Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Ini pembantaian
Udara lembap bercampur bau besi dan darah membuat napas terasa berat sejak langkah pertama. Lampu gantung berayun pelan, memantulkan cahaya pucat ke lantai beton yang dipenuhi tubuh-tubuh tak bergerak.
Tiga belas orang.
Di sisi kiri, tujuh pria tergeletak berserakan. Tubuh mereka masih utuh, tetapi setiap anggota tubuh dipatahkan dengan sudut yang mustahil. Lengan menekuk ke arah berlawanan, kaki terpelintir hingga tulangnya menonjol di bawah kulit. Tidak ada luka potong, hanya tulang yang dipaksa menyerah. Pemandangan itu justru terasa lebih kejam.
Theodore berhenti melangkah.
Di sisi lain gudang, empat wanita diikat pada kursi besi. Kepala mereka dipaksa mendongak ke atas, seolah pelaku ingin mereka menatap kematian secara langsung. Wajah-wajah itu hancur, hampir tak bisa dikenali sebagai manusia. Jari-jari tangan mereka patah satu per satu dan di setiap jari yang remuk, sebuah ponsel ditancapkan, seakan benda itu menjadi alat eksekusi terakhir.
Tak ada satu pun yang bernapas.
“Ya Tuhan…” gumam Nathan lirih di sampingnya.
Theodore melangkah maju perlahan. Setiap langkah terasa seperti menginjak batas yang tak seharusnya dilewati. Matanya menyapu semua bentuk tak wajar itu, lalu berhenti pada arah pandangan para korban, ke atas.
Dadanya mengencang.
Dua tubuh tergantung di langit-langit gudang.
Seorang pria dan seorang wanita digantung dengan kedua tangan terikat di atas kepala. Kaki mereka dipatahkan, menggantung tak berdaya, wajah mereka dihancurkan hingga nyaris kehilangan bentuk. Tubuh keduanya penuh bekas luka, seolah mereka menerima perlakuan paling lama.
Dan ada sesuatu yang ganjil.
Mereka tidak hanya disiksa, mereka seperti diberi sesuatu dari para korban di lantai. Sebuah pola. Sebuah pesan yang belum jelas maknanya.
Pakaian wanita itu sedikit robek, seperti dipaksa terbuka namun dihentikan di tengah jalan. Rambutnya acak-acakan, melekat di wajah yang sudah tak lagi bisa menjerit.
Nathan menelan ludah. “Ini… ini pembantaian,” ucapnya dengan suara bergetar. “Kejahatan serius. Tidak mungkin ini kerja orang sembarangan.”
Theodore tetap diam.
Tatapannya dingin, rahangnya mengeras. Ia menahan kata-kata yang hampir keluar, menahan naluri untuk langsung menyimpulkan. Terlalu cepat berarti ceroboh. Dan pembunuh seperti ini tidak meninggalkan kekacauan tanpa alasan.
“Hubungi polisi,” katanya akhirnya, singkat namun tegas.
Nathan mengangguk cepat. Tangannya gemetar saat merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Ia menjauh sedikit, mulai berbicara dengan operator, suaranya rendah namun tergesa.
Theodore kembali menatap gudang itu.
'Kasus Victor belum terpecahkan,' batinnya bersuara. 'Dan sekarang ini?'
Satu kematian yang belum menemukan jawaban, ditambah sebuah pembantaian brutal di gudang terpencil.
Nathan kembali ke sisi Theodore setelah menutup panggilan. Ia menyelipkan ponselnya ke saku jaket, lalu berkata, “Polisi bilang mereka sedang menuju ke sini. Paling lambat lima belas menit.”
Theodore hanya mengangguk.
Tak ada komentar. Tak ada reaksi berlebihan.
Nathan memperhatikan wajah pria di sampingnya. Tatapan Theodore masih terpaku pada tubuh-tubuh itu dengan tenang,
Alis Nathan berkerut.
“Kau… tidak merasa mual?” tanyanya ragu. “Kalau mau, kita bisa nunggu di luar sampai polisi datang.”
Theodore menggeleng pelan. Gerakannya singkat, seolah pertanyaan itu tak perlu dijawab panjang.
Nathan menghembuskan napas berat. “Kurasa aku tidak bisa lama-lama di sini,” gumamnya. “Rasanya… satu menit lagi aku bisa muntah.”
Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu berbalik. Langkahnya cepat, nyaris tergesa, seperti ingin segera menjauh dari bau dan pemandangan itu. Di ambang pintu gudang, Nathan berhenti sesaat dan menoleh ke belakang.
Theodore masih berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak atau berniat menyusulnya.
Nathan menggeleng pelan. “Aku seharusnya tidak lupa,” gumamnya lirih. “Kau memang selalu seperti ini.”
Ia pun keluar.
Udara malam menyambutnya dengan dingin. Nathan bersandar di dinding luar gudang, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya. Asap tipis keluar perlahan dari bibirnya saat ia menatap langit yang gelap, mencoba menenangkan perut dan pikirannya.
Sementara itu, di dalam gudang—
Theodore bergerak.
Ia melangkah mendekati salah satu pria yang tergeletak di lantai. Perlahan, ia berjongkok, menjaga jarak tanpa menyentuh tubuh itu sedikit pun. Matanya menyipit, fokus, seolah dunia di sekitarnya menghilang.
Seragam.
Pria itu mengenakan seragam sekolah.
Theodore mengangkat pandangan, beralih ke tubuh pria-pria lain di lantai. Sama. Ia kemudian menoleh ke empat wanita yang diikat, seragam yang identik. Lalu ke dua tubuh yang tergantung di langit-langit.
Semuanya sama.
Napas Theodore tertahan sesaat. Alisnya mengerut, kali ini lebih dalam. Tidak mungkin kebetulan.
“Anak sekolah…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Tiga belas korban.
Bukan penjahat. Bukan orang dewasa.
Anak-anak yang seharusnya pulang ke rumah, mengeluh soal pelajaran, atau bertengkar soal hal sepel, bukan berakhir di gudang gelap dengan tulang yang dipatahkan satu per satu.
Theodore menegakkan punggungnya perlahan.