Indonesia
NovelToon NovelToon
In Life

In Life

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:272.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: One-di Chainel

Judul : In Life

Genre : Comedy, Clise of Life, School, Romance.

Latar tempat : Jepang.

Alur : Belum Jelas



Akan terdapat perbedaan budaya dan nama tokoh dengan negara Indonesia.

Langsung saja...

Sinopsis

Cerita berpusat pada seorang pemuda penyendiri bernama Tsukira Watari yang beranggapan bahwa hubungan antar manusia adalah sesuatu yang buruk.
Karena Khawatir dengan pergaulan Watari, wali kelasnya, Hirutsiko Sensei menghukumnya dengan menyuruhnya bergabung dalam sebuah klub relawan, dengan harapan ia dapat merubah sikapnya.

Apakah Tsukira Watari akan berubah menjadi orang yang lebih terbuka, atau malah tetap menjadi seorang penyendiri?

Original Story: Watari Wataru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon One-di Chainel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 - Jalan yang di pilih Shirohaki

Tepat setelah Hiyuki menyinggung hawa kebaradaanku yang hampir mendekati 0% Yui menyela selagi ia duduk dikursi.

"Yah, kau tahu. Pakaian kita hari ini berbeda, jadi kurasa itu bukan karena Tsukki."

Hiyuki dan Yui duduk berseblahan, dengan aku yang duduk di samping kiri Hiyuki.

"Kami menemukanmu, Shirohaki-Shiro-san," ujar Hiyuki.

Mimik wajah Shirohaki berubah. "Haruno Hiyuki…" Ekspresinya seperti seseorang bertemu dengan musuh bebuyutannya. Wajahnya terlihat jelas garang.

Meski aku ragu mereka berdua pernah berinteraksi dengan satu sama lain, Hiyuki itu wajah yang terkenal di sekolah kami. Aku rasa ada orang yang tidak begitu senang dengan dia dari caranya muncul dan jenis kepribadiannya itu.

"Selamat malam."

Entahpun dia sadar ataupun tidak pada perasaan Shirohaki-san, Hiyuki mengutarakan sapaan standar pada malam hari dengan kalem.

Mereka berdua saling bertukar pandang. Perbedaan mereka seperti siang dan malam. Aku mendapat perasaan ada percikan-percikan. Menakutkan.

Mata Shirohaki-san menyipit dengan tajam selagi dia menuangkan minuman untuk Yui. Bersama dengan Hiyuki.

"Halo, apa kabar…?" sapa Yui dengan lemah, seakan tidak tahan akan tekanannya.

"Yui… Aku tidak mengenalmu untuk sesaat. Jadi apa pria ini juga murid dari SMA Chiba.?"

"Uh, ya," jawab Yui. "Dia Tsukki dari kelas kita, Tsukihara Watari."

Ketika aku menganggukan kepalaku untuk membenarkan, Shirohaki-san menghela dan tersenyum pasrah.

"Begitu ya, jadi kalian memergokikku."

Shirohaki-san mengangkat bahunya seakan ia tak ada apapun yang perlu disembunyikan. Melipat lengannya, ia bersandar ke dinding. Tindakan itu menandakan bahwa mungkin perihal kedoknya terbongkar ini menganggunya lebih dari apa yang ditunjukkannya. Ia menghasilkan kesan lesu, persis seperti yang dilakukannya di sekolah, dan setelah dia menghela letih, dia memandang ke arah kami.

"…kalian mau minum?"

"Aku pesan Perrier," ucap Hiyuki sebagai jawabannya. Aku bahkan tidak tahu sama sekali apa itu Perrier.

"A-Aku pesan minuman yang sama dengannya!" aku berencana mengatakan itu, tapi Yui mendahuluiku.

Aku mengerang, merasa geram. Yang benar saja, apa yang sebaiknya kukatakan?

"Tsukihara, benar? Bagaimana denganmu?"

Untuk menghindari situasi seperti ini, sebaiknya aku memesan minuman yang biasa saja.

