Indonesia
NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wabah

Dua hari berlalu sejak demam Nayla mereda. Kehidupan mereka di Zermatt diisi oleh ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Tanpa bunyi beeper rumah sakit yang memekik di tengah malam, dan tanpa panggilan darurat dari ruang ICU.

Namun, ketenangan itu perlahan mulai tergeser ketika fajar di hari kesepuluh honeymoon mereka menyingsing.

Nayla terbangun oleh aroma kopi hitam pekat yang menyeruak di udara. Saat membuka mata, ia mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin.

Di depan jendela kaca raksasa yang menyorotkan panorama salju abadi, Narendra sedang berdiri tegap. Pria itu mengenakan kemeja wol abu-abu yang lengannya tergulung kencang, menggenggam cangkir kopi dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang ponsel terenkripsi yang sudah aktif kembali.

Raut wajah Narendra mengeras kaku. Sepasang mata elangnya menajam, menatap lurus ke luar jendela dengan aura dingin yang biasa ia kenakan saat berada di meja operasi.

Nayla perlahan duduk di ranjang, menyelimuti bahunya dengan kain rajut. "Naren...?"

Narendra seketika menoleh. Begitu pandangannya bertaut dengan mata bening istrinya, kilatan dingin di matanya melunak dalam sekejap. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu melangkah mendekati tempat tidur.

"Terbangun karena aku, hm?" bisik Narendra lembut, mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan menyapu helai rambut Nayla dari dahi.

Nayla menggeleng pelan, lalu pandangannya jatuh pada layar ponsel Narendra yang masih menyala di meja. Sebuah dokumen laporan berstempel Sangat Rahasia bertuliskan logo Departemen Kesehatan terpampang di sana.

"Ada masalah di Rumah Sakit?" tanya Nayla langsung, naluri dokternya membuncah. "Gibran? Atau ada pasien kritis?"

Narendra menarik napas panjang. Ia meraih jemari mungil Nayla, menggenggamnya hangat. "Bukan Gibran. Dan bukan masalah internal rumah sakit kita."

Narendra menyerahkan ponselnya ke tangan Nayla. Nayla membaca baris demi baris dokumen resmi tersebut. Matanya membelalak perlahan, dan napasnya tertahan.

"Wabah infeksi saluran pernapasan misterius pada anak... di kawasan pesisir Jawa Barat?" gumam Nayla membaca judul laporan tersebut. "Puluhan balita dirawat dengan gejala nekrosis paru akut dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam?"

"Gugus tugas kementerian kesehatan dan komite etik kedokteran nasional baru saja menerbitkan status darurat terbatas," jelas Narendra dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. "Pusat riset dan laboratorium pediatri kita—The Nayla Kartikasari Pediatric Center—diminta secara resmi untuk memimpin tim isolasi dan penanganan klinis."

Nayla menatap suaminya. Laporan itu bukan sekadar tugas biasa, itu adalah ujian nyata pertama bagi pusat riset pediatri yang baru saja di resmikan. Puluhan nyawa balita berada dalam kondisi kritis akibat wabah yang belum teridentifikasi mutasinya.

"Surat permohonan resminya ditandatangani langsung oleh Profesor Suryo dan Menteri Kesehatan," tambah Narendra. "Mereka minta kita... terutama kamu sebagai Kepala Tim Riset Pediatri, untuk memegang kendali penanganan lapangan."

Hening merayap di antara mereka selama beberapa detik. Sisa waktu honeymoon mereka di Swiss masih ada empat hari lagi. Empat hari yang seharusnya diisi oleh perjalanan romantis ke Lucerne dan Jenewa.

Nayla menatap lurus ke dalam mata elang Narendra. "Naren... kita harus pulang."

Narendra tidak terkejut. Pria itu tahu betul jiwa dan dedikasi istrinya sebagai seorang dokter spesialis anak. Namun sebagai suami yang baru saja menyaksikan istrinya tumbuh sakit dua hari lalu, ada sedikit keraguan yang melintas di matanya.

"Jadwal penerbangan kita seharusnya masih empat hari lagi, Nayla," ujar Narendra lekat-lekat, jemarinya mengusap pipi Nayla. "Kamu baru saja sembuh dari demam. Di sana nanti, kamu akan masuk ke area isolasi ketat dengan risiko terpapar virus yang sangat tinggi."

Nayla memegang tangan Narendra di pipinya, menyunggingkan senyum hangat yang sarat akan keteguhan hati.

"Ingat sumpah yang kita ucapkan sebagai dokter?" bisik Nayla lembut. "Kita disumpah untuk menyelamatkan nyawa. Kalau laboratorium riset yang pakai nama aku itu dibutuhkan anak-anak di sana detik ini, aku gak bisa tenang tinggal di sini sambil menikmati pemandangan salju."

