Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Zalina.
Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Seorang pria tua yang menggunakan jaket lusuh dan topi di kepalanya, masuk ke rumah dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir dari pelipisnya.
Napasnya tampak tersengal, seolah ia baru saja melarikan diri dari sesuatu.
Ia menutup pintu dengan tergesa-gesa, lalu menghempaskan tubuh tuanya dengan kasar di atas kursi kayu.
Ia melepaskan kacamata dan masker yang menutupi wajahnya. Wajahnya memerah karena menahan tangisnya.
Pria itu tidak sengaja menabrak seorang gadis yang tiba-tiba melintas di trotoar ketika ia sedang melajukan sepeda motornya.
Ia mencoba menghentikan sepeda motor tua itu, namun sayangnya rem-nya sama sekali tidak berfungsi. Ia bahkan tidak sempat membelokkan arah sepeda motornya dan malah menabrak tubuh gadis itu hingga ia terjatuh ke trotoar.
Di saat yang sama, Ia juga sedang menghindar dari kejaran seorang penjaga yang mencurigai gerak-geriknya ketika sedang mengintai Niel, putranya.
Pria itu adalah Brata, ayahnya Niel yang baru saja keluar dari penjara pagi tadi.
Di penjara, ia mencari informasi keberadaan Niel dari salah seorang temannya yang bekerja sebagai wartawan di sebuah stasiun televisi. Dari dialah, ia memperoleh semua informasi tentang Niel dan lokasi pemotretan hari ini.
Begitu ia keluar dari penjara, ia langsung bergerak menuju lokasi pemotretan untuk melihat keadaan putranya itu.
Brata bukannya ingin mengacau. Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan Niel sekarang. Ternyata putranya itu bisa hidup dengan baik dan menjadi seorang model terkenal yang disukai oleh banyak penggemar.
Brata sangat bersyukur akan hal tersebut. Ia merasa berdosa karena pernah melakukan hal yang tidak bermoral pada putranya dan juga melenyapkan nyawa istrinya sendiri dengan tangan kotornya.
Ia sungguh menyesali perbuatannya.
Namun, ia memilih untuk menghilang dari pandangan putranya. Ia tidak ingin menganggu atau mempersulit hidup Niel. Ia hanya ingin memantau keadaannya dari jauh tanpa diketahui olehnya.
Namun, semuanya malah berakhir kacau. Ia malah ketahuan mengintip, bahkan sampai menabrak orang.
Ia sangat takut kalau gadis itu melaporkannya kepada polisi dan membuat diri kembali tertangkap.
"Seharusnya aku lebih bertindak hati-hati." gumamnya pelan. "Semoga gadis itu baik-baik saja dan tidak terluka parah."
🥀🥀🥀
"Kau yakin tidak perlu bantuan Mama di sini?" tanya Belinda ragu, seolah ingin memastikan keputusan Kaiden sekali lagi sebelum ia benar-benar pulang.
Pria itu mengatakan bahwa ia masih mampu mengurus Zalina seorang diri tanpa bantuan dari ibunya. Lagipula, kondisi Zalina tidak begitu parah, sehingga ia masih bisa mandi dan berjalan sendirian ke kamar mandi.
Namun, sikap Kaiden yang tidak bisa ditebak, membuat Belinda merasa sedikit khawatir dengan hal tersebut. Mengingat kalau putranya itu tidak pernah mengurus orang lain sebelumnya.
"Aku yakin, Bu. Sudah, Ibu dan yang lainnya pulang saja." ucapnya santai, namun tegas.
Belinda menghela napas pelan. "Baiklah. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Mama. Mengerti?!"
"Iya."
"Sudahlah, Ma. Biarkan Kaiden bertanggung jawab pada istrinya. Dia sudah dewasa dan bisa mengurus istrinya dengan baik." timpal Zafran, menenangkan istrinya yang masih terlihat khawatir.
Akhirnya dengan bujukan dari suaminya, Belinda setuju untuk pulang. Begitupula dengan Rayhan. Walau ia juga tak kalah khawatir pada kondisi putrinya.
Namun, ia yakin kalau menantunya itu bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Ayah titip Zalina ya, Kai. Tolong jaga dia baik-baik." ucap pria itu penuh harap.
"Ayah tidak perlu khawatir."
Kata-kata itu sedikit menenangkan hatinya. Mereka lalu pergi meninggalkan apartemen.
Setelah menutup pintu, Kaiden lalu masuk ke kamar Zalina untuk memastikan keadaannya.
