Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: JEJAK DI BALIK SABOTASE
Pagi belum sepenuhnya meninggalkan kabut ketika Rangga berdiri di depan ruko percetakan yang masih menyisakan bau tinta dan kabel terbakar. Setelah pesanan untuk manajemen berhasil diselesaikan tepat waktu, suasana seharusnya dipenuhi kelegaan.
Namun, yang tersisa justru rasa tidak nyaman.
Rangga berdiri diam, memperhatikan pintu belakang yang gemboknya telah dirusak. Pandangannya menyusuri bekas congkelan pada bagian besi, kemudian turun ke tanah merah yang masih lembap akibat hujan semalam.
Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Orang yang masuk ke tempat ini bukan pencuri biasa.
Tidak ada satu pun perangkat penting yang dibawa pergi.
Laptop masih berada di atas meja. Printer kecil masih utuh. Bahkan uang tunai yang tersimpan di laci meja tidak disentuh sama sekali.
Mereka datang hanya untuk merusak.
"Mas..."
Suara Doni membuat Rangga menoleh.
Operator lokal itu berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa sapu. Wajahnya masih terlihat tegang sejak kejadian pagi tadi.
"Kenapa?" tanya Rangga.
Doni menunjuk ke arah pintu belakang.
"Semalam saya terakhir keluar sekitar jam sembilan. Waktu itu gemboknya masih bagus."
Rangga berjalan mendekat.
"Setelah itu?"
"Saya langsung ke mes. Hujan mulai turun sekitar jam sebelas."
Rangga berjongkok di dekat ambang pintu. Ia menyentuh tanah dengan ujung jarinya, kemudian memperhatikan beberapa bekas tapak yang samar.
"Di sini tanahnya masih basah."
Doni mengangguk.
"Berarti mereka masuk setelah hujan?"
"Belum tentu."
Rangga berdiri perlahan.
"Kalau mereka memang datang setelah hujan, jejaknya seharusnya lebih jelas."
Doni terdiam.
Rangga kembali memandang pintu belakang. Ada bekas lumpur tipis di sisi bawah daun pintu, tetapi sebagian besar lantai bagian dalam justru bersih.
Ia mengernyit.
Mereka masuk dengan sangat hati-hati.
Atau...
mereka tahu bagian mana yang harus diinjak.
Pikiran itu membuat dada Rangga kembali terasa berat.
"Mas Rangga."
Kali ini suara Pak Panji terdengar dari arah halaman.
Rangga menoleh dan melihat pria itu berjalan cepat sambil membawa ponsel.
"Ada apa, Pak?"
Pak Panji berhenti di hadapan Rangga.
"Saya sudah lapor ke keamanan proyek. Mereka akan periksa rekaman kamera yang mengarah ke jalur belakang."
"Bagus."
"Tapi ada masalah lain."
Raut wajah Rangga langsung berubah serius.
"Apa?"
Pak Panji mengangkat ponselnya.
"Semalam, sekitar pukul dua belas lewat, kamera di gudang material sebelah tiba-tiba mati selama hampir dua puluh menit."
Rangga terdiam.
Doni menelan ludah.
"Berarti..."
"Jangan simpulkan apa-apa dulu," potong Rangga.
Ia mengambil ponsel Pak Panji dan melihat waktu rekaman yang tercantum di layar.
Pukul 00.17 hingga 00.38.
Tepat pada rentang waktu yang sangat mungkin digunakan pelaku untuk masuk dan keluar dari rukonya.
Rangga mengembalikan ponsel itu.
"Pak, siapa yang punya akses ke sistem kamera?"
Pak Panji menggeleng pelan.
"Petugas keamanan pusat dan teknisi jaringan."
"Berarti orang luar sulit mematikannya?"
"Kalau tanpa bantuan orang dalam, iya."
Kalimat terakhir itu membuat suasana seketika terasa lebih berat.
Rangga kembali menatap ruko miliknya.
Vendor lama mungkin saja punya motif.
Tetapi kalau seseorang bisa membuat kamera di sekitar lokasi mati pada waktu yang sama...
Ini bukan sekadar persaingan bisnis biasa.
Di kejauhan, suara kendaraan proyek mulai terdengar. Para pekerja mulai berdatangan, sementara matahari perlahan menembus kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan Borneo.
Rangga memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Ambisinya memang membawanya jauh dari Jakarta.
Namun, untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di tanah perantauan ini, ia mulai menyadari satu hal:
Kesuksesan yang terlalu cepat ternyata bisa membuat seseorang menjadi sasaran.
Dan kali ini, ia tidak berniat hanya menunggu serangan berikutnya.
Ia ingin tahu siapa yang berdiri di balik bayangan itu.
Rangga tidak langsung kembali ke meja kerjanya. Ia justru berjalan mengitari bagian belakang ruko, mengikuti jalur sempit yang berbatasan dengan gudang material proyek.
Pak Panji dan Doni menyusul beberapa langkah di belakang.
