Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Ambang Maut
~ HAPPY READING ~
...----------------...
Akhirnya, Arton kembali ke rumah sakit. Di ruang tunggu IGD, tampak Leila tengah duduk di antara Meilin dan Miler.
"Nyonya Miler, maaf sebelumnya... tapi di mana Tuan Michel?" tanya Arton sopan kala melihat tidak ada keberadaan kepala keluarga Lauren itu di sana.
"Ayah perlu waktu untuk sendiri," jawab Meilin cepat, mewakili ibunya.
"Lalu—" Arton baru hendak melangkah mendekat ke arah Leila, namun Meilin kembali memfokuskan pandangannya pada gadis itu. "Lei—"
"Nanti, Arton. Kakak dan ibunya Helena ingin tahu detail kejadiaannya terlebih dahulu," potong Leila pelan. Wanita itu paham betul apa yang hendak Arton sampaikan padanya.
Arton menghela napas pasrah. "Baiklah..."
Pria itu kini beralih menatap Alex, paman kecilnya, yang berdiri membisu di depan pintu ruang tindakan. "Paman, bagaimana keadaan Helena?" tanya Arton dengan suara rendah.
"Masih sama... belum sadar. Dokter masih berusaha di dalam," ujar Alex serak.
Wajah pria itu terlihat tampak tenang dari luar, namun pikirannya berkecamuk hebat. Kedua tangannya terus mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, memperlihatkan betapa murkanya ia terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang telah menculik Helena.
‘Andai aku bisa tiba lebih cepat...’ batin Alex frustrasi.
"Paman, minum dulu," ujar Arton seraya mengambil sebotol air mineral dari anak buahnya yang berdiri siap siaga.
Arton terus memperhatikan setiap gestur sang paman. ‘Khawatir itu wajar, tapi... kekhawatiran ini sama persis seperti saat aku mengkhawatirkan Leila. Paman... apa dia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?’ batin Arton heran seraya terus mengamati gerak-gerik Alex.
"Minum dulu, Paman. Helena pasti bisa bertahan," dorong Arton seraya menyerahkan botol air mineral tersebut.
"Hmmm..." jawab Alex singkat. Pria itu menenggak sedikit air dari botol tersebut, lalu pandangannya kembali terkunci penuh kecemasan pada pintu ruangan di mana Helena sedang bertaruh nyawa.
Di sisi lain Kota A, Michel sudah berhasil mendapatkan seluruh data dan informasi mengenai Boni—sosok dalang di balik penculikan putrinya. Beberapa rekaman CCTV jalanan pun terkumpul, memperlihatkan dengan sangat jelas proses penculikan Helena secara brutal.
"Bagus. Bagaimana dengan orang-orang yang terlibat?" tanya Michel dingin pada Jhansen.
"Orang-orang kita sedang menyelidiki siapa saja yang masuk dalam jaringan ini, Tuan. Beberapa nama pejabat dan aparat kepolisian sudah berhasil kita amankan. Namun, menurut hasil penyelidikan awal, kasus ini masih banyak menyeret nama-nama besar lainnya," lapor Jhansen tegap.
"Teruskan. Selesaikan hari ini juga!" perintah Michel tegas tanpa kompromi.
Sementara itu di kediaman Veradoux, Nicky juga telah mengantongi berkas lengkap mengenai sindikat haram tersebut.
"Ada banyak sekali orang-orang penting yang terlibat... Benar-benar tidak takut mati mereka," gumam Nicky geram. Pria itu langsung menutup map tebal di tangannya lalu melangkah mantap menuju ruang kerja Albert.
Nicky mengetuk pintu lalu masuk. "Papa, setelah ini kita harus apa?" tanya Nicky pada Albert yang sedang menyesap tehnya.
"Menunggu," jawab Albert tenang. "Biarkan pria itu menyelesaikan dendamnya terlebih dahulu. Anaknya terbaring di rumah sakit karena orang-orang itu, Nicky. Kita hanya perlu memantau untuk saat ini. Michel pasti tidak akan tinggal diam dan—"
"Michel tidak suka urusannya dicampuri orang lain. Aku tahu, Papa. Aku sudah menempatkan orang-orang kita untuk terus memantau pergerakan Michel," potong Nicky.
