Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.Menguping.
Li Hua menempelkan telinganya erat-erat ke dinding kayu yang tebal itu, matanya terpejam sejenak berusaha menangkap setiap suku kata yang terucap dari ruangan sebelah. Napasnya ia tahan, takut sekecil apa pun suara yang keluar dari mulutnya akan menghalangi pendengarannya. Di sampingnya, Li Yun berdiri tegak, menatap gadis itu dengan dahi berkerut, penuh keheranan sekaligus bingung melihat tingkahnya yang aneh.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" tanyanya pelan, namun nadanya terdengar jelas kebingungan.
Li Hua segera mengangkat telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat agar pria itu diam. "Ssttt... diamlah, nanti kita ketahuan!" bisiknya tanpa menoleh sedikit pun, telinganya tetap menempel pada permukaan dinding.
Li Yun menggeleng pelan, melipat kedua tangannya di dada, menatapnya tak percaya. "Dengan begitu mana bisa terdengar jelas pembicaraan mereka? Paling yang kau dengar hanya suara tawa mereka yang cukup keras saja."
"Berisik nih orang..." gerutu Li Hua di dalam hati, kesal sekali.
Li Yun mendengarnya seketika, alisnya terangkat tinggi, kesal namun tertahan di tenggorokan. Berani-beraninya kau mengomong seperti itu... belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tangan mungil Li Hua tiba-tiba mencengkeram lengan bajunya dan menariknya ke bawah dengan kuat.
"Sudah, jangan terus mengoceh! Aku jadi tidak bisa mendengar!" ucap Li Hua berbisik tajam, menatapnya lekat-lekat dari jarak yang begitu dekat hingga napas mereka saling beradu.
Keduanya terdiam seketika. Wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal — mata Li Hua yang jernih menatap manik mata Li Yun yang gelap dan dalam, sementara pria itu terpaku, tak mampu memalingkan wajah sedikit pun. Detak jantung mereka berdua berpacu kencang, seakan ada burung yang mengepakkan sayapnya di dalam dada. Udara di antara mereka terasa hangat, menyusut perlahan, membuat napas mereka terasa berat dan terhenti di kerongkongan.
Li Hua yang menyadari kedekatan itu lebih dulu, buru-buru melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak dengan wajah memerah padam. Ia berdeham pelan, membuang muka ke arah jendela berusaha menyembunyikan kegugupannya. Li Yun juga ikut berdiri, menegakkan punggungnya, lalu memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, tak berani menatapnya lagi. Suasana hening dan canggung menyelimuti ruangan itu seketika.
Bagaimana ini? Apa ada yang salah dengan diriku? batin Li Hua, kipas-kipas wajahnya dengan kedua tangan demi mendinginkan pipinya yang terasa terbakar.
Li Yun mendengar suara hati gadis itu, sudut bibirnya tak sengaja terangkat membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat. Ia berdeham pelan, merapikan kerah bajunya yang terasa tiba-tiba sempit.
"Sepertinya tidak akan bisa menguping begini terus," ucapnya memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit kaku.
"Ti... tidak, kau saja yang berisik!" jawab Li Hua agak terbata-bata, menoleh padanya sebentar lalu kembali menunduk. "Daripada sibuk mengomel, lebih baik bantu aku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana."
Li Yun mengangguk, lalu melangkah menuju pintu dan memberi isyarat kepada seseorang yang berdiri di lorong gelap. Ia berbisik pelan, memberi perintah kepada prajurit bayangannya yang muncul seketika di ambang pintu. Li Hua memperhatikan dari kejauhan, matanya tak lepas dari sosok pria yang berdiri tegap itu — setiap gerakannya begitu tenang, begitu berwibawa, seakan tak ada hal yang mustahil baginya.
Setelah selesai memberi perintah, Li Yun berjalan kembali ke arah Li Hua.
"Kau tenang saja, duduk manis di sini," ucapnya lembut, menatap gadis itu dengan pandangan yang menenangkan. "Aku sudah menyuruh prajuritku untuk mengawasi mereka dari dekat. Mereka akan melaporkan setiap kata yang terucap."
Li Hua mengangguk pelan, duduk di tepi tempat tidur sambil meremas ujung gaunnya. "Pangeran memang beda..." gumamnya pelan, tak sadar suaranya terdengar kagum.
Waktu terus berjalan, namun kabar belum datang. Keduanya berada di ruangan yang sama, duduk berjauhan, dan keheningan perlahan kembali menimbulkan rasa canggung yang kian memadat. Li Hua melirik ke arah Li Yun yang duduk agak jauh, bersandar pada dinding dengan kepala bertumpu pada lengan yang ditekuk di lutut. Matanya terpejam, napasnya teratur.
Dia sudah tidur... batinnya pelan, menatap pria itu lekat-lekat.
Li Yun tidak bergerak sedikit pun. Li Hua memberanikan diri, menatapnya lebih lama dari biasanya.
Kalau diperhatikan dengan saksama, Raja Iblis ini ternyata tidak jelek juga... pikirnya, matanya meneliti garis rahang yang tegas, bibir yang berbentuk indah, dan hidung yang lurus. Pria-pria penghibur di tempat ini mana ada yang bisa menandingi ketampanannya.