"Aku pesan MAX Co…"

"Dia pesan ale jahe kering," Hiyuki memotong di tengah kalimatku.

Dengan senyum masam dan kata "Aku mengerti," Shirohaki-san menyiapkan tiga gelas aluminium dan menuangkan minuman dengan mahirnya sebelum meletakkannya ke atas tatakan gelasnya. Entah mengapa, tanpa mengatakan sepatah katapun, kami akhirnya meletakkan gelasnya ke bibir kami pada saat yang sama dengan satu sama lain.

Kemudian setelah berhenti sejenak, Hiyuki berkata, seakan mengingat sesuatu, "Aku yakin mereka tidak menyediakan Kopi MAX disini."

"Woi… yang benar saja!? Tapi ini Chiba."

Chiba tanpa Kopi MAX bukan lagi Chiba, oke? Bahkan ada Kopi MAX di pegunungan nan jauh di sana.

"Yah, kami menyajikannya," gugam Shirohaki-san dengan malas, membuat Hiyuki melihatnya dengan tajam. Mengapa mereka berdua tidak akur bisa dengan satu sama lain? Menakutkan.

"Jadi untuk apa kalian datang kemari? Jangan beritahu aku kalian sedang berkencan dengan benda itu?"

"Jangan bilang. Jika kau sedang membicarakan tentang benda di sampingku ini, selera humormu benar-benar buruk."

"Hoi… disini kalian berdualah yang berdebat, bisa tolong jangan menghinaku didalamnya.?"

Aku benar-benar tidak terkesan disebut sebagai sebuah benda. Percakapan mereka berdua sepertinya tidak akan sampai kemanapun, jadi aku memutuskan untuk langsung masuk ke intinya.

"Aku dengar kau pulang ke rumah begitu larut akhir-akhir ini. Apakah itu karena pekerjaan sampinganmu ini? Adik kecilmu sedang mengkhawatirkanmu."

Mendengar itu, Shirohaki tersenyum dengan tampang mengolok samar di wajahnya, namun itu ditutupi oleh kejengkelannya.

"Kau datang jauh-jauh kemari hanya untuk mengatakan itu? Kerja bagus. Kau tahu, apa kau benar-benar berpikir aku akan berhenti hanya karena ada pria yang tak kukenal ataupun perduli mengatakan itu padaku?"

Shirohaki tiba-tiba berkata lagi.

"Ooooh, jadi alasan kenapa aku merasa keadaan di sekitarku sudah mulai agak menjengkelkanku akhir-akhir ini itu karena kalian. Kuroishi mengatakan sesuatu pada kalian? Aku tidak tahu bagaimana dia mencoba mengarangnya, tapi aku akan berbicara padanya, jadi jangan khawatir." Dia berhenti sejenak. "Asal kau tahu, Kuroishi tidak ada hubungannya dengan ini."

Shirohaki-san terang-terangan menatap tajam padaku. Dia kurang lebih berkata jangan ikut campur dengan urusanku. Tapi Hiyuki bukanlah jenis orang yang menyerah setelah menemui kesulitan.

"Ada alasan bagimu untuk berhenti." Hiyuki memalingkan pandangannya dari Shirohaki ke arloji di tangan kirinya, melihat waktu. "10:40… jika kau itu Cinderella, kau hanya punya sisa satu jam lagi sebelum sihirmu habis."

"Jika sihirku sudah mau habis, hanya ada akhir bahagia yang menungguku, bukankah begitu?"

"Aku tidak tahu tentang itu, Putri Duyung Kecilku. Aku yakin hanya ada akhir buruk yang menunggu di depanmu."

Pembawaan percakapan mereka membuat orang tidak berani memotong, seakan untuk mengimbangi suasana keseluruhan dalam bar itu. Mengulang kalimat menyindir serta menghina merupakan hobi orang golongan atas. Tapi serius, mengapa mereka berdua tidak bisa akur? Bukankah ini yang pertama kalinya mereka saling berbicara pada satu sama lain? Mereka berdua. Menakutkan.

