Indonesia
NovelToon NovelToon
AMNESIA: Return My Own

AMNESIA: Return My Own

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Persahabatan / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: K_Alita

Terlahir dari campuran darah suci dan kotor. Lixe mendapatkan hinaan dari Suku Van yang suci. Juga kebencian karena memiliki darah penjahat legendaris Lyde.
Kedua orangtuanya tewas di tangan orang-orang yang mereka sayangi. Demi keselamatannya, Lixe dipaksa ayahnya pergi.
Suatu tragedi terulang. Dengan kekuatan yang diberikan seorang gadis, yang akan melindunginya dalam perjalanannya, dia berhibernasi.
Dua belas tahun kemudian....
Lixe terbangun, memulai kehidupan baru, bertemu orang-orang baru. Hingga dia sadar, bukan hanya kehormatannya yang hilang dari hidupnya. Tapi juga sebuah kepingan memori. Kenangan abu-abu yang pernah ia alami.
Tujuan hidupnya berganti, lebih luas. Yakni mendapatkan segala yang hilang dalam hidupnya. Bersama mereka yang bernasib sama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K_Alita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penemuan

Bal keluar dari kamar Zenith loyo. Matanya masih terasa berat. Zenith mengusirnya keluar dengan alasan dia yang mau mandilah, ganti baju lah, apalah. Bal tidak memahami nama-nama yang disebutkan Zenith.

"Apaan sih. Mandi ya tinggal mandi, ganti baju di kamar mandi. Toh kamar mandinya ketutup rapatkan. Lagian aku gak minat lihat tubuh Kak Zenith," keluhnya dalam hati.

Bal memasuki lift yang terbuka. Membiarkan tubuhnya jatuh dan tidur di lantai Lift.

"Kok udah bangun? Ini kan baru pukul 3.30," tanya Lixe yang duduk bersandar di dinding lift. Dua manusia itu setengah tidur di dalam lift. Sama-sama menguap lebar. Membiarkan lift diam dengan pintu terbuka lebar.

Bal tidak menjawab. Dia tahu Lixe juga terpaksa bangun gara-gara dapat panggilan lewat mimpi dari pamannya untuk segera menemui.

Alih-alih menemui Raja, Lixe malah tidur di dalam lift saat hendak turun ke lantai dasar. Sayangnya dengan setengah kesadarannya dia justru menekan tombol naik dan sampai di lantai kamar Zenith.

"Bangun!" seru seseorang mengagetkan. Lixe dan Bal spontan membuka mata. Sama-sama langsung berdiri. Ternyata, Zenith.

"Aku kira Paman Zack," gumam Lixe. Lalu kembali bersandar di dinding lift, membiarkan tubuhnya merosot. Tapi Zenith tidak akan mengizinkannya. Gadis itu menarik lengan Lixe. Memaksanya berdiri.

"Ini sudah pukul delapan!" Zenith menampilkan jendela hologram di depan wajah Lixe. Sukses, mata Lixe membulatkan. Dia sudah terlambat menemui raja.

"Kakak mandi lima jam?" tanya Bal dengan polosnya. Zenith mengangkat tangan, bersiap memukulnya. Bal memalingkan wajah.

Zenith mengendus kesal. Dia menekan tombol lift. Lift itu menutup pintunya. Meluncur turun ke lantai dasar.

"Aku bertaruh kau belum mandi." Lixe mengangguk seraya menguap.

Zenith menekan salah satu tombol lift. Lift itu berhenti mendadak. Lixe dan Bal serempak hampir jatuh ke lantai, terkejut. Pintu lift terbuka di lantai tempat kamar Lixe.

"Cepat mandi! Atau mau aku mandikan?!"

Dengan matanya yang sipit Lixe mengangguk dan tersenyum nakal, "Boleh."

Zenith mendorongnya keluar. Zenith menoleh pada Bal. Bal tidak percaya, Zenith akan menyuruhnya mandi.

Cepat! Zenith melotot.

Bal mengangguk pasrah. Ikut keluar.

***

Setibanya di Istana Zecda.