Sudut bibir Li Yun yang terpejam sedikit berkedut, namun ia tetap diam.
Tapi kenapa bisa sejahat itu? lanjut pikirannya, ada rasa sedih yang menyelinap di hatinya. Membunuh seluruh rakyat Ye Lu, keluarga Zhang, bahkan orang-orang istana tidak luput dari dendamnya... termasuk aku sendiri.
Alis Li Yun mengernyit dalam kegelapan matanya yang terpejam. Bagaimana dia bisa tahu apa yang ada di dalam pikiranku? batinnya bingung sekaligus penasaran.
Kalau mau balas dendam memang boleh, tapi lihatlah sedikit dong... keluhnya dalam hati. Masa orang yang tidak bersalah pun dibunuh juga? Termasuk aku! Sudah jadi janda, dibunuh lagi oleh ipar sendiri... sungguh kejam!
Li Yun menahan napas, kesal namun juga bingung. Sejak kapan aku berencana membunuhnya?
Aku tidak mau mati... sebaiknya aku bunuh saja dia, beres urusannya!
Li Yun hampir tersentak, menahan diri agar tidak membuka mata. Berani sekali kau berpikir begitu padaku...
Tapi... aku tidak tega membunuh pria setampan ini... batinnya melembut, menatap wajah tenang itu dengan pandangan bimbang. Walaupun di masa depan dia dikenal sebagai Raja Iblis, wajahnya sungguh menawan. Apa tidak ada jalan lain selain membunuhnya untuk mengubah akhir hidupku?
Ada... jadilah milikku, jawab suara hati Li Yun seketika, membuatnya sendiri terkejut.
Li Hua menghela napas panjang, pikirannya mulai melayang ke arah yang tidak seharusnya. Apa aku harus mengeluarkan pesonaku? Tapi aku tidak kalah cantik dari Shi Yin... atau mungkin langsung saja aku taklukkan dia di sini, mumpung hanya kita berdua? Katanya di drama-drama, pria yang dingin dan kejam akan luluh begitu disentuh dengan kasih sayang... ia akan menjadi lembut seperti budak begitu menyadari bahwa ia dicintai seutuhnya.
Wajahnya memerah semakin pekat, namun pikirannya tak bisa berhenti. Aku bisa ikat kedua tangannya di tiang ranjang ini... cium setiap jengkal wajahnya, turun ke leher... ke dada yang kekar dan putih itu... pasti saat disentuh terasa kenyal dan padat... membuatku tidak sanggup melepaskan...
Li hua sambil membayangkan kejadian di benaknya.
"Mesum!"
Li Hua tersentak sekuat tenaga, melompat berdiri saat Li Yun tiba-tiba membuka mata dan membanting telapak tangannya ke meja kecil di sampingnya, wajahnya merah padam, napasnya memburu.
"Kau... kau bermimpi buruk?" tanyanya bingung sekaligus terkejut. "Tapi siapa yang kau sebut mesum?"
Li Yun menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sambil berkata bohong. "Aku... aku tadi bermimpi ada gadis gila yang mencoba merabaku tidak tahu malu."
Li Hua menatapnya lekat-lekat, melihat wajah pria itu yang memerah sampai ke telinga, napasnya masih naik turun tak tenang. Ia melangkah mendekat sedikit.
"Kau tidak sedang sakit kan? Wajahmu merah sekali..." ucapnya lembut, mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi pria itu.
Tangan Li Hua ditepis dengan kasar hingga gadis itu mundur selangkah, matanya membelalak tak percaya.
"Dasar Raja Iblis..." batinnya kesal, menatapnya tajam. "Sifatnya buruk persis seperti yang dikatakan orang! Aku bodoh sekali tadi memujinya tampan."
Li Yun menyadari tatapan itu, buru-buru hendak menjelaskan. "Tunggu, aku tidak bermaksud..."
Belum sempat kata-kata itu terucap, pintu ruangan terbuka perlahan. Prajurit yang dikirim tadi kembali, wajahnya serius dan penuh kehati-hatian.
"Pangeran..." suaranya rendah namun tegas. "Saya sudah mendengarkan semuanya."
Li Yun dan Li Hua menatapnya bersamaan, lalu saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap prajurit itu.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Li Yun cepat, melupakan seketika keanehan yang terjadi di antara mereka.
Prajurit itu menelan ludah, menatap mereka bergantian. "Pangeran... Pangeran Mahkota Jun Yi meminta bantuan tuan muda Mo chen. Dia meminta bantuan agar bisa lebih dekat dengan nona Li hua" Ucap prajurit Li yun.
Li hua terkejut mendengar namanya di sebut dalam pembicaraan mereka.
"Aku!,untuk apa? "
Prajurit itu awalnya hanya diam, tak berani mengungkapkan kebenarannya.
"Cepat katakan, " Perintah Li yun.
"Baik pangeran, putra mahkota meminta bantuan untuk mendekati nona Li hua. Karena sebentar lagi mereka berdua akan menikah."
Mereka berdua terkejut mendengarnya.
"APA!." Seru mereka berdua serentak.
Berita yang membuat Li hua bingung,karena tidak seperti cerita aslinya.Seharusnya Li hua menikah dengan putra mahkota Tang liang berumur pendek,dan Shi yin saudara kembarnya menikah dengan Jun yi.