"Hmm, bagus. Biarkan Michel menuntaskan apa yang dia mau terlebih dahulu. Setelah itu baru kita turun tangan. Nicky, sapu bersih semua orang yang terlibat tanpa sisa!" ujar Albert tegas dengan tatapan penuh wibawa.
"Baik, Pa," jawab Nicky lalu berbalik pergi meninggalkan Albert di ruangannya.
Di sudut kota yang terisolasi, orang-orang kepercayaan Alex juga sudah mulai bergerak di lapangan. Beberapa berpura-pura menjadi pelanggan berkantong tebal, sementara yang lainnya berhasil menyusup sebagai anak buah baru di markas Boni.
"Jalan, oii! Lo orang baru, ya? Nih, kerjaan lo! Anter anak-anak cewek ini ke Madam Meri!" bentak seorang preman bertato sambil menunjuk ke arah seorang gadis remaja yang baru berusia belasan tahun.
"Madam Meri?"
"Iya! Haisss, cepetan! Emmm—"
"Geget, Bang. Biasa dipanggil Eget," ujar anak buah Alex memperkenalkan diri menggunakan nama samaran.
"Cep! Tuh anak baru nama nya Eget, ajarin deh! Sekalian bawa anak ini ke tempat Madam Meri!" seru preman itu pada rekannya.
Pria bernama Cecep itu mengangguk malas lalu mematikan rokoknya ke dinding. "Eget, bawa tuh anak sekalian!" ujar Cecep lalu berjalan duluan dengan angkuh.
Sementara itu di ruang utamanya, Boni sedang mengamuk hebat.
"Bodoh sekali! Bagaimana bisa sampai ditangkap oleh sekelompok orang yang gak jelas asal-usulnya?! Dan kalian... sampai sekarang belum bisa melacak keberadaan Jams di mana?! Bodoh!" maki Boni murka.
Bukan tanpa alasan Boni sampai sepanik ini. Jams saat ini memegang setengah pembayaran tunai dari pelanggan besar mereka sebelumnya. Uang yang dibawa kabur atau hilang bersama Jams berjumlah sekitar 30 miliar rupiah.
"Cari! Cari Jams sampai ketemu!" teriak Boni frustrasi kepada seluruh anak buahnya.
Sementara itu di dalam ruang operasi rumah sakit, Elia sedang bertaruh dada antara hidup dan mati. Detak nadinya melemah drastis hingga garis di monitor mulai mendatar.
Bip... Bip...
[ Terdeteksi daya hidup tuan rumah sangat rendah! ]
Ting!
[ Perbaikan otomatis dimulai. Mempertahankan jiwa tuan rumah... ]
Tiba-tiba, suara indikator medis berubah teratur.
"Pasien berhasil diselamatkan!" ujar sang dokter utama dengan nada sangat lega.
Layar monitor kembali menunjukkan grafik detak jantung Elia yang perlahan stabil.
"Luka robek di betis sudah selesai ditangani dan pendarahan berhasil dihentikan. Namun, pasien masih membutuhkan donor darah tambahan," terang dokter kepada timnya. "Suster, saya keluar dulu untuk memberi tahu keluarga."
Dokter membuka pintu ruang tindakan. Begitu melangkah keluar, Miler, Meilin, dan Alex langsung menyergap sang dokter dengan raut wajah penuh cemas.
Di waktu yang bersamaan...
Elia mendapati dirinya berdiri linglung di sebuah ruangan serba putih yang tidak bertepi. Tidak ada pintu, jendela, maupun bayangan di sana. Hanya ada kehampaan yang begitu lengang.
Elia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang tampak utuh tanpa noda darah.
"Di mana... gue sekarang?" gumam Elia bingung, suaranya memantul samar di tengah ruang hampa tersebut
Bersambung 🫰🏻🤗
kamu keren wuw ☺👍