Seseorang menepuk bahuku dan terus menerus berbisik pada telingaku, mengalihkanku dari pemikiranku.

"Hei, Tsukki. Apa yang sedang mereka berdua bicarakan?"

Oh, Yui. Aku bisa benar-benar merasa tenang dengan seorang rakyat jelata sepertimu disini…

UU Standar Ketenagakerjaan melarang anak di bawah umur untuk bekerja melewati jam sepuluh malam. Dengan bekerja bahkan pada jam ini, Shirohaki-san sedang memakai sihir yang dinamakan KTP ilegal. Dan sihir itu akan habis jika Hiyuki membeberkannya keluar.

Namun Shirohaki-san masih tak gentar seperti biasa.

"Jadi kau tidak ada keinginan untuk berhenti?" Hiyuki menekannya.

"Hm? Tidak," kata Shirihaki-san dengan santai selagi dia mengelap sebuah botol sake dengan kain. Kemudian dia berhenti sejenak. "Yah, kalaupun aku memutuskan untuk berhenti bekerja di sini, aku selalu bisa mencari pekerjaan di tempat lain."

Hiyuki mengaduk Perry-nya (…atau itu Harris? aku lupa namanya) dengan gelisah, seakan dia merasa sedikit kesal akan kelakuan Shirohaki-san.

Dalam suasana meresahkan dan tidak ramah ini, Yui membuka mulutnya dengan gugup.

"Um, kau tahu… Shirohaki-san, mengapa kau harus bekerja di sini? Maksudku, seperti, aku juga mencari pekerjaan sampingan ketika aku tidak punya uang, tapi itu tidak seperti aku berbohong mengenai usiaku dan bekerja di malam hari…"

"Tidak ada alasan… Aku hanya perlu uangnya."

Yah, kurasa begitulah cara kerjanya. Uang selalu menjadi alasan utama untuk bekerja. Ada orang yang melakukannya karena semua orang yang lain juga melakukannya atau karena mereka tidak bisa hidup tanpa bekerja, tapi aku tidak akan pernah mengerti tipe-tipe orang itu.

"Oh, ya, Aku mengerti apa yang kau maksud," mulaiku dengan santai.

Ekspresi Shirohaki-san langsung mengeras.

"Aku tidak ingin mendengar apapun dari orang yang menganggap bekerja adalah untuk kalah. Kau ini benar-benar bodoh ya."

Gawat, kenapa dia bisa tau isi dari laporan Karya Wisata tempat kerjaku. Apa jangan-jangan saat di kelas…!

1
Kazuma
lah ini persis OREGAIRU
Nadinta
ano kak, sinopisnya Tsukira Watari tapi bukannya namanya Tsukihara Watari?
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hallo, kak. aku pengisi suara di novel ini. semoga suka ya. maaf jika banyak kekurangan
SyaSyi
keren kk critanya
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Nagisa
hore
Yeni Eka
Like
Yeni Eka
Lanjut Like
Yeni Eka
Like lagi
Yeni Eka
Like
Yeni Eka
Semangat
Yeni Eka
Like
FaizLovely
oregairu versi novel kah? persis amaat
OP_PRO
semangat kakak, meskipun udah tamat jangan berhenti menulis. ditunggu karya barunya dan feedback-nya 😊
nazaruddin thamrin
3 Like tertinggal mendarat. Semangat thor. Fresh Nazar mendukungmu. Ditunggu LIKE dan KOMEN mu ke novel HOT MAN ON CAMPUS. kita saling support terus ya.
Adel
suka deh...

☺☺
Adel
like...😄😄
Reo Ruari Onsiwasi
lanjut thor💝
•§¢•𝙺ͣ𝙰ͬ𝚁ͩ𝙸ͥ𝙸𝙽ͣ⒋ⷨ⚤
dak like kk
Anindyta
lanjut💓
makin seru thorr
semangat💪🏻


Yeni Eka
Hai ka lima Like untukmu. Fedback ya ka ke karyaku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!