Indonesia
NovelToon NovelToon
Korban Virtual Check!

Korban Virtual Check!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Chicklit / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah A

"Berawal dari DM Instagram, lalu berujung sakit hati."

Khansa Aria Medina tidak pernah menyangka DM yang ia kirimkan untuk Alister Edward Ardonio berujung pada permasalahan yang rumit. Dengan munculnya pihak ketiga, Acha-panggilan Khansa-menyadari kenyataan bahwa ia bukanlah siapa-siapa bagi Al.

Acha hanyalah orang asing yang kebetulan berkenalan secara virtual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stupid

"Sorry, gue nggak sengaja lewat," kata Acha yang langsung berlalu pergi.

Acha berjalan meninggalkan Al cepat-cepat. Tadinya ia berada di toilet dan kebetulan melewati lapangan basket ketika hendak menuju pulang. Tetapi suara teriakan Aya membuat langkahnya terhenti. Tanpa sadar, ia mendekatkan diri untuk mendengarkan percakapan yang tidak seharusnya ia dengar. Sebelumnya, ia memang sudah mendengar dari mulut Aya bahwa ia dengan Al adalah mantan kekasih. Itu sebabnya kini Acha syok berat dan memutuskan berdiam diri di toilet.

Tetapi bukannya syoknya mereda, Acha justru merasa kesal karena seakan-akan ia sedang dipermainkan. Selama ini Acha tidak pernah tahu siapa mantan Al. Tidak ada yang menceritakan atau memberitahu pula. Tetapi rupanya, mantan Al adalah orang yang selama ini tidak disangka-sangka. Bahkan satu tim Cheers dengannya—Aya. Acha jelas merasa dibodohi. Padahal selama ini, ia sedang menebak-nebak siapa mantan Al. Acha sampai menghabiskan dua jam lebih untuk mencari mantan Al melalui Instagram Al, tetapi hasilnya nihil.

Di parkiran, Acha bisa melihat Bagas sedang bercanda ria dengan Maya. Amarahnya semakin memuncak. Seandainya Bagas memberitahu siapa mantan Al lebih awal, sepertinya Acha tidak perlu bersama Aya ketika mengunjungi sekolah Al waktu itu. Acha jadi kelihatan terlalu ngebet hingga mendekati mantan Al.

Serra memperhatikan gerak-gerik Acha. Buru-buru ia mengambil atensi Acha. "Cha, Pak Iman kok lama banget? Udah lo telepon belum?"

"LO JAHAT BANGET SAMA GUE, BAGAS!" teriak Acha tiba-tiba.

Dua orang yang sedang bercanda itu langsung terkejut. Sementara Serra semakin tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi ia sadar, sepertinya ini ada kaitannya dengan kejadian tadi.

Maya langsung mendekati Acha dengan tatapan khawatir. "Kamu kenapa?"

"Kalian berdua mending pergi dulu deh! Gue ada urusan sama Bagas!" Tanpa mengalihkan tatapannya dari Bagas, Acha meminta teman-temannya memberikan ruang untuk dirinya dan Bagas. Acha benar-benar harus berbicara serius dengan gebetan sahabatnya ini.

Bagas berjalan pelan menghampiri Acha. Ia menatap Acha dengan khawatir karena wajah gadis itu terlihat merah. Entah karena sedang marah atau selesai menangis.

"Selama ini, gue dibodohin lo sama Al ya?! Gue nggak nyangka mantan Al ada di deket gue dan nggak ada satu pun dari kalian yang cerita!" Napas Acha terasa ngos-ngosan. Ia ingin meluapkan semua amarahnya. Tetapi semakin ia berusaha meluapkannya, semakin ia ingin menangis. Dan, Acha tidak mau menangis.

"Gue nggak bodohin lo, Cha...," lirih Bagas. Tidak menyangka Acha merasa seperti itu. Ya, Bagas paham perasaan gadis itu. Susah payah mencari dan menerka tetapi rupanya berada di dekatnya. Malahan Aya yang mengantar Acha bertemu dengan Al.

"Terus, kenapa lo nggak bilang aja kalau mantan Al itu Aya? G-gue ... berasa ditipu, tahu nggak?"

Suara Acha terdengar bergetar dan Bagas menyadari hal itu. Bagas mencoba menenangkannya tetapi Acha sedang tidak ingin dihibur atau ditenangkan, ia ingin jawaban.

Bagas menghela napas. "Sorry, pikiran gue nggak sampai ke situ buat ngasih tahu lo. Dan, gue nggak ada niatan ngasih tahu juga, karena lebih baik lo denger langsung dari Al."

"BACOT! GUE BENCI SAMA LO!"

