Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26.Ayo pulang!.

Nyonya Li berdiri di ruangan itu, napasnya terasa berat seakan ada batu besar yang menindih dadanya. Matanya melirik ke arah tumpukan emas batangan yang diletakkan di meja — jumlah itu jauh lebih banyak daripada yang pernah ia keluarkan untuk membawa Li Hua ke sini. Namun kebahagiaan yang datang bersama gadis itu tak bisa diukur dengan harta apa pun. Ia menghela napas panjang, lalu menoleh kepada pengawal pribadinya yang berdiri menunggu di ambang pintu.

"Pergilah panggil Nona Li Hua ke sini," ucapnya pelan namun tegas, berusaha menyembunyikan kesedihan di suaranya. "Bawa dia kemari... katakan aku ingin berbicara dengannya. Segera."

Pengawal itu mengangguk, lalu bergegas pergi. Nyonya Li berjalan mendekati jendela, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Hatinya perih — Li Hua bukan sekadar pekerja baginya, melainkan penyelamat yang mengembalikan harapan dan kebahagiaan bagi semua orang di tempat ini. Namun ancaman pria bertopeng itu bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Nama baik tempat ini, nasib semua orang yang bergantung padanya... semuanya terancam jika ia menolak.

Tak beberapa lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka, dan Li Hua melangkah masuk, wajahnya tampak bingung namun tetap tenang. Ia menatap sekeliling ruangan, lalu bertanya lembut.

"Ada apa, Nyonya Li? Mengapa memanggilku tiba-tiba? Apakah ada sesuatu yang salah?"

Nyonya Li berbalik perlahan, menatap gadis itu dengan pandangan yang bercampur rasa sayang dan penyesalan. Ia mengangguk ke arah sosok yang berdiri membelakangi mereka di dekat jendela — sosok tegap yang ditutupi bayang-bayang senja.

"Kakakmu datang menjemputmu, Nona Zhang."

Li Hua tertegun sejenak, matanya membelalak tak percaya. "Kakak?"

Ia mengerutkan kening, perlahan melangkah maju mendekati pria itu. Pikirannya berputar cepat — Mo Chen? Pasti dia. Satu-satunya kakak yang aku miliki di kehidupan ini... Namun kenapa perasaannya justru kesal, bukannya senang?

Mo Chen si brengsek itu... kenapa harus datang sekarang? batinnya mendengus, matanya menatap punggung pria itu dengan tatapan tidak suka. Padahal di sini sungguh menyenangkan — pemandangan indah, orang-orang ramah, pria-pria tampan di mana-mana... kenapa harus merusak kesenanganku? Seharusnya dia biarkan aku di sini sampai aku benar-benar puas menikmati hidupku!

Li yun yang berdiri sambil menatap kearah luar ruangan itu, mengernyitkan dahinya mendengar suara hati Li hua dia jadi kesal sendiri.

Belum sempat ia melanjutkan keluhannya, pria itu berbalik perlahan. Tatapan matanya tajam, menyala dengan kemarahan yang tertahan, dan suaranya terdengar rendah namun cukup didengar dengan jelas.

"Maaf telah mengganggu kesenanganmu."

Li Hua terkejut hingga mundur selangkah, napasnya tertahan di kerongkongan. Wajah itu...suara itu...bukan Mo Chen.

"Li Yun..." panggilnya pelan, nyaris berbisik, matanya tak lepas dari wajah pria yang berdiri tak jauh darinya.

Keterkejutannya membuat kakinya tersandung tepian karpet, tubuhnya terhuyung ke belakang seakan ditarik ke bawah. Sebelum punggungnya menyentuh lantai, sepasang tangan kuat segera menangkap pergelangan tangannya dan menariknya perlahan ke depan — hingga tubuh mereka berdekatan, wajah saling berhadapan, napas mereka beradu lembut di udara.

Waktu seakan berhenti berputar. Dunia di luar sana seakan lenyap. Li Hua menatap mata Li Yun, dan di kedalaman tatapan itu ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang — jauh lebih kencang daripada saat ia takut atau marah. Tangan gadis itu mencengkeram lengan baju Li Yun erat, seakan takut jika dilepaskan pria itu akan menghilang.

Hening yang panjang menyelimuti ruangan itu, hingga suara Nyonya Li memecah keheningan tersebut.

"Kalian ini sebenarnya kakak-beradik... atau sepasang kekasih?"

Keduanya tersentak serentak, segera melepaskan satu sama lain dan berdiri tegak, wajah mereka sama-sama memerah — Li Hua karena malu, Li Yun karena canggung yang tak terduga. Mereka membuang muka ke arah yang berlawanan, tidak berani saling menatap lagi.

Nyonya Li hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu, matanya menyiratkan pemahaman yang dalam.

"Jadi, katakan padaku..." ucapnya pelan namun tegas, menatap mereka bergantian. "Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?"

