Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANGKAR EMAS SANG RAJA
Keheningan pagi di kediaman Vardhana terasa berbeda. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah jendela kaca paviliun barat tampak memantul sempurna pada ornamen marmer bernilai miliaran rupiah. Di sudut ruangan megah yang disulap menjadi ruang kerja sementara itu, Raja Zean Rothschild duduk santai di sofa kulit hitam. Kemeja hitamnya yang tergulung hingga siku memperlihatkan lengan kekar dengan urat-urat menonjol, sementara jemarinya yang panjang dan kokoh sibuk memeriksa dokumen bernilai puluhan triliun.
Namun, fokus pria penguasa dunia itu buyar seketika saat aroma lembut wangi mawar dan vanilla yang sangat khas menyusup masuk ke dalam ruang penciumannya.
Pintu paviliun terdorong pelan. Arumi melangkah masuk membawa baki berisi cangkir porselen dan teko teh herbal hangat. Ia mengenakan gamis simpel berwarna navy dengan hijab lebar yang menjuntai rapi menutupi dadanya. Wajah cantiknya yang polos tanpa polesan make-up tampak begitu tenang, namun manik matanya yang jernih memancarkan kebekuan yang belum terjangkau oleh siapa pun.
Sesuai perintah Abinya yang teramat disegani, Arumi terpaksa menjalankan tugas sebagai pemandu sekaligus pembawa jamuan pagi untuk sang tamu agung.
"Teh hangat Anda, Yang Mulia," ujar Arumi dengan nada suara datar dan formal. Ia menundukkan pandangannya sedikit, melangkah mendekati meja kopi untuk meletakkan cangkir porselen tersebut.
Zean menghentikan pergerakan jemarinya. Sepasang mata abu-abu gelapnya yang tajam bagai elang melacak setiap gerakan Arumi. Tatapannya begitu pekat, penuh gairah, dan diwarnai rasa kepemilikan yang teramat dalam. Pria yang biasanya dipuja dan ditakuti oleh para pemimpin negara ini kini bertekuk lutut, hanyut dalam pesona wanita yang hatinya telah membeku akibat pengkhianatan.
Saat Arumi hendak menarik kembali tangannya setelah meletakkan cangkir, jemari kekar dan hangat milik Zean bergerak lebih cepat.
Greb!
Jemari Zean melingkari pergelangan tangan Arumi secara presisi. Sentuhan fisik yang mendadak itu terasa bagaikan aliran listrik bervoltase tinggi yang menyengat kulit Arumi.
Arumi tersentak pelan. Refleks, ia mencoba menarik tangannya kembali. "Yang Mulia, tolong jaga sikap Anda. Ini di rumah keluarga saya."
Bukannya melepaskan, cengkeraman jemari Zean justru makin mengencang. Pria sangat tampan itu berdiri dari sofa, mengikis jarak di antara mereka dalam satu gerak cepat. Tubuh tegap Zean yang menjulang tinggi memotong jalan mundur Arumi, mengurung wanita itu di antara sofa mahal dan dada bidangnya yang dilapisi kain kemeja mahal.
Aroma sandalwood dan expensive leather yang sangat maskulin seketika mengepung seluruh indera penciuman Arumi, membuat napas Arumi terasa sedikit sesak.
"Harus berapa kali aku katakan, Arumi?" bisik Zean. Suara berat dan seraknya bergema tepat di atas kepala Arumi. "Jangan panggil aku dengan sebutan formal itu saat hanya ada kita berdua. Panggil namaku... Zean."
Arumi mendongak, memberanikan diri menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang begitu intens di hadapannya. Hatinya yang terluka akibat pengkhianatan Adrian telah membangun benteng yang teramat kokoh. Ia tidak lagi percaya pada manisnya kata cinta dari seorang pria.
"Anda adalah tamu Abi saya, Raja Zean. Dengar, saya menghormati posisi Anda sebagai penguasa dunia, tapi jangan berpikir Anda bisa menyentuh saya seenaknya," jawab Arumi tegas. Matanya tidak memancarkan ketakutan sedikit pun.
Sudut bibir Zean terangkat tipis, membentuk ukiran senyuman misterius yang sangat berbahaya sekaligus memesona. Bukannya marah atas penolakan dingin Arumi, Zean justru merasa darahnya berdesir hebat. Keberanian dan kedinginan Arumi adalah candu baginya.
Ibu jari Zean bergerak lembut, mengusap punggung tangan Arumi yang halus dengan gerakan yang teramat posesif.
"Aku bisa memiliki apa pun di dunia ini hanya dengan satu kedipan mata, Arumi..." bisik Zean, merendahkan tubuhnya hingga napas hangatnya menerpa kain hijab di sekitar pipi Arumi. "...tapi hanya kamu, satu-satunya wanita yang membuatku bersedia berlutut. Kamu boleh memagari hatimu sedingin es, tapi ketahuilah... aku akan melelehkannya, atau menghancurkan seluruh duniaku demi membawamu ke sisiku."
Arumi mengepalkan jemari tangannya yang bebas. "Perasaan Anda tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya sudah tidak percaya pada kata-kata manis pria. Pria hanya tahu cara berkhianat."
Pernyataan dingin Arumi membuat tatapan mata Zean berubah makin gelap dan pekat. Pria itu menyadari betul luka dalam yang ditinggalkan oleh Adrian—pria bodoh yang telah mencampakkan permata tak ternilai demi wanita manipulatif seperti Aurelia.
"Jangan samakan aku dengan pria tak berguna itu," potong Zean dengan nada suara yang begitu dalam dan intimidatif. Tangannya melingkar pelan di pinggang ramping Arumi, menarik tubuh wanita itu mendekat tanpa membiarkan ada jarak sehalus benang pun di antara mereka.
