarang, rasakan sendiri bagaimana rasanya dibuang seperti sampah oleh dunia yang dulu memujamu."
Air mata keputusasaan perlahan mulai menggenang di pelupuk mata Dion yang merah.
Karirnya sudah mati, kekasihnya meninggalkannya, dan sekarang ia telah resmi menjadi musuh publik nomor satu.
"Aku akan membunuhmu, Stevan! Aku akan menghancurkan tanganmu!" teriak Dion kehilangan akal sehat sambil mencoba bangkit dan melayangkan pukulan lurus.
Bugh!
Stevan bahkan tidak perlu repot-repot berdiri dari tempat duduknya untuk membalas.
Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari pukulan lambat itu, lalu memberikan tendangan telak tepat di ulu hati Dion.
Tubuh Dion terlempar ke belakang dan berguling di atas rumput taman kampus sambil terbatuk-batuk mencari udara.
Stevan mengetik satu kalimat pendek dan menunjukkan layarnya lagi dari kejauhan.
"Kau bahkan tidak bisa memukul orang cacat yang sedang duduk minum kopi."
Beberapa mahasiswa yang menonton kejadian itu mulai tertawa mengejek melihat betapa menyedihkannya mantan idola kampus mereka.
"Hei, bukankah itu Dion yang sombong itu? Kenapa dia menyerang Zero?" bisik seorang mahasiswi sambil merekam.
"Iya, kudengar labelnya baru saja memecatnya karena dia ketahuan menyewa buzzer penipu itu."
Bisikan-bisikan pedas dari para mahasiswa itu terdengar sangat tajam di telinga Dion.
Semua rasa bangganya selama ini telah hancur berkeping-keping tanpa menyisakan sedikit pun harga diri.
Ia hanya bisa menundukkan kepalanya, memukul-mukul tanah berumput itu sambil menangis sesenggukan layaknya anak kecil yang kehilangan mainan.
Stevan berdiri dari kursinya dengan elegan, merapikan debu di celananya, lalu menoleh ke arah Clara yang masih terdiam.
"Ayo kita pergi dari sini, udara di taman ini tiba-tiba menjadi sangat bau sampah," ketik Stevan untuk Clara.
Clara menganggukkan kepalanya kuat-kuat dan mengikuti langkah Stevan meninggalkan taman tersebut tanpa menoleh lagi.
Gadis itu menatap punggung tegap Stevan dengan kekaguman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata manusia biasa.
Pria bisu ini baru saja meruntuhkan seorang bintang yang sedang naik daun hanya dengan alunan musik dan kecerdasannya yang mengerikan.
Di belakang mereka, Dion masih meratapi nasibnya yang hancur lebur di hadapan puluhan kamera mahasiswa yang terus menyorotnya.
Balas dendam Stevan tahap pertama pada sahabat pengkhianatnya telah selesai dengan sangat sempurna.
Namun, mata Stevan kini menatap jauh ke depan, menuju panggung final Festival Musik Nusantara yang semakin dekat.
Masih ada satu target besar lagi yang harus ia hancurkan hingga rata dengan tanah sebelum ia puas.
Label Mega Bintang Sejahtera dan juri korup Pak Barata tidak akan ia biarkan lolos begitu saja dengan cuci tangan.
Kerajaan musik barunya akan segera lahir, dan pondasi kekuatannya akan dibangun tepat di atas puing-puing kehancuran musuh-musuhnya.