Indonesia
NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CADAR DI BALIK MIMBAR

Kehangatan dari keputusan Ammar untuk menempuh jalur hukum semalam memberikan sedikit ketenangan di hatiku, namun jejak-jejak cemas masih menyiksa. Pagi ini, dinding kamar utama lantai dua menjadi saksi bisu bagaimana aku berdiri ragu di depan cermin rias. Di atas meja rias, terhampar selembar kain berwarna hitam pekat sebuah niqab berbahan sutra lembut pemberian Nabila kemarin sore.

Jemariku gemetar saat menyentuh pinggiran kain tersebut. Bayang-bayang narasi liar di media sosial yang mencoba memutarbalikkan masa laluku demi meruntuhkan wibawa suamiku terus berputar di kepala. Aku tahu, aku tidak bisa selamanya bersembunyi di dalam rumah mewah ini sementara Ammar berdiri sendirian di luar sana memasang badan untukku dan calon anak kami.

Langkah kaki tegap terdengar mendekat. Ammar melangkah masuk ke dalam kamar, sudah rapi mengenakan jubah putih bersih lengkap dengan sorban tenun bernuansa keemasan di bahunya. Hari ini, Ammar memiliki jadwal ceramah akbar di Masjid Agung Jakarta Selatan sebuah agenda dakwah rutin yang dihadiri ribuan jemaah dan disiarkan secara langsung oleh beberapa kanal media islami.

Ammar menghentikan langkahnya di belakangku. Mata cokelat mewahnya menatap pantulan diriku di cermin, lalu beralih menatap selembar niqab di atas meja.

"Aisyah?" panggil Ammar pelan, suaranya mengalun rendah dan penuh kelembutan. "Kamu sedang memikirkan apa, Sayang?"

Aku memutar tubuhku, menatap suamiku dengan binar keteguhan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. "Mas Ammar... hari ini aku mau ikut Mas ke acara ceramah."

Kening Ammar berkerut tipis. Pria itu mendekat, menyentuh kedua bahuku seraya menatapku cemas. "Kamu yakin, Aisyah? Di sana akan ada ribuan jemaah dan media. Kondisi kamu sedang hamil muda, saya takut kamu lelah atau stres melihat kerumunan orang."

Aku menggelengkan kepala perlahan, lalu meraih kain niqab di meja dan menunjukkannya pada Ammar.

"Aku tidak akan bersembunyi lagi, Mas. Aku mau mendampingi Mas Ammar sebagai istri," tuturku mantap, meski degup jantungku berpacu kencang. "Dan aku memutuskan untuk memakai niqab ini. Bukan karena aku takut atau malu pada tuduhan manusia di luar sana... tapi aku ingin menjaga kehormatan Mas Ammar, menjaga diriku, dan melindungi calon anak kita dari mata-mata yang penuh dengki."

Ammar mematung sejenak. Sorot matanya yang hangat mendadak bergetar oleh rasa haru yang amat pekat. Pria tegap itu menarik napas dalam-dalam, menatapku dengan binar kebanggaan yang meluap-luap.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Ammar mengambil kain niqab itu dari tanganku. Dengan gerakan yang teramat lembut dan takzim, suamiku membantuku menyampirkan kain tersebut di wajahku, menyatukan ikatan tali di belakang hijab rapi yang kukenakan.

Hanya sepasang mata bulat cokelat jernihku yang kini menyisakan terpancar ke luar. Ammar merengkuh kedua pipiku yang terbalut kain halus itu, lalu mendaratkan kecupan lama dan hangat tepat di keningku.

"Masya Allah... kamu sungguh bidadari yang dikirimkan Allah untuk saya, Aisyah," bisik Ammar parau di atas keningku. "Jika ini keputusanmu, maka mari kita melangkah bersama. Tidak ada satu pun prasangka manusia yang bisa merobohkan benteng kita."