DEGG!
Jantung Arumi berdegup kencang secara tidak teratur. Kedekatan fisik yang teramat intim ini membuat pertahanannya sedikit berguncang.
"Setetes air mata yang jatuh dari matamu karena pria lain adalah penghinaan bagiku," lanjut Zean berbisik posesif tepat di telinga Arumi. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun pria yang boleh menyentuhmu, menatapmu, atau membuatmu terluka. Jika ada yang berani... aku akan memastikan hidupnya berakhir hari itu juga."
Belum sempat Arumi membalas ancaman penuh obsesi tersebut, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah lorong luar paviliun.
"Arumi! Kamu di mana?!" suara Adrian terdengar memanggil dengan intonasi penuh kecemburuan.
Adrian yang sejak pagi mencari Arumi melangkah masuk ke dalam ruang tamu paviliun tanpa mengetuk pintu. Namun, pemandangan di hadapannya seketika membuat napas Adrian tertahan dan wajahnya memucat.
Di sudut ruangan, Arumi berdiri terkunci rapat di dalam dekapan Raja Zean. Tangan tegap sang Raja mengunci pinggang Arumi secara posesif, sementara wajah tampan pria paling berkuasa di dunia itu berada sangat dekat dengan wajah Arumi.
Dada Adrian seketika terbakar hebat oleh api cemburu yang gila! Pria yang baru saja mengkhianati Arumi demi Aurelia itu mendadak merasa hak miliknya direbut.
"Raja Zean! Apa yang Anda lakukan pada Arumi?!" seru Adrian dengan nada tinggi, mengabaikan hierarki kekuasaan. Ia melangkah maju hendak menarik tangan Arumi. "Lepaskan dia! Arumi adalah wanita yang pernah—"
Brak!
Sebelum jemari Adrian sempat menyentuh selembar kain pun dari pakaian Arumi, tubuh jangkung Zean bergerak secepat kilat. Ia menyembunyikan Arumi secara penuh di balik punggung lebar dan tubuh tegapnya. Sebelah tangan Zean mengunci Arumi di belakangnya, sementara tatapan mata abu-abu gelapnya melibas sosok Adrian dengan aura membunuh yang teramat pekat.
Suhu di dalam ruangan terasa merosot drastis hingga mencapai titik beku.
"Jauhkan tangan kotormu darinya sebelum aku menyuruh pengawalku memotongnya, Adrian," ancam Zean. Suaranya tidak keras, namun mengandung intonasi kepemilikan dan dominasi mutlak yang sanggup melumpuhkan keberanian siapa pun.
Adrian mendadak menghentikan langkahnya. Tenggorokannya terasa kering, ketakutan yang mencekik menyergap jalurnya bernapas saat menatap mata elang milik Zean.
"Dia... dia bukan siapa-siapa Anda, Raja Zean!" cicit Adrian berusaha membela diri. "Arumi adalah mantan kekasih saya!"
Zean terkekeh pelan—suara kekehan dingin yang penuh akan nada penghinaan. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap Adrian bagaikan menatap seekor serangga tak berguna di atas marmer.
"Mantan?" bisik Zean tajam. "Kamu cukup bodoh karena telah membuang permata paling berharga di dunia ini demi batu jalanan tak bernilai. Dan sekarang..." Zean menoleh sedikit ke belakang, melirik Arumi dengan tatapan yang mendadak berubah sangat lembut dan dipenuhi damba. "...dia adalah milikku. Takdirnya, hidupnya, dan seluruh jiwanya adalah milik Zean Rothschild."
Adrian mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga bukunya memutih dan berdarah. Rasa penyesalan yang teramat dalam dan cemburu buta meremas dadanya. Melihat wanita yang dulu selalu menurut padanya kini dilindungi secara ugal-ugalan oleh pria nomor satu di dunia benar-benar menghancurkan harga dirinya.
Dari balik jendela luar paviliun, Aurelia berdiri memperhatikan pertengkaran itu dengan wajah yang merah padam karena benci. Ia meremas gaun mahalnya hingga kusut. Rasa iri yang gila menggerogoti hatinya melihat bagaimana Raja Zean yang begitu tampan dan berkuasa sama sekali tak meliriknya, melainkan bertekuk lutut dan bertindak posesif gila-gilaan hanya demi membela Arumi!
"Sialan, Adrian saja bisa berpaling dari mu Arumi, maka aku pastikan Raja Zean pasti akan berpaling kepadaku, tergila-gila padaku. Raja Zean milikku." Desis Aurelia dengan mata penuh obsesi melihat ketampan dan kekuasaan Raja Zean.
Arumi yang berdiri di balik punggung Zean menatap punggung lebar pria itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Hatinya yang dingin mulai merasakan getaran aneh akibat perlindungan mutlak yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.
Zean kembali membalikkan tubuhnya menghadap Arumi, mengabaikan keberadaan Adrian yang berdiri gemetar di ruang tamu. Jemari tegap Zean terangkat, membelai pelan ujung kain hijab Arumi dengan kelembutan yang teramat kontras dari aura kejamnya tadi.
"Pergilah ke kamarmu dan istirahatlah, Wanitaku," ujar Zean pelan dengan nada bicara yang amat manja dan protektif. "Jangan biarkan lalat-lalat pengganggu mengotori harimu. Biar aku yang membereskannya untukmu."
Arumi menatap Zean sejenak, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melangkah pergi meninggalkan paviliun tersebut. Namun, di dalam hatinya, Arumi menyadari satu hal... benteng es yang selama ini memagari jiwanya mulai terkikis perlahan oleh sangkar emosi dan obsesi manis sang Raja Dunia.
Visual Raja Zean
Visual Arumi
Visual Adrian Dan Aurelia
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/