Ketika ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar, Kaiden mendapati gadis itu sedang tidur di atas ranjangnya. Ia tampak sangat lelap. Mungkin karena pengaruh obat pereda nyeri yang diminumnya setelah makan siang membuat tubuhnya akhirnya menyerah pada rasa lelah.
Kaiden berjalan mendekat ke arahnya, lalu duduk di kursi kecil samping ranjangnya. Matanya tak lepas memperhatikan wajah Zalina yang terlihat sedikit pucat. Napasnya terdengar pelan dan teratur.
Namun, pikirannya sendiri tidak sepenuhnya berada di sana.
Pesan teks dari Niel kembali mengusik pikirannya. Ia tahu siapa pria yang dimaksud oleh Niel. Pria itu bukanlah orang asing bagi sahabatnya itu.
Seseorang yang selama ini berusaha keras ia lupakan. Rahang Kaiden seketika mengeras. Jemarinya terkepal erat di atas pahanya. Kalau benar pria itu yang melakukannya, itu artinya ia sudah mengetahui keberadaan Niel.
Tatapannya kembali beralih kepada Zalina. Gadis itu masih tertidur pulas.
Kaiden lalu keluar perlahan dari kamarnya. Ia pergi ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
🥀🥀🥀
Zalina tersentak ketika mendengar suara berisik dari dalam kamarnya yang temaram. Perlahan, ia membuka matanya. Pandangannya masih sedikit buram karena baru saja terbangun.
Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Kaiden sedang berdiri di dekat ranjangnya. Pria itu sedang meletakkan teko berisi air dan gelas di atas nakas.
"Kau terbangun?" tanya Kaiden tanpa menoleh.
Zalina tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu berusaha untuk duduk. Namun, tubuhnya yang masih terasa nyeri membuatnya meringis pelan.
"Pelan-pelan." ucap Kaiden cepat.
Pria itu segera berbalik dan mendekatinya. Tangannya terulur untuk menopang punggung Zalina, membantunya bersandar dengan nyaman di kepala ranjang.
Zalina menatap Kaiden dengan sedikit kebingungan. "Kau membawakan air untukku?"
"Mungkin saja kau merasa haus saat bangun. Kau tidak mungkin bolak-balik keluar dengan kondisi kaki yang seperti itu."
Zalina kembali menatapnya. Ada sedikit kehangatan yang muncul di dalam dadanya. Di balik sikap dingin dan kaku pria itu, Kaiden ternyata masih memperhatikannya.
"Terima kasih." ucapnya lirih.
Keduanya lalu terdiam. Namun, suara perut Zalina yang tiba-tiba berbunyi membuat keduanya saling bertatapan.
Zalina tampak tersenyum canggung sambil memegang perutnya yang mulai terasa lapar.
"Kau mau makan apa? Biar aku pesankan makanan untukmu." ucap Kaiden.
Gadis itu berpikir sejenak. "Hmm... aku ingin sesuatu yang berkuah dan pedas."
"Jangan pedas. Kau masih sakit dan harus minum obat." larang Kaiden tegas.
"Baiklah." sahutnya patuh. "Yang berkuah saja."
Kaiden lalu memesan makanan melalui ponselnya.
Tak lama kemudian pesanan mereka tiba. Dua porsi sup iga sapi yang masih mengepul hangat sudah terhidang di atas meja makan. Aroma gurih rempah-rempah langsung memenuhi ruangan.
Kaiden menghampiri Zalina yang masih berada di atas ranjang. Tanpa banyak bicara, ia membungkuk dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya.
"Aku bisa jalan sendiri." tolak Zalina halus.
"Sudah, diam saja."
Zalina seketika terdiam. Ada nada tegas dalam ucapan Kaiden yang membuatnya tak mampu membantah. Wajahnya justru terasa sedikit memanas ketika menyadari betapa dekat jarak mereka saat itu. Dengan langkah mantap, Kaiden membawa Zalina keluar dari kamar menuju ruang makan. Sesampainya di sana, ia perlahan menurunkan tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas kursi.
"Nyaman?" tanyanya.
Zalina mengangguk pelan.
Kaiden lalu menarik kursi di hadapannya dan duduk.
Suasana kembali hening di antara keduanya. Zalina dan Kaiden tampak memakan makanan mereka tanpa suara.
Namun, Kaiden terlihat mulai membuka mulutnya. "Apa kau benar-benar tidak ingin menuntut orang yang sudah menabrakmu?"
Zalina seketika menghentikan gerakannya. Ia menatap Kaiden sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Hmm... entahlah. Aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah ini."
Suasana di antara mereka kembali hening. Kaiden tidak lagi bertanya dan menuruti kemauan Zalina.
🥀🥀🥀