Lixe masuk sendiri. Zenith mengajak Bal pergi ke suatu tempat sekitar istana. Lixe jelas curiga. Sebelum masuk dia sudah beberapa kali berbisik pada Bal untuk tidak membiarkan Zenith kabur. Zenith hanya menyeringai. Itu tidak akan mempan.

Saat berdiri di hadapan Zecda, Lixe masih gugup. Beberapa menit menunggu Zecda menyelesaikan pekerjaannya. Lixe pun hanya berdiri dengan sejuta pikiran. Apa salahnya hingga dipanggil seperti ini.

Setelah selesai dengan layar-layar digital yang mengambang, layar itu hilang. Zecda memberikan sebuah kertas dengan foto seorang remaja laki-laki.

"Ada apa dengan orang ini?" Lixe menerima.

"Namanya Lie Lyde. Mungkin kau tertarik menca...," belum habis kalimat Zecda.

Brak.

Lixe menggebrak meja kerja pria itu. Entah dari mana keberanian itu muncul.

"Dimana saya bisa menemukannya?"

"Tidak tahu." Zecda mengangkat bahu. Ekspresi wajah Lixe menampakkan kekecewaan.

"Kalau kau mau tahu, cari potongan naga langit putih...."

"Bagaimana? Permata? Potongan?"

Zecda berusaha sabar. Lixe yang terlalu bersemangat jadi sulit mendengarkan ucapan orang lain.

"Permata naga langit putih adalah benda indah. Juga pusaka yang kuat saat kau bisa mengendalikannya. Satu-satunya harapan untuk mengalahkan rubik memori."

Lixe menelan ludah. Kalimat itu jelas tidak main-main.

"Dulu, saat perang saudara terjadi di dalam istana ini. Adik-adikku memberikan permata palsu pada Lie. Dan mereka berdua membela permata yang asli menjadi dua. Susah payah kami mengalahkannya. Suatu hari, aku memberikannya, tidak, aku meminjamkan salah satu potongannya pada Lie Lyde. Tidak kusangkah, seorang penghianat membawa pergi potongan lainnya."

"Anda menyuruh saya menemukan kedua belahan permata itu?" Zecda mengangguk.

"Mencari Lie adalah hal mustahil. Bahkan bagi seorang Zack Van. Tanpa kedua potongan permata yang saling terhubung."

Lixe mencerna setiap kalimatnya hati-hati.

"Jadi saya harus mencari potongan satunya dulu?" Zecda tersenyum. Dia mengangguk. Walau menjelaskan pada Lixe sungguh menguji kesabaran. Setidaknya pada akhirnya anak itu paham.

"Tapi dimana saya bisa menemukannya?"

"Mencarinya mudah, bahkan Bal sudah menemukannya. Tapi mengambil potongan itulah yang menjadi tugas berat untukmu. Berhati-hatilah, karena dia berasal dari Suku Abta."

"Aizla?" batinnya dalam hati. Lixe mengangguk. Dia akhirnya keluar dari ruang kerja Zecda. Berarti, dia harus mencari Aizla lebih dulu, kan.

"Bal, dimana kalian?" batin Lixe yang berdiri di depan pintu istana mencari keberadaan dua temannya yang hilang.

"Pergilah ke arah utara, Kak!" jawab Bal langsung di pikirannya. Lixe belok kiri, langsung berlari ke arah utara. Memasuki semak yang ada di sana.

Dia tidak menginjak tanah. Lixe menoleh ke bawah. Semak-semak itu menutupi sebuah lubang. Sekarang tubuhnya jatuh ke dalam lubang itu. Dia sungguh menyesal mengabaikan papan larangan menginjak rumput.

"Akh!" Lixe pikir, hanya dia yang ada di dalam lubang itu. Tidak. Tanpa sengaja dia jatuh di atas tubuh Xiota. Dia langsung berdiri, juga membantu Xiota dengan gugup.

"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" Lixe menatap satu-persatu orang di depannya. Mereka hanya balas menatap. Zenith, Bal, dan Xiota. Entah apa yang Zenith rencanakan.

