Indonesia
NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. "Dipanggil apa?"

Sore harinya, mobil taksi online yang ditumpangi Nara berhenti di depan pagar rumah bernuansa hangat dengan halaman asri, rumah orang tuanya.

Nara melangkah masuk dengan perasaan campur aduk; ada rasa hangat yang mendadak melingkupi dadanya begitu mencium aroma rumah yang sangat ia rindukan.

Di dalam, Bunda Mayang yang sedang merapikan vas bunga di meja ruang tamu mendadak tertegun saat mendengar langkah kaki di ambang pintu.

"Assalamu'alaikum, Bunda..." panggil Nara lirih.

Bunda Mayang menoleh, dan seketika matanya berbinar. "Wa'alaikum salam,... Nara? Ya Allah, anak Bunda!"

Tanpa menunggu lama, Nara menghambur ke dalam pelukan hangat ibunya. Ia memeluk erat tubuh Bunda Mayang, menyesap aroma khas sang ibu yang selalu berhasil menenangkannya. Seminggu lebih tinggal berpisah rasanya seperti bertahun-tahun bagi Nara.

"Kangen banget sama Bunda..." bisik Nara dengan suara yang sedikit serak.

Bunda Mayang mengelus lembut punggung putri tunggalnya itu.

"Bunda juga kangen banget, Sayang. Kenapa tidak bilang kalau mau pulang? Biar Bunda masakan makanan kesukaanmu."

Bunda Mayang menyuruh Nara duduk di sofa ruang keluarga, lalu buru-buru pergi ke dapur untuk meracik cumi asam manis dan jus alpukat mix mangga, hidangan favorit Nara sejak kecil.

Sambil menemani ibunya berkutat di dapur, Nara menceritakan kabar terbarunya secara perlahan.

Tentu saja, ia hanya membagikan cerita-cerita yang manis tentang bagaimana perhatiannya Zaid dan betapa tenangnya rumah baru mereka, tanpa menyebutkan drama Devino sedikit pun.

Tak lama kemudian, Pak Raharja melangkah masuk dengan setelan kemeja kantor yang masih rapi. Ayah Nara itu tersenyum lebar melihat keberadaan anak gadisnya.

Namun, pandangan Pak Raharja sempat mengedar ke sekeliling ruang keluarga.

"Mana Zaid, Nak? Kok kamu sendirian?"

"Zaid lagi ada urusan di kantornya, pah. Nara cuma mampir sebentar mau ambil beberapa buku sketsa sama tab gambar yang tertinggal di kamar," jelas Nara lembut seraya menyalami tangan sang ayah. "Tapi nanti Zaid ke sini kok, mau jemput pas makan malam."

Pak Raharja mengangguk puas. "Bagus kalau begitu. Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu di atas."

.

.

Malam pun bergulir. Lampu gantung bernuansa warm white menyinari meja makan keluarga Raharja. Suasana makan malam terasa begitu hangat.

Tepat saat hidangan siap disajikan, Zaid tiba di rumah mertuanya dengan membawakan satu set buah-buahan segar sebagai buah tangan.

Di meja makan, Pak Raharja dan Zaid tampak mengobrol akrab. Zaid yang biasanya begitu tertutup dan kaku, malam itu bersikap sangat santun dan sopan di hadapan kedua orang tua Nara.

"Zaid, cobai tumis brokoli ini. Ini buatan Bunda," tutur Nara santai seraya menyodorkan mangkuk sayur di sebelah piring suaminya. "Zaid suka banget brokoli, kan?"

Mendengar ucapan Nara, sendok di tangan Bunda Mayang dan Pak Raharja mendadak terhenti sejenak. Kedua orang tua Nara saling bertukar pandang.

Ada riak heran di mata Bunda Mayang saat menyadari putrinya memanggil suaminya hanya dengan sebutan nama polos tanpa embel-embel penghormatan.

Bunda Mayang berdehem pelan, lalu tersenyum manis menutupi rasa canggung. "

Nara, nanti seusai makan, bantu Bunda sebentar di kamar ya. Ada beberapa kain sprei baru dan barang lama kamu yang mau Bunda serahkan."