"Mas Rangga mau cari apa?" tanya Doni.
"Jejak."
Rangga berhenti di dekat tumpukan papan kayu yang ditutup terpal. Matanya menyapu tanah merah di sekitarnya. Hujan semalam memang membuat permukaan tanah lembap, tetapi lalu lintas kendaraan proyek sejak pagi sudah membuat sebagian besar jejak menjadi samar.
Ia kemudian melihat sesuatu di balik semak.
Sebuah bekas injakan yang berbeda.
Bukan jejak sepatu pekerja proyek yang biasanya menggunakan sepatu keselamatan dengan pola tapak tebal. Jejak itu lebih sempit dan memiliki pola sol yang cukup khas.
Rangga berjongkok.
"Pak Panji, semua pekerja di sini diwajibkan memakai sepatu keselamatan?"
"Iya."
"Termasuk orang keamanan?"
"Betul."
Rangga menyentuh tanah di sekitar jejak tersebut.
"Kalau begitu, pemilik jejak ini bukan pekerja biasa."
Pak Panji ikut berjongkok.
"Mas yakin?"
"Belum."
Rangga menunjuk bekas tapak itu.
"Tapi ukurannya berbeda dari sepatu keselamatan yang biasa dipakai di proyek."
Doni ikut memperhatikan.
"Kayak sepatu olahraga?"
Rangga mengangguk kecil.
"Mungkin."
Ia kembali berdiri.
Namun, belum sempat mereka melanjutkan pencarian, suara mesin kendaraan terdengar dari arah jalan utama.
Sebuah mobil pikap putih berhenti di depan ruko.
Seorang pria paruh baya turun dari dalamnya sambil membawa map plastik transparan. Ia mengenakan rompi kerja proyek dan helm keselamatan.
"Mas Rangga!" panggilnya.
Rangga menoleh.
Pria itu berjalan mendekat.
"Saya Arif dari bagian pengadaan. Ada sedikit urusan yang harus kita bicarakan."
Rangga mengernyit.
"Urusan apa, Pak?"
Pak Arif membuka map yang dibawanya.
"Manajemen pusat menerima keluhan dari salah satu vendor lama."
"Keluhan?"
"Iya."
Ia menyerahkan selembar surat kepada Rangga.
Rangga membacanya perlahan.
Isinya menuduh usaha Rangga melakukan praktik harga tidak wajar dan mengambil pekerjaan vendor lokal dengan cara yang dianggap tidak sehat.
Rahang Rangga mengeras.
"Ini tuduhan tanpa dasar."
"Saya tahu," jawab Pak Arif. "Makanya saya datang langsung. Manajemen belum mengambil keputusan apa pun."
Pak Panji langsung menyela.
"Siapa yang mengajukan laporan?"
Pak Arif menarik napas.
"Nama perusahaannya tercantum di sini."
Ia menunjuk bagian bawah surat.
Rangga membaca nama tersebut.
CV Borneo Mandiri Grafika.
Nama yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Ia mengangkat wajah.
"Ini vendor lama?"
Pak Arif mengangguk.
"Mereka memang sudah lama menjadi pemasok percetakan dan publikasi di kawasan ini."
Rangga melipat surat tersebut.
"Kalau mereka keberatan dengan harga atau kualitas pekerjaan saya, kenapa tidak bicara langsung?"
Pak Arif hanya tersenyum tipis.
"Karena dunia bisnis tidak selalu bekerja sesederhana itu, Mas."
Kalimat itu membuat Rangga terdiam.
Ia kembali teringat kabel yang dipotong.
Kaca pemindai yang dihancurkan.
Kamera yang mati selama dua puluh menit.
Dan sekarang...
laporan resmi yang berusaha menjatuhkan reputasinya.
Semuanya terjadi hampir bersamaan.
Terlalu banyak kebetulan.
Rangga memasukkan surat itu ke dalam map.
"Pak Arif."
"Ya?"
"Saya siap mempertanggungjawabkan semua pekerjaan saya. Tapi saya juga ingin manajemen menyelidiki sabotase yang terjadi tadi malam."
Pak Arif tampak sedikit terkejut.
"Sabotase?"
Rangga mengangguk.
"Mesin saya dirusak. Kabel dipotong. Kaca pemindai dihancurkan. Dan kamera gudang sebelah mati pada waktu yang hampir bersamaan."
Wajah Pak Arif berubah serius.
"Saya akan sampaikan ini ke manajemen."
"Terima kasih."
Setelah Pak Arif pergi, Rangga kembali menatap jalan di depan ruko.
Ia tidak tahu apakah CV Borneo Mandiri Grafika benar-benar berada di balik sabotase itu.
Tetapi satu hal mulai terasa jelas.
Serangan terhadap bisnisnya tidak lagi berdiri sebagai sebuah kejadian tunggal.
Ada seseorang yang mulai memainkan permainan dari balik layar.