"Maaf ya. Gusion tidak bisa ikut. Katanya, raja menyuruhnya melatih para kesatria. Kau lihat kan, ketidak adanya satupun penjaga di istana ini?" Xiota mengangkat bahu.

Lixe mengangkat sebelah alis. Tangannya terlipat di dada. "Jadi?" Ruang bawah tanah ini lebih mirip sebuah parit. Tidak ada apapun yang menutupi tanah di sekelilingnya. Tidak ada barang apapun di sana.

"Karena Gusion tidak ada. Kami menunggumu," jawab Zenith ketus. Dia berjalan lebih dulu. Zenith meletakkan tangannya di dinding parit. Lalu meninjunya. Dinding bagian sana hancur, tampak sebuah lorong dengan luas pintu 2x2 meter.

"Siapa yang membuatnya? Apa Kerajaan Dielus juga menyembunyikan sebuah pusaka?" tanya Xiota dengan wajah datar.

"Tidak. Keluarga kerajaan ini tidak suka menyembunyikan sesuatu di dalam perut bumi. Yang membuat ini semua adalah orang Argio," jawab Zenith.

"Mungkin memang hanya Argio yang suka menyimpan rahasianya di perut bumi."

Xiota tertawa. Dia mengangguk setuju. Bal memimpin. Di susul Xiota, Zenith, dan Lixe masih diam di tempat. Perasaannya tidak enak. Ada sesuatu yang aneh di ujung lorong itu.

Menyadari Lixe masih mematung di tempat, Zenith berbalik. Dia berjalan mendekati Lixe. Mendekatkan wajahnya ke telinga Lixe.

"Di ujung sana, ada pintu pikiran, entah milik siapa. Dulu, Putri Mita selalu menggunakannya saat akan menemui teman misteriusnya."

"Putri Mita itu siapa?" Pikiran Lixe melayang ke masa lampau.

"Dia putri tunggal Tuan Zecda yang terbunuh..., aku tidak tahu cerita sebenarnya." Zenith menggeleng, wajahnya jadi suram.

"Lalu apa yang kau cari di sana?!" Lixe berseru menghentikan langkah Zenith. Apa yang akan dilakukan Zenith dnegan pikiran sahabat lamanya itu.

Zenith diam. Dia menoleh ke belakang. "Ikutlah, kalau kau ingin tahu. Aku selalu penasaran dengan tempat itu. Tapi Ayah selalu melarang. Tadi pagi, tiba-tiba Ayah mempersilahkan ku untuk masuk. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

Lixe menggertakan giginya. Dia tidak akan membiarkan ada yang mengusik pikiran sahabatnya. Walau semua itu sudah berubah sekarang.

Di depan, Bal menyentuh sebuah pintu kayu indah yang dihiasi bunga. Matanya bercahaya. Dia mulai masuk ke dalam isi pikiran itu.

"Riyal! Dimana kamu?!" Mita berseru di sebuah ruangan hampa, gelap, juga kosong. Suaranya bergema. Mita cemas. Isakan tangis terdengar.

Sebuah jendela pikiran muncul di depannya. Menampilkan sebuah kisah nyata yang terjadi di ujung sana.

***

"Ibu! Bertahanlah!" seru Riyal sambil berlari mendekati ibunya.

"Riyal! Awas!" sebuah sabitan belati melayang ke arahnya. Riyal lebih dulu menghindar. Di belakangnya seorang anak seusianya mengikuti.

"Xen'ah, tolong jaga Permaisuri!" Riyal berteriak. Anak di belakangnya mengangguk. Anak itu lari mendekati Sang Ratu.

Riyal berhadapan dengan seorang perempuan bercadar. Baju panjang serba hitam. "Siapa kau?" ucapnya.

Wanita itu menggenggam belati di kedua tangannya. Tanpa ampun dia bergerak secepat kilat, melayangkan serangannya. Riyal menangkisnya dengan sebuah pedang yang tercipta dari imajinasinya. Lalu balas menyerang.

Saling serang dan menghindar. Gerakan musuhnya yang lebih gesit dan profesional membuat staminanya turun cepat. Riyal mulai ngos-ngosan di menit ketiga. Tapi demi mengalahkan musuhnya, dia kembali berlari.