Pukul sepuluh pagi, kompleks Masjid Agung Jakarta Selatan sudah dipadati oleh ribuan jemaah. Lapangan parkir dipenuhi bus-bus rombongan dari berbagai daerah, sementara spanduk acara kajian akbar membentang luas di pelataran utama.

Mobil sedan hitam yang membawa kami perlahan memasuki area khusus tamu undangan di samping aula utama. Dari balik kaca mobil yang gelap, aku bisa melihat beberapa kerumunan wartawan dan kamera media yang bersiap di sekitar area pintu masuk VIP.

Jemariku di atas pangkuan mendingin seketika. Mual ringan khas hamil muda sempat menyengat perutku. Namun, sebuah genggaman hangat dan kokoh menyelimuti tanganku. Ammar mengusap punggung tanganku dengan lembut, memberikan senyuman paling menenangkan sebelum pintu mobil dibuka oleh pengawal.

"Siap, Istriku?" bisik Ammar halus.

Aku menarik napas dalam-dalam di balik niqabku, menyalurkan seluruh keberanian dari kehangatan suamiku. "Siap, Mas."

Pintu mobil terbuka. Ammar melangkah keluar terlebih dahulu. Sosoknya yang tegap, tampan, dan berwibawa seketika menyedot perhatian seluruh jemaah dan wartawan di pelataran. Kilatan lampu kamera blitz bertubi-tubi menyambar udara pagi.

Ammar tidak langsung berjalan menuju panggung. Pria itu berbalik, mengulurkan tangan tegapnya ke dalam mobil untuk membantuku turun.

Aku menyambut uluran tangan suamiku, melangkah keluar berdiri tepat di sisinya. Balutan gamis sutra hitam meliuk anggun membungkus tubuhku, dipadukan dengan niqab pekat yang menutup rapi seluruh paras wajahku—menampilkan sosok wanita Muslimah yang amat terhormat, berwibawa, dan misterius.

Seruan kaget dan bisik-bisik langsung bergema di antara kerumunan!

"Itu... itu istrinya Habib Ammar?!"

"Masya Allah... beliau bercadar!"

"Katanya rumor di media sosial kemarin bilang istrinya bukan wanita baik-baik? Tapi penampilannya anggun dan terhormat sekali!"

Beberapa wartawan mencoba menerobos barisan pengaman seraya mengarahkan mikrofon.

"Habib Ammar! Apakah wanita di samping Anda ini adalah Mbak Aisyah?!"

"Mengapa beliau menggunakan cadar hari ini, Habib? Apakah untuk menutupi identitas dan isu masa lalunya?!"

Ammar tidak membiarkan pertanyaan provokatif itu menggoyahkan langkahnya. Dengan tenang dan mantap, Ammar merengkuh jemariku di hadapan ratusan kamera, menarik tubuhku merapat di sampingnya. Pria itu menatap kamera-kamera di hadapannya dengan sorot mata yang tajam dan dingin.

"Istri saya mengenakan niqab atas kemauannya sendiri demi menjaga kehormatan dan kesucian dirinya di hadapan Allah," sahut Ammar tegas melalui suara baritonnya yang mengintimidasi tanpa perlu berteriak. "Dan saya berdiri di sini menegaskan bahwa hukum bagi siapa pun yang menyebarkan fitnah keji terkait keluarga saya sudah ditangani oleh tim kuasa hukum kami. Harap fokus pada agenda kajian agama hari ini."

Jawaban skakmat dari Ammar membuat para wartawan terbungkam seketika. Pengawal keamanan dengan cepat membukakan jalan, menuntun kami masuk menuju ruang tunggu VIP di samping mimbar utama.

Di dalam ruang tunggu VIP yang sejuk, Umi Khadijah dan Nabila rupanya sudah hadir terlebih dahulu bersama rombongan pengurus majelis wanita.