Dan Rangga baru saja menerima tanda pertama bahwa permainan itu mungkin jauh lebih besar daripada sekadar perebutan pelanggan.
Malam kembali turun di kawasan proyek.
Setelah seluruh aktivitas kerja berakhir, Rangga masih berada di dalam rukonya. Beberapa bagian ruangan memang sudah dibersihkan, tetapi bekas sabotase tadi pagi masih terlihat jelas. Kabel yang sempat disambung darurat menggantung di sisi mesin, sementara serpihan kaca pemindai telah dikumpulkan ke dalam sebuah kardus.
Rangga duduk sendirian di depan meja kerjanya.
Di atas meja tergeletak dua benda.
Surat laporan dari CV Borneo Mandiri Grafika.
Dan foto bekas jejak sepatu yang tadi ia temukan di belakang ruko.
Ia memperhatikan keduanya bergantian.
"Kalau memang kalian pelakunya..." gumamnya pelan.
Rangga berhenti.
Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Selama ini ia membangun usahanya dengan kerja keras. Ia tahu betapa mudahnya seseorang menghancurkan reputasi orang lain hanya dengan sebuah tuduhan.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu depan.
Tok... tok... tok...
Rangga langsung mengangkat kepala.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi.
Tok... tok...
Rangga bangkit dari kursinya. Ia berjalan perlahan mendekati pintu sambil mengambil tongkat besi pendek yang biasa digunakan untuk membuka gulungan bahan cetak.
"Siapa?"
Kali ini terdengar suara dari luar.
"Mas Rangga?"
Rangga mengenali suara itu.
"Doni?"
"Iya, Mas."
Rangga membuka pintu.
Doni berdiri di luar dengan wajah tegang.
"Kenapa?"
Doni masuk dan segera menutup pintu kembali.
"Saya baru ingat sesuatu."
Rangga menatapnya serius.
"Apa?"
"Tadi siang waktu saya bersihin gudang belakang, saya menemukan ini."
Doni mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaketnya.
Sebuah potongan kain hitam.
Rangga mengambilnya.
Kain itu tampak seperti bagian dari sarung tangan atau pakaian kerja. Di salah satu sisinya terdapat noda putih seperti bekas cat.
Rangga membalik kain tersebut.
Ada sesuatu yang membuat matanya menyipit.
Sebuah logo kecil berwarna merah tercetak samar di permukaan kain.
"Ini..." gumam Rangga.
Doni mengangguk.
"Saya pernah lihat logo itu."
"Di mana?"
Doni menelan ludah.
"Di seragam orang keamanan gudang lama."
Rangga langsung terdiam.
"Orang keamanan?"
"Sudah beberapa minggu lalu mereka diganti. Tapi saya ingat betul. Seragamnya punya tanda merah seperti itu."
Rangga menatap potongan kain di tangannya.
Kalau benar demikian, pelakunya mungkin bukan orang yang datang dari luar area proyek.
Bisa jadi seseorang yang sudah mengetahui kondisi lokasi dari dalam.
Namun sebelum Rangga sempat bertanya lebih jauh, suara mesin kendaraan terdengar dari luar.
Keduanya langsung terdiam.
Sebuah kendaraan melintas pelan di depan ruko.
Tidak berhenti.
Tetapi setelah suara mesinnya menjauh, Rangga berjalan ke jendela dan mengintip dari balik tirai.
Samar-samar ia melihat lampu belakang sebuah mobil berwarna gelap menghilang di tikungan.
Rangga memperhatikan nomor pelatnya.
Sayangnya, jaraknya terlalu jauh.
"Mas..."
Doni berdiri di belakangnya.
"Apa kita harus lapor polisi?"
Rangga tidak langsung menjawab.
Ia menatap kegelapan di luar.
"Besok pagi kita laporkan semuanya ke keamanan proyek."
"Kalau pelakunya datang lagi malam ini?"
Rangga menutup tirai.
"Kita jangan mencari masalah."
Ia kemudian memasukkan potongan kain hitam itu ke dalam plastik kecil.
"Tapi kita juga jangan membiarkan orang menghancurkan usaha kita sesuka hati."
Rangga kembali duduk di depan meja.
Tatapannya kini jauh lebih tajam.
Ia belum tahu siapa dalang sebenarnya.
Ia belum tahu apakah vendor lama memang terlibat.
Dan ia juga belum tahu mengapa seseorang sampai berani mengganggu bisnisnya sedemikian serius.
Tetapi mulai malam itu, Rangga memutuskan satu hal.
Ia tidak akan lagi menghadapi permainan ini hanya sebagai pengusaha yang sedang mengejar kesuksesan.
Ia akan mulai bermain sebagai seseorang yang harus mempertahankan apa yang telah dibangunnya.
Di luar sana, angin malam Borneo kembali berembus melewati pepohonan.
Dan jauh di balik kegelapan, seseorang mungkin sedang mengawasi ruko kecil itu.
Menunggu kesempatan berikutnya.