Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu Yang Tak Bisa Dibeli Dengan Uang
♥️♥️♥️
Elisa kembali menjalani hidupnya seperti semula, atau setidaknya mencoba. Untuk urusan rumah sakit, Tante Rita ternyata menepati janji. Uang muka yang ia janjikan malam itu sudah ia transfer sebelum Elisa dikirim ke hotel. Jadi untuk seminggu ini, tagihan Ibu Utami aman.
Pagi kuliah, siang sampai malam ia menjaga ibunya di Rumah Sakit. Ia menyuapi, memijat kaki ibunya, bercerita tentang kejadian apa saja yang dilalui hari itu. Untuk sesaat, dia melupakan kejadian malam itu.
"Bu ... cepat sehat ya. Biar bisa pulang. Sepi di rumah tidak ada ibu ... Lisa juga kangen masakan ibu," gumam Elisa saat malam menjaga ibunya. Sendirian, hanya berdua saja dengan ibunya.
Saat itu, ibunya tertidur lelap.
Bu Utami sempat membaik. Bahkan sudah bisa tertawa kecil melihat tingkah polos Elisa.
"Kamu sekarang sudah dewasa ... mandiri. Maaf ya, Lisa ... ibu jadi beban untuk mu."
Lisa menggeleng cepat. "Bu.. jangan ngomong begitu. Ibu bukan beban, tetap di sisi Lisa. Temani Lisa ... Lisa kan cuma punya ibu," ucapnya sendu.
Bu Utami menatap putrinya dengan tatapan sedih. Entah seberat apa beban yang dipikul sang anak. Biaya perawatan pasti banyak.
"Ibu harus sembuh, jangan mikirin yang nggak ... nggak."
Bu Utami mengangguk pelan. Elisa tersenyum di depan sang ibu, seolah semuanya baik-baik saja, ia telah menyembunyikan semua cerita tentang kamar 4208.
Pagi itu Elisa dibuat panik.
Senin pagi, 04.12 WIB.
Detak jantung di monitor melambat. Dokter dan perawat berlarian masuk.
Elisa hanya bisa berdiri di sudut ruangan, memanggil ibunya berulang-ulang.
"Bu... Ibu... jangan tinggalin Lisa... Bu..."
Pukul 04.27, dokter menatap Elisa dengan tatapan yang sudah ia takutkan sejak dua minggu lalu.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Mbak Elisa. Ibu sudah tidak sakit lagi."
Dunia Elisa runtuh untuk kedua kalinya.
Pengorbanan, rasa malu, malam di hotel itu, semua yang ia lakukan demi melihat ibunya sembuh, ternyata sia-sia. Ibunya tetap pergi.
(Tidak adil ... ini tidak adil!)
Elisa berjalan lambat mendekati ranjang, terlihat wajah ibunya yang sudah pucat. Air matanya tumpah tanpa suara tangis di bibirnya. Matanya nanar, merah, air terus menetes tanpa bisa ditahan.
(Bu ... lalu dengan siapa lagi aku hidup? Bu .. . ibu janji kan. Temani Lisa ... Bu ... bangun ... ayo bangun Bu. Lisa tidak punya siapa-siapa lagi)
Lisa memeluk jenasah sang ibu, tubuhnya bergetar menahan tangisnya. Salah satu perawat mengusap punggungnya.
"Yang sabar ya, Mbak."
(Sabar? Sejak kecil aku kehilangan sosok bapak. Sekarang .... ibu satu-satunya juga diambil. Aku benar-benar harus bersabar seperti apa?)
Elisa mulai tenang, tapi tatapannya kosong.
Pemakaman itu sepi. Hanya ada Elisa, beberapa tetangga kos, dan Susan, satu-satunya teman kampusnya yang memeluknya erat.
"Yang sabar ya, Lis... Ibu kamu sudah tenang di sana."
Elisa menatap sekilas temannya, lalu wajahnya kembali murung. Tatapan kosong, seperti raga tanpa nyawa.
Beberapa waktu setelah balik dari pemakaman.
Tinggal Elisa sendiri sekarang. Benar-benar sendiri di kos sempit itu. Tidak ada lagi aroma harum masakan sederhana ibu. Tidak ada lagi yang melipat baju di depan TV. Tidak ada lagi pelukan hangat untuknya. Lisa terdiam, memeluk foto ibunya di Hp sampai tertidur dengan air mata yang telah mengering di pipinya.
Di sisi lain kota.
Sudah satu bulan.
Apartemen Luxury The Regent, lantai 42.
Anggara berdiri di tempat yang sama seperti malam itu, menatap kota. Tapi pikirannya tidak lagi tentang pekerjaan.
Gadis dengan wajah tanpa make-up, yang meringkuk ketakutan sambil memegang kerah bath robe itu, terus terngiang di kepalanya.
Biasanya, setelah transaksi selesai, semuanya selesai. Tidak ada nama, tidak ada ingatan. Tapi Elisa berbeda. Ia memberikan kesan yang tidak bisa Anggara hapus.
"Alex."
"Ya, Pak Garra?"
"Gadis yang malam itu ... Elisa."
Alex mengangguk. "Saya sudah cari, Pak. Sesuai instruksi Bapak, saya sudah ke alamat kos yang diberikan Rita. Kosnya sudah kosong. Nomornya tidak aktif. Kampusnya, katanya dia cuti setelah ibunya meninggal."
Anggara mengepalkan tangannya pelan di balik kaca.
Ibunya meninggal? Jadi gadis itu sekarang sendirian?
"Terus cari," ucap Anggara pelan tapi tegas. "Lewat Rita kalau perlu. Tanya teman kampusnya. Bayar berapa pun."
"Baik, Pak..."
Untuk pertama kalinya dalam hidup Anggara, yang selalu bisa mendapatkan apa pun dengan uang, ia merasa ada satu orang yang tidak bisa ia beli, dan karena itu, ia tidak bisa berhenti mencarinya.
♥️♥️♥️
Tinggalkan komen BESTie...
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,