Begitu pintu terbuka dan melihatku melangkah masuk berbalut niqab di samping Ammar, Umi Khadijah berdiri dari sofanya. Matanya berbinar haru. Nabila bahkan langsung berlari kecil menghampiriku, memegang kedua tanganku dengan wajah sumringah di balik kain penutup wajahnya sendiri.

"Aisyah!" seru Nabila penuh kegembiraan. "Masya Allah... kamu cantik banget pakaikan niqab ini! Cocok banget sama kamu!"

Aku tersenyum hangat di balik kain penutupku, memeluk adik iparku itu pelan. "Makasih ya, Nabila... ini kan niqab pemberian kamu kemarin."

Umi Khadijah melangkah mendekat, mengusap bahuku dengan rasa bangga yang tak terhingga. "Langkahmu mulia, Nak. Kamu menunjukkan pada dunia bahwa seorang wanita tidak dinilai dari cibiran manusia di masa lalu, tapi dari kemuliaan dan ketakwaannya hari ini. Umi bangga padamu."

"Terima kasih, Umi," bisikku penuh takzim, mencium telapak tangan ibu mertuaku.

Tak lama kemudian, panitia acara menggetuk pintu ruang VIP, memberitahukan bahwa ceramah utama akan segera dimulai dan ribuan jemaah di dalam aula utama sudah bersiap.

Ammar mengusap kepala saya pelan. "Saya ke mimbar dulu ya, Sayang. Kamu duduk di barisan depan tempat jemaah wanita bersama Umi dan Nabila."

"Iya, Mas. Semangat ceramahnya," balasku halus.

Suasana di dalam aula utama Masjid Agung begitu megah dan khidmat. Ribuan jemaah melimpah hingga ke pelataran luar. Aku duduk di barisan paling depan area wanita, terapit di antara Umi Khadijah dan Nabila. Dari posisi ini, aku bisa melihat jelas mimbar utama tempat suamiku berdiri.

Ammar melangkah naik ke atas mimbar. Ketika pria tegap itu mengucap salam dengan suaranya yang merdu dan penuh wibawa, seluruh aula mendadak hening seketika.

Ceramah yang dibawakan Ammar hari ini mengangkat tema tentang Kehormatan Wanita dan Bahaya Fitnah dalam Islam.

Dengan dalil-dalil yang lugas dan retika yang begitu menyejukkan jiwa, Ammar menguraikan bagaimana Islam melarang keras menghakimi masa lalu seseorang yang telah bertobat, serta bagaimana dosa besar mengintai orang-orang yang menyebarkan prasangka buruk demi menjatuhkan kehormatan sesama Muslim.

"Sesungguhnya," suara Ammar menggema melalui pengeras suara, membius ribuan pasang telinga di aula tersebut, "Allah tidak melihat pada rupa atau harta kalian, melainkan pada hati dan amal kalian. Seorang wanita yang menjaga kehormatannya, yang berjuang membela keluarganya dengan ketulusan hati, jauh lebih mulia di hadapan Allah dibanding ribuan lidah yang sibuk mencari-cari kesalahan orang lain."

Saat mengucapkan kalimat itu, pandangan mata cokelat mewah milik Ammar bergeser pelan menembus kerumunan jemaah wanita, mengunci tepat pada sepasang mataku yang berbinar di balik niqab.

Ada getaran cinta dan perlindungan yang amat dahsyat terpancar dari mata suamiku dari atas mimbar. Di bawah balutan kain niqab hitam ini, air mata haru menetes perlahan di pipiku. Rasa cemas, malu, dan ketakutan akan masa lalu yang sempat menghantui kini benar-benar musnah tak berbekas.

Aku menyentuh perutku yang masih rata di balik gamis, membisikkan janji manis untuk calon buah hati kami. Di balik dinding masjid yang megah dan di bawah naungan ilmu suamiku, aku tahu kami telah memenangkan pertempuran pertama ini dengan kebenaran dan keanggunan yang tak tertandingi.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!