Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Kehadiran Dinda Minyak Panas dan Rencana Darurat
Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun padi ketika Dika Pratama terbangun dari tidurnya. Suara kokok ayam jantan dan derit pintu dapur yang dibuka Emak Sarni Sari menjadi alarm alami yang setia menyambut hari baru di rumah panggung sederhana itu.
Dika bangkit dari kasur kapuknya, merapikan sarung tenun yang semalam sempat ia pakai tidur, lalu melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, aroma tembakau melinting khas bercampur wangi kopi tubruk pekat langsung menyapa indra penciumannya. Bapak Joko Pratama sudah duduk tenang di amben bambu, menikmati sebatang kretek Gajah Baru sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Sudah bangun, Le?" tanya Bapak Joko Pratama tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap halaman depan yang disapu lembut oleh angin pagi.
"Sudah, Pak," jawab Dika serak, lalu berjalan menuju dapur.
Di meja panjang dapur, Emak Sarni Sari sudah sibuk menata tumpukan adonan lumpia dan tahu isi yang siap digoreng. Dika langsung mencuci tangan di gentong gerabah, lalu duduk bersila di samping sang ibu untuk membantunya membungkus sisa adonan seperti biasa.
"Kemarin malam pulangnya agak larut, Le. Dari mana saja?" tanya Emak Sarni Sari lembut sambil melirik anaknya sekilas.
Dika menelan ludah sejenak, agak ragu menceritakan kejadian semalam di Alun-Alun Sidoarjo. "Ah, cuma nongkrong ngopi sebentar di alun-alun, Mak. Cari angin malam biar nggak penat," jawab Dika, berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa mantan CEO galaknya sempat datang menyusul naik mobil mewah.
Namun, di ambang pintu dapur, Bapak Joko Pratama tiba-tiba berdiri sambil membawa segelas kopi. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan gelasnya di atas meja kayu dekat Dika bekerja. Tatapan mata lelaki paruh baya itu tajam menatap putranya, seolah bisa membaca isi pikiran Dika yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ngopi boleh, tapi jangan keluyuran bawa angan-angan kosong, Le," ucap Bapak Joko Pratama tegas namun bernada nasihat. "Laki-laki itu harus punya pendirian. Kalau sudah pulang ke akar, jangan biarkan angin kota goyangin dahanmu lagi."
Dika tertegun, tangannya yang sedang melipat kulit lumpia mendadak terhenti. "Maksud Bapak apa?" tanya Dika pelan.
Bapak Joko Pratama menyulut kreteknya yang baru, lalu mengepulkan asap tipis ke udara dapur.
"Bapak tahu kamu masih muda, darah masih panas, dan urusan hati kadang susah ditebak. Tapi ingat, orang dari dunia gemerlap itu punya aturan main sendiri. Jangan sampai kamu datang ke kandang macan, atau malah macan itu yang datang ngacak-ngacak kandang kita."sahut Bapak joko
Mendengar ucapan sang ayah, Dika langsung terdiam seribu bahasa. Ia sadar, insting seorang ayah tidak pernah bisa dibohongi. Bapak seolah sudah mencium gelagat bahwa badai dari Surabaya belum sepenuhnya selesai.
"Iya, Pak... Dika paham," jawab Dika lirih, menunduk melanjutkan bungkusannya.
Di luar rumah, matahari pagi Sidoarjo mulai merangkak naik, menyinari hamparan sawah hijau di sekeliling kampung. Dika tahu, peringatan Bapak adalah rem pengaman terbaik untuk menjaga harga dirinya. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, bayangan Vanesha yang berani menentang orang tuanya demi dirinya tetap bergeming kuat — menandakan bahwa babak baru dalam hidupnya baru saja akan dimulai.
Suasana dapur kembali senyap setelah peringatan tegas dari Bapak Joko Pratama menggantung di udara. Yang terdengar hanyalah suara desis minyak kelapa di atas wajan tanah liat yang mulai memanas, berpadu dengan suara adonan tahu isi yang dicelupkan ke dalam adonan tepung oleh Emak Sarni Sari.