Nayla mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman hangat di pipi suaminya. "Lagian... aku gak takut. Kan ada Dokter Spesialis Bedah terbaik yang bakal berdiri di samping aku buat mengawasi."

Narendra menatap istrinya lama. Rasa bangga, cinta, dan kekaguman yang amat mendalam bergemuruh di dadanya. Senyuman tipis dan tegas akhirnya terukir di bibir sang Dokter Bedah.

Narendra meraih leher Nayla, menunduk dan mencium bibir istrinya dengan kelembutan yang sangat dalam.

"Baik, Nyonya Adiwijaya," bisik Narendra di depan bibir Nayla. "Kita pulang ke Jakarta hari ini."

Setelah enam belas jam. Jet pribadi Adiwijaya Group membelah kegelapan malam, mendarat mulus di Jakarta.

Begitu pintu pesawat terbuka, hawa panas dan lembap khas Jakarta menyergap. Di pelataran parkir apron privat, dua mobil SUV hitam berstempel RS Medika Adiwijaya sudah menunggu dengan lampu sirene berkedip pelan, Gibran berdiri di samping mobil bersama Tyo.

Narendra melangkah turun dari tangga pesawat, menggandeng erat jemari Nayla. Kedua dokter itu telah menanggalkan pakaian liburan mereka, kini berganti menjadi kemeja formal.

"Naren! Nayla!" panggil Gibran setengah berlari mendekat.

"Gimana situasi terakhir di bangsal isolasi pusat riset?" tancap Narendra langsung, tanpa basa-basi formalitas.

Gibran menyerahkan dua bundel map dokumen medis tebal berisi grafik sampel darah dan foto rontgen paru-paru pasien anak.

"Satu jam lalu, sepuluh pasien balita rujukan dari rumah sakit daerah baru saja mendarat di The Nayla Kartikasari Pediatric Center," ujar Gibran cepat seraya melangkah bersama mereka menuju mobil. "Gejalanya tidak merespons antibiotik spektrum luas standar. Laju penurunan saturasi oksigen anak-anak itu sangat cepat."

Nayla membuka map dokumen tersebut di dalam mobil yang sedang melaju kencang membelah jalan menuju rumah sakit. Mata beningnya membaca angka-angka laboratorium dengan ketelitian tingkat tinggi.

"Ini bukan infeksi bakteri biasa," analisis Nayla tegas, menunjukkan grafik sampel darah ke hadapan Narendra. "Ini sindrom sitokin berlebih akibat respons imun tubuh anak yang dipicu oleh paparan racun lingkungan atau mutasi virus spesifik."

Narendra melirik data tersebut, matanya menajam. "Kita butuh isolasi sampel jaringan dan biopsi paru darurat malam ini juga."

Pria itu memutar tubuhnya menghadap Nayla, meraih kedua tangan istrinya yang memegang dokumen. Aura dominasi dan rasa protektif Narendra kembali terbangun utuh—bukan lagi sebagai suami yang memanjakan di Zermatt, melainkan sebagai Pimpinan Operasional dan Dokter Bedah Senior yang siap bertempur di samping istrinya.

"Pintu ruang isolasi utama di lantai lima sudah disterilkan penuh," ujar Narendra lekat-lekat, menatap mata Nayla. "Aku yang akan mendampingi kamu di dalam ruang prosedur. Tidak ada satu langkah pun yang kamu ambil tanpa pengawasan aku."

Nayla tersenyum mantap, membalas genggaman tangan suaminya dengan kehangatan. "Baik, Dokter Narendra."

Sirine mobil meraung pelan membelah jalanan Jakarta malam itu.

1
Dewi Anggraeni
Unboxing nih Naren 🤭
Dewi Anggraeni
Boleh thor biar seru 🤭🤭
Dewi Anggraeni
Wah salah tebak aku 🤭 Narendra punya berapa paman sih ? Terus gibran anaknya siapa ? Kan katanya sepupu
Dewi Anggraeni
siapa kira" ??? Tebakan aku sih Fathan Adiwijaya
Dewi Anggraeni
keren nayla 👍
Dewi Anggraeni
up lg thor
Dewi Anggraeni
lanjutlah thor ditunggu konfliknya
Dewi Anggraeni
Ada konflik lagi nih
Dewi Anggraeni
Alhamdulillah akhirnya terbongkar 🙏
Dewi Anggraeni
Mauuuu thor
Dewi Anggraeni
mantap udah ada konflik 👍
Dewi Anggraeni
up lg thor 👍
Dewi Anggraeni
Up lagi thor
Dewi Anggraeni
lanjutttt
Dewi Anggraeni
lanjut thor 👍
Dewi Anggraeni
otw sah nih
Dewi Anggraeni
nah loh nayla 🤭 otw bucin nih
Dewi Anggraeni
lanjut thor 👍
Dewi Anggraeni
Gaslah ren 😄
Dewi Anggraeni
otw bucin nih ren🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!