Bagas tersentak. Baru kali ini Acha berteriak padanya dengan emosi yang menggebu-gebu. "Cha, itu masa lalu mereka. Sekarang mereka udah nggak ada hubungan apa-apa lagi kok. Sorry Cha, gue nggak tahu kelakuan gue bikin lo kecewa."

Acha bungkam. Sebisa mungkin ia menghilangkan emosinya. Ia tahu bukan sepenuhnya salah Bagas, tetapi Acha sedang ingin melampiaskan amarahnya pada seseorang. Dan orang yang berhubungan dengan masalah ini adalah Bagas.

Mata Acha tertuju pada mobilnya yang sudah datang. Lalu, kembali menatap Bagas yang tampak sendu. Sepertinya pembicaraannya selesai sampai di sini. Sebelum meninggalkan Bagas, Acha berkata sesuatu yang membuat Bagas semakin merasa bersalah.

"Lo sama Aya bener-bener bikin gue kelihatan bodoh di depan Al."

***

Acha menutup lampu belajarnya lalu merebahkan diri di atas kasur. Kejadian tadi membuat dirinya tidak fokus belajar. Sepertinya ia perlu menjernihkan pikirannya, tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa. Acha jadi merasa bersalah karena sudah memaki Bagas seperti itu. Lagi pula Bagas sangat menyebalkan karena tidak mengatakan apa-apa ketika dirinya, Bagas, dan Aya bertemu waktu itu.

Tangan Acha membuka ponselnya lalu menekan aplikasi Instagram. Kalau membuka aplikasi itu, Acha jadi teringat Al. Aplikasi ini yang membawa dirinya mengenal Al.

"Ah, tadi Al cakep banget," puji Acha dengan nada rendah sembari menatap foto Al di Instagram. Biasanya Acha akan menggebu-gebu memuji ketampanan Al, tetapi kali ini sudah berbeda. Tidak ada lagi wajah cerianya. Acha menatap foto Al dengan sendu.

Padahal sudah hampir satu bulan, tetapi Acha masih belum bisa melupakan Al. Padahal mereka saling mengenal satu sama lain dalam jangka waktu yang singkat, tetapi Acha masih belum bisa melupakan Al. Memang kenangan mereka sulit untuk dilupakan dan sudah melekat di hati. Acha jadi teringat betapa gugupnya bertemu Al di berbagai tempat berbeda. Ia juga teringat dirinya yang selalu ingin tampil sempurna di depan Al.

Tanpa Acha sadari, di rumahnya—tepatnya di taman belakang, dua orang perempuan duduk bersama. Malam ini, Serra mengunjungi rumah Acha untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Tetapi belum sempat menyapa Acha, Rika lebih dulu mengajaknya mengobrol. Wanita itu sangat cemas dengan perubahan anaknya akhir-akhir ini.

"Serra, anak Tante emang lagi ada masalah di sekolah? Atau gimana ya?" tanya Rika menghela napas. "Dia akhir-akhir ini makannya dikit banget, bahkan kadang lupa makan. Terus mukanya juga lesu."

"Emm ... sebenarnya saya nggak tahu boleh cerita ini atau nggak ke Tante," jawab Serra sembari menggaruk-garuk pipi.

"Nggak apa-apa, cerita aja. Soalnya Tante khawatir banget. Nggak pernah Acha kayak gini sebelumnya."

Serra bungkam sejenak. Semoga saja Acha tidak memakinya dengan sebutan mulut ember. Lagi pula, Rika sudah bertanya dan Serra tidak mungkin berbohong. Mungkin saja dengan menceritakan, Rika dapat memberikan saran. "Masalah percintaan, Tante."

Mata Rika melebar. Jadi, yang membuat anaknya terlihat lesu adalah laki-laki. Diam-diam Rika tersenyum kecil. Gadis yang ia besarkan selama tujuh belas tahun akhirnya merasakan galau di masa remajanya. "Bagas atau Al?"

"Eh? Al, Tante. Tapi Tante nggak usah khawatir, cinta bertepuk sebelah tangan mah udah biasa. Palingan bulan depan, Acha balik ceria lagi kok." Serra tertawa hambar.

Rika tersenyum. "Coba deh, ceritain kronologisnya. Tante kepo."

Serra meneguk ludah. Bagaimana bisa ia menceritakan kronologisnya? Takutnya masalah akan semakin besar saat Rika tahu jika Al sempat memberikan perhatian pada Acha tetapi akhirnya laki-laki itu menolaknya. Belum lagi, masalah percintaan Acha yang sangat rumit. Serra sendiri pusing memikirkannya. "Saya ceritain secara singkat aja ya."

1
Henderson
bagus
Aisyah A
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!