"Iya, Bunda," sahut Nara tanpa curiga.

Sementara itu, Pak Raharja mengalihkan pembicaraan kembali.

"Zaid, bagaimana perkembangan proyek area komersial yang sedang dikerjakan pamanmu, Pak Firman? Kemarin beliau sempat cerita sedikit pas ketemu di asosiasi."

Zaid merespons dengan penuh wibawa,

"Proyeknya berjalan lancar, pah. Minggu ini baru menyelesaikan tahap perencanaan maket dasar..."

Obrolan hangat antara menantu dan mertua itu terus mengalir dengan padat dan berbobot.

.

.

Seusai makan malam, Bunda Mayang mengajak Nara masuk ke dalam kamar utama. Di sana, Bunda Mayang tidak langsung mengambil barang, melainkan mengunci pintu dan mendudukkan Nara di tepi ranjang.

"Bunda... ada apa?" tanya Nara heran melihat raut wajah ibunya yang berubah serius namun penuh kasih sayang.

Bunda Mayang menggenggam kedua tangan Nara, menatap mata putrinya dalam-dalam.

"Nara... Bunda mau tanya. Tadi di meja makan, Bunda dengar kamu memanggil suamimu cuma dengan sebutan 'Zaid'?"

Nara tertegun. Pipinya mendadak terasa hangat. "E-eh... iya, Bunda. Dari awal memang begitu..."

Bunda Mayang menghela napas lembut, mengusap punggung tangan Nara. "Nara, Sayang... Bunda tahu pernikahan kalian berawal dari perjodohan. ... Bunda tahu di antara kalian mungkin belum tumbuh rasa cinta yang dalam. Tapi, Zaid itu suami kamu secara sah. Usianya juga enam tahun lebih tua dari kamu."

Nara menunduk, mendengarkan dengan seksama.

"Panggilan itu bukan cuma soal formalitas, Nara," tutur Bunda Mayang dengan nada yang teramat sejuk.

"Panggilan menghormati seperti 'Mas' atau 'Abang' adalah bentuk penghargaan kamu pada posisinya sebagai kepala rumah tangga. Itu meruntuhkan dinding pembatas di antara kalian. Bagaimana rasa cinta bisa tumbuh kalau kamu masih memanggilnya seolah-olah dia cuma teman sebaya?"

Kata-kata Bunda Mayang meresap dalam-dalam ke dalam sanubari Nara. Ia teringat bagaimana Zaid selalu bersikap tegas membentenginya dari Devino, bagaimana Zaid memasakkan makan malam untuknya, dan bagaimana pria itu selalu menghormati batas-batasnya. Bukankah Zaid sangat pantas mendapatkan rasa hormat itu?

"Pikirkan ya, Nak," bisik Bunda Mayang lembut seraya mencium kening Nara.

.

.

Sekitar pukul sembilan malam, Zaid dan Nara berpamitan pulang. Mobil SUV hitam Zaid kini membelah jalanan malam kota yang lengang dan tenang. Musik instrumental diputar pelan di dalam kabin, menambah kesan hening yang mendalam.

Nara duduk di kursi penumpang depan, memangku tas berisi buku-buku sketsanya. Jemarinya bertautan erat. Pikiran tentang nasehat ibunya terus berputar-putar di kepalanya.

Nara melirik Zaid dari samping; rahang tegas pria itu, jemarinya yang mantap memegang kemudi, dan aura tenang yang selalu membuat Nara merasa aman.

Nara menelan ludah, mengumpulkan seluruh keberaniannya yang tersisa.

"Zaid..." panggil Nara pelan, memecah keheningan.

"Ya?" sahut Zaid tanpa memalingkan pandangan dari jalanan.

Nara menggigit bibir bawahnya ragu. "Aku... aku mau tanya sesuatu."

"Tanya apa?"

"Sebenarnya..." suara Nara agak mencicit, "kamu... ingin dipanggil apa olehku?"

