Albie Putra Dewangga dan Qistina Aulia, pasangan muda yang tengah berbahagia dengan kehadiran bayi perempuan yang mereka beri nama Eloise Humaira Alqista.
Namun ditengah kebahagiaan itu, mereka terpaksa menerima kenyataan pahit.
Hasil biopsi dan aspirasi sumsum tulang Qistina keluar. Vonis Leukemia Myeloid akut bersarang ditubuhnya. Kondisinya sangat agresif. Dalam kondisi tersebut, produksi ASI-nya menurun. Sedang putri kecilnya alergi sufor.
Khalisa Hanifa hadir dalam hidup mereka. Perempuan malang yang kehilangan bayinya setelah menjadi korban pelecehan, rela menjadi ibu susu putri Qistina. Ketulusannya membuat Qistina percaya, jika suatu hari ajal menjemput, Khalisa adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintai putrinya seperti darah daging sendiri.
Dengan hati yang hancur, Qistina membuat keputusan paling menyakitkan. Menikahkan suaminya dengan Khalisa.
Bagaimana kisah pengorbanan cinta mereka? Akankah Albie menerima keputusan Qistina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Tetap Di Sini
*
*
*
Langit senja sudah berubah. Kepekatan malam perlahan turun disertai gerimis yang dingin. Titik-titik air menempel di kaca jendela, meninggalkan jejak panjang yang menyerupai air mata yang enggan jatuh sepenuhnya.
Baru saja mereka turun dari mobil, ketika terdengar seruan seseorang dari dalam rumah yang pintunya terbuka.
“Mas …”
Seorang pria berusia menjelang enam puluhan, keluar dari dalam rumah. Wajahnya diliputi kecemasan. Tatapannya bergantian, sesaat menatap Albie, kemudian Qistina.
“Papa …” desis Albie lirih.
Ia segera menghambur pada pria yang ia sebut Papa— Adi Nugraha Dewangga.
“Bagaimana keadaan Qistina?” suara Adi Nugraha turun pelan, namun setiap suku katanya membebani udara berat.
“Papa … kapan Papa pulangnya?” Qistina muncul dari balik tubuh kekar Albie. Menyalami Adi Nugraha dengan begitu santun. Mencium punggung tangannya takzim.
“Papa kemarin sudah mau pulang, saat Mama Alexa dan Diana bilang kalau kamu rawat inap.” Adi Nugraha menatap menantunya lekat, dan penuh dengan perasaan iba. “Tapi mereka bilang kamu nggak kenapa-napa. Sampai akhirnya Papa tanya sendiri sama Naufal.” lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi, Papa sudah tahu?” tanya Albie.
Adi Nugraha terdiam, kemudian merangkul pundak Albie. “Kita bicara di dalam ya …”
Albie mengangguk, genggamannya yang sempat terlepas dari tangan Qistina segera ia takutkan lagi. Seolah dengan gerakan itu, ia bisa memastikan kalau istrinya benar-benar dalam penjagaannya. Walau dia tahu, penjagaan itu hanya sebuah penjagaan dari luar pagar besi yang tidak bisa ditembus oleh apapun. Karena sebanyak apapun penjagaan Albie, tetap saja monster yang sedang tumbuh liar di tubuh Qistina, tetap merusaknya dengan kejam dari dalam.
Qistina sendiri, tangan satunya cepat-cepat meraih tangan Khalisa. Seorang perempuan yang tidak hanya teman baginya, tapi kini ia menganggapnya sebagai keluarga.
Ruangan tamu itu berwarna putih gading, kusen hitam doff tegas di setiap sudut, namun udaranya sejuk hingga ke tulang. Aroma lavender melayang pelan—harum yang dulu menenangkan, kini aromanya seperti waktu yang terhitung mundur.
Albie memastikan punggung istrinya bersandar nyaman.
Di Sebelah kiri Qistina Khalisa duduk memeluk Eloise, wajah mungil itu terlelap damai, tak tahu dunia di sekitarnya sedang bergetar di tepian jurang.
Baru kemudian Albie duduk di sebelah kanan Qistina, di depannya Adi Nugraha.
“Papa, kenalin ini Khalisa.” Albie membuka percakapan. Memperkenalkan Khalisa, ia yakin kalau Ayahnya itu pasti penasaran dengan kehadiran perempuan yang baru satu kali ini mereka bertemu.
Khalisa tersenyum, menunduk hormat.
Adi Nugraha tersenyum tipis, menatap Khalisa kemudian beralih lagi menatap Albie.“Khalisa? Siapa dia?”
“Khalisa ini, Pendonor ASI untuk Eloise.” jawab Albie, kemudian ia menghela nafas pendek. “Seperti yang Papa ketahui dari Naufal, kalau Qistina harus menjalani pengobatan dan terapi induksi. Dalam waktu panjang, Dokter Surya juga menyarankan untuk radioterapi jika memungkinkan.”
