Arga, seorang pemuda yang jenuh dengan hiruk-pikuk kota, memutuskan untuk pindah ke desa terpencil bernama Wening Sari. Desa itu tidak tercatat di peta, namun cerita tentang ketenangannya membuat Arga penasaran. Saat tiba, ia disambut oleh penduduk yang ramah, suasana alam yang asri, dan kehidupan yang tampak sederhana. Semuanya terasa terlalu sempurna, hingga membuatnya curiga ada sesuatu yang tidak wajar.
Seiring waktu, Arga mulai mengalami kejadian aneh: bisikan misterius dari hutan setiap malam, penduduk yang tiba-tiba menghilang saat bulan purnama, serta jam desa yang selalu berhenti tepat tengah malam. Dari penyelidikannya, Arga menemukan rahasia besar: Wening Sari adalah desa gaib, tempat manusia dan makhluk halus hidup berdampingan dengan perjanjian kuno yang tidak boleh dilanggar. Siapa pun yang mengetahui rahasia itu, tidak bisa pergi dengan mudah.
Kini Arga harus menentukan nasibnya—tetap tinggal di desa dengan segala misterinya, atau mencari jalan keluar meski nyawa menja
Episode 28
Aku terkejut ketika kudapati sosok
perempuan berambut panjang duduk
bersimpuh di pojok gendung.
Wajahnya tak mampu kubaca jelas,
karena ia menunduk. Hanya tubuhnya
yang terlihat anggun dengan kebaya,
khas pakaian Jawa.
Pikiranku masih dipenuhi pertanyaan. Sedang apa wanita itu mematung di sana? Jam menunjukkan pukul 00:32. Waktu yang sudah cukup larut untuk melakukan berbagai aktivitas.
Depan rumah Simbah memang terdapat gedung serba guna yang biasa digunakan untuk latihan ragam kesenian. Aku tak terlalu heran dengan wanita itu, karena kupikir hanya seorang wanita yang baru saja selesai menari. Namun, kenapa hanya seorang diri di sana?
Ingin kusapa, tetapi malas juga. Aku hanya pendatang baru di desa Pagerasri ini. Seorang anak yang dipaksa tinggal bersama neneknya sebagai hukuman atas kenakalan. Ah
ibuku memang tega sekali! Baru dua hari berada di sini, rasa tak nyaman sudah menyelimuti. Tak ada fasilitas seperti yang kudapatkan di kota. Sinyal pun sangat susah. Seperti saat ini, aku harus ke luar rumah untuk mencari jaringan. Sungguh, tinggal di pelosok lereng gunung sangatlah tidak enak!
Namun, aku tak bisa berkutik. Liburan semester harus kuhabiskan di sini. Sebagai hukuman atas nilai yang sangat jelek. Bagaimana tak mendapat nilai rendah, setiap hari, hanya main bersama teman-teman. Tak jarang, membolos juga. ↑
Aku hanya tinggal bersama Mbah ajeng, sebab Mbahkung sudah Padahal, udara cukup sejuk dan masih alami, sehingga tak perlu AC maupun kipas angin seperti di kota. Di sini juga hening, tak ada lalu lalang kendaraan yang membisingkan telinga. Namun, kondisi tersebut tetap tak mampu membuatku terlelap.
Kutarik selimut tebal yang sudah disiapkan nenek sedari tadi untukku. Belum juga terlelap, telingaku sudah terganggu dengan suara tangisan wanita. Entah siapa yang sedang menangis, ia benar-benar tak punya etika. Harusnya ia bisa mengecilkan volume, agar tak membuat gaduh orang-orang di sekitar.
Aku mencoba menutupi telinga dengan bantal. Namun, semakin kupasang erat, suara itu semakin terdengar keras. Nasib menja baru, pasti ada seseorang berusaa menjaili.
Suara tangis itu sungguh memekakkan telinga, hingga aku memutuskan bangun dan duduk di atas ranjang. Lalu, bermain kembali dengan HP-ku. Walau hanya sebatas menjelajah beranda. Percuma juga, teman-teman pasti sudah tidur.
Jadi, tidak ada yang kuajak chat. Bayangan hitam melintas di pintu kamar. Apakah setan? Ah, sampai detik ini, aku belum mempercayainya. Namun, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Nenek berambut pajang dengan warna yang telah memutih muncul di depan pandangan. Aku tak dapat menahan kekagetan. "Aaaa tolong!" teriakku. "Kenopo, Nduk? Iki Simbah."
Aku mengucap istighfar sambil berusaha mengatur napas. Kemunculan simbah bena enar mengangetkan. la tak asa menggerai rambut. Biasanya, ia akan menyanggul rambutnya rapi, tapi mungkin karena baru saja bangun tidur, ia belum sempat merapikan rambut.
"Kaget, Mbah. Laras kira siapa ...."
"Kamu belum tidur, to, Nduk?"
"Belum. Nggak bisa tidur."
"Iki karena awakmu belum terbiasa. Nanti nek wis biasa mesti cepet tidure."
