Indonesia
NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH ENAM

"Amara! Profesor Zain memanggilmu ke ruangannya sekarang," seru seorang mahasiswi tingkat dua yang tiba-tiba melangkah terburu-buru menghampiri mereka di taman belakang.

Amara mengusap pelipisnya, mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursi taman, menatap Bayu dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kak Bayu, aku permisi dulu ya. Terima kasih sudah menemaniku."

"Biar aku antar sampai ke depan lorong rektorat, Amara," tawar Bayu sigap, ikut berdiri seraya merapikan berkas BEM di tangannya.

"Tidak usah, Kak Bayu," tolak Amara halus. "Aku bisa berjalan sendiri. Permisi."

Amara memutar tubuhnya, mengusap sisa-sisa lelehan air mata yang masih membasahi pipinya, lalu melangkah gontai menyusuri koridor utama menuju ruangan Zain. Ketika matanya menatap pintu kayu tebal nomor 104 yang sedikit terbuka, Amara menghentikan langkahnya sejenak, menetralkan napasnya yang masih naik turun.

"Masuk, Amara!"

Teriakan bernada dingin dari dalam ruangan langsung mengejutkan Amara sebelum jarinya sempat mengetuk kayu pintu.

Amara mendorong pintu itu dan melangkah masuk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zain yang berdiri di samping meja kerja langsung melangkah mendekat. Jemari tegap pria itu cengkeramannya terasa hangat saat memegang kedua bahu Amara, menggiringnya tanpa kompromi menuju sofa kulit hitam di sudut ruangan. Tak lupa Zain mengunci pintunya agar tak ada lalat yang masuk.

Zain mendudukkan Amara, lalu membuka bungkus Makanan dari kantong kertas di atas meja. Aroma gurih rempah langsung menyeruak. Ayam goreng siap saji dengan bumbu renyah, makanan favorit Amara yang selalu bisa membangkitkan selera makannya.

"Kak Zain, ada apa?" tanyakan Amara lirih, mendongak menatap wajah suaminya yang membeku bagai pahatan es.

Zain tidak menjawab. Pria itu justru menarik selembar tisu basah, lalu mengusap jemari tangan Amara satu per satu dengan amat lembut. Setelah itu, Zain mengambil sepasang sarung tangan plastik bening dan memasangkannya ke kedua tangan Amara secara telaten.

Melalui tatapan matanya yang tajam dan menusuk, Amara paham betul arti tatapan itu, Makan sekarang. Dan Amara juga tahu, Zain sendiri sedang menyantap porsinya di sebelah.

Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak menjadi begitu hening. Tak ada satu pun kata yang terucap. Amara memegang potongan ayamnya, namun rasa sesak di dadanya membuat setiap kunyahan terasa sangat berat. Keheningan ini terasa begitu menyiksa, karena tidak ada lagi gema suara batin Zain yang bisa ia dengar di dalam kepalanya. Durasi ajaib beberapa jam setelah ciuman mereka semalam telah menguap habis tanpa sisa.

Aku harus mencari cara agar bisa mencium Kak Zain lagi, batin Amara berteriak dalam kepedihan. Aku butuh mendengar apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.

Didiamkan dan diperlakukan penuh dominasi kaku seperti ini membuat pertahanan Amara runtuh. Air mata Amara perlahan kembali menggenang, hampir saja menetes ke atas kotak makanannya.

Selesai makan, Zain mengambil alih sisa makanan Amara tanpa bersuara, membuangnya ke tempat sampah, lalu kembali membawa tisu basah. Pria itu menyapu lembut sudut bibir Amara dan membersihkan jemarinya dari sisa minyak. Sayangnya Amara tak bisa mendengar suara batin Zain saat ini, pria itu tengah memuji-muji kecantikan Amara yang tiada tanding.

Amara tak berani bersuara. Jemari tangannya yang gemetar hanya bisa memainkan lipatan kain bajunya di atas pangkuan.

"Katakan," ucap Zain singkat, memecah kesunyian dengan suara bass yang berat.

"Apa?" sahut Amara bingung, mendongakkan kepala.

"Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Zain datar, namun menyembunyikan penekanan yang menuntut.

Bayangan perdebatan sengit dan tuduhan kejam dari Ibu Manda di ruang administrasi tadi pagi seketika berhamburan kembali menguasai benak Amara.

"Aku... Aku terancam tidak bisa ikut ujian semester ini..." bisik Amara, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kata Bu Manda... presensi kehadiranku kurang dan dianggap terlalu banyak bolos..."

Mendengar nama itu meluncur dari bibir istrinya, jemari tegap Zain di samping tubuhnya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Biar aku yang urus," potong Zain pendek dan tegas. "Masih ada perkuliahan sore ini?"

Amara mengangguk pelan. Namun, pertahanan dirinya benar-benar pecah. Kendati sudah berusaha ia tahan setengah mati, bulir-bulir air mata kembali meluncur deras menelusuri pipinya yang pucat.

Melihat lelehan air mata itu, benteng ketegaran Zain runtuh seketika. Tanpa memikirkan aturan formalitas ruangan, Zain maju melangkah dan merengkuh tubuh kecil Amara ke dalam dekapannya.

Amara menangis semakin menjadi-jadi di dada bidang Zain. Ia meremas kain kemeja suaminya, membenamkan wajahnya di sana seraya meluapkan seluruh rasa sesak, terhina, dan lelah yang menghimpit jiwanya.

Zain menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah kecupan hangat dan dalam di kening Amara.