Kalimat polos itu membuat gerakan tangan Zaid di kemudi mendadak terhenti sejenak.

Lampu lalu lintas di depan mereka baru saja berubah merah. Zaid menghentikan mobilnya secara halus tepat di garis henti.

Keheningan kabin mendadak terasa lebih pekat dan rapat.

Zaid tidak langsung menjawab. Pria itu menetralkan suasana transmisi, lalu secara perlahan mengalihkan tubuh dan pandangannya sepenuhnya ke arah Nara.

Nara yang menyadari tatapan dalam itu langsung tertunduk, tak berani menatap mata Zaid. Pipinya sudah memerah padam.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" suara Zaid terdengar jauh lebih rendah dan dalam dari biasanya, seperti gema yang menggetarkan dada Nara.

"Tadi... tadi Bunda menasihatiku di kamar," bisik Nara jujur, jemarinya meremas kain celananya. "Bunda bilang... tidak sopan kalau aku memanggil namamu begitu saja. Usia kita kan beda enam tahun, dan... kamu suamiku. Jadi... kalau kamu keberatan, aku bisa ganti panggilannya."

Zaid menatap wanita di sampingnya. Pendar lampu jalanan yang menembus kaca mobil menerangi separuh wajah Nara, memperlihatkan bulu matanya yang lentik dan rona merah di pipinya yang begitu manis. Ada kepolosan murni dan kelembutan yang jujur di sana.

Tiba-tiba, Zaid mengulurkan tangan kanannya.

Jemari panjang Zaid yang hangat menyentuh dagu Nara perlahan, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya langsung.

Sentuhan kulit Zaid yang hangat membuat listrik halus menjalar ke sekujur tubuh Nara. Jantung Nara berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

Mata mereka bertubrukan dalam jarak yang begitu dekat. Nara menahan napasnya.

"Saya tidak pernah memprotes panggilan kamu, Nara," ucap Zaid lirih, namun setiap kata yang diucapkannya terasa begitu intens dan sarat akan emosi yang tersembunyi.

 "Tapi kalau kamu bertanya apa yang saya inginkan..."

Zaid mengikis jarak di antara mereka sedikit lagi. Ibu jarinya mengusap lembut tepi pipi Nara yang hangat. Tatapan mata tajam Zaid malam itu tidak lagi dingin, melainkan dipenuhi oleh kehangatan yang melelehkan seluruh pertahanan Nara.

"...saya ingin dipanggil dengan panggilan yang membuat kamu sadar, bahwa keberadaan saya di hidup kamu bukan lagi sebatas orang asing," lanjut Zaid penuh penekanan yang lembut. "Panggilan yang membuat kamu ingat, kalau kamu punya tempat untuk bersandar."

Garis napas Zaid yang hangat terasa menyapu kulit wajah Nara. Jantung Nara makin berdebar tak karuan, menciptakan ruang ketegangan yang teramat manis di antara mereka berdua.

Nara terpaku, matanya tak sanggup berkedip menatap ketulusan murni di mata pria di hadapannya.

Bip!

Suara klakson mobil di belakang mereka bergema pelan, menandakan lampu lalu lintas telah berganti hijau.

Zaid secara perlahan menarik kembali tangannya, mengusap pundak Nara sekilas sebelum kembali menggenggam kemudi. Ia kembali melajukan mobilnya membelah malam, sementara senyum tipis yang amat menawan terukir di bibirnya.

Di kursi penumpang, Nara menangkup kedua pipinya yang terasa seperti terbakar. Dadanya bergemuruh hebat oleh perasaan asing yang mekar begitu indah.

Malam itu, di dalam mobil yang terus melaju, sekat di antara mereka tidak hanya runtuh, melainkan telah berganti menjadi benang-benang merah yang mulai terikat erat.

1
Apriyanti
Alhamdulillah sdh bersama
lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga Nara jg jatuh cinta pd zaid
Apriyanti
wah so sweet bgt si🤭
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah semoga mereka cepat jatuh cinta🙏
Apriyanti
wah sampe ikutan nahan nafas aku thor 🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!