"Dia... dia seperti saudaraku, Nyonya," jawab Li Hua cepat, suaranya terdengar gugup, matanya menunduk menatap lantai.

Li Yun mendengus pelan, menatapnya dengan pandangan yang tak bisa dibaca. "Siapa yang mau menjadi saudaramu."

"Sudahlah..." potong Nyonya Li lembut, mengangkat tangan menghentikan perdebatan itu. "Sekarang bukan waktunya untuk itu. Dia datang menjemputmu, Li Hua. Dan aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku tidak ingin tempat ini terkena masalah karena menyembunyikan putri keluarga penting."

"Tapi Nyonya Li..." Li Hua mencoba membujuk, menatap wanita itu dengan pandangan memohon.

Li Yun tidak membiarkannya melanjutkan. Ia melangkah maju, menggenggam tangan Li Hua dengan lembut namun tegas. "Ayo kita pulang. Ayah dan Ibu mengkhawatirkanmu. Qiao'er juga menunggumu, dia merindukanmu."

Nama Qiao'er membuat hati Li Hua melembut, pelayan polosnya itu pasti saat dia tidak ada jadi sasaran Shi yin balas dendam padanya.Ia menatap wajah Li Yun, lalu ke arah pintu — seakan tubuhnya bergerak sendiri mengikuti tarikan tangan itu, tanpa bisa menolak, tanpa sanggup memalingkan wajah lagi.

Saat mereka melangkah keluar ruangan, Li Yun tiba-tiba berhenti. Ia melepaskan genggamannya, lalu melepaskan mantel bertudung dari bahunya sendiri dan menyelimutkannya ke tubuh Li Hua, menutupi rambut serta wajah gadis itu agar tidak dikenali siapa pun yang lewat.

Li Hua tertegun, menatapnya lekat-lekat. Raja Iblis bisa seperhatian ini? batinnya takjub, jantungnya kembali berdebar tak menentu.

Li Yun mendengarnya, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat. Ia menyesuaikan tudung di kepala Li Hua dengan jemarinya yang cekatan namun lembut.

"Pakai ini," ucapnya pelan, matanya menatap lekat ke mata gadis itu. "Agar tidak ada yang mengenalimu. Masuk ke tempat seperti ini bisa merusak nama baikmu."

Li Hua menunduk, pipinya terasa hangat. "Aku tahu..." bisiknya pelan.

Ia berjalan lebih dulu di depan, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik tudung itu, meski hatinya masih bergejolak. Li Yun berjalan di sampingnya, menjaganya dari sisi luar, langkahnya tenang namun waspada.

Namun saat hampir sampai di pintu keluar utama, langkah kaki mereka berhenti bersamaan. Pintu ruangan khusus di sebelah mereka terbuka, dan di celah itu, Li Hua melihat sosok yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.

Mo Chen... batinnya terkejut, matanya membelalak. Dan Jun Yi... Pangeran Mahkota...

Pintu itu tertutup kembali, namun pemandangan singkat itu sudah cukup untuk membuatnya bingung sekaligus curiga.

Li Yun menarik pelan lengan baju Li Hua, berusaha membawanya pergi. "Ayo kita pergi."

Li Hua tidak bergerak, matanya masih terpaku pada pintu tertutup itu. Pikirannya berputar cepat — mengingat kembali isi buku yang pernah ia baca. Mo Chen seharusnya prajurit yang gagah... teman dekat Pangeran Mahkota... tapi jika mereka bekerja sama untuk sesuatu yang buruk...

"Tidak..." gumamnya pelan. "Pasti ada yang mencurigakan."

Li Yun mengerutkan kening, menatapnya bingung. "Jadi pergi atau tidak?"

"Bolehkah kita menguping sebentar?" tanya Li Hua menatapnya dengan pandangan memohon. "Aku tidak mau kakakku yang tersayang itu diperalat oleh Pangeran Mahkota. Hati ini memang terlalu baik, tidak bisa membiarkan orang terdekatku celaka..."

Li Yun menatapnya sejenak, lalu menghela napas panjang, sudut bibirnya kembali tersenyum tipis. "Aku tahu kau adik yang baik. Baiklah, kita tunggu sebentar. Aku juga penasaran apa rencana mereka."

Mereka berdua kembali menyusup ke ruangan yang tadi mereka tinggalkan, berdiri di balik tirai tebal yang menyembunyikan sosok mereka. Li Hua menahan napas, menatap punggung Li Yun yang berdiri tak jauh darinya.

Sejak kapan Raja Iblis itu sependapat denganku? batinnya heran, namun ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya.

Li Yun tersenyum pelan tanpa menoleh, lalu memberi isyarat agar gadis itu diam. Suara percakapan dari ruangan sebelah mulai terdengar samar, dan keduanya menegang, siap mendengarkan setiap kata yang terucapkan.​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!