Tidak lama kemudian, tirai pintu dapur tersingkap. Muncul sosok gadis berambut sebahu dengan setelan kaus rumahan sederhana dan celana training longgar. Ia adalah Dinda Ayu Lestari — atau yang akrab dipanggil Dinda — adik kandung kesayangan Dika Pratama yang baru saja merapikan kamarnya.
"Pagi, Mak, Bapak..." sapa Dinda sambil menguap lebar, lalu melangkah mendekati meja dapur. Matanya langsung melirik ke arah baskom berisi gorengan matang. "Wah, tahu isinya sudah matang nih! Boleh nyicip satu ya, Mak?" tanya Dinda antusias.
"Eits, cuci tangan dulu sebelum comot gorengan, Mbak Dinda!" sahut Dika cepat sambil menepuk pelan tangan adiknya yang hendak meraih tahu isi.
"Iya, bawel banget sih, Mas!" protes Dinda sambil mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal. Ia lalu mencuci tangan di gentong gerabah sebelum mengambil satu buah gorengan hangat dan menggigitnya dengan nikmat. "Hmm, masakan Emak emang paling juara! Oh iya, Mas Dika tumben pagi-pagi udah rapi mau ngantar gorengan? Biasanya masih merem di kasur."
"Biarin, lagi rajin tahu. Daripada kamu kerjaannya tidur mulu kayak beruang hibernasi," balas Dika sengit sambil melanjutkan pekerjaannya membungkus sisa adonan lumpia.
"Biarin wleks! Suka-suka aku dong," ucap Dinda menjulurkan lidah ke arah kakaknya.
Melihat pertengkaran kecil kedua anaknya, Emak Sarni Sari hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Udah-udah, malah pada pamer suara pagi-pagi. Dika, itu gorengan di wajan tolong dibalik biar nggak gosong," ucap Emak Sarni Sari.
"Siap, Mak!" sahut Dika cepat.
Di tengah kehangatan dapur itu, Dika kembali teringat pada percakapannya dengan Vanesha semalam. Kehadiran Dinda, adik perempuannya yang ceplas-ceplos, tiba-tiba memunculkan sebuah kekhawatiran baru di benak Dika. Jika seorang CEO Vanesha Group benar-benar nekat datang ke rumah panggung mereka, bukan cuma Bapak dan Emak saja yang bakal heboh, tapi adiknya ini pasti yang paling depan jadi "wartawan kampung" yang menginterogasi Vanesha.
Duh, kalau si Dinda sampai tahu mantan bos galakku yang suka marah-marah di kantor itu nyasar ke sini nyari aku, bisa dibully habis-habisan aku sama dia, batin Dika ngeri sendiri membayangkannya.
Menjelang pukul tujuh pagi, gorengan buatan Emak Sarni Sari sudah matang sempurna dan tersusun rapi di dalam dua baskom besar. Dika mengangkat baskom tersebut, menatanya di atas sadel sepeda ontel tua miliknya.
"Mak, Pak, Dinda, aku berangkat dulu ya keliling nganter gorengan," pamit Dika sambil menyalami tangan kedua orang tuanya bergantian.
"Hati-hati, Mas! Jangan keluyuran kelamaan, nanti keburu dicariin pelanggan gorengan... atau jangan-jangan dicariin 'mbak-mbak kota' lagi?" goda Dinda sambil tertawa kecil penuh arti.
"Maksud kamu apa ngomong begitu, Dinda?" tanya Bapak Joko Pratama dari beranda, menoleh tajam dengan kening berkerut.
"Eh? Enggak, Pak! Canda doang kok!" elak Dinda salah tingkah, keringat dingin mendadak mengucur di pelipisnya. "Ya udah, Dika berangkat ya, Mak, Pak!" sambung Dika buru-buru, lalu langsung mengayuh sepeda ontel tuanya menjauh dari rumah.
Sambil mengayuh pedal menyusuri jalanan desa yang berbatu, Dika mengelus dada. Ia harus ekstra hati-hati. Rahasia kedatangan Vanesha semalam harus benar-benar ia simpan rapat-rapat dari telinga adiknya yang usil, sebelum rumah panggung sederhana itu benar-benar kedatangan badai besar dari Surabaya.