Ranti dalam bentuk babi hutannya, Sekarang dia sudah berpindah tangan ke Surya Jaya, pawang babi yang sempat berhenti, karena hewan peliharaannya dibunuh oleh pihak yang berwajib.
Ranti akan memulai kisah baru, di mana sekarang dia tidak terlunta-lunta di hutan belantara. namun baginya di hutan maupun di kampung, kehidupannya sama saja. sama-sama menyedihkan, karena dia harus tetap berjuang untuk bertahan hidup dengan wujud tidak normal yakni babi beranting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deri saepul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bag. 28
Waktu semakin lama semakin menunjukkan waktu sore, karena para petani sudah mulai pulang dari kebun atau sawahnya. suasana di Lubuk Lesung, suasananya terlihat begitu indah, terdengar suara belalang, ciang ciang di sahuti dengan suara burung yang berkicau di atas pohon bambu Tamiang.
Semilir angin menerpa daun bambu yang tumbuh di tepian sungai, suaranya ke merosok menyatu dengan suara air yang mengalir deras menuju ke lubuk, busanya terlihat gemerlapan tersinari oleh sinar matahari sore, busa itu terus maju kemudian menghilang, namun disusul dengan busa-busa yang lain, sehingga kejadian itu terus menerus tanpa ada hentinya.
Dari arah jalan yang melewati Lubuk, terlihat ada seorang kakek-kakek yang lewat sambil memikul kayu kering, mungkin buat kayu bakar. namun dia terperangah kaget ketika melihat ada orang yang sedang tiduran di atas batu di dekat Lubuk, dia pun berhenti kemudian memperhatikan ke arah batu besar, mungkin dia sedang memastikan bahwa yang berada di atasnya adalah manusia bukan demit penunggu Lubuk.
Setelah lama memperhatikan, akhirnya dia pun memutuskan untuk melihat lebih dekat, kakek-kakek itu menyimpan terlebih dahulu barang bawaannya, kemudian mendekat ke arah tepian Lubuk.
"Eman.....!" Panggil kakek-kakek itu membuat orang yang sedang tiduran di atas batu terkaget, kemudian dia menatap ke arah datangnya suara.
"Eh, ada aki Ridwan, ada apa Ki?" jawab Eman balik bertanya.
"Kamu Lagi ngapain sore-sore masih berada di Lubuk? ayo pulang! nanti kesambet," ujar aki Ridwan mengajak Eman pulang.
"Saya lagi bingung Ki, soalnya saya sedang berpikir bagaimana caranya membawa kerbau?"
"Kerbau apaan?" tanya Aki Ridwan sambil mengerutkan dahi.
"Kerbau hasil penukaran kambing dari Kang Hadi dan Kang Warsa," jawab Eman sambil mengulum senyum merasa bangga dengan apa yang dia lakukan.
"Mana kerbaunya?"
"Tuh! Sedang berendam di Lubuk," jawab Eman sambil menunjuk Kepala kerbau yang terapung di permukaan air.
Mendengar jawaban Eman, aki Ridwan pun menatap ke arah benda yang ditunjuk, namun setelah melihat dia pun menggelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Gede kan kerbaunya Ki?"
"Itu bukan kerbau hidup Eman, itu kerbau Mati! mungkin itu hanya kepalanya saja," Jawab aki Ridwan mulai menjelaskan.
"Mana mungkin ada kerbau mati kepalanya masih bergerak-gerak?' jawab Eman yang tidak percaya.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya, kamu coba saja angkat!"
"Nggak mau lah Ki, nanti saya di seruduk, kata Kang Hadi dan Kang Warsa kerbau ini sangat galak."
"Mau menyeruduk gimana Eman, itu kan kerbaunya sudah mati, lihat saja matanya tidak terbuka?"
"Emang biasanya seperti itu Aki, kalau kerbau sedang berendam matanya akan tertutup."
Mendapat jawaban Eman, aki Ridwan pun hanya menggeleng-geleng kepala, kemudian tanpa bertanya lagi, dia pun kembali naik ke atas untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
Setelah kepergian aki Ridwan, Eman pun duduk kembali sambil memeluk dengkulnya, matanya terus menatap ke arah Kepala kerbau yang masih terendam.
"Kehidupanku mungkin akan bahagia, kalau kerbau ini sudah jinak. aku bisa menggembala dengan menungganginya, sambil bernyanyi nyanyi atau bermain Seruling kayak di cerita-cerita di sekolah. tapi aku bingung bagaimana aku harus membawanya, karena kerbau ini sangat galak dan beringas?" gumam hati Eman sambil terus menatap ke arah lubuk yang di atasnya ada kepala kerbau, telinganya bergerak-gerak karena ada ikan gabusnya.
Sedangkan aki Ridwan dia terus berjalan menuju ke arah Kampung Sukamaju, namun sebelum sampai ke rumahnya. dia pun mampir ke rumah Dodo, kebetulan orang yang memiliki rumah sedang duduk di teras.
"Ada apa aki, Kok kelihatannya tergesa-gesa seperti itu?" tanya Dodo sambil menghempaskan asap dari mulutnya.
"Si Eman....! Si Eman! ada di Lubuk?" jawab aki Ridwan memberitahu.
"Maksudnya bagaimana aki, Si Eman tuh Si Eman mana?"