Adi Nugraha mengangguk-angguk. Kemudian menatap Khalisa. “Nak, terima kasih sudah membantu keluarga kami. Kalau boleh tahu, keluarga kamu sendiri dimana?”
Pertanyaan Adi Nugraha terdengar ringan, namun tidak bagi Khalisa. Pertanyaan itu seakan mengorek luka yang masih basah. Keluarga? Bahkan dia sendiri tidak yakin kalau keluarganya masih menganggap dirinya keluarga. Khalisa menelan ludah dengan susah payah.
“Saya …” suara Khalisa bergetar, “Keluarga saya di Sukabumi, Pak.”
Adi Nugraha mengernyit, masih ada pertanyaan mengganjal yang ingin ditanyakan. “Lalu bayimu?”
Khalisa menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas ujung khimarnya, setiap kali pertanyaan itu jatuh, efeknya seperti pisau tipis yang mengiris bagian dalam dadanya. Membuat kerongkongannya penuh, hingga sulit sekali mengeluarkan kata-kata tanpa air mata.
Melihat itu, Qistina langsung paham. Ia mengelus punggung tangan Khalisa. Tersenyum tipis menatap Ayah mertuanya, “Bayi Khalisa meninggal Pa, sesaat setelah dilahirkan. Dan itu masih meninggalkan trauma yang dalam untuknya.”
Adi Nugraha terdiam. Masih ada pertanyaan yang berputar di kepalanya. Namun ia urungkan, mungkin besok atau lusa akan ia tanyakan lagi pada Albie.
Adi beralih menatap Albie. “Bie, bagaimana kalau pengobatannya kita lanjutkan di Singapura atau mana saja yang teknologinya paling canggih. Kita cari di seluruh dunia sekalipun.”
Albie mengangguk, “Aku juga berpikiran seperti itu Pa.”
“Tidak.”
Satu kata. Lembut, namun mematikan semua nafas di ruangan itu.
Qistina menggeleng pelan, menatap suaminya lurus ke manik matanya, tak menghindar sedikit pun. “Aku tidak mau pergi ke mana-mana. Kalau memang waktuku tak panjang, biarkan sisa waktu ini habis bersama orang-orang yang aku cintai. Bukan di negeri orang, di antara wajah-wajah yang tidak aku kenal.”
“Jangan bicara begitu …” suara Albie pecah. Ia mendekat, menggenggam kedua tangan istrinya seakan hendak menyatukan kembali kepingan dirinya yang retak. “Kamu tidak akan ke mana-mana. Waktu kebersamaan kita masih panjang. Kita obati bersama. Kita perjuangkan. Mas akan temani kamu terus, ya?”
Matanya berkaca-kaca, namun air matanya tak jatuh—ditahan sekuat tenaga, agar tak terlihat betapa ia gemetar ketakutan di balik wajah tenangnya. Dua tahun pernikahan, dan ia belum cukup siap kehilangan separuh jiwanya. Eloise masih mencari ibunya dalam pelukan setiap pagi. Cintanya belum habis, belum sedikit pun surut, justru semakin dalam setiap hari. Bagaimana ia bernapas bila udara di sebelahnya lenyap?
Qistina menatapnya, lembut dan sedih sekaligus. Ia tak berjanji. Ia tak menjanjikan apa-apa, karena keduanya sama-sama tahu, janji tak cukup kuat melawan takdir. Namun ia tersenyum. Senyum yang menyimpan ribuan perpisahan di dalamnya. “Maafkan aku, Mas.”
Kata itu melayang pelan di udara hening, sebelum akhirnya jatuh dan memecah keheningan ruangan.
Albie terdiam. Tatapannya terkunci pada wajah istrinya, seakan sedang mencoba menghafal setiap inci garis wajah itu, takut jika ia berkedip sebentar saja, sosok di hadapannya akan lenyap seperti asap. Nafasnya tertahan di kerongkongan, tak kunjung turun, dadanya perlahan dipenuhi sesuatu yang berat dan sesak.
Adi Nugraha tak bersuara. Hanya genggaman tangannya di sandaran kursi yang semakin mengerat, menahan getaran yang sengaja ia sembunyikan.
Di sudut lain, Khalisa menunduk. Matanya memandang ke arah tangan Qistina yang terasa dingin saat menyentuh punggung tangannya tadi. Disanalah ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku seketika.
Noda samar berwarna merah, perlahan melebar di keliman blus bagian lengan.
Ia mendongak dengan nafas tercekat, Qistina menatapnya balik. Menggeleng samar. Sorot matanya terpancar permohonan—jangan beritahu mereka. Belum sekarang.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
apa... gaada yang curiga? selain anggota keluarganya?🤔🤔