Indonesia
NovelToon NovelToon
TRUST

TRUST

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Persahabatan
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Indah

Darda ialah gadis SMA biasa yang hidup di tengah keramaian dunia. Kekosongan dan kehampaan sering menyerang jiwa dan raganya. Ia bahagia namun juga menangis. Ia merasakan rindu namun juga benci. Ia bahkan tidak bisa memilih bersama orang tuanya. Apakah dunia memang sebercanda itu? Meskipun tahu itu, ia tak bisa berbuat apapun.

Beruntungnya ia, memiliki sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Hubungan mereka kuat bagaikan benteng yang kuat. Tak hancur meskipun diterjang angin, hujan bahkan petir.

Namun, apakah benteng itu tetap kuat dengan apapun yang terjadi? Bagaimana jika kisah romansa mereka yang justru menghancurkan hubungan yang melebihi saudara itu? Apakah persahabatan itu tetap terjalin sampai akhir meski dengan secuil rasa kepercayaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Edren..?

Ting!

Darda bangun dari tidurnya kala mendengar satu bunyi notifikasi dari handphone yang ada di nakasnya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berusaha sadar sepenuhnya. Melihat hari yang sudah disinari oleh sang fajar, membuatnya semakin bangun dari tidurnya. Ia kini mendudukkan dirinya dan bersender di punggung kasur. Tangannya meraba nakas guna mengambil handphonenya. Ia pun membuka layar handphonenya itu.

Ibu❤

Ibu juga kangen padamu, Sayang. Ibu pengen cepat-cepat pulang ketemu sama putri kecilnya ibu❤

Darda tersenyum dengan penglihatan yang sedikit tidak sadar itu membaca pesan sayang dari ibunya. Ia pun kembali membaca pesan berikutnya yang belum ia baca.

Ibu❤

Kamu gak biasanya kayak gini, apa terjadi sesuatu, Nak?

^^^Gak terjadi apapun, Ibu. Darda cuma kangen aja sama ibu..^^^

Setelah itu, Darda beranjak dari tidurnya. Ia kini masuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.

Sekitar 30 menit berlalu, Darda keluar dari kamar mandinya dengan kaos putih dan celana training yang melekat pas di tubuh rampingnya. Ia tampak mengeringkan rambut basahnya itu dengan handuk di tangan kanannya. Sampai di meja riasnya, ia pun mengambil pengering rambut di laci sebelah kanannya. Ia nyalakan pengering rambut itu setelah sudah terhubung dengan listrik. Ia pun memulai kegiatan mengeringkan rambutnya itu dari ujung hingga pangkal.

Darda saat ini merasa sedikit tenang. Entah karena apa itu, yang pasti ia tak begitu menyalahkan dirinya seperti semalam lagi. Darda merasa, ia semalam memimpikan sesuatu. Sesuatu itu membuat dirinya bisa sedikit menerima apa yang terjadi selama ini kepadanya. Tak lagi begitu merasa benci kepada diri sendiri seperti sebelum-sebelumnya. Ia tak tahu mimpi apa semalam, ia benar-benar lupa. Yang pasti, mimpi itu menenangkan dirinya hingga ia bisa sedikit berbahagia pagi ini.

Merasa rambutnya sudah kering, ia kini mulai mengambil skincare yang tertata rapi di sebuah kotak kecil tepat di depan cermin yang memantulkan dirinya. Ada moisturizer dan sunscreen. Itu saja. Ia pun mulai mengambil moisturizer dan setelah mengering di wajahnya, ia pun kini memakai sunscreen.

Hari ini Darda memutuskan untuk berjalan-jalan keluar. Ia merasa tak baik jika terus-terusan mengurung diri di rumah tanpa menghirup udara segar di luaran. Dan hari ini yang hari Minggu, ia gunakan untuk mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang tak ia lakukan selama ini setelah keluar dari rumah sakit.

Darda kini tengah berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahnya. Menghirup udara pagi segar yang selama ini ia lewatkan. Ia memejamkan matanya merasakan udara pagi menembus kulit tubuhnya. Merasakan dingin yang mulai menyebar dalam pikirannya, ya pikirannya. Ia kini menjadi lebih rileks daripada sebelum-sebelumnya.

Tanpa Darda sadari, ia memiliki pengendalian diri yang cukup baik. Ia bisa mengontrol emosi yang berlebihan dalam dirinya seperti sekarang. Jika dibandingkan dengannya yang beberapa hari lalu, ia jelas-jelas telah berubah.

Perasaan yang buruk seperti mudah menyalahkan diri sendiri, benci kepada diri sendiri, tak menerima hal yang terjadi pada diri sendiri adalah sikap yang buruk. Perasaan-perasaan itu bisa membunuh diri sendiri secara perlahan. Depresi pun tak jarang terjadi. Orang-orang harus memiliki pengendalian yang sangat baik untuk hal-hal ini, dan ternyata Darda bisa mengendalikan emosi itu.

Darda tahu arti hidup yang sebenarnya. Hidup ini tetap berjalan meskipun dirinya dalam keadaan terpuruk seperti beberapa waktu lalu. Dunia tak memiliki perasaan layaknya seorang manusia. Jadi, untuk apa ia sedih akan hal itu?