"Ya Allah....! Ya Eman Anak kamu lah Dodo, Emang Eman di sini ada berapa?"
"Ngapain dia di Lubuk, Bukannya dia sedang menggembala kambing?" tanya Dodo yang terlihat mengerutkan dahi.
"Kurang tahu apa yang sedang dia lakukan, namun dia sedang menunggu Kepala kerbau yang berada di Tengah Lubuk. cepat kamu susul dia! Aki takut terjadi apa-apa, apalagi keadaan sudah sore. Nanti dibawa demit."
"Kepala kerbau Bagaimana aki?" tanya Dodo yang masih merasa heran.
"Nggak tahu cerita jelasnya Seperti apa, soalnya aki sudah kesorean pulang dari kebun. menurut keterangan Eman bahwa Kepala kerbau itu hasil penukaran dari dua kambing dengan si Hadi dan si Warsa."
Deg!
Jantung Dodo terasa berhenti, dia sudah bisa membayangkan apa yang terjadi dengan anaknya. tanpa berpikir panjang dia pun pergi menuju ke sungai, meski hatinya belum percaya sepenuhnya. namun apa salahnya dia membuktikan, karena anaknya sudah sesore itu belum juga pulang ke rumah. apalagi ketika Tadi berangkat Eman belum sempat sarapan.
Dodo terus berjalan Sampai akhirnya dia berhenti di sungai. dia pun mulai sadar kalau dia tidak bertanya terlebih dahulu di Lubuk mana Eman sekarang berada. namun kalau untuk pulang ke kampung Sukamaju lumayan membutuhkan waktu, hingga akhirnya dia mulai menyusuri sungai menjelajahi Lubuk lubuk yang ada di sekitaran. mulai dari lubuk golok, Lubuk linggis, Lubuk syahrim, Lubuk kutil. Namun meski sudah 4 Lubuk yang dia susur tapi belum menemukan keberadaan anaknya.
"Di Mana kamu Eman, apa jangan-jangan aki Ridwan salah penglihatan?" gumam Dodo sambil terus berjalan matanya terus memindai area Sungai, hingga akhirnya dia pun melewati selokan sawah, kemudian dia berjalan di Pematang sawah menuju ke arah hulu sungai.
Setelah sampai di rumpun bambu hitam, dia pun berbelok ke arah kiri, hingga akhirnya sampai di Bendungan cimaju. dia pun turun ke tembokkan bendungan, matanya terus memindai area sekitar, hingga mata itu tertuju ke arah Lubuk Lesung. setelah dilihat ternyata memang benar apa yang disampaikan oleh Aki Ridwan, karena anaknya sedang duduk di atas batu sambil memeluk dengkulnya, matanya terus menatap ke arah air yang mengalir.
Dodo terlihat menarik nafas dalam, dia merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Eman. "apa yang dikerjakan oleh anakku, kenapa dia harus berdiam diri di tempat seperti itu? dasar anak bodoh, yang tidak memiliki otak...!" gerutu Dodo sambil berjalan mendekat ke arah Eman.
Melihat Kedatangan orang tuanya, Eman pun terlihat kaget sambil menatap ke arah Dodo.
"Eman...! kamu lagi ngapain berdiam diri di Lubuk, Kamu ke manakan domba kita?" tanya Dodo sambil menatap tajam ke arah Eman, dalam hatinya penuh dengan pertanyaan.
"Eh, Ternyata bapak datang juga. Syukurlah kalau bapak datang ke sini, soalnya sejak dari tadi Eman menunggu bapak, Saya udah tidak sabar ingin cepat bertemu Bapak."
"Lah, dasar anak kurang waras! apa kamu sadar apa yang kamu lakukan di sini?"
"Sebentar jangan marah dulu Pak!"
"Jangan marah Bagaimana Eman? mana dombanya...!"
"Soal domba yang kita miliki, sudah jangan ditanyakan!"
"Kenapa?" tanya Dodo sambil mempertajam tatapannya.
"Karena sudah ditukarkan dengan kerbau. Nah, sekarang kita tinggal membawa kerbaunya Pak. Soalnya kalau Eman membawa sendiri tidak bisa, karena kerbaunya sangat galak dan beringas, sehingga Eman memutuskan untuk menunggunya di sini sekarang. kalau ditinggalkan Takut kerbaunya kabur atau ada yang maling, soalnya kerbau ini kerbau yang sangat gemuk dan subur, pasti banyak orang yang menginginkan. beruntung Bapak sudah datang, Jadi kita berdua bisa membawanya pulang," jelas Eman panjang lebar.
Mendengar penjelasan Eman, dahi Dodo terlihat mengerut merasa heran, karena semenjak tadi dia tidak melihat kerbau, yang ada hanya pohon-pohon bambu yang tumbuh rimbun di tepian sungai, ditambah bebatuan yang besar sama air yang terus mengalir.
"Eman Apakah kamu sadar atau tidak, mana sekarang kerbaunya?" tanya Dodo sambil kembali menatap ke arah anaknya, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, hatinya merasa ketakutan. bukan takut dengan hantu penunggu Lubuk, tapi dia takut anaknya terpengaruh oleh isu-isu yang tidak benar, apalagi ketika melihat anaknya seperti yang sudah terhipnotis. masa iya, kalau orang yang sadar bisa betah tinggal di Lubuk sampai sore hari.