"Hahahaha!" tawa wanita itu menggelegar di sepanjang ruangan istana yang para prajurit dan pelayannya tak sadarkan diri. Dia mengayunkan tubuh saat Riyal hendak menusuk perutnya. Dan tanpa ampun balas menusuk punggung Riyal dengan belati di tangan kirinya.

Anak itu tersungkur dengan belati menancap di punggungnya. Darah deras memancar dari sana. Kesadaran Riyal mulai hilang. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk bangun dan melawan. Gerakannya lambat.

Wanita itu langsung menendang Riyal hingga terpental. Namun sebelum tubuhnya menghantam dinding, dia berlari, mengambil kembali belati yang dia tancapkan di punggung Riyal.

"Kau sudah K.O, sayang. Senang bermain denganmu Pangeran."

"Siapa, Bibi?" Riyal mengerjapkan mata, Dia berjalan sempoyongan. Pandangannya kabur. Tubuhnya lemas.

"Nama ya?" Dia kembali menendang Riyal. Pedangnya lepas dari tangan. "Elen Lyde, meminta maaf padamu."

"Aakhh!" Riyal berteriak kesakitan. Tubuhnya yang ditahan tiang istana meninggalkan bercak merah pada tiang itu.

Tangan Elen bergetar. Dia pergi secepat kilat dari sana. Sang Ratu dan Xen'ah menghampiri Riyal dengan mata berkaca-kaca.

Dan malam itu, Riyal meninggal.

***

"Apa kamu bilang?! Jadi yang kemarin aku temui itu setan?" Zenith menggeleng tidak percaya setelah mendengar apa yang dilihat Bal di dalam sana.

"Mungkin itu hanya makhluk ingatan, atau apapun itu," jawab Xiota santai. Tapi baginya, fakta bahwa pangeran pertama kerajaannya sudah tiada adalah hal yang ngejutkan.

"Dia manusia! Aku bisa membedakannya!" Zenith bersikuku.

Bagi Lixe, siapapun dan apapun yang dia temui kemarin. Sama sekali tidak penting. Yang ada di pikirannya, hanyalah mencari keberadaan suku ibunya, Lyde Sang Raja Kejahatan.

1
Ayano
Kok aku ngerasa mereka akan jadi sohib 😅😅
Ayano
Aku ikutan boleh gak bilang gini juga 😅
Ayano
Aku akan percaya dulu deh ama insting Lixe
Ayano
Pertanyaannya kek baru mau jalan ama doi ye
Ayano
Sadis bet
Unsur menyindir yang kental
Ayano
Jangan menyalahkan diri sendiri. Meskipun mungkin begitu, tapi apa boleh buat
Ayano
Ini nadanya orang esmoni campur kesel plus benci dan meremehkan ya.... Kesel sendiri sebenarnya tapi agak dapet feelnya sih
Ayano
Sakit banget itu.
Itu kalau dia gak belajar bela diri, kepental sejauh itu cedera atau bisa patah tulang
Ayano
Gila. Renyah banget suaranya itu 😅
Ayano
Kalimat yang bagus
Dia kalau di kultivasi lain bakalan jadi panutan itu
Ayano
Belum menjadi kuat. Jan disuruh pulang dulu
Ayano
Semangka wak. Iklan meluncur
Jira (💤): thank you
total 1 replies
Jira (💤)
beruang. hadoh typo. makasih
Yuchen
bagus, rapi ini aku gak kebayang tokoh utamanya tidur selama 12 tahun gitu biasanya pasti akan hilang ingatan, atau melupakan masa lalu yang dilaluinya.
Yuchen
kepulan?
Yuchen
Mode burung atau mode berung yah baru ini dengan sihir mode berung😅
Yuchen
1 meter mungkin sedekat muka memandanglah..
Yuchen
seperti mimpi kemasukan domba melompat🤣
Yuchen
hitam😅
Yuchen
7x7 ini maksudnya ukuran tanah permeter atau per hektare?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!