kisah kehidupan kakak beradik Aurora dan Sisilia yang yang ditinggal mati orang tua nya karna kecelakaan. tidak ada sanak saudara yang mau menerima mereka. sehingga membuat mereka harus berjuang menghadapi keras nya dunia. hingga suatu hari datang lah seorang laki-laki kaya raya yang mengubah kehidupan mereka 180 derajat. tapi sayang nya persaudaraan mereka yang menjadi taruhan nya, karna sang adik yang malah berkhianat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap nya sebuah rahasia
"Mas Adrian." Dia menutup mulut nya hampir tidak percaya saat mata nya melihat dengan jelas siapa yang berjalan dengan sahabat nya.
"Ternyata kamu tidak jauh lebih menjijikkan dari Sisil. Arumi, kalian sama-sama pengkhianat ." ucap Aurora berderai air mata.
Melihat mereka hampir sampai,
Aurora buru-buru bersembunyi disebelah tembok yang berada tidak jauh dari pintu masuk apart nya Arumi.
" Sayang, aku pulang dulu ya?Takut nya Sisil nyariin, jangan sampai dia mencurigai aku. Kamu, tau sendiri kan bagaimana sifat nya Sisil." Ucap Adrian saat sampai didepan pintu kamar.
" Tapi masih kangen sayang, aku masih butuh kamu. kita kedalam sebentar yuk ." Ajak Arumi menarik lengan nya Adrian mengajak masuk.
"Sayang, sabar dong. Nanti malam aku kesini lagi ya?." Bujuk Adrian memeluk dan mencium Arumi, mereka terlihat begitu mesra.
"Heeum, ya sudah lah. Tapi, janji ya nanti datang lagi." Ucap nya bergelayut manja.
"Iya, Sayang." Balas Adrian mengacak-ngacak Surai panjang nya Arumi.
"Eum. Sayang, apa kamu akhir-akhir ini pernah menemui Aurora." Tanya Adrian, mendengar pertanyaan Adrian Arumi segera melepas pelukan nya dan menatap Adrian tidak suka.
" Tidak, untuk apa sih nanyain dia mas? Aku cemburu tau." Ucap nya membelakangi Adrian.
"Sayang. Maaf, aku tidak ada maksud apa-apa, jangan ngambek dong." Bujuk Adrian pada kekasih nya.
" Makanya kamu jangan bahas dia, aku capek dan muak. Aku benci dia, sekarang kamu pulang saja, aku mau istirahat." Sisil mengusir Adrian karena merasa kesal.
Dan segera menutup pintu masuk.
" Sayang. Please, biarin aku masuk." Seru Adrian mengetok pintu namun Arumi tidak mau membukanya.
Aurora merasa sedih mendengar kata-kata sahabat nya yang begitu tajam dan menusuk.
" aku pikir kamu tulus sama aku Arumi. Ternyata, kamu jauh lebih licik dan jahat. Sahabat macam apa kamu yang tega menusuk sahabatnya dari Belakang." Batin Aurora tidak kuasa menahan tangis.
Lagi-lagi mental nya kembali dihancurkan oleh orang-orang yang begitu dia sayangi.
Tok! Tok! Tok!
Kreeeeet!
"Ada apa lagi sih M____ " Kalimat nya terhenti.
"Aurora." Arumi kaget ternyata yang berdiri didepan pintu adalah Aurora. Tadinya, dia berpikir kalau Adrian yang masih belum pulang.
" Iya, ini aku. Kenapa? Kaget kah, huh?" Tanya Aurora tidak bisa menahan emosi nya lagi. Mata nya begitu sembab dan memerah.
"Ka-kamu kenapa Aurora? Kamu habis menangis?" Tanya Arumi mencoba menyentuh pipi Aurora yang masih terlihat basah.
Aurora segera menepis dan tanpa aba-aba dia langsung melayangkan sebuah tamparan cukup keras.
Plak!
"Aww, Ka-kamu. Apa yang kamu lakukan Aurora." Arumi masih belum menyadari kesalahannya.
Plak!
Sebuah tamparan lagi melayang ke pipi sebelah kiri Arumi.