"Maafkan aku... Maafkan aku, Mara..." bisik Zain teramat lirih tepat di atas ubun-ubun Amara.

Suara bisikan itu begitu halus hingga Amara yang tenggelam dalam tangisnya sama sekali tidak mendengarnya. Amara justru makin mengeratkan pelukannya di pinggang Zain, menyerap kehangatan dan rasa nyaman yang teramat sangat dari dekapan pria itu.

Namun, tidak demikian dengan Zain. Dekapan erat dari tubuh hangat Amara yang pasrah di dalam pelukannya membuat seluruh saraf pria itu menegang keras. Napas Zain memburu, pelipisnya mendadak dibasahi oleh butiran keringat dingin. Sensasi panas merayap cepat ke seluruh pembuluh darahnya.

Zain menyadarkan diri. Dengan gerakan yang sedikit dipaksakan, Zain melepaskan pelukan Amara secara mendadak dari tubuhnya. Pria itu menyadari, jika ia membiarkan Amara memeluknya lebih lama lagi dalam kondisi rentan seperti ini, ia bisa kehilangan kendali penuh atas dirinya sendiri.

"Kembali ke kelasmu sekarang," perintah Zain kaku, memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk menyembunyikan napasnya yang agak tersengal.

Amara tertegun sejenak, mengusap air matanya dengan punggung tangan. Tanpa menatap wajah Zain lagi, Amara berbalik, menyambar tasnya, dan melangkah pergi menyusuri koridor menuju kelasnya.

Begitu helaan langkah kaki Amara menghilang di balik pintu yang tertutup rapat, raut kaku di wajah Zain mendadak berubah menjadi tatapan mata yang teramat sangat dingin dan membahayakan.

Zain merogoh ponsel di saku jasnya, menggeser layar dan memanggil sebuah nomor dengan tombol cepat.

"Jaya," panggil Zain begitu sambungan terhubung. Suaranya terdengar begitu rendah dan mencekam bagai badai yang siap meletup.

"Ya, Profesor Zain? Ada perintah?" sahut suara tegap Jaya dari seberang telepon. Jaya, yang sebenarnya bertugas sebagai pengurus jurusan di Universitas Candrakirana, adalah orang kepercayaan Zain yang memegang kendali atas urusan-urusan privatnya.

"Urus Manda sekarang juga," tegas Zain tanpa jeda basa-basi. "Asisten dosen sekaligus staf kemahasiswaan itu sudah bertindak terlalu jauh. Dia menyalahgunakan wewenang presensi untuk menekan Amara."

Jaya di seberang telepon terkekeh dingin. "Dimengerti, Bos. Apa yang harus saya lakukan pada wanita itu?"

Zain mengepalkan tangannya di atas meja, matanya berkilat membahayakan. "Cari seluruh pelanggaran administrasi dan celah hukum yang pernah dia lakukan selama mengajar di kampus ini. Buat dia kehilangan seluruh posisinya sebelum matahari terbenam hari ini."

"Baik, Profesor. Akan saya selesaikan dengan rapi."

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Zain. Pria itu melempar ponselnya ke atas meja kayu, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. Pandangannya yang tajam menatap lurus ke arah pintu, sementara gema amarah di dalam jiwanya membakar habis sisa-sisa kesabarannya.

Siapa pun yang berani mengusik dan meneteskan air mata istrinya, harus siap menerima konsekuensi kehancuran yang tak terbayangkan.

"Sial, kenapa dia harus terbangun disaat seperti ini!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wihhhh Zain kamu keren aku suka aku suka siapapun orang yang membuat Amara menangis akan dia singkirkan eh itu apanya yang terbangun ya mode pura pura polos akuh 🤔😭🤣🤣🤣🤭
Mom Yara
agak bingung ya, mereka dulu sma nya barengan, tapi skr udah jadi dosen sama mahasiswa, beda usianya brp kak?
ᴍɪss_dew: Amara nya yang SMA, kalo Zain waktu itu 1 kampus sama kakaknya.
total 1 replies
Muft Smoker
nah kalo ni ,, gx mungkin nyuruh jaya kn zain ,,
ni masalah mu sendri🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini masalah si zain sih wjwkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
dulu aku pernah protes nilai matkul miss, dari D mau protes ke C, eh pas keluar malah jadi E wkwkwkw
ᴍɪss_dew: kirimin sutett aja dosen gitu 😭
total 1 replies
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
zain udah kalap ka arbaraaaa, aslinya dia nafsuaaannn
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
dia sering nangis ka arbaraaaaa, gara gara si zain tentu saja
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kan kalian sebenarnya sehati 😍😍😍😍
Sri Murtini
👍tunggu Manda, silahkan protes nggk akan didegar lg🤣🤣
Muft Smoker
fix ni si Silvia bagian tata usaha yg nyebar fitnah buat Amara ke si Amanda bolu gulung ,,
Muft Smoker: ooo yx kah kak ,, udh jdi brownies Dy ,, bukan bolu gulung lgi🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
jangan buru buru marah dan salah paham Zain kau tidak tahu saja istrimu barusan di intimidasi difitnah oleh Manda atau siapalah itu tanyakan dan bicara baik baik biar Amara bisa menceritakan semuanya padamu🤭
SENJA
bisa saling denger apa gimana?🫣
SENJA
pake nanya lu 😤
SENJA
hadeeeh makan aja kok susah ada yah orang kaya gini 😳
SENJA
lu pecat lah silvia gaje itu😤
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!