Aku mengangguk. Simbah dari ibuku memang baik. la adalah orang yang sering kali membela, saat diri ini mendapat omelan dari ibu. Sewaktu kecil, ketika aku sekeluarga menginap di sini, aku sangat suka makan nasi jagung buatannya. Tak lupa, ketika malam tiba, dia akan mendongeng. Apalagi, kalau cucu- cucu yang lain sedang berkumpul. Rame sekali.
"Mbah, yang malem-malem angis,itu siapa, sih?""Kapan?""Barusan. Semakin lama, semakin kenceng, nggak malu apa?"
"Oh, paling tetangga sing duwe bayi."
"Bukan suara bayi, suara dewasa." wanita
"Tetangga."Tetangga? Aku kembali mencerna
kalimat simbah. Jarak rumah simbah
dengan rumah tetangga cukup jauh.
Karena rumah simbah yang memang
berada di pojok desa, berhadapan
dengan gedung serba guna. Jadi,
mana mungkin suara tangis tetangga
bisa terdengar sekeras itu?
Aku berusaha melupakan suara tangis itu, kemudian mengajukan pertanyaan lain. Atas sosok wanita yang bersimpuh di pojokan teras gedung."Kalau wanita yang di sana siapa, Mbah?""Di mana?" "Di gedung. Lagi bersimpuh. terus dari tadi." Oh iku Nyai….” Simbah tak melanjutkan ucapannya.
"Nyai?" tanyaku penasaran.
"Eh, Nduk. Udah malem, tidur."
Simbah menatakan bantal. Menyuruhku agar berbaring. la tidur di sampingku. Membelai tubuhku lembut, sambil melantunkan kidung. Aku selalu tertarik dengan bagaimana simbah mengantarku menjemput mimpi. Jika tidak dengan cerita-cerita legenda, ia akan bernyanyi seperti apa yang dilakukannya kali ini.
“Rumekso ingsun, laku nisto ngoyo woro.
Kelawan mekak howo. Howo kang dur angkoro. Senajan setan gentayangan. Tansah gawe rubedo Hinggo pupusing jaman.”
Lagu itu terlantun merdu da ulut
wanita renta ini. Baru sampai pada bait pertama, aku sudah menyela dengan pertanyaan, "lagu apa ini, Mbah?"
Kidung Wahyu Kolosebo.
"Kok ada setan-setannya? Ceritanya tentang apa, Mbah?"
"Iki lagu ciptaan Sunan Kalijogo. Yo, intine, kita harus bisa ngelawan hawa nafsu, meski selalu ada godaan setan."
Aku manggut-manggut. Setiap lagu
jawa yang simbah lantunkan, selalu
memiliki makna dalam di setiapliriknya.Kusuruhmelanjutkankansimbah tembangnyakembali. Tak terasa, bait demi bait itumengantarku terlelap.***“Wis, Nduk. Melu simbah wae.”
Kulihat Mbah Kakung melambai- lambaikan tangannya ke ara la tersenyum, seolah-olah berharap a. arut serta di sana. Jarakku dengan tempat di mana Lian berdiri tak
terlalu jauh. Mungkin hanya kisaran sepuluh meter. Kami hanya dibatasi cahaya putih mengkilat.
"Mbah, mau ke mana?"
"Ke tempat yang indah." Kakek masih melambaikan tangan."Laras mau nemenin Mbah Putri. Kasian kalau sendiri."
"Ayo ikut Mbah Kakung. Di sana banyak bunga-bunga. Air mancur. Tempate indah pokokke."
Aku mulai berpikir ulang. Kurasa, tak apa turut bersama Lian sebentar. Setelah itu, aku bisa kembali ke tempat Mbah Putri. Aku mulai melangkah, sayang kakiku terasa begitu berat digerakkan. Beberapa kali kucoba melangkah, tetapi tak kunjung maju. Ah ... rasaya tubuhku sudah mulai kelelahan. Aku tak bisa ikut dengan Lian ↑ "Mbah, Laras nggak ja kut Lian . Laras capek.""Ayo, cepet, Nduk."
"Enggak, Mbah. Laras nggak mau."
"Ayo." Ajeng bersikukuh memaksa, tetapi aku tetap pada pendirian untuk tidak turut serta. "Yowes, iki cekelen." Lian tampak melempar sesuatu ke arahku. Entah apa, tetapi barang itu langsung masuk ke tubuku tanpa bisa kupegang terlebih dahulu. (Yaudah. Ini pegang) Aku terbangun, ternyata pertemuanku dengan Simbah Kakung hanya ada di alam mimpi. Namun, walau begitu, mimpi itu membuat energiku terkuras habis. Peluh bercucuran di mana- mana, napasku dengan rasa menghinggapi raga. masih lelah tersengal yang menghinggapi raga.
Kalau sebelumnya aku bisa dan biasa bercanda dngan Lian , maka sekarang aku malah menjadi kaku.Begitu juga dengan Ajeng. Dia menggeser duduknya saat melihat mamahnya melihat kami duduk berdempetan. "Semalam aku tuh ngimpi sereemm banget,,, Aku melihat papa aku masuk kamar, Dia duduk nemenin aku nonton tivi. Terus dia membelai rambutku,,, Aku merasa nyaman, karena papa sudah lama pergi dan baru kembali.
jgn pacaran jika mmg dianggapnya tdk mampu secara materi. Agar tdk menyakiti