"Aawww, sakit Aurora. Apa yang kamu lakukan?" Teriak Arumi mengusap pipi nya yang sudah berbekas merah.
" Hati aku jauh lebih sakit Arumi. Ternyata, kamu musuh dalam selimut. Sungguh, aku tidak menyangka." Ucap Aurora lantang mendekati Arumi.
" Ma-maksud kamu a-apa sih?aku tidak mengerti." Arumi berjalan mundur karena Aurora terus berjalan mendorong pelan dirinya.
"Jangan kamu pikir aku bodoh Arumi, aku sudah tau semua niat busuk kamu."
Tanpa diduga tiba-tiba saja ekspresi Arumi berubah sengit.
" Oh, jadi kamu sudah tau semuanya. Baguslah." Ucap nya menyeringai. Dan.
Bruuuk!
Arumi mendorong Aurora Begitu keras sehingga dirinya terhempas Kedinding.
"Aawwh." Aurora meringis kesakitan.
" Yah, kamu benar Aurora, Aku yang sudah merencanakan segalanya untuk menghancurkan hidup kamu, karena aku begitu membenci kamu dan keluarga kamu." Ungkap nya menunjuk Aurora.
" Kamu tau? Orang tua kamu yang sudah bikin hidup aku dan ibu aku hancur." Ucap nya begitu lantang.
"Apa maksud kamu." Tanya Aurora masih belum mengerti.
" Asal kamu tau. Ayah kamu adalah ayah kandung aku Aurora." Ungkap Arumi.
Deg!
Jantung nya kian berpacu kencang mendengar pengakuan sahabatnya. Dia terlihat kaget dan menggeleng kepala nya tidak percaya.
" Tidak. Tidak mungkin, aku tidak percaya ucapan kamu Arumi. Bagaimana itu semua bisa terjadi?" Tanya Aurora sulit mempercayai semuanya.
" Aku tidak berbohong, aku punya buktinya."Ucap Arumi dan melangkah menuju sebuah lemari dan membuka nya, lalu mengeluarkan selembar foto yang kelihatan sudah sedikit usang. Dan, menyerahkan nya pada Aurora.
Aurora segera mengambil nya dan melihat isi gambar yang ada difoto itu. Seketika matanya mengeluarkan air bening, tangan nya bergetar tubuh nya seakan lemah tidak bertulang, tubuh nya lunglai jatuh terduduk dilantai.
" Ja-jadi, Kamu saudara tiri aku Arumi?" Tanya Aurora dengan suara bergetar menahan tangis, dadanya serasa sesak dan sempit seakan ada yang menghimpit nya dari dalam. Kenyataan yang begitu menyakitkan baginya.
"Iya, kamu benar. Lebih tepat nya aku kakak tiri kamu, dia menikah lagi dengan ibu kamu saat aku masih berumur 2 tahun."
" Dan kamu tau Aurora? Dia mencampakkan aku dan ibuku, dia tidak peduli pada kami. Bahkan, dia lebih memilih ibu kamu dibanding aku anaknya. Aku dan ibu aku begitu menderita Aurora, bahkan ibu aku sampai jatuh sakit dan meninggal saat aku berumur 4 tahun." Ungkap nya lagi membuat hati Aurora kian hancur.
" Dan kamu mau tau lagi bagaimana nasib ku setelah ibuku meninggal? Hidup aku hancur Aurora. Hancur..." Arumi berucap dengan suara parau, mata nya berembun. Sesaat dia menjeda kalimat nya. Terdengar helaan nafas berat dari mulutnya.
" Setelah ibu aku tiada, aku dirawat oleh bibi aku. Dan, kamu tau apa yang terjadi? Suami dari bibi aku melecehkan aku. Dan aku malah difitnah menggoda suami bibi aku sendiri. Hingga aku diusir dan menjadi gelandangan di jalan." Arumi menangis mengingat nasib nya yang dulunya begitu kelam.
" Itu semua terjadi karena keluarga kamu Aurora. Aku benci kamu...." ucap nya lantang suara nya menggema.
Kemudian dia bangkit dan menghapus air matanya. Arumi, tersenyum getir menatap Aurora dengan tatapan penuh dendam dan amarah.
"Aku akan buat hidup kamu hancur Aurora. Hahaha." Arumi tertawa, suara nya menggema satu ruangan membuat Aurora bergidik ngeri.
"A-aku tau bagaimana ayah aku Arumi, tidak mungkin beliau berlaku kejam seperti itu. Kamu bisa saja salah faham Arumi." Ucap Aurora, seketika Arumi menoleh kearah Aurora dengan mata yang sudah memerah bak bola api yang siap membakar nya hidup-hidup.
" Kamu tidak percaya sama aku Aurora?Baiklah biar aku buktikan sekarang." Ucap nya dan mengambil sebilah pisau buah yang terletak diatas meja.
"Ka-kamu mau apa Arumi?" Tanya Aurora takut melihat Arumi memegang pisau dan mendekat kearah nya.
"Aku mau kamu segara bertemu dengan ayah kamu Aurora. Agar kamu bisa bertanya langsung padanya." Jawab nya tersenyum aneh dan mengarahkan pisau ke tubuh Aurora.
"Arumi. Jangan, tolong kendalikan dirimu." Ucap Aurora merasa ketakutan karena pisau itu semakin dekat dengan nya.
Namun Arumi sama sekali tidak peduli, dirinya telah dipenuhi amarah yang sangat besar sehingga sulit dikendalikan, dia terus mendekati Aurora dan.
Srekkk!
Pisau itu langsung mengenai lengan Aurora dan mengeluarkan d*r*h segar.
" A-arumi, tolong hentikan." Ucap Aurora memohon. Namun, Arumi sama sekali tidak menggubris ucapan Aurora, malah semakin cepat menyerang.
Aurora menahan sakit akibat goresan pisau, dia berusaha menendang Arumi. Namun, Arumi dengan sigap menendang perut Aurora hingga ia jatuh tersungkur. Dan, menusuk kaki Aurora dengan pisau yang dipegang nya.
"Ouch! Aaw....." Aurora meringis kesakitan memegang perut nya yang terasa nyeri. Begitu juga dengan kaki nya yang terasa sangat perih.
Kini dirinya terjebak tidak bisa lari lagi, Aurora pasrah dan menunduk menutup kedua matanya saat Arumi mengangkat tangan nya ingin menancap kan pisau ke tubuh nya.
Cring!
Tiba-tiba saja pisau terjatuh kelantai, sontak Aurora membuka kedua matanya.
Dia kaget melihat ada laki-laki yang dia kenal berada diantara mereka.
"Aman kan dia, segera bawa kekantor polisi."
Titah lelaki itu dengan suara lantang nya menunjuk Arumi.
"Baik pak," Ucap dua security itu. Entah bagaimana mereka bisa ada disini.
Yang jelas Aurora merasa sangat bersyukur karena Tuhan masih menyelamatkan hidupnya.
"Ka-kamu siapa?Kenapa ikut campur urusan saya? Minggir, saya tidak mau dibawa kekantor polisi. Aku tidak bersalah, dia yang sudah mencoba membunuh aku. Tangkap dia saja, lepaskan saya...." Arumi memberontak dan berteriak menunjuk-nunjuk menyalahkan Aurora.
"Diam, kamu sudah bertindak kriminal. Sekarang ikut kami kekantor polisi." Bentak security memegang erat tangan Arumi.
"Lepas, saya tidak mau ikut kalian. Lepaskan saya brengsek." Arumi terus memberontak dan mengumpat dan menggigit kedua tangan security itu hingga mereka kesakitan dan melepaskan tangan Arumi.
Dengan gerakan sangat cepat Arumi berhasil mengambil pisau yang tergeletak diatas lantai dan kembali ingin menyerang Aurora yang sudah tidak berdaya.
"Mati kamu wanita sialan." Teriak Arumi penuh amarah melayangkan pisau kearah Aurora.
Dan...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kira-kira siapa ya yang nolongin Aurora kali ini? Heeum. Mudah, mudahan orang baik ya?
Dan.... Apakah Arumi bakalan berhasil melukai Aurora ?
ikutin terus ya? jangan lupa di like, dan komen ya!. Agar, author nya semangat lagi buat update.
Terimakasih.
Saleum Aneuk Nanggroe ❤️