Lalu mengenai Edren, Darda tetap akan mencari tahu di mana ia dan bagaimana kondisinya saat ini. Darda pasti akan berterima kasih kepada lelaki itu yang berkali-kali menolongnya. Ia harap, keadaan lelaki bernama Edren itu baik-baik saja. Ia tahu, itu pasti terjadi. Ia pasti baik-baik saja. Ya, ia pasti baik-baik saja.

Darda akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah kursi panjang pinggir jalan. Ia mengistirahatkan kegiatannya dan mulai meminum air putih di botol yang ia bawa dari rumah tadi. Darda menegak botol minum itu hingga tersisa setengah dari volume awalnya. Setelah itu ia merelakskan tubuhnya dengan pemandangan yang ada di sekitarnya, yakni pepohonan dan bunga-bunga yang segar. Juga orang-orang yang tengah berjalan kaki maupun berlari kecil berolahraga sama sepertinya.

Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Ia yang tadinya duduk kini langsung berdiri memfokuskan apa yang dilihatnya saat ini. Ia pun semakin mengerutkan kedua alisnya agar penglihatannya itu semakin jelas.

Darda lantas melebarkan langkahnya, berlari menuju apa yang ia lihat barusan. Tak peduli dengan rasa lelah yang menghampirinya beberapa waktu lalu.

'Edren..?'

Darda tak salah lihat, pasti ia tadi melihat lelaki itu. Lelaki asing yang benar-benar memenuhi pikirannya. Lelaki asing yang terus saja menyelamatkannya. Lelaki asing yang bahkan tidak cukup ia kenal yang begitu peduli kepadanya. Lelaki yang muncul tiba-tiba di kepalanya karena salah mengira bahwa dirinya adalah Aley saat di rumah hantu.

Langkah Darda kini terhenti. Tak jauh dari beberapa langkah di depannya, lelaki itu tengah berjongkok, tampaknya mengambil barang-barang yang entah apa itu terjatuh dari tentengannya. Darda kini melangkahkan kakinya pelan menuju laki-laki itu. Ia melangkah begitu pelan hingga tak terdengar suara tapak kaki.

Jantung Darda berdegup sangat kencang memperhatikan lelaki itu yang masih sibuk mengambil barang-barangnya. Apakah sekarang ia akan bertemu dengan lelaki bernama Edren itu setelah sekian ia menunggu? Apakah kekhawatirannya selama ini akan menghilang? Apakah ia tak akan lagi memimpikan hal yang menakutkan itu lagi di setiap tidurnya? Terbesit banyak sekali sesuatu di pikiran Darda. Yang pasti, Darda begitu gugup saat ini, entah kenapa.

Ia kini menghentikan langkahnya kala sudah tak ada lagi langkah yang bisa ia tapak di depannya. Tubuhnya berjongkok. Tangan kanannya terulur ingin meraih pundak lelaki itu yang masih terus bergerak dengan kegiatannya. Namun, belum sempat tangannya menyentuh pundak yang dibalut kaos hitam itu, ia kini melihat seseorang itu berbalik menatapnya kaget.

Pelukan langsung mendarat di tubuh lelaki yang bernama Edren itu. Dengan tubuh yang masih berjongkok itu, membuat keseimbangan Edren menghilang. Pelukan tiba-tiba itu membuatnya terduduk di lapisan tanah dengan kedua tangannya yang terangkat sedikit ke atas respon tubuh ketika dipeluk.

"Gue seneng lo baik-baik aja.."

Darda akhirnya bisa bernapas dengan lega sekarang. Ia benar-benar senang sudah bertemu Edren hari ini. Memang pilihan yang benar ia keluar hari ini, takdir mengantarkannya menuju seseorang yang kini tengah ia peluk.

Darda terus menggumamkan itu dan kata terima kasih yang berkali-kali dengan air mata yang terus mengalir sejak ia memeluk Edren awal tadi. Tak peduli tangisannya yang membasahi kaos hitam Edren, Darda mengeratkan genggamannya pada kain di kaos hitamnya memeluk semakin erat. Ia benar-benar tak peduli apapun, bahkan memeluknya di tempat terbuka seperti ini. Ia hanya terus merapalkan kata terima kasih dan bersyukur bahwa Edren baik-baik saja.

"Ssh.." ringis Edren terlihat menahan sakit.

Mendengar itu, Darda yang memejamkan matanya mengalirkan air mata itu kini tersadar. Ia kini langsung menatap wajah Edren memastikan bahwa ia baik-baik saja.

"Kenapa? Apa yang sakit?" tanyanya khawatir dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Sedangkan Edren yang diam sedari tadi hanya menatap Darda penuh kebingungan dengan keterkejutannya yang masih terlihat jelas atas segala perbuatan Darda kepadanya. Melupakan segala barang-barangnya yang ia pungut tadi kini berceceran lagi di samping kanan kirinya karena seseorang.

1
Zee
wih cerita bagus banget semangat terus thor
ProGaming
Wuih, penulisnya hebat banget dalam menggambarkan emosi.
Min meow
Baru selesai baca, tapi kok aku merinding terus ya. ✨
Khabib Firman Syah Roni
Nggak bosan-bosan deh baca karyamu thor, semoga semakin sukses! ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!