Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Kenapa dia belum menghubungi kita ya? Apa dia tidak tertarik untuk bergabung menjadi model?"
Tiga orang wanita juga dua pria duduk melingkar disalah satu meja di satu ruangan yang tampak penuh dengan meja dan kursi-kursi berisi kertas juga foto-foto diatasnya. Di setiap sudut ruangan itu penuh dengan beberapa fas bunga hias serta rak kecil berisi majalah dengan beberapa gambar model yang bekerjasama dengan mereka.
"Aku mendapat sebuah informasi kalau wanita itu istri dari pemilik perusahaan ekspor impor di kota ini, Global Kusuma" ucap dari salah satu lelaki itu pada yang lainnya.
"Global Kusuma? Maksudmu Pak Angga? Wanita itu istri Pak Angga?" Tanya wanita yang berbicara sebelumnya.
Lelaki tadi segera meraih ponselnya dari atas meja dan mencari tahu tentang pemilik perusahaan ekspor impor yang belum terlalu terkenal itu, ia menunjuk nama Raisa sebagai istri dari lelaki bermarga Kusuma itu.
"Lihat, pemilik nama ini sama dengan wanita yang sebelumnya memiliki hubungan dengan Pak Steven, yang sekarang menjadi tunangannya Arni" ucapnya lagi sambil menunjukkan biodata Arni di layar ponselnya.
Semua orang diruangan itu seakan tak percaya mendengar hal tersebut, lantaran sebelumnya mereka sudah mengetahui seluk-beluk hubungan Arni dengan Steven yang sebelumnya merupakan mantan kekasih kakak tiri Arni.
"Jadi mantan pacarnya Steven itu sudah menikah dengan Pak Angga?" Tanya wanita lain dijawab anggukan oleh orang-orang didepannya kini.
"Disini dikatakan Raisa dan Pak Angga sudah menikah sejak lima tahun lalu, tapi kenapa baru kelihatan sekarang ya?" Tanya lelaki yang lain memperhatikan kembali sepenggal vidio viral yang memuat Raisa dan Indra tepat satu minggu lalu.
"Heummm, aku sangat penasaran dengan wanita itu, cepat hubungi Arni. Dia mungkin tahu sedikit banyaknya tentang Raisa" ujar wanita yang duduknya tepat ditengah-tengah orang-orang diruangan itu.
Mereka segera mengangguk dan menghubungi Arni, namun salah seorang dari mereka malah mendapat sebuah artikel yang mengatakan kalau ternyata Arni dan Raisa merupakan saudara beda ibu.
"Tunggu!" Ucapnya berseru membuat semua mata tertuju padanya.
"Apa aku salah baca? Atau yang menulis artikel ini yang salah?" Tanya lagi membaca ulang artikel itu.
"Memangnya apa yang kamu baca?" Tanya wanita yang memerintahkan bawahannya itu untuk menghubungi Arni sebelumnya.
Wanita di depan layar biru itu memperbesar layar ponselnya yang menunjukkan informasi tentang Raisa dan Arni yang ternyata memiliki hubungan darah dari ayah, disana tertulis bahwa Raisa sebelumnya tinggal bersama ibu sambungnya "Tina" sebelum ia menikah dengan Angga yang merupakan mantan pacar Arni.
"Tunggu, maksudnya mereka bertukar pasangan?" Tanya laki-laki lainnya.
Wanita yang sebelumnya pernah memberi kartu namanya pada Raisa semakin tertarik ada wanita muda itu, untuk mencari perhatian banyak orang mereka memang memerlukan orang dengan sedikit konflik yang terdengar tak masuk akal.
"Jangan hubungi Arni, hubungi Raisa secara langsung" titahnya tersenyum penuh makna tersirat.
"Baik, Bu"
***
Indra hampir menjatuhkan kepalanya pada setir mobilnya namun segera tersadar saat sebuah truk menekan klakson dengan sengaja agar lelaki itu kembali sadar dari rasa kantuknya.
"Astaga, astaga" ucapnya yang hampir menabrak tiang pembatas jalan.
Ia segera menghentikan laju kendaraannya di bawah lampu jalan sejenak untuk mengambil nafas panjang sebab tadi ia hampir kehilangan nyawanya, dibukanya jendela mobilnya untuk melihat sekitar dan ia hanya menemukan sapi tak bertuan disana, memakan rerumputan panjang di tengah-tengah ribuan pohon karet yang menjulang tinggi itu.
"Aneh, baru jam delapan tapi jalanan sudah sepi" ucapnya, kembali dinyalakannya mesin mobilnya juga pemutar musik didepannya agar ia tak mengantuk.
Lelaki ini kembali menikmati perjalanannya sambil ditemani musik yang baru di pasangannya, tiba-tiba diarah persimpangan menuju jalan ke rumahnya berhenti sebuah mobil secara mendadak, beberapa detik kemudian ia mendengar suara gemuruh hujan dari arah barat. Ia sengaja memperlambat laju mobilnya menyapa orang yang sedang memeriksa kap mesin mobil itu.
"Ada apa, Pak?" Tanyanya.
"Mobilnya mogok Pak, ehh kamu," lelaki yang disapa Indra itu terkejut begitu menyadari bahwa yang baru saja mengajaknya bicara adalah bawahannya.
Seorang wanita lalu melangkah turun dari sisi lain pintu mobil dan menghampiri laki-laki itu kesal.
"Bagaimana sayang? Jangan lama-lama, aku takut. Tempat ini terlihat seram" ucapnya.
Tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka disertai petir, Arni segera bersembunyi dibalik tubuh Steven sementara Indra berbalik meraih payung di kursi belakang, ia keluar membantu Steven memperbaiki mobil yang tengah rusak itu. Hanya butuh beberapa menit saja, Indra menutup kembali kap mobil.
"Pak, silahkan di coba dulu"
Steven dan Arni kembali ke mobil untuk memeriksa apakah mobil itu sudah berfungsi. Beberapa kali mencoba tiba-tiba mobilnya kembali menyala, Steven membuka jendela mobilnya menatap Indra yang masih berdiri diantara lebatnya hujan berangin malam itu.
"Indra, terimakasih atas bantuannya" ucapnya.
"Baik, terimakasih kembali Pak. Kalau begitu saya lanjut lagi ya" balasnya sebelum ia kembali ke dalam mobil melanjutkan perjalanannya diikuti mobil Steven yang melaju ke arah lain begitu mereka tiba di persimpangan.
Steven meraih beberapa helai tisu dihadapannya dan memberikannya pada Arni.
"Keringkan wajah dan kepalamu, sayang. Nanti demam" ucapnya membuat Arni tersenyum.
"Seharusnya kamu tadi di mobil saja, kamu ini kan model, harus jaga kesehatan lebih supaya pas pemotretan tetap bugar"
"Sayanggg, bagaimana bisa aku tetap berada di mobil sedangkan kamu diluar hujan-hujanan, untung saja tadi temen kamu lewat dan membantu memperbaiki mobilnya sayang. Jadi kita gak kemalaman" balas Arni mengelus lembut lengan calon suaminya itu.
Mobil ini terus membawa mereka melewati jalanan panjang nan berliku-liku tersebut hingga sampailah mereka di kediaman keluarga Arni, rumah dengan pagar mewah berwarna merah bata itu. Keduanya keluar bersamaan dari mobil disambut oleh Tina yang sudah menunggu kepulangan keduanya sejak tadi.
"Astaga, kenapa kalian basah kuyup begini?" Tanya Tina berlari membawa dua handuk lalu diberikan untuk keduanya.
Steven tersenyum mengeringkan badannya mengikuti Tina dan Arni keruang tamu.
"Tadi mobilnya mogok di jalan, Ma. Jadi kami berhenti buat memperbaikinya" jawab Steven.
"Aduhhh, kok bisa?" Tanya Tina lagi menaikkan kedua alisnya.
"Ma, aku sebaiknya langsung pulang saja ya, soalnya sudah keburu basah dan ini juga sudah malam" ucapnya pada Tina sedangkan Arni langsung duduk diatas sofa dengan wajah murungnya begitu mendengar perkataannya barusan.
Tina melipat kedua tangan di depan dadanya sambil melirik anak gadisnya tersebut, ia dan Steven lalu tersenyum bersama sebab kini Arni membelakangi keduanya. Lelaki ini duduk didepan Arni, mengelus lembut pucuk kepalanya sebelum ia mengecup manja kening gadis tersebut.
"Jangan cemberut begitu dong sayang, kan besok kita ketemu lagi. Aku janji deh akan membawa kamu buat fitting baju pernikahan kita besok" ucapnya membuat senyuman gadis itu kembali.
"Hah? Serius sayang?"
"Iya, kamu mau pernikahannya di percepat kan? Aku sudah mencari tanggal yang bagus" jawab lelaki itu menyentuh ujung hidung manjung Arni.
Tina yang menyaksikan keromantisan keduanya hanya dapat tersenyum, turut bahagia mendengar kabar baik itu sebab mereka memang sudah menantikan momen tersebut dari jauh-jauh hari.
"Yasudah kalau begitu hati-hati ya, sayang. Besok pagi aku tunggu kamu"
Steven mengangguk pelan lalu kedua wanita itu mengantarnya kembali ke dalam mobil, kali ini Steven sudah memegang payung yang baru saja diberikan oleh calon mertuanya tersebut. Mobil itu kembali melaju melawan arah kedatangannya sebelumnya, ia mengebut melewati hujan deras malam itu sementara Arni dan Tina tengah berpesta setelah mendengar kabar bahwa Steven setuju untuk mempercepat pernikahannya.
"Akhirnya Ma, aku akan menjadi menantu dikeluarga Kusuma. Aku bukan hanya mendapat peluang menjadi istri kesayangan Steven tapi jadi menantu kesayangan juga. Aku yakin Mama Luna akan sangat menyayangi ku apalagi kalau nanti aku bisa mengandung cucu untuk dia" ucap Arni meraih gelas berisi wine diatas meja.
Keduanya duduk diatas sofa menggunakan piyama mereka sambil menikmati sebuah wine dengan kadar alkohol rendah agar besok mereka tetap bisa beraktifitas seperti biasanya.
"Pokoknya bagaimana pun ceritanya kamu harus menjadi ratu di keluarga Kusuma, dengan begitu hidup kita akan jauh lebih enak dari sekarang. Kalau bisa kamu dekati juga Angga secara diam-diam, lagipula kan Angga tidak menyukai Raisa, jadi kamu masih punya kesempatan untuk menjadi kekasih gelapnya, jadi kamu bisa meraup banyak keuntungan dari keduanya" usul Tina.
"Ternyata Mama pintar juga, aku juga sempat memikirkan hal itu sebelumnya" balas gadis itu.
Arni tersenyum penuh bangga pada dirinya sendiri, ia terus membayangkan bagaimana saat nanti ia bisa merebut dan menggantikan posisi Raisa di rumah itu, terlebih lagi sebentar lagi Angga dan Raisa akan bercerai dan Arni bisa lebih leluasa mendekati Angga.
"Raisa, aku akan membuat mu menderita tanpa seorang pun yang akan membantumu, hahahahaha